Pernikahan impian yang dibayangkan Naya berubah menjadi takdir nekad saat ia terpaksa naik ke pelaminan, menggantikan sang kakak yang kabur tepat sehari sebelum akad. demi menyelamatkan kehormatan keluarganya, Naya pasrah mengikat janji suci dengan pria asing yang bahkan tak pernah ia bayangkan.
Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat tirai malam pertama tersingkap. Pria yang kini sah menjadi suaminya adalah Raka Mahendra—CEO dingin dan arogan yang pernah memanjatkan penderitaan di hidup Naya dengan memecatnya secara sesepihak di depan umum. Pernikahan atas dasar kesepakatan enam bulan pun dimulai dengan kebencian yang masih membakar dada.
Di tengah perang dingin satu atap, benteng pertahanan Raka perlahan runtuh. Sikap ketusnya berganti perhatian samar yang membuat hati Naya berdesir.
Bagaimana keseruan rumah tangga instan yang mereka jalani ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fikafiky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang Direksi
Matahari pagi di awal pekan memancarkan sinar cerah yang menembus kaca-kaca tinggi ruang rapat utama Mahendra Group. Di lantai teratas gedung megah tersebut, suasana terasa teramat kaku dan dingin. Bau harum kopi berpadu dengan ketegangan yang kental di udara.
Dua belas anggota dewan komisaris dan direksi duduk mengelilingi meja oval raksasa berbahan kayu jati pilihan. Di ujung meja, kursi utama CEO masih kosong, sementara Hendra Mahendra sudah duduk tegap di sisi kanan dengan kemeja putih mahal dan jas abu-abu gelap. Wajah pria paruh baya itu tampak tenang dan penuh percaya diri, seolah-olah gertakan Raka di rumah sakit semalam hanyalah gertak sambal tanpa isi.
Hendra mendehem keras, melirik jam tangan mewahnya yang menunjukkan pukul delapan lewat lima puluh lima menit.
"Bapak-Bapak Dewan Komisaris yang terhormat," buka Hendra dengan suara mantap, memegang peranan seolah dialah pemimpin rapat hari ini. "Seperti yang kita ketahui, rapat darurat pagi ini saya ajukan untuk membahas masalah kepemimpinan di Mahendra Group. Raka Mahendra, terlepas dari statusnya sebagai putra almarhum pendiri, telah menunjukkan ketidakstabilan emosional dan keputusan bisnis yang merugikan belakangan ini.
Bahkan ..." Hendra tersenyum tipis, penuh kelicikan, "...ia membawa masalah pribadi dan skandal pernikahan palsu ke dalam jajaran eksekutif."
Para anggota komisaris mulai saling berbisik. Kasak-kusuk ketidakpuasan dan keraguan mulai menguar di dalam ruangan.
Brak!
Pintu ganda ruang rapat terbuka lebar. Suara benturan halus itu menghentikan seluruh bisik-bisik di dalam ruangan secara seketika.
Raka Mahendra melangkah masuk dengan gaya angkuh dan penuh wibawa yang tak tertandingi. Pria itu mengenakan setelan jas hitam tiga lapis berpotongan sempurna.
Di sisinya, berjalan tegap Naya Kanindita yang tampil amat anggun dalam balutan blazer wanita berwarna biru dongker dan rambut yang disanggul rapi. Naya memeluk sebuah map kulit hitam tebal di dadanya, menatap lurus ke depan tanpa ada sedikit pun pendar ketakutan di matanya.
Di belakang mereka, dua orang pria berjas hitam memikul sebuah proyektor portabel dan beberapa tumpukan dokumen tebal.
Raka berjalan menuju ujung meja utama, menarik kursi CEO, lalu mendudukkan dirinya dengan gerakan yang teramat tenang.
Naya berdiri tegap tepat di sebelah kanan kursinya, siap bagaikan seorang asisten utama sekaligus mitra tepercaya.
"Selamat pagi, Anggota Dewan yang terhormat," sapa Raka dengan suara rendah, berat, dan sarat akan intimidasi yang begitu pekat. "Mohon maaf jika rapat ini sempat dibuka oleh orang yang tidak memiliki wewenang hukum untuk memimpinnya."
Mata Hendra menyipit tajam. "Raka! Jangan berlagak sopan! Ini rapat direksi, bukan panggung teater untukmu dan wanita penipu yang kamu bawa itu!"
Raka tidak menyahut bentakan pamannya. Pria itu menopang dagunya dengan kedua tangan yang bertaut di atas meja, menatap Hendra dengan pandangan yang penuh rasa kasihan yang mengejek.
"Bagas, kunci seluruh pintu ruang rapat," perintah Raka tenang.
Klek.
Dua pengawal pribadi di luar memutar kunci ganda dari luar, mengurung seluruh petinggi Mahendra Group di dalam ruangan tersebut. Suasana di dalam ruangan seketika berubah menjadi sangat mencekik.
"Raka! Apa-apaan ini?!" seru salah satu komisaris senior. "Kenapa pintu dikunci?!"
"Harap tenang, Bapak-Bapak sekalian," potong Raka seraya memberi sinyal pada Naya. "Pintu dikunci agar tidak ada satu pun penjahat yang mencoba melarikan diri sebelum aparat kepolisian tiba di gedung ini."
Naya melangkah maju satu tapak, membuka map kulit hitam tebal di tangannya, lalu menyerahkan beberapa salinan dokumen tebal ke hadapan para komisaris satu per satu. Dengan suara yang jernih, tegas, dan tanpa keraguan sedikit pun, Naya mulai angkat bicara di depan jajaran penguasa bisnis tersebut.
"Selamat pagi," sapa Naya anggun. "Nama saya Naya Kanindita. Selama delapan tahun terakhir, keluarga saya, terutama ayah saya, Surya Kanindita, telah dicap sebagai penjahat dan dalang atas kebakaran pabrik tekstil Mahendra Group di Bandung yang menewaskan belasan jiwa dan merugikan perusahaan puluhan miliar rupiah."
Para komisaris mengerutkan dahi, mulai membuka-buka lembaran dokumen yang dibagikan Naya.
"Namun hari ini," lanjut Naya dengan binar mata yang membara, "kami hadir untuk menyerahkan bukti otentik yang membuktikan bahwa Ayah saya hanyalah korban penumbalkan dari kejahatan terencana yang dilakukan oleh Direktur Operasional Anda sendiri ... Bapak Hendra Mahendra."
"OMONG KOSONG!" teriak Hendra histeris seraya memukul meja dengan kuat. Pria itu berdiri dengan wajah merah padam. "Jangan dengarkan wanita gila ini! Dia hanya rakyat jelata yang mencoba memeras perusahaan kita!"
"Duduk, Paman," tegur Raka dengan nada suara yang begitu dingin hingga sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.
Raka mengangguk pada Naya. Naya dengan sigap menghubungkan sebuah flashdisk besi ke laptop yang terhubung ke layar proyektor raksasa di dinding depan ruangan.
Seketika, layar putih di dinding menyala. Salinan rekaman audio berkualitas tinggi dan grafik aliran dana bank rahasia dari akun lepas pantai di Kepulauan Cayman terpampang nyata di depan mata seluruh anggota komisaris.
Suara percakapan telepon yang amat jelas menggema melalui pengeras suara ruangan:
( "Pastikan bahan kimia di Gudang C ditukar dengan jenis yang mudah meledak malam ini. Setelah api membesar, biarkan Surya Kanindita terjebak di dalam atau tuduh dia yang bertanggung jawab. Asuransi bernilai dua ratus miliar harus cair bulan depan untuk menutup kerugian investasiku di Singapura ...")
Suara di dalam rekaman itu tidak lain dan tidak bukan adalah suara Hendra Mahendra sendiri.
Seluruh ruangan mendadak gempar. Para komisaris senior membelalakkan mata tidak percaya, menatap layar proyektor dan Hendra bergantian dengan raut wajah syok yang luar biasa.
"Ini... ini rekaman rekayasa!" gugat Hendra, suaranya mulai bergetar hebat dan peluh dingin mulai membasahi dahinya. "Ini teknologi AI! Raka sengaja memfitnahku demi menjatuhkanku!"
"Apakah surat analisis forensik digital dari Mabes Polri dan salinan buku harian asli Pak Surya Kanindita ini juga rekayasa AI, Hendra?"
Sebuah suara tenang namun sarat akan wibawa terdengar dari sudut belakang.
Pintu samping ruang rapat yang terhubung ke ruang tunggu eksekutif terbuka.
Siska Mahendra, Ibunda Raka, melangkah masuk dengan gaun hitam yang amat elegan, didampingi oleh dua orang penyidik dari Kejaksaan Agung dan lima personel kepolisian berseragam lengkap.
Hendra terduduk lemas di kursinya, wajahnya seketika pucat pasi bagaikan mayat.
"I-Ibu ..." bisik Hendra terbata-bata.
Siska berjalan mendekati meja utama, menatap adik iparnya itu dengan tatapan penuh kepedihan sekaligus rasa jijik yang mendalam. "Delapan belas tahun kamu hidup dari kebaikan almarhum suamiku, Hendra. Tapi kamu tega membakar aset perusahaan, membunuh saudaramu sendiri, dan menghancurkan hidup keluarga yang tidak bersalah demi kerakusanmu sendiri. Kamu adalah benalu di dalam keluarga Mahendra."
Siska berpaling menatap Naya, memberikan sebuah anggukan kepala yang amat penuh rasa hormat dan permohonan maaf yang tulus. Naya membalas anggukan itu dengan senyuman haru yang menenangkan.