Di dunia luar, Gabriel Alexius adalah ketua mafia paling ditakuti—dingin, kejam, dan tanpa ampun. Namun, takdir mempertemukannya dalam pernikahan rahasia dengan Aira, gadis biasa yang awalnya mengira suaminya hanyalah pria kaya yang polos dan sedikit konyol.
Di rumah, Gabriel berubah drastis menjadi suami yang manja dan bucin setengah mati, bahkan rela bertingkah konyol demi membuat istrinya tersenyum.
Semua kebohongan manis itu terbongkar saat Aira tak sengaja memergoki Gabriel dalam "mode monster" saat menghadapi musuhnya. Panik karena takut ditinggal, sang ketua mafia yang garang itu mendadak jadi panutannya yang paling penakut di hadapan sang istri.
“Aira, aku bisa menghancurkan kota ini, tapi jangan minta aku hidup tanpamu!”
Bagaimanakah kisah rumah tangga gadis biasa dengan pria paling berbahaya di dunia bawah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Kencan Di Central Park Dan Kejutan Sang Sultan
Siang hari yang cerah menyelimuti Central Park, New York. Daun-daun pohon oak yang berubah warna menjadi kemerahan dan keemasan gugur perlahan ditiup angin musim gugur yang sejuk.
Aira berjalan santai menyusuri jalan setapak berbatu di sepanjang area danau. Ia tampil begitu memesona dalam balutan trench coat warna krem yang elegan, dipadukan dengan syal rajut halus yang melingkar cantik di lehernya.
Di sampingnya, Gabriel melangkah anggun sambil terus menggenggam erat jemari Aira. Gabriel mengenakan sweater rajut warna hitam pekat yang pas di tubuh tegap berototnya, memancarkan pesona ketampanan yang sangat mencolok hingga menarik perhatian banyak pejalan kaki yang melintas.
"Matahari siang di New York terasa beda ya kalau dinikmati tanpa pengawalan ketat," tutur Aira penuh senyum, menghirup udara segar park.
Gabriel mengusap punggung tangan Aira dengan ibu jarinya, menyunggingkan senyuman manis. "Kalau kamu suka, kita bisa tinggal di sini lebih lama, Sayang. Apapun yang buat kamu bahagia, pasti aku wujudkan."
Namun, saat mereka melintasi area air mancur Bethesda Terrace, seorang pria muda bertubuh tinggi dengan pakaian gaya seniman melangkah mendekati mereka. Pria itu membawa kanvas dan pensil gambar di tangannya.
"Permisi, Miss," sapa pria asing itu dalam bahasa Inggris dengan nada sopan dan tatapan kagum ke arah Aira. "Kecantikan Anda benar-benar luar biasa di bawah sinar matahari ini. Boleh saya meminta waktu lima menit untuk melukis potret wajah Anda?"
Seketika itu juga, raut wajah Gabriel yang tadinya hangat langsung berubah menjadi sedingin es kutub!
Gabriel merangsek maju, memotong jarak dan berdiri kokoh tepat di depan Aira bagaikan benteng raksasa, menatap seniman muda itu dengan pendar mata membunuh dari dasar neraka.
"Tidak boleh!" bentak Gabriel dingin dengan aksen Inggris yang tegas dan mendominasi. "Pergi sebelum tanganmu yang memegang pensil itu patah!"
Seniman muda itu seketika gemetar hebat, mukanya pucat pasi melihat tatapan iblis dari pria di hadapannya. Tanpa membuang waktu, seniman itu membungkuk ketakutan dan lari terbirit-birit meninggalkan tempat tersebut.
Aira menepuk dahi, menahan tawa geli melihat suaminya yang mendadak kumat kecemburuannya. "Gabriel... dia kan cuma pelukis jalanan yang mau menawarkan jasa melukis."
Gabriel berbalik cepat, memasang wajah cemberut nan manja sambil memegang kedua bahu Aira. "Tapi tatapannya genit sekali, Sayang! Aku tidak rela ada pria lain yang mengamati dan melukis senyuman indahmu! Kalau kamu mau diabadikan dalam lukisan, aku saja yang lukis!"
Aira tertawa ngakak menatap wajah tegap Gabriel. "Memangnya kamu bisa melukis?"
Gabriel menepuk dadanya bangga. "Tentu saja bisa! Aku pernah kursus seni lukis taktis saat latihan intelijen dulu!"
Aira menggelengkan kepala gemas, menarik napas lega melihat kepolosan di balik sifat posesif suaminya. "Iya, iya, Tuan Sultan Bucin. Terserah kamu saja."
Gabriel kemudian menyunggingkan senyuman misterius. "Nah, karena pelukis gadungan tadi sudah pergi, sekarang waktunya kejutan utamaku."
Gabriel menuntun Aira menuju dermaga kayu di tepi danau utama Central Park. Aira tertegun saat melihat area danau yang biasanya ramai oleh perahu-perahu sewaan wisatawan kini mendadak sepi melompong. Hanya ada satu perahu dayung kayu klasik bernuansa putih yang dihiasi bunga-bunga mawar segar dan lilin aromaterapi yang mengapung anggun di tepi dermaga.
Di ujung dermaga, Felix berdiri rapi dengan kacamata hitamnya, membungkuk hormat saat melihat kedatangan mereka.
"Gabriel... mana perahu-perahu wisatawan yang lain?" tanya Aira heran sambil menatap sekeliling danau yang mendadak steril.
Gabriel tersenyum santai, merangkul pinggang Aira. "Aku sewa seluruh area danau ini selama lima jam ke depan, Sayang. Jadi tidak akan ada yang mengganggu waktu kencan romantis kita naik perahu."
Aira menyilangkan dadanya, menahan senyum. "Kamu menyewa seluruh danau Central Park cuma buat kita berdua naik perahu?"
"Tentu saja! Biar suamimu ini bisa mendayung perahu untuk Permaisurinya tanpa dilihati orang asing," jawab Gabriel bangga, lalu membantu Aira turun ke dalam perahu kayu dengan sangat hati-hati.
Gabriel naik ke atas perahu, melepas jasnya, lalu mulai mendayung perahu kayu itu pelan-pelan menuju tengah danau yang tenang. Pantulan daun-daun emas musim gugur di atas permukaan air danau menciptakan pemandangan luar biasa indah yang bak di dalam negeri dongeng.
Aira duduk di hadapan Gabriel, memandangi wajah tampan suaminya yang sibuk mendayung dengan senyuman lebar.
"Gabriel," panggil Aira lembut.
"Ya, Sayang?"
"Terima kasih untuk semuanya... Aku merasa jadi wanita paling beruntung di dunia," tutur Aira tulus dari lubuk hatinya.
Gabriel menghentikan ayunan dayungnya. Pria tegap itu berpindah duduk mendekati Aira, meraih kedua tangan istrinya dan mengecupnya penuh kehangatan.
"Bukan kamu yang beruntung, Aira," bisik Gabriel dalam dengan tatapan mata penuh cinta mutlak. "Akulah pria paling beruntung di semesta ini karena Tuhan mengirimkan seorang Permaisuri sehebat dan seindah kamu untuk mendampingi hidupku."
Di tengah ketenangan danau Central Park, Gabriel membungkuk dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman hangat nan lembut yang sarat akan cinta mendalam, menyempurnakan hari bahagia mereka di New York.
📌 Pojok Penulis (Rey Nanda):
Aaaa! Sultan Gabriel emang gak ada obatnya! Usir pelukis jalanan gara-gara cemburu, lalu sewa seluruh danau Central Park cuma buat ajak Aira naik perahu dayung romantis berdua! Bikin baper maksimal! 😭💖🚣♂️