"Gue capek jadi badut. Mulai hari ini, lo bebas dari gue."
Selama tiga tahun di SMA Nusantara, semua orang tahu kalau Elsa Nur Cahyani adalah cegil (cewek gila) garis keras yang bucin mati-matian ke Muhammad Firdaus, Ketua OSIS sempurna yang sedingin es. Elsa rela dipermalukan, jadi seksi sibuk OSIS tanpa dibayar, sampai dihukum lari keliling lapangan demi cari perhatian Firdaus. Hasilnya? Nol besar. Firdaus tetap menganggap Elsa gangguan yang tidak punya harga diri.
Titik balik itu datang di hari ulang tahun Firdaus. Setelah kuenya dihancurkan dan cintanya ditolak mentah-mentah di depan satu sekolah, Elsa sadar: dia sudah selesai. Elsa memutuskan pensiun jadi budak cinta. Dia berubah total—menjadi cuek, fokus pada ujian, dan benar-benar menganggap Firdaus tidak ada.
Tapi anehnya, saat Elsa melangkah pergi, justru Firdaus yang mulai kehilangan arah. Cowok yang tadinya antipati itu mendadak sadar kalau dunia tanpa gangguan Elsa ternyata terasa sangat sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejadian Tak Terduga 15.
Lapangan basket SMA Nusantara siang itu mirip wajan panas. Udara lengket oleh keringat, riuh oleh decit sepatu karet, dan dipenuhi teriakan anak-anak kelas XII A yang sedang mengambil nilai lemparan bebas.
Elsa berdiri di dekat garis pembatas lapangan. Tangannya memegang papan klip, bertugas mencatat giliran tampil.
Rambut kuncir kudanya sudah agak lepek, tapi matanya tetap fokus pada daftar nama.
Di sebelahnya, Firdaus baru saja menyelesaikan gilirannya. Cowok itu menyampirkan handuk kecil di leher, napasnya memburu teratur.
Keduanya tidak saling bicara, hanya ada hening yang canggung—jenis keheningan milik dua orang yang punya terlalu banyak sejarah, tapi memilih pura-pura asing di depan publik.
"El, habis ini giliran Reno, kan?" tanya Firdaus datar, matanya lurus menatap lapangan tanpa menoleh ke arah Elsa.
"Iya," jawab Elsa singkat, jemarinya meremas pulpen lebih erat dari biasanya. Suara Firdaus selalu sukses memicu getaran halus yang menjengkelkan di dadanya.
Tepat saat itu, di tengah lapangan, Reno bersiap melakukan lay-up.
Sialnya, kaki Reno slip saat bertumpu.
Bola berputar liar, lepas dari kendali, dan melesat cepat ke arah pinggir lapangan.
Ke arah posisi berdiri Elsa yang sedang lengah menunduk melihat papan nilai.
Brakk!
"Elsa, awas!"
Teriakan Firdaus terlambat semenit.
Bola basket berukuran tujuh itu menghantam telak pelipis kanan Elsa.
Benturan keras itu menghasilkan bunyi plak yang bikin ngilu.
Papan klip di tangan Elsa terlepas, jatuh menghantam semen.
Tubuh ramping gadis itu limbung, ambruk ke belakang dengan posisi terduduk.
Pandangannya langsung kabur, menyisakan pening luar biasa yang menghantam ubun-ubun.
Refleks tubuh Firdaus bekerja lebih cepat dari otaknya.
Wajah cowok itu mendadak pias. Tanpa peduli pandangan anak-anak sekelas, Firdaus langsung melesat maju. Jantungnya berdegup gila-gilaan.
Pikirannya hanya satu, Elsa yang terluka. Dia harus mendekat. Dia harus memastikan gadis itu baik-baik saja.
Namun, baru lima langkah berlari, kaki Firdaus mendadak seperti terpaku ke bumi. Langkahnya terkunci mati.
Dari arah koridor kelas XII B yang kebetulan sedang jam kosong, sebuah siluet jangkung bergerak secepat kilat. Aris. Cowok dengan seragam yang sengaja dikeluarkan itu menerobos kerumunan anak-anak dengan kasar.
Wajahnya yang biasanya santai dan penuh cengiran, kini mengeras tegang.
Aris melompati garis pembatas lapangan, berlutut tepat di depan Elsa yang masih memegangi pelipisnya.
"El! Hei, lihat gue. Bagian mana yang sakit?" Suara Aris terdengar serak dan panik. Tangannya yang besar tapi gemetar langsung menangkup dagu Elsa, mendongakkan wajah gadis itu dengan hati-hati.
Mata Elsa yang berair karena menahan sakit perlahan fokus.
Hal pertama yang dia lihat adalah sepasang mata elang Aris yang dipenuhi rasa cemas yang nyata, bukan sekadar basa-basi formalitas teman seangkatan.
"Pusing..." bisik Elsa lirih. Setitik darah segar mulai merembes dari luka lecet di pelipisnya, kontras dengan kulitnya yang putih bersih.
Melihat darah itu, rahang Aris mengeras.
Dia menoleh ke tengah lapangan, menatap Reno dengan pandangan menghunus yang sanggup membuat nyali siapapun ciut. "Lo kalau main pakai mata, Ren!" bentaknya keras, membuat suasana lapangan yang tadinya bising mendadak senyap mencekam.
Reno mengangkat kedua tangan, merasa bersalah. "Sori, Ris. Gue gak sengaja. Tadi slip—"
"Gak usah banyak alasan," potong Aris dingin. Tanpa babibu lagi, Aris menyelipkan satu lengannya di bawah lutut Elsa dan lengan lainnya di punggung gadis itu.
Dalam satu gerakan mulus dan bertenaga, Aris mengangkat tubuh Elsa ke dalam gendongannya ala bridal style.
Elsa terpekik kecil, refleks mengalungkan kedua tangannya ke leher Aris untuk mencari keseimbangan.
Di tepi lapangan, Firdaus menyaksikan seluruh adegan itu dengan tangan yang mengepal kuat di Sisi tubuh. Buku-buku jarinya memutih. Dadanya terasa seperti dihantam palu besar tak kasat mata—sesak, panas, dan perih.
Firdaus tahu, dia tidak punya hak untuk cemburu. Dia yang hari ini memilih untuk menarik diri dari hidup Elsa karena ego dan rahasia masa lalu mereka.
Tapi melihat Elsa bersandar di dada cowok lain, tepat di depan matanya sendiri, rasanya seperti dipaksa menelan pecahan kaca.
Saat Aris berbalik untuk membawa Elsa menuju ruang UKS, langkah cowok itu sempat melambat ketika melewati Firdaus. Kedua mata cowok itu saling bertubruk di udara.
Aris menatap Firdaus dengan tatapan menantang, seolah menegaskan sebuah kepemilikan yang baru.
Sementara Firdaus hanya bisa berdiri mematung, menatap punggung Aris yang perlahan menjauh membawa Elsa pergi dari jangkauannya.
Untuk pertama kalinya, Firdaus sadar bahwa jarak yang sengaja dia ciptakan untuk melindungi Elsa, justru menjadi celah paling sempurna bagi orang lain untuk masuk lebih dalam.
......................
...****************...
Tbc,