NovelToon NovelToon
Lentera Terakhir Sang Kultivator

Lentera Terakhir Sang Kultivator

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.

Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.

Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.

Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Luka yang Dianggap Mustahil

Ketukan di pintu pondok pengobatan datang tengah malam, keras dan terburu-buru. Jian Chen, yang sedang tidur di bangku kayu di sudut ruang depan setelah menjaga Ye Ran yang demam ringan, langsung terbangun. Ia membuka pintu dan melihat Zhao Feng berdiri di ambang dengan seseorang di punggungnya.

Wajah Zhao Feng pucat dan basah oleh keringat. Jubah putih birunya penuh noda tanah. Di punggungnya terkulai seorang pemuda yang lebih muda, mungkin enam belas tahun, dengan kulit abu-abu kebiruan dan bibir yang menghitam.

"Aula pengobatan sudah menolak," kata Zhao Feng tanpa salam. Suaranya serak. "Tiga tabib sekte dalam mengatakan tidak ada yang bisa dilakukan. Aku tidak percaya mereka."

"Siapa dia?" tanya Jian Chen sambil menyingkir memberi jalan.

"Zhao Ming. Sepupuku." Zhao Feng membaringkan pemuda itu di dipan paling dekat dengan hati-hati. "Ia terkena racun saat patroli perbatasan dengan Lembah Kabut. Panah beracun. Sudah dua hari. Tabib bilang racunnya sudah merasuk ke meridian jantung."

Lin Xue sudah muncul dari ruang belakang, rambutnya terurai dan mata masih mengantuk, tetapi tatapannya langsung tajam begitu melihat dipan. Ia tidak bertanya apa-apa. Ia langsung berlutut, menyibak kerah pemuda itu, dan menekan dua jari di lehernya.

"Nadinya hampir tidak ada," katanya. "Siapa yang bilang tidak bisa?"

"Tabib Kepala Rong. Dan dua lainnya."

"Mereka benar." Lin Xue tidak menoleh. "Dalam keadaan biasa, orang dengan racun sedalam ini tidak akan bertahan sampai pagi."

"Dalam keadaan biasa?" Zhao Feng melangkah maju. Matanya menyala. "Kau bisa menolongnya?"

"Aku tidak tahu."

"Kau tidak tahu."

"Aku belum pernah mencoba." Lin Xue akhirnya menoleh. Wajahnya serius. "Tapi aku tahu satu cara yang belum pernah dipakai tabib sekte. Aku butuh tenang, aku butuh dua orang yang tidak mengganggu, dan aku butuh kau menahan diri untuk tidak memaksaku bergerak lebih cepat."

Zhao Feng menahan napas. Ia, yang selalu berdiri tegak dan angkuh, menurunkan bahunya sedikit. "Aku akan menahan diri."

"Bagus. Jian Chen."

"Ya?"

"Ambil jarum perak dari laci kedua, kain bersih dari rak atas, dan panci tanah liat yang paling kecil. Isi air hangat. Zhao Feng, kau pegang tangannya dan jangan lepaskan sampai aku bilang."

Mereka bergerak tanpa bicara. Jian Chen mengambil peralatan, mengisi air, dan menaruh semuanya di meja kecil di samping dipan. Lin Xue menyalakan lilin tambahan dan menggulung lengan bajunya. Dari balik kerah, ia menarik keluar sebuah kalung dengan batu giok hijau pucat sebesar ibu jari dan menaruhnya di dada pemuda itu.

Jian Chen memperhatikan kalung itu. Ia belum pernah melihatnya. Selama tiga bulan Lin Xue selalu menyembunyikannya di balik kerah. Batu itu berkilau samar di bawah cahaya lilin, seperti air tenang di malam hari.

"Itu apa?" tanya Zhao Feng pelan.

"Milik ibuku," jawab Lin Xue singkat. "Jangan tanya lagi."

Ia mengambil jarum perak, memutar ujungnya di atas api, dan mulai menusukkannya ke titik-titik di dada, leher, dan pergelangan tangan pemuda itu. Satu, dua, tiga, empat, lima. Setiap jarum membuat tubuh Zhao Ming tersentak kecil. Pada jarum kelima, giok di dadanya mulai bersinar. Cahaya hijau lembut merambat dari batu itu ke sepanjang jarum, seperti air yang mengalir melalui pipa kecil.

Jian Chen menahan napas. Di sampingnya, Zhao Feng membuka mulut dan menutupnya lagi.

"Jangan bicara," bisik Lin Xue tanpa menoleh. Dahinya sudah berkeringat. "Aku butuh konsentrasi."

Waktu berjalan lambat. Lilin-lilin meleleh pelan. Lin Xue terus menusukkan jarum satu demi satu, kadang menarik satu, menggantinya dengan yang lain, bibirnya bergerak tanpa suara. Cahaya hijau di batu giok semakin terang, dan perlahan, sangat perlahan, warna abu-abu di wajah Zhao Ming memudar. Bibirnya yang menghitam berubah menjadi biru, lalu ungu pucat.

Jian Chen mengganti air hangat tiga kali. Ia mengambil kain bersih. Ia menyeka keringat dari dahi Lin Xue tanpa diminta, dan Lin Xue tidak menolak. Dari sudut matanya ia melihat tangan Zhao Feng yang memegang tangan sepupunya gemetar dan kukunya memutih.

"Racunnya keluar," gumam Lin Xue di tengah malam. "Dari meridian jantung ke tangan. Ambil mangkuk."

Jian Chen mengambil mangkuk kecil dan menaruhnya di bawah pergelangan tangan kiri Zhao Ming. Lin Xue menusuk satu titik terakhir di telapak tangan, dan dari lubang kecil itu menetes cairan hitam kental, satu tetes, dua tetes, lalu mengalir lancar. Bau pahit memenuhi ruangan.

Sampai menjelang fajar, cairan itu berubah dari hitam menjadi merah tua, lalu merah segar. Lin Xue menarik jarum terakhir dan mengusap lubangnya dengan kapas. Cahaya giok memudar dan padam. Ia menarik napas panjang dan meletakkan kedua tangannya di lutut.

"Sudah," katanya. Suaranya hampir tidak terdengar. "Racunnya keluar. Dia akan tidur sehari, mungkin dua hari. Beri dia air hangat dengan madu kalau dia bangun."

Zhao Feng menatap sepupunya yang kini bernapas teratur dengan wajah yang sudah merona. Ia menatap lama sekali, seolah takut jika berkedip semuanya hilang. Lalu ia menoleh pada Lin Xue.

Lin Xue tersenyum tipis, matanya sudah setengah terpejam, dan tubuhnya miring ke samping. Jian Chen menangkapnya sebelum ia jatuh.

"Aku tidak apa-apa," gumam Lin Xue. "Hanya lelah."

"Kau pingsan."

"Aku tidak pingsan. Aku istirahat."

"Dengan mata tertutup dan kepala di bahuku."

"Itu cara istirahat yang efisien." Lin Xue membuka satu mata. Bibirnya melengkung. "Jangan beri tahu siapa pun soal kalung itu."

"Aku tidak akan."

"Janji?"

"Janji."

Lin Xue memejamkan mata lagi. Jian Chen mendudukkannya di bangku dengan hati-hati, bersandar ke dinding. Di dipan, Zhao Ming bergerak sedikit dan menggumamkan sesuatu dalam tidur.

Zhao Feng berdiri dan berjalan ke arah Lin Xue. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya berlutut di depannya, di lantai tanah, dan membungkuk dalam-dalam, kepalanya hampir menyentuh lantai.

"Kakak Senior," kata Jian Chen terkejut.

"Diam," kata Zhao Feng, tanpa mengangkat kepala. "Keluargaku berutang nyawa pada Tabib Lin. Aku tidak akan melupakannya."

Lin Xue, yang masih setengah sadar, mengerutkan dahi dan menarik napas. "Berdirilah. Aku tidak suka dipuja."

Zhao Feng bangkit perlahan, tetapi matanya tidak lagi sedingin biasanya. "Kau punya nama di klan Zhao mulai sekarang," katanya. "Apa pun yang kau butuhkan, kau tinggal bilang."

"Aku hanya butuh tidur," kata Lin Xue.

Ketika matahari terbit, Tabib Kepala Rong datang ke pondok pengobatan karena mendengar kabar. Ia berdiri lama di depan dipan Zhao Ming, memeriksa nadinya, melihat warna kulitnya, dan mencium bau cairan di mangkuk. Wajahnya berubah beberapa kali.

"Siapa yang melakukannya?" tanyanya akhirnya.

"Lin Xue," jawab Jian Chen.

"Cara apa yang ia pakai?"

"Jarum dan sesuatu yang aku tidak mengerti."

Tabib Kepala Rong menatap Lin Xue yang tertidur di bangku dengan kepala bersandar ke dinding. Ia menggeleng pelan. "Dua puluh tahun aku mengobati orang. Aku belum pernah melihat meridian jantung dibersihkan dari racun sebesar itu. Ini bukan teknik tabib biasa." Ia menoleh pada Jian Chen. "Kau tahu sesuatu tentang ini?"

"Tidak, Tabib."

"Aku curiga kau tahu lebih banyak daripada yang kau katakan." Tabib Kepala Rong menghela napas. "Tapi aku tidak akan bertanya. Biarkan dia istirahat. Dan Jian Chen, jaga dia. Orang dengan bakat seperti itu tidak boleh sampai jatuh ke tangan yang salah."

1
Paw_chan🐾
bagus🤟
Uranenantios: Makasih 😺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!