Mentari adalah CEO konglomerat besar yang menyamar menjadi karyawan biasa demi mencari cinta sejati. Ia bertemu dengan Bara seorang pekerja yang sangat ulet dan ambisius. Selama tiga tahun ia menjalin hubungan dan diam-diam membantu pria itu membangun perusahaan.
Bara pernah berjanji akan memberikan pernikahan yang megah setelah sukses, tetapi setelah berhasil meraih kejayaan sikap pria itu ternyata berubah.
Pada malam peresmian perusahaan, Vanya, sahabat sekaligus sekretaris Bara menghina dan mempermalukan Mentari. Namun, Bara hanya diam dan berpura-pura tidak melihat.
Kecewa dengan sikap pria itu, Mentari pun pergi dan menghentikan seluruh bantuan yang selama ini diberikannya.
Saat Bara menyesali perbuatannya dan berusaha mendapatkan Mentari kembali, wanita itu telah menemukan kebahagiaan bersama Titan, seorang miliarder yang mencintainya dengan tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4— Runtuhnya Ilusi Finansial
.
Setengah jam kemudian, Bara masih duduk di ruang kerjanya sebelum memulai rapat direksi di hari pertama setelah peresmian perusahaan. Di atas mejanya ada secangkir kopi yang baru saja ia minta pada petugas pantry. Kopi yang baru saja ia letakkan setelah diseruput sedikit. Rasa dan aroma kopi yang jauh berbeda dari kopi buatan Mentari, lidahnya merasakan itu. Namun, ia gengsi untuk mengakuinya.
Mengabaikan perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba muncul, Bara menatap layar komputer di hadapannya yang sedang menampilkan laporan perkembangan perusahaan. Ia harus bersiap sebaik mungkin karena setelah ini dia akan mengadakan rapat bersama para staf senior untuk membahas rencana masa depan perusahaannya.
Namun, belum sempat ia memeriksa laporan lebih jauh, pintu ruang kerjanya tiba-tiba terbuka. Vanya masuk dengan wajah pucat dan napas yang sedikit terengah-engah.
Bara mengeraskan rahangnya dan menatap sekretarisnya itu dengan wajah tidak suka. "Ada apa? Kenapa kau masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu?" tanyanya dengan mata melotot tajam. "Kau memang sahabatku, tapi jika di perusahaan statusku adalah atasanmu. Jadi jangan sembarangan!"
Vanya terkejut mendengar kata-kata Bara. Namun ia tak punya waktu untuk membela diri. Wanita itu segera berjalan mendekati meja kerja Bara, kemudian meletakkan beberapa lembar laporan di hadapannya. Tangannya terlihat gemetar, membuat Bara semakin tidak mengerti.
"Bara, kita sedang dalam masalah besar," jawab Vanya dengan nafas memburu.
Bara melirik laporan yang diletakkan di atas mejanya, lalu kembali menatap Vanya. "Masalah apa? Katakan dengan jelas."
"Rekening operasional perusahaan dibekukan oleh pihak bank pagi ini. Semua transaksi tidak bisa dilakukan, dan pihak bank belum memberikan penjelasan yang memuaskan."
"Apa?" Bara langsung mengambil laporan tersebut. "Kenapa bisa dibekukan? Bukankah minggu lalu kita baru mendapatkan persetujuan kredit?"
"Itulah yang membuatku bingung. Aku sudah menghubungi pihak bank, tetapi mereka mengatakan ada instruksi dari komite investasi tingkat tinggi untuk mencabut fasilitas kredit perusahaan kita."
Bara terdiam membaca laporan di tangannya. Tadinya ia pikir ada kesalahan informasi. Namun, angka-angka yang tertera di sana ternyata memang menunjukkan bahwa keadaan perusahaan mereka sedang tidak baik.
"Kalau begitu, hubungi mereka lagi," perintah Bara. "Cari tahu siapa yang memberikan instruksi itu dan apa alasannya."
Vanya menggigit bibir bawahnya. Dia sebenarnya sudah berusaha melakukan semua itu sejak pagi, bahkan sebelum melaporkan masalah itu pada Bara, tetapi hasilnya tetap sama.
"Aku sudah mencoba menghubungi mereka berulang kali, Bara. Bukan hanya pihak bank, tiga investor utama kita juga tiba-tiba membatalkan kerja sama. Padahal, hari ini mereka seharusnya mulai menanamkan modal ke perusahaan."
Bara langsung berdiri dari kursinya. "Bagaimana bisa mereka membatalkan kerja sama begitu saja? Bukankah semua perjanjian sudah ditandatangani?"
"Itu yang tidak aku mengerti. Aku sudah mencoba menghubungi mereka, tetapi nomor telepon mereka tidak aktif. Bahkan, ada sekretaris yang langsung memutuskan sambungan begitu aku menyebut nama perusahaan kita."
Bara mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Pagi yang seharusnya dia mulai dengan penuh semangat kini berubah menjadi sesuatu yang sama sekali tidak pernah dibayangkannya.
Kemarin, dia masih berdiri dengan bangga di hadapan para tamu undangan setelah berhasil membuktikan bahwa dirinya mampu membangun perusahaan besar. Namun, sekarang rekening perusahaan justru dibekukan, sementara para investor yang selama ini diandalkannya mendadak menarik diri. Apa yang sebenarnya terjadi?
Bara berjalan mondar-mandir di dalam ruang kerja. Sesekali dia berhenti untuk memeriksa ponselnya, berharap ada kabar baik yang bisa sedikit menenangkan pikirannya. Namun, tidak ada satu pun kabar yang bisa membuatnya merasa lega.
"Vanya, coba periksa lagi dengan benar. Apa ada masalah dalam laporan keuangan kita? Atau mungkin ada dokumen yang belum diselesaikan oleh bagian administrasi?"
Vanya menggelengkan kepala. "Aku sudah memeriksa semuanya, Bara. Tapi sama sekali tidak ada yang salah. Semua dokumen yang diperlukan sudah diserahkan. Aku juga sudah memeriksa laporan keuangan sebelum datang ke sini untuk melapor."
"Kalau begitu, kenapa semuanya bisa terjadi secara bersamaan?" Bara menatapnya dengan wajah kesal. "Rekening dibekukan, fasilitas kredit dicabut, dan investor membatalkan kerja sama. Mana mungkin ini kebetulan?"
“Atau coba kau ingat-ingat, apa mungkin perusahaan kita baru saja menyinggung seseorang yang sangat penting? Tidak mungkin ini terjadi begitu saja tanpa alasan.”
Vanya menggelengkan kepala. "Seseorang siapa? Selama ini kita selalu menjaga kemitraan dengan baik. Tidak mungkin menyinggung orang penting.”
Hingga kemudian Vanya terdiam ketika mengingat kejadian di pesta peresmian semalam.
"Aku akan mengingat kejadian malam ini."
Kalimat datar yang diucapkan oleh Mentari itu tiba-tiba terngiang di kepalanya.
"Apa mungkin dia?" tanya Vanya dalam hati. Namun, wanita itu buru-buru menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin. Cewek miskin seperti dia mana mungkin punya koneksi untuk melakukan hal sebesar ini.”
"Ada apa, Vanya?” tanya Bara yang merasa aneh dengan sikap Vanya.
Vanya tergeragap dan langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Ah, tidak. Tidak ada apa-apa, Bara. Aku akan mencoba mencari tahu. Mungkin kita bisa mengajukan pinjaman ke bank lain untuk sementara waktu."
Bara menghembuskan napas kasar, lalu kembali duduk di kursinya. "Pinjaman dari bank lain tidak akan menyelesaikan masalah kalau mereka juga menolak bekerja sama dengan kita. Kita membutuhkan dana dalam waktu dekat. Gaji karyawan, pembayaran vendor, dan biaya operasional lainnya tidak bisa menunggu terlalu lama."
Bara merasa frustasi karena masalah yang sedang dihadapinya sangat besar. Padahal sebelumnya dia sudah mulai merencanakan berbagai hal untuk masa depan, tetapi kenapa semuanya bisa berubah secepat ini?
"Kalau dalam dua hari kita tidak mendapatkan dana, perusahaan bisa benar-benar berhenti beroperasi," gumamnya.
Vanya menatap Bara dengan wajah cemas. Wanita itu tidak pernah menyangka bahwa perusahaan yang baru saja mereka rayakan keberhasilannya bisa menghadapi masalah sebesar ini.
"Bara, bagaimana kalau kita mencoba menghubungi beberapa kenalan bisnis lainnya? Siapa tahu masih ada yang bersedia membantu."
"Coba saja. Hubungi siapa pun yang menurutmu bisa memberikan pinjaman. Aku tidak peduli bagaimana caranya, yang penting kita mendapatkan dana secepat mungkin."
"Baik. Aku akan mencoba menghubungi mereka lagi."
Vanya berbalik hendak meninggalkan ruangan, tetapi langkahnya terhenti ketika Bara kembali memanggilnya.
"Tunggu. Jangan sampai berita ini menyebar ke luar perusahaan. Aku tidak ingin para karyawan dan mitra bisnis mengetahui keadaan kita sebelum masalah ini diselesaikan."
Vanya mengangguk, kemudian keluar dari ruang kerja.
Setelah pintu tertutup, Bara menyandarkan tubuhnya ke kursi. Dipandanginya layar komputer yang masih menampilkan laporan keuangan perusahaan. Tetapi semakin ia memandang, angka-angka berwarna merah itu membuat kepalanya semakin pening.
Mak boleh yx getok dikit anak ny ,, 🤭
SIM ny blum ad Bu ,, 🤭🤭🤣🤣