FOLLOW IG : @LALA_SYALALA13
Demi membiayai pengobatan adiknya yang sakit-sakitan dan melunasi hutang peninggalan orang tuanya, Raina Angela rela melupakan masa lalunya sebagai anak orang kaya dan pergi jauh dari ibu kota.
Lima tahun kemudian dia mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu di sebuah rumah mewah ibu kota. Tanpa disadari, mansion tempatnya bekerja adalah milik keluarga Noah Raja Rajendra yaitu mantan kekasih yang terpaksa Raina tinggalkan secara kejam lima tahun lalu dengan alasan orang ketiga, demi menyelamatkan masa depan pria itu.
Pertemuan tak terhindarkan membenturkan kembali rasa bersalah Raina dengan kebencian serta luka mendalam Noah yang telah berubah menjadi manusia es.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukkkk baca yaaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tolong Adik Saya
Di puncak tangga lantai dua, Noah menghentikan langkah kakinya. Pria itu meremas pegangan tangga kayu jati hingga buku-buku jarinya memutih.
’Dendam?’ batin Noah bersungut pedih.
'Iya, Ma. Aku dendam pada wanita itu. Aku dendam karena dia telah menghancurkan hatiku, dan sekarang dia berdiri di sini berpura-pura menjadi korban yang patut dikasihani.' serunya dalam hati.
Noah melirik ke arah jendela yang menghadap ke bangunan paviliun belakang. Di sana, dari kejauhan, lampu paviliun menyala redup. Noah tahu, di dalam sana, Raina mungkin sedang mengusap tangannya yang memar karena sikatannya tadi siang.
Ada rasa puas yang kejam di dada Noah, namun di saat yang bersamaan... rasa sakit yang sama besarnya justru makin menggerogoti jiwanya dari dalam.
Hujan deras mengguyur ibu kota sejak pukul sepuluh malam. Petir menyambar selang-seling, menggelegarkan suara menggelegar yang memecah keheningan malam di mansion keluarga Rajendra. Angin kencang meniup dedaunan di taman belakang, menghempaskan ranting-ranting pohon ke dinding paviliun.
Di dalam kamar paviliun yang sempit, napas Lio terdengar makin memburu dan tersendat-sendat. Suara wheezing atau napas berbunyi nyaring yang menandakan penyempitan saluran pernapasan parah mengisi seluruh ruangan.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Lio mencengkeram dadanya kuat-kuat, matanya terbelalak menahan rasa sesak yang luar biasa. Wajahnya yang semula pucat kini mulai berubah kebiruan di sekitar bibirnya.
"K-Kak... Kak Raina..." panggil Lio lirih, suaranya hampir tak keluar sama sekali.
Raina yang tertidur ayam di kursi sebelah ranjang langsung melonjak kaget. Melihat kondisi adiknya yang terengah-engah dan memegangi lehernya, ketakutan luar biasa seketika menyergap jiwa Raina.
"Lio! Lio, sayang!" Raina panik setengah mati.
Dengan tangan bergetar, dia meraih tabung oksigen sewaan di sudut ranjang dan memasangkan sungkup oksigen ke wajah adiknya. Namun, indikator jarum di tabung tersebut sudah menunjukkan angka nol. Oksigennya habis.
"Nggak... Nggak! Jangan sekarang, Tuhan, tolong!" jerit Raina dalam tangis.
Tangannya merogoh saku jaket Lio, meraih inhaler, lalu menyemprotkannya ke dalam mulut Lio. Namun Lio sudah terlalu lemas untuk mampu menghirup obat itu secara maksimal.
"Kak... d-dada Lio... sakit banget..." bisik Lio seraya memegang erat jemari Raina, matanya mulai terkulai lelah.
"Lio, bertahan, Dek! Jangan tutup matamu! Kakak mohon, jangan tutup matamu!" jerit Raina histeris. Air mata mengalir deras membasahi pipinya.
Tanpa memikirkan hal lain, Raina merengkuh tubuh adiknya yang terasa dingin, membopong Lio di punggungnya. Dengan tidak memedulikan badai hujan deras di luar, Raina mendobrak pintu paviliun dan berlari menerobos lebatnya air hujan menuju gerbang depan mansion.
Pakaian dan tubuh mereka seketika basah kuyup. Raina berlari pincang di atas jalanan semen yang licin, dadanya sesak oleh tangis dan histeris.
"Tolong! Tolong adik saya!" teriak Raina di tengah deru hujan saat berhasil mencapai pos penjagaan depan gerbang utama.
Dua orang satpam yang bertugas malam itu terperanjat kaget melihat pembantu baru rumah utama membopong seorang anak remaja yang sudah tidak sadarkan diri di bawah guyuran hujan lebat.
"Mbak Raina?! Ada apa, Mbak?!" tanya Pak Ujang, salah satu satpam, seraya berlari membawa payung besar.
"Pak Ujang, tolong! Adik saya nggak bisa bernapas! Oksigennya habis!" jerit Raina memohon, berlutut di atas aspal dingin seraya memeluk tubuh Lio.
"Tolong panggilkan taksi atau mobil, Pak! Saya harus bawa Lio ke rumah sakit sekarang juga!" pintanya meminta tolong.
"Aduh, jam sebegini hujan deras susah cari taksi online, Mbak! Mana jalanan depan flooded lagi!" panik satpam satunya.
"Saya mohon, Pak... Tolong adik saya... Nyawa adik saya nggak selamat kalau terlambat..." raung Raina, suaranya pecah bersatu dengan suara gemuruh petir di langit.
Sementara itu, di lantai dua rumah utama.
Noah berdiri di dekat jendela kaca besar kamar tidurnya. Pria itu baru saja selesai mandi, mengenakan celana kain hitam dan kaus polos longgar. Rambut hitamnya yang masih basah diteteskan air. Tatapannya menatap lurus ke arah guyuran hujan di taman belakang.
Entah mengapa, sejak sejam lalu, perasaan Noah terasa sangat tidak tenang. Dadanya berdebar-debar tanpa alasan yang jelas.
Bayangan wajah pucat Raina saat disuruhnya bekerja seharian tadi terus membayangi pikirannya, menimbulkan rasa bersalah yang mati-matian dia tepuk ke dasar hatinya.
Tiba-tiba, suara gedoran keras dan kepanikan di area gerbang depan tertangkap oleh pendengarannya, bercampur dengan suara sirine hujan. Noah menyipitkan matanya, melihat dari ketinggian lantai dua sosok wanita yang berlutut di tengah guyuran hujan lebat di dekat pos satpam.
'Raina?' gumamnya dalam hati.
Mata Noah terbelalak. Dia melihat Raina sedang merengkuh tubuh seorang remaja laki-laki yang terkulai lemas di atas pangkuannya, menangis histeris di tengah terpaan hujan deras tanpa pelindung apa pun.
Tanpa berpikir panjang, tanpa memedulikan rasa gengsi atau dendamnya, sebuah dorongan purba di dalam dada Noah memaksanya bergerak.
Noah menyambar kunci mobil Mercedes-Benz miliknya dari atas meja, berlari keluar kamar, menuruni tangga melingkar dengan langkah-langkah lebar yang hampir melompati anak tangga.
"Noah? Mau ke mana kamu malam-malam begini hujan deras?!" panggil Nyonya Eleonora yang baru keluar dari kamar lantai satu karena mendengar kegaduhan.
"Buka pintu gerbang sekarang, Nakula! Persiapkan mobil!" teriak Noah pada interkom tanpa menjawab mamanya.
Noah melangkah cepat keluar dari pintu utama, menembus terpaan air hujan yang dingin menyengat kulitnya. Sepatu mewahnya basah terendam genangan air, namun matanya hanya tertuju pada satu titik: sosok Raina yang menangis meraung-raung memeluk adiknya.
"Raina!" bentak Noah, suaranya menggelegar menembus deru hujan.
Raina menoleh dengan wajah yang sepenuhnya basah oleh air hujan dan air mata. Matanya yang memerah dan sembap menatap Noah dengan pandangan keputusasaan yang paling dalam.
"T-Tuan Muda..." bisik Raina lirih, suaranya hampir habis. "Tolong... tolong adik saya, Tuan Muda... Lio nggak bisa bernapas... Lio mau meninggal..." Raina memohon dengan sangat.
Noah terpaku kaku saat jarak mereka makin dekat. Dia melihat wajah remaja laki-laki di pangkuan Raina dimana bibirnya sudah membiru, matanya terpejam rapat, dan dadanya hampir tidak bergerak lagi. Dan yang paling menghantam dada Noah adalah raut wajah Raina. Raut wajah yang hancur, rapuh, dan penuh penderitaan yang tak tertahankan.
Rasa dendam, rasa benci, dan benteng es yang dibangun Noah selama lima tahun... mendadak runtuh berkeping-keping di detik itu juga.
"Pak Ujang, angkat anak ini ke kursi belakang mobil saya! Cepat!" perintah Noah tegas dan keras tanpa ragu sedikit pun.
"B-baik, Tuan Muda!" satpam bergegas membopong tubuh Lio.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
makanya jadi orang jangan digedein s gengsinya...
makan tu gengsi
semangat author yah