Ditolak mentah-mentah ,Lili cuman bisa nangis kehujanan di parkiran.
Tiba tiba CEO tempatnya magang berkata.
"Daripada nangisin sampah, nikah sama saya aja."
Lili kira bercanda.
Besoknya lamaran beneran datang.
Kontrak setahun 500 juta.
Tapi yang awalnya kontrak berubah jadi benih benih cinta.
Kontrak 500 juta sudah dihapus.
sekarang cuma ada satu kontrak
SEUMUR HIDUP.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Racun Outfit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 - TERKUNCI BERDUA DENGAN SUAMI KONTRAK
Perjalanan kembali ke kota memakan waktu empat jam, tetapi rasanya berlalu begitu cepat. Mungkin karena sepanjang jalan aku dan Damian sama-sama berpura-pura lupa soal kejadian semalam.
Ciuman singkat di dahiku.
Di bawah cahaya lampu minyak.
Masalahnya, tangan kami beberapa kali bersenggolan saat hendak mengambil sesuatu di dekat tuas rem tangan. Setiap kali itu terjadi, aku buru-buru menarik tangan, sementara Damian mendadak sibuk memperhatikan jalan.
Aku mulai curiga jangan-jangan tuas rem tangan itu magnet dan kami berdua terbuat dari besi.
Untungnya, pukul tiga sore kami akhirnya tiba di apartemen lantai tiga puluh dua.
Aku sudah meyakinkan diri bahwa semuanya akan kembali normal.
Sampai pintu terbuka dan aku melihat Mama Damian sedang menata piring di ruang makan.
“Balik juga kalian!”
Mama menghampiri kami dengan wajah cerah. Aku langsung menyalaminya, masih membawa rantang kosong dan tempe goreng pemberian Ibu.
“Bagaimana kampungnya? Ibu Lili sehat? Rumah birunya sudah bagus?”
“Sehat, Ma. Ibu senang sekali rumahnya dicat.”
“Syukurlah!”
Tatapan Mama kemudian turun ke bando biru di kepalaku, lalu berpindah ke kaos hitam Damian yang masih memiliki noda cat.
Mama mengangguk puas.
“Cocok.”
Aku mengernyit. “Apanya, Ma?”
“Kalian!”
Aku hampir tersedak ludah sendiri, sementara Damian memejamkan mata seolah sedang meminta kesabaran tambahan.
“Ma, jangan mulai.”
Mama malah tertawa. “Sudah, masuk. Mama sudah mengganti sprei kamar utama.”
Aku dan Damian saling pandang.
“Kenapa sprei kamar utama diganti?” tanyaku curiga.
“Biar kalian nyaman tidur bersama.”
Jantungku langsung berdegup lebih cepat.
Ketika melihat kamar utama, aku semakin melongo. Seprai putih baru sudah terpasang, lengkap dengan dua setelan baju tidur satin biru langit yang diletakkan di atas ranjang.
Damian langsung berbalik mencari Mama.
“Mama, tempat tidur di kamar tamu mana?”
“Sudah Mama rapikan.”
“Kalau begitu, kami tidur di sana.”
“Tidak bisa. AC-nya rusak. Teknisi baru datang minggu depan.”
“Ma!”
Mama mengangkat bahu santai. “Kalian suami istri yang sah. Masa tidur pisah terus?”
Aku menunduk, merasakan telingaku memanas.
Mama menunjuk baju tidur di atas ranjang. “Sudah, mandi dan ganti baju. Nanti minum susu jahe. Siapa tahu Mama cepat dapat cucu.”
“MA!”
Mama tertawa sambil meninggalkan kamar. Beberapa detik kemudian terdengar bunyi pintu terkunci.
Damian mencoba membuka gagangnya.
Tidak berhasil.
“Ma!”
“Jam sembilan Mama buka!”
“Kenapa dikunci?”
“Biar kalian tidak kabur!”
Aku menatap jam dinding. Pukul tiga sore.
Enam jam terkunci bersama bosku sendiri, yang sekarang juga berstatus sebagai suamiku.
“Hidup saya benar-benar tidak punya rem,” gumamku.
Damian menoleh. “Kalau kamu bisa mendobrak pintu ini, bonus gajimu saya naikkan.”
“Mas, saya sudah jadi istri Mas. Bukan karyawan.”
Dia terdiam. Aku pun ikut diam.
Aneh sekali. Kalimat sederhana itu terasa berbeda ketika kami berada di kamar yang sama, dengan satu ranjang besar di depan mata.
Akhirnya Damian menunjuk kamar mandi.
“Kamu ganti baju dulu. Aku menghadap tembok.”
Dia benar-benar berbalik.
Aku hampir tertawa melihat CEO yang biasanya membuat seluruh kantor gugup itu berdiri menghadap dinding hanya karena istrinya hendak berganti pakaian.
Beberapa menit kemudian, aku keluar mengenakan baju tidur satin biru. Bando biru dua puluh ribu masih terpasang di kepalaku.
“Sudah,” kataku.
“Boleh aku berbalik?”
Aku menahan tawa. “Boleh.”
Damian berbalik, lalu terdiam sesaat.
“Kamu cocok pakai warna biru.”
Aku memainkan ujung bandoku. “Cocok dengan rumah kita?”
Dia mengangguk.
“Rumah kita,” ulangnya pelan.
Entah kenapa, dua kata itu membuat jantungku berdebar lebih kencang daripada ketika dia memujiku.
Kami duduk di sisi ranjang yang berbeda. Jarak di antara kami cukup lebar, seperti dua orang yang sedang menghadiri rapat penting perusahaan.
Dari luar kamar, suara Mama terdengar sedang menelepon seseorang.
“Iya, Bu Siti! Anak saya sudah satu kamar!”
Aku dan Damian langsung saling pandang.
“Iya, doakan cepat punya cucu!”
Damian menutup wajah dengan satu tangan. Aku tidak tahan dan akhirnya tertawa. Beberapa detik kemudian, dia ikut tertawa.
“Maaf,” katanya.
“Mama memang begitu.”
“Ibumu juga pasti begitu.”
Aku mengangguk. “Berarti kita sama-sama korban.”
Pukul empat sore, udara AC mulai terasa sangat dingin. Aku menarik selimut sampai ke bahu. Tanpa berkata apa-apa, Damian mengambil selimut lain dan menyampirkannya ke tubuhku.
Tangannya sempat menyentuh kulitku.
Kami sama-sama terdiam.
“Lili,” katanya kemudian. “Soal semalam, ada yang ingin aku jelaskan.”
Jantungku langsung berdebar.
“Ciuman di dahimu itu bukan karena aku kepleset.”
Aku menatapnya. “Lalu?”
“Aku memang sengaja.”
Aku menelan ludah. “Kenapa?”
Damian menunduk sebentar sebelum kembali menatapku.
“Aku sendiri tidak tahu kapan semuanya mulai berubah. Awalnya, aku melihatmu sebagai seseorang yang bersedia menjalankan perjanjian kita. Tidak lebih.”
Aku diam, mendengarkan setiap katanya.
“Tapi ketika Rio datang, aku marah. Ketika kamu menjelaskan soal bando itu, aku merasa bersalah karena sudah membuatmu tidak nyaman. Dan saat kamu bilang rumah itu rumah kita, ternyata aku suka mendengarnya.”
Dadaku terasa hangat sekaligus sesak.
“Mas Damian…”
“Aku tidak tahu perasaan ini akan sampai sejauh apa,” lanjutnya. “Tapi aku mulai tidak ingin kamu tinggal di sini hanya karena kontrak.”
Aku menunduk, berusaha menyembunyikan mata yang mulai terasa panas.
“Aku tidak membeli kamu, Lili. Kalau kontrak kita selesai dan kamu ingin pergi, aku tidak akan menahanmu.”
Aku mengangkat wajah perlahan.
“Kalau aku tidak ingin pergi?”
Damian terdiam sesaat. Kemudian senyum kecil muncul di wajahnya.
“Berarti kita bicarakan semuanya tanpa kontrak.”
Aku menatapnya dengan jantung berdebar.
“Jadi, Mas benar-benar mulai suka sama aku?”
“Mulai?”
Aku mengerutkan kening. “Memangnya sejak kapan?”
“Jangan ge-er.”
“Lho!”
Dia tertawa, dan aku ikut tertawa meskipun pipiku terasa panas.
Namun, setelah tawanya mereda, Damian kembali menatapku dengan serius.
“Aku ingin kamu tetap tinggal karena kamu memilihku, bukan karena uang atau kewajiban.”
Aku memainkan ujung selimut.
“Aku pikir-pikir dulu.”
“Baik.”
Dia tidak memaksaku menjawab. Justru sikap itulah yang membuatku semakin gugup.
Ketika ketukan terdengar dari pintu, aku langsung mengambil gelas susu jahe yang sudah disiapkan Mama.
“Lili! Damian! Susunya diminum!”
“Sudah, Ma!”
“Jangan cuma ngobrol!”
Aku menatap Damian sambil menahan tawa.
“Mama menguping, ya?”
“Seratus persen.”
Malam itu, ketika akhirnya pintu dibuka, aku belum memiliki jawaban atas perasaanku sendiri. Namun, ada satu hal yang mulai kupahami: pernikahan kami tidak lagi terasa seperti kesepakatan bisnis semata.
Di atas meja, map kontrak itu masih tersimpan rapi. Lima ratus juta rupiah yang dahulu terasa seperti jalan keluar kini justru menjadi pengingat bahwa suatu hari nanti kami harus menentukan pilihan.
Aku memandangi Damian yang sedang merapikan gelas.
Bagaimana jika kontrak itu benar-benar berakhir, tetapi aku tidak ingin pergi?
Bagaimana jika selama ini aku mengira sedang belajar menjadi istri kontrak, padahal tanpa sadar aku justru sedang jatuh cinta?
Aku menyentuh bando biru di kepalaku dan tersenyum kecil.
Sepertinya, kali ini aku menghadapi masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan uang lima ratus juta.
Sebab yang mulai kuinginkan bukan lagi sekadar kehidupan yang lebih baik.
Aku mulai menginginkan Damian.