Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Tok tok tok.
Pintu kamar paviliun diketuk berkali-kali dengan ritme yang agak cepat.
"Nona Astiana, ini aku Raka, apa kau sudah siap."
Suara Raka terdengar sedikit tidak sabar dari balik pintu kayu jati tersebut.
Di dalam kamar, Astiana sedang berdiri kaku menatap pantulan dirinya di depan cermin besar.
Nadin sibuk merapikan bagian bawah gaun malam berwarna zamrud yang menjuntai menyapu lantai marmer.
Srek.
Resleting gaun di bagian punggung Astiana akhirnya ditarik ke atas hingga tertutup rapat.
"Sempurna sekali, Nona Astiana terlihat seperti putri dari keluarga bangsawan."
Nadin bertepuk tangan pelan dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman.
Astiana memutar tubuhnya sedikit merasa sangat canggung dengan pakaian terbuka yang memperlihatkan bahunya ini.
"Gaun ini terlalu ketat, Nadin, aku tidak bisa bernafas dengan lega."
Astiana menarik-narik bagian pinggang gaun tersebut agar terasa sedikit lebih longgar.
"Ini memang modelnya begitu, Nona, namanya juga gaun pesta kelas atas."
Nadin mengambil sebuah sepatu hak tinggi berwarna perak dan meletakkannya di dekat kaki Astiana.
"Ayo pakai sepatunya, Nona, Tuan Muda Raka pasti sudah bosan menunggu di luar."
Astiana menghela nafas panjang dan memasukkan kakinya ke dalam sepatu hak tinggi tersebut.
Ini adalah pertama kalinya dia memakai sepatu dengan ujung lancip yang sangat menyiksa kaki.
Ceklek.
Astiana membuka pintu kamar dan melangkah keluar dengan gerakan yang sangat hati-hati.
Raka yang sedang bersandar di dinding lorong langsung menoleh ke arah suara pintu terbuka itu.
Deg.
Mata Raka langsung membesar dan nafasnya seolah tertahan di tenggorokan untuk beberapa detik.
Pemuda itu terdiam kaku menatap Astiana dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Gadis desa lusuh yang biasanya memakai kemeja kebesaran itu kini telah menghilang sepenuhnya.
Di hadapannya kini berdiri seorang wanita anggun dengan rambut hitam panjang yang disanggul elegan.
"Bagaimana, apakah penampilanku terlalu aneh."
Astiana bertanya dengan nada datar karena melihat Raka hanya diam mematung menatapnya.
Raka langsung tersadar dari lamunannya dan berdehem pelan untuk menutupi rasa gugupnya.
"Ehem, lumayanlah, setidaknya kau tidak membuatku malu saat kita masuk ke pesta nanti."
Raka menjawab dengan nada cuek meskipun telinganya terlihat memerah.
"Gadis ini ternyata punya wajah yang sangat cantik kalau didandani dengan benar."
Suara hati Raka terdengar jelas di telinga Astiana.
Astiana hanya tersenyum tipis merespons gengsi pemuda arogan yang mulai jinak tersebut.
"Ayo kita berangkat sekarang, pestanya akan dimulai setengah jam lagi."
Raka berbalik memimpin jalan menuju garasi mobil.
Kali ini mereka tidak memakai mobil SUV, melainkan mobil sedan mewah berwarna perak milik Raka.
Brummm.
Mesin mobil menderu halus membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang.
"Jadi, apa rencanamu malam ini, Tuan Muda Raka."
Astiana bertanya sambil melihat pemandangan lampu jalan dari balik kaca jendela.
"Informanku bilang Tuan Kusuma akan hadir di pesta lelang tertutup yang diadakan oleh PT Bintang Zamrud malam ini."
Raka mencengkeram setir mobilnya dengan kedua tangan yang terlihat tegang.
"Kita akan menyamar sebagai tamu undangan dan mencari tahu siapa Tuan Kusuma itu."
"Apakah kau punya undangan resminya."
"Kakekku adalah donatur besar di banyak yayasan, mendapatkan satu undangan lelang bukan hal yang sulit."
Raka tersenyum penuh kemenangan memamerkan pengaruh kakeknya.
"Lalu setelah kita menemukan Tuan Kusuma, apakah kita akan langsung menangkapnya."
Astiana memutar tubuhnya menghadap Raka untuk meminta kepastian.
"Tidak, di sana terlalu banyak penjaga dan orang-orang penting."
Raka menggelengkan kepalanya menolak ide gegabah tersebut.
"Kita hanya akan memantaunya, mengumpulkan bukti, dan mencari tahu siapa bos besarnya."
"Aku setuju, bergerak dalam diam jauh lebih aman daripada membuat keributan di kandang musuh."
Astiana kembali bersandar di kursi dan memejamkan matanya untuk mengistirahatkan pikirannya sejenak.
Dua puluh menit kemudian, mobil mereka tiba di pelataran sebuah hotel bintang lima yang sangat megah.
Lampu gantung kristal raksasa terlihat berkilauan dari balik kaca lobi hotel.
Raka memberikan kunci mobilnya pada petugas valet dan menawarkan lengannya pada Astiana.
"Gandeng tanganku, kita harus terlihat seperti pasangan dari keluarga kaya malam ini."
Astiana menatap lengan Raka sebentar lalu mengaitkan tangannya di sana tanpa banyak protes.
Mereka berdua berjalan masuk ke dalam lobi dengan postur tubuh yang sangat tegap dan percaya diri.
Tap tap tap.
Suara sepatu hak tinggi Astiana bergema halus berpadu dengan langkah sepatu kulit Raka.
Di depan pintu ruang aula utama, dua orang penjaga berbadan besar mencegat langkah mereka berdua.
"Tolong tunjukkan kartu undangan Anda, Tuan."
Salah satu penjaga berbicara dengan nada sopan namun wajahnya terlihat sangat garang.
Raka mengeluarkan sebuah kartu tebal berwarna emas dari saku dalam jasnya dan memberikannya pada penjaga itu.
Penjaga itu memindai barcode di kartu tersebut dengan sebuah alat kecil.
Tiit.
"Undangan atas nama perwakilan Keluarga Darma, silakan masuk Tuan dan Nona."
Penjaga itu menunduk hormat dan membukakan pintu kayu ganda yang sangat besar.
Kriet.
Suasana di dalam aula itu sangat mewah dan dipenuhi oleh ratusan tamu yang memakai pakaian serba mahal.
Alunan musik klasik terdengar mengalun lembut dari panggung kecil di sudut ruangan.
Pelayan berjalan mondar-mandir membawa nampan berisi gelas anggur dan makanan ringan.
"Ingat, jangan bicara sembarangan dan jangan menatap orang terlalu tajam."
Raka berbisik di telinga Astiana saat mereka melangkah masuk ke tengah kerumunan.
"Aku tahu, kau tidak perlu mengajariku cara bersikap tenang."
Astiana membalas bisikan itu sambil mengambil segelas air putih dari nampan pelayan yang lewat.
Dia langsung memfokuskan tenaga dalamnya ke area telinga.
Astiana mulai memilah ribuan suara hati yang saling bersahutan di dalam ruangan besar ini.
"Saham perusahaan itu pasti akan anjlok besok pagi."
"Gaun wanita di sana itu terlihat sangat norak dan murahan."
Berbagai macam pikiran picik dan urusan bisnis berputar-putar di dalam kepalanya bagaikan kaset rusak.
Astiana mengerutkan keningnya karena kepalanya mulai terasa sedikit pusing.
"Kau mencari orang dengan cincin burung elang dan ular kan."
Astiana bertanya pelan pada Raka untuk memastikan ciri-ciri target mereka.
"Benar, Dokter Handoko bilang Tuan Kusuma selalu memakai cincin itu di jari telunjuk kanannya."
Raka menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan mencari sosok yang mencurigakan.
Tiba-tiba, suara tepuk tangan meriah terdengar dari arah depan panggung utama.
Prok prok prok.
Seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu naik ke atas panggung membawa sebuah mikrofon.
"Selamat malam, para tamu undangan yang terhormat."
Pria itu tersenyum lebar menyapa semua konglomerat yang hadir malam ini.
"Lelang amal malam ini akan segera kita mulai dengan sebuah barang antik yang sangat langka."
Dua orang pelayan wanita naik ke atas panggung membawa sebuah meja dorong beroda.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣