Siapa sangka, Sindi Permata gadis cantik anak miliarder yang penampilannya selalu anggun dan kelihatan lemah lembut ternyata punya sisi gelap yang bikin bulu kuduk merinding. Sindi adalah Ratu Mafia yang memimpin dunia hitam dengan tangan besi. Nggak ada yang berani macam-macam sama dia.
Tapi, sehebat-hebatnya Sindi menaklukan dunia luar, dia akhirnya takluk juga pasrah waktu disuruh nikah paksa sama papanya.
Suaminya adalah Mike Sanjaya, dokter muda jenius yang terkenal dingin, kaku, dan judesnya minta ampun. Masalahnya bukan cuma sifat Mike yang kayak es batu, tapi cowok itu udah punya pacar kesayangan: Putri Adisti, seorang perawat manis yang selama ini jadi ratu di hati Mike, begitu resmi jadi suami-istri, Mike langsung pasang tembok tinggi. Dia terang-terangan nunjukkin kalau pernikahan mereka cuma formalitas dan nggak ada tempat buat Sindi di hatinya. Mike bahkan masih sering nemenin dan merhatiin Putri adisti.
akankah pernikahan mereka bertahan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24 Ratu mafia istri dokter dingin
Notifikasi di layar ponsel Sindi menyala terang selama beberapa detik sebelum akhirnya meredup kembali.
Mata Mike sempat menangkap kilatan cahaya itu, namun karena posisi ponsel yang agak miring dan jarak berdirinya yang sedikit jauh, ia hanya sempat membaca sekilas nama pengirim yang tampak rumit sebelum Sindi dengan gerakan yang luar biasa mulus menyambar ponsel tersebut dan membalikkan layarnya ke atas meja kaca.
Mike mengerutkan dahi, tatapan matanya makin curiga.
"Pesan dari siapa itu, Sindi? Kok kayaknya penting banget sampai kamu buru-buru begitu?"
Sindi tersenyum sangat manis—sebuah senyuman polos nan anggun yang selalu berhasil memoles wajah cantiknya. Ia bersikap seolah tidak ada hal aneh yang baru saja terjadi.
"Cuma notifikasi grup arisan dan promosi toko langganan kok, Mas," sahut Sindi santai, suaranya mengalun sangat halus.
"Lagian, Mas Mike kok mendadak perhatian banget sama isi ponselku? Katanya kita enggak boleh saling campur tangan urusan pribadi?"
Kalimat menohok dari Sindi langsung mengunci mulut Mike. Pria itu menghembuskan napas kasar, merasa gengsinya kembali tersenggol.
Rasa curiga soal wanita misterius di CCTV rumah sakit tadi pun terpaksa ia pendam dalam-dalam.
"Terserah kamu lah," ketus Mike dingin, memutar tubuhnya dan melangkah lebar menaiki tangga menuju kamarnya. Ia masih menganggap Sindi hanyalah anak miliarder manja yang pura-pura tidak tahu apa-apa, sama sekali tak pernah terlintas di otak jenius dokternya bahwa wanita yang tidur di bawah atap yang sama dengannya adalah seorang Ratu Mafia yang ditakuti dunia bawah tanah.
Sepeninggal Mike ke lantai atas, raut wajah manis Sindi seketika sirna tanpa bekas. Wajah cantiknya berubah menjadi luar biasa dingin dan tegang.
Ia menyambar ponselnya, membuka pesan terenkripsi yang dikirimkan oleh Danu, kepala intelijen Black Viper.
Isi pesan itu benar-benar membuat mata Sindi menyipit tajam:
[Nona Sindi, gawat. Pergerakan kelompok Red Dragon di bawah perintah Baron sudah makin liar. Mereka tidak hanya mengawasi rumah sakit, tapi intel kita baru saja mengonfirmasi bahwa penyusup Red Dragon sudah berhasil melacak koordinat wilayah pemukiman perumahan elite ini. Mereka sedang mengintai area sekitar mansion tempat Anda dan Dokter Mike tinggal.]
Sindi berdiri dari sofa, melangkah perlahan menuju jendela besar berpelindung kaca tebal yang menghadap langsung ke jalanan luar komplek perumahan mewahnya.
Dari balik tirai tipis, matanya yang tajam menyapu setiap sudut jalanan yang tampak tenang dan sepi di bawah naungan lampu-lampu taman yang remang.
"Berani sekali tikus-tikus Red Dragon itu melangkahkan kaki ke area teritoriku," bisik Sindi pelan. Suara bisikannya begitu rendah, dingin, dan penuh racun.
Sindi menekan tombol panggilan cepat pada ponselnya. Hanya dalam hitungan detik, suara Danu terdengar dari ujung telepon.
"Nona Sindi," panggil Danu cepat dengan nada cemas. "Apakah Anda sudah membaca pesanku?"
"Sudah," jawab Sindi datar, menyandarkan bahunya di bingkai jendela. "Sejauh mana pergerakan mereka, Danu?"
"Ada dua mobil jip tanpa plat nomor yang terlihat berputar-putar di luar gerbang utama komplek sejak setengah jam yang lalu, Nona," lapor Danu tegang.
"Baron sepertinya frustrasi karena gagal memancing Anda keluar lewat pertarungan di pelabuhan dan kasus penculikan kemarin. Dia nekat melacak alamat rumah tinggal Anda bersama Dokter Mike untuk memastikan apakah Anda benar-benar tinggal di sana."
Sindi terkekeh pelan. Sebuah kekehan dingin tanpa rasa takut sedikit pun yang sanggup membuat Danu di seberang telepon menelan ludah.
"Baron benar-benar orang bodoh yang tidak sabaran," ucap Sindi sinis.
"Dia pikir dengan mendatangi rumahku, dia bisa menekanku? Dia lupa kalau bermain api di kandang naga cuma bakal bikin tubuhnya hangus jadi abu."
"Apakah saya perlu mengerahkan tim penjaga Black Viper untuk mengepung komplek ini dan membantai mereka malam ini juga, Nona?" tanya Danu bersemangat.
Sindi menghentikan pandangannya pada sebuah mobil jip hitam yang mendadak berhenti perlahan di balik bayangan pepohonan rindang, sekitar seratus meter dari gerbang mansionnya.
Kaca mobil jip itu agak terbuka sedikit, memperlihatkan sebuah lensa kamera bernavigasi malam yang mengarah tepat ke bangunan rumahnya.
"Jangan terburu-buru, Danu" potong Sindi tenang, melipat kedua tangannya di dada.
"Komplek perumahan ini banyak dihuni pejabat dan konglomerat. Kalau kalian membuat keributan dan tembak-tembakan di sini, nama keluarga Sanjaya dan Permata bisa terseret ke media. Itu cuma bakal bikin Papaku dan Papa mertuaku pusing."
"Lalu apa perintah Anda, Nona?"
"Kirim empat orang penembak jitu terbaik kita ke atap bangunan kosong di sebelah barat komplek," perintah Sindi dengan nada penuh instruksi yang sangat presisi.
"Kunci pergerakan mereka dari jauh. Kalau mereka cuma mengintai, biarkan saja dulu. Tapi kalau ada satu saja dari mereka yang berani melompati pagar mansion ini... habisi di tempat tanpa suara."
"Siap, Nona Sindi! Perintah dilaksanakan!" jawab Danu patuh sebelum memutus sambungan telepon.
Sindi mematikan ponselnya. Ia masih berdiri mematung di dekat jendela, mengawasi jip hitam Red Dragon yang terparkir samar di kejauhan.
Senyum dingin penuh intrik terukir di bibirnya. Rencana Baron yang membabi buta ini justru akan menjadi senjata makan tuan yang sangat menguntungkan bagi Sindi untuk makin menyudutkan musuh-musuhnya.
Sementara itu, di kamar utama lantai dua...
Mike sedang berbaring di atas tempat tidur mewahnya sambil menatap langit-langit kamar dengan rasa frustrasi yang tak kunjung reda.
Punggungnya masih terasa agak pegal bekas pukulan balok kayu semalam, dan pikirannya benar-benar kalut.
Ia memikirkan ucapan pria kemarin malam di jalanan—pria yang menyuruhnya menyampaikan salam pada Sindi.
Ditambah lagi, kejadian di lobi rumah sakit tadi pagi dan sikap Sindi yang terus-terusan bertingkah tenang seolah tak ada beban sama sekali.
Sebenarnya ada hubungan apa antara Sindi dan orang-orang berbahaya itu? batin Mike terus berputar-putar dalam teka-teki.
Kenapa orang-orang preman itu selalu menyebut nama Sindi tiap kali beraksi? Apa mungkin Sindi terlibat utang atau bisnis terlarang dengan mereka tanpa sepengetahuanku?
Mike tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi. Pria itu memutuskan untuk bangun dari tempat tidur, berniat turun kembali ke bawah untuk menanyakan hal itu secara langsung dan menuntut kejujuran dari Sindi.
Namun, baru saja Mike membuka pintu kamarnya dan melangkah keluar menuju koridor lantai dua yang agak remang-remang...
Srrrtt...
Sebuah bayangan hitam yang sangat cepat tiba-tiba berkelebat dari arah balkon belakang lantai dua, melompati pembatas kaca dengan gerakan tanpa suara yang luar biasa lincah!
Langkah Mike membeku seketika di koridor. Matanya membelalak lebar dalam kegelapan.
Dari balik keremangan cahaya koridor, Mike melihat sosok pria berpenutup wajah hitam, mengenakan pakaian taktis tempur ringkas, sedang menyusup masuk melewati jendela balkon lantai dua yang sedikit terbuka!
Di genggaman tangan pria asing itu, berkilau sebuah pisau belati panjang bertato lambang naga merah—lambang khas dari sindikat Red Dragon!
Penyusup dari Red Dragon itu rupanya berhasil lolos dari pengawasan luar dan berniat menerobos masuk ke dalam kamar utama untuk mencari bukti atau menyandera penghuni rumah!
Mike menahan napasnya, jantungnya berdegup gila-gilaan bagaikan hendak melompat keluar dari dadanya. Ia berdiri mematung dalam cengkeraman rasa takut dan kaget yang luar biasa.
Dan tepat di saat penyusup bersenjata tajam itu mengarahkan pandangannya ke koridor tempat Mike berdiri... dari arah sudut tangga belakang, langkah kaki tenang Sindi terdengar mendekat!
Bersambung.....
makin seruu cerita ny ,,
bibir ny minta di kepang dua ,, 😒😒😒
gx Mike gx musuh ny ,, ad aj yg cari gara2 ,,
duuuh sindii ,, segera berantas semua musuh mu ,,