sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.
sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.
sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.
sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Penyerahan Anak
Ruanga Puskesmas Kecamatan itu yang tadi hanya berisi suara mesin oksigen yang berdesis pelan, kini sunyi seperti kuburan.
Semua mata tertuju pada lembaran kertas putih yang dipegang Johan. Kertas dengan materai 10 ribu yang sudah ditempel di pojoknya.
Surat Penyerahan Hak Asuh Anak.
Mama Leni yang buta huruf pun tahu apa arti kertas itu setelah mendengar ucapan Johan. Tangannya langsung mengepal.
Dokter Anya, yang sejak tadi berdiri di samping ranjang Bintang, menatap Johan dengan tatapan jijik yang tidak ia sembunyikan. Sebagai dokter muda dari kota, ia paling benci melihat perempuan diinjak-injak begini.
Sari masih duduk di lantai. Lututnya masih berdarah karena jatuh di padang tadi. Rambutnya berantakan, penuh debu garam. Tapi matanya, matanya menatap kertas itu dengan tajam.
Lina, istri baru Johan, melangkah maju dengan percaya diri, menggendong Kevin yang gemuk itu.
"Ini jalan terbaik, Sari. Kau pikir-pikir pakai otak, jangan pakai perasaan," kata Lina, suaranya dibuat seolah bijak. "Kau miskin. Gubukmu bocor. Kau makan saja susah. Bagaimana kau mau biayai operasi anak cacat? Kakinya bengkok, tangannya dempet. Butuh puluhan juta sampai dia besar. Kau punya uang?"
Sari diam.
"Kalau sama kami," lanjut Lina, mengelus pipi Kevin, "Bintang akan kami bawa ke Waingapu. Kami sekolahkan di sekolah bagus. Kami operasi kakinya sampai normal. Dia akan jadi anak kota, bukan anak pemikul garam seperti kau. Dia akan panggil aku Mama. Hidupnya akan enak. Kau mau anakmu hidup enak atau hidup menderita sepertimu?"
Setiap kata Lina adalah pisau yang mengiris-iris hati Sari. Karena ada benarnya. Sari tahu dirinya miskin. Sari tahu ia tidak punya apa-apa.
Johan menunduk, tidak berani menatap mata Sari. "Sari... Lina benar. Aku tidak bisa bawa kau berdua ke Waingapu. Lina... Lina sudah banyak bantu aku. Uang ini uang dia juga. Dia mau terima Bintang asal... asal Bintang jadi anaknya. Bukan anakmu."
Sari akhirnya mengangkat wajahnya. Air matanya sudah tidak ada lagi. Yang ada hanya dua mata merah yang menyala karena marah dan cinta seorang ibu.
Perlahan, dengan tangan gemetar karena masih lemah sehabis melahirkan dan berdarah, Sari berdiri. Ia berpegangan pada tiang ranjang Bintang. Ia melihat Bintang yang masih terpasang selang oksigen, yang napasnya masih cepat, yang kaki bengkoknya masih dibiarkan begitu saja.
Lalu ia melihat amplop berisi enam juta itu. Enam juta yang bisa menyelamatkan kaki anaknya.
Sari mengulurkan tangannya.
Johan mengira Sari akan mengambil kertas itu. Lina tersenyum menang.
Tapi Sari tidak mengambil kertas. Ia mengambil amplop uang itu, lalu...
*BRAKK!*
Sari melempar amplop itu sekuat tenaga ke wajah Johan. Uang-uang pecahan seratus ribu berhamburan keluar dari amplop, jatuh berserakan di lantai Puskesmas yang kotor.
"AMBIL UANGMU! BAWA PERGI PEREMPUANMU DAN ANAK SEMPURNAMU ITU DARI SINI!" teriak Sari, untuk pertama kalinya seumur hidupnya ia berteriak sekencang itu. Suaranya serak, pecah, tapi menggelegar sampai ke luar Puskesmas.
"BINTANG ADALAH ANAKKU! DARAHKU! DIA LAHIR DARI RAHIMKU SAAT AKU SENDIRIAN DI TENGAH BADAI SAAT KAU TIDUR DENGAN PEREMPUAN LAIN! KAU KATAKAN DIA CACAT? KAU YANG CACAT HATINYA, JOHAN!"
Sari terengah-engah, dadanya naik turun. Mama Leni langsung memeluknya dari belakang, takut Sari jatuh lagi.
"KAKINYA BENGKOK? TANGANNYA DEMEPET? ITU ANAKKU! AKU YANG AKAN GENDONG DIA SAMPAI KAKINYA KUAT! AKU YANG AKAN SUAPI DIA SAMPAI TANGANNYA BISA PEGANG SENDOK! AKU TIDAK BUTUH UANGMU YANG MINTA AKU JUAL ANAKKU SENDIRI!"
Lina kaget, wajahnya merah karena malu uangnya dilempar. Ia menarik lengan Johan dengan kasar.
"Lihat! Sudah kubilang dia perempuan gila! Tidak tahu diuntung! Ayo pergi, Johan! Biarin aja anak cacat itu mati di sini! Kita urus Kevin saja!"
Johan masih mematung, melihat uangnya berserakan di lantai. Wajahnya penuh rasa malu dan kalah. Ia menatap Sari, menatap Bintang, lalu menatap Lina.
Akhirnya, ia membungkuk, memungut uangnya satu per satu dari lantai dengan tangan gemetar. Tidak ada yang membantu. Dokter Anya bahkan sengaja menginjak satu lembar uang seratus ribu yang jatuh dekat kakinya.
Setelah semua uang terkumpul, Johan berdiri. Ia menatap Sari untuk terakhir kalinya.
"Kalau begitu, kau urus sendiri anakmu itu, Sari. Jangan pernah cari aku lagi," kata Johan dingin.
Ia berbalik, menggandeng Lina dan Kevin, keluar dari Puskesmas, naik motor trailnya, dan pergi lagi. Kali ini suara motornya terdengar lebih jauh, lebih hilang, sampai benar-benar tidak terdengar lagi.
Sari ambruk lagi ke lantai. Kali ini ia menangis, bukan karena Johan pergi, tapi karena ia baru saja membuang satu-satunya kesempatan untuk menyembuhkan kaki anaknya.
"Maafkan Ibu, Bintang... Maafkan Ibu... Ibu egois... Ibu tidak bisa kasih kaki baru buat kamu..." isak Sari di lantai.
Dokter Anya yang sejak tadi diam, tiba-tiba berjongkok di depan Sari. Ia memegang kedua bahu Sari dengan erat.
"Bu Sari, dengar saya. Angkat kepala Ibu."
Sari mengangkat wajahnya yang penuh air mata.
"Ibu baru saja melakukan hal paling berani yang pernah saya lihat selama saya jadi dokter di pulau ini. Ibu tidak menjual anak Ibu. Ibu memilih cinta tanpa syarat. Dan karena itu, saya akan bantu Ibu."
Dokter Anya berdiri, mengambil HP-nya yang sinyalnya hanya satu bar.
"Saya punya teman di Yayasan Senyum Anak Sumba di Waingapu. Mereka yayasan khusus untuk anak-anak dengan clubfoot seperti Bintang. Mereka bisa operasi GRATIS. Tanpa biaya. Semua ditanggung yayasan, termasuk gips dan sepatunya nanti. Saya sudah lama mau hubungi mereka, tapi tidak pernah ada pasien."
Mata Sari membelalak. "Gratis... Dok?"
"Gratis, Bu. Tapi..." Dokter Anya menggigit bibirnya. "Tapi ada syaratnya juga. Syarat dari yayasan, bukan dari saya. Mereka butuh foto KTP Ayah dan Ibu kandung untuk data, dan mereka butuh tanda tangan Ayah di atas materai untuk persetujuan operasi. Karena Bintang masih bayi di bawah umur. Tanpa tanda tangan Ayah kandung, mereka tidak bisa operasi. Itu aturan hukum yayasan."
Mama Leni langsung berdiri. "Tapi Johan sudah pergi! Dia tidak akan mau tanda tangan!"
"Justru itu masalahnya," kata Dokter Anya. "Ambulans Puskesmas bisa berangkat ke Waingapu sekarang juga, gratis, saya yang tanggung jawab. Tapi kalau sampai Waingapu tanpa tanda tangan Ayah, Bintang akan ditolak yayasan dan dipulangkan lagi ke sini dengan kaki yang tetap bengkok selamanya."
Sari menatap Bintang yang masih terbaring lemah. Ia baru saja mengusir satu-satunya orang yang bisa tanda tangan itu.
Di luar Puskesmas, suara motor lain terdengar mendekat. Bukan motor Johan. Tapi motor Pak Paulus, Kepala Desa.
Pak Paulus turun dengan tergesa-gesa, wajahnya panik. Ia masuk ke Puskesmas tanpa melepas helm.
"Dokter! Dokter! Sari! Gawat!" teriak Pak Paulus. "Tadi Johan kecelakaan di tikungan Padang Sabana! Motornya selip karena tanah becek habis hujan! Dia jatuh!"
Sari berdiri dengan kaget.
"Terus? Johan bagaimana, Pak?" tanya Mama Leni.
Pak Paulus menatap Sari dengan napas terengah-engah, lalu mengucapkan kalimat yang membuat darah Sari berhenti mengalir lagi.
"Johan... Johan luka parah di kepala! Lina dan bayinya tidak apa-apa, tapi Johan... Johan tidak sadarkan diri! Dan... dan di saku jaketnya, warga menemukan surat... surat tanah atas nama Sari! Surat tanah gubuk dan ladang garam peninggalan orang tuamu, Sari! Ternyata... ternyata Johan kembali bukan cuma bawa istri baru... dia mau ambil tanahmu untuk dijual di Waingapu!"