Dulu Queen cuma anak manja yang hidupnya aman di bawah sayap orangtuanya. Sampai malam itu, kedua orangtuanya dibunuh berdarah dingin oleh rival keluarga, Don King. Queen selamat, tapi dunianya hancur. 15 tahun kemudian dia kembali, bukan sebagai korban. Dengan taktik licik, pasukan setia, dan dendam yang membara, Queen merebut satu demi satu apa yang menjadi haknya dari musuhnya sampai seluruh dunia bawah berlutut di kakinya. Tapi dendam yang dia jalankan harus dia korban juga dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina1708, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penghakiman Queen
Happy Reading
❤❤❤❤❤❤
" Biar aku bacakan satu halaman buku harian Queen yang paling indah. Halaman 45. 'Hari ini Paman Herman memeluk ku dari belakang saat aku pakai handuk habis mandi. Aku tidak nyaman. Tapi Paman bilang itu kasih sayang paman. Aku takut bilang Mommy...'"
Queen membeku. Itu halaman yang tidak pernah dia tunjukkan ke siapa pun.
"Kau lihat, Paman Cito," lanjut Vito, "Queen ini gadis yang... Butuh kasih sayang. Kalau aku kasih buku harian ini ke Dewan, dan bilang Queen mengarang cerita soal senjata untuk dapat warisan 60 persen, siapa yang akan Dewan percaya? Pembunuh yang tidak terbukti, atau gadis 19 tahun yang manja dan halusinasi karena trauma kebakaran?"
Itu taktik tuan Herman yang paling kejam. Gaslighting. Membuat korban terlihat gila.
Lucas maju. "Kau brengsek, Herman! Queen tidak gila!"
Tuan Herman menatap Lucas. "Oh, Lucas si tukang cuci uang. Kau sudah cuci berapa untuk ku? 2 juta euro? Kalau aku masuk penjara, kau juga masuk, Lucas. Kita satu kapal."
Semua terdiam. Tuan Herman unggul. Dia selalu unggul karena dia pegang semua rahasia semua orang.
Saat itulah, dari belakang tuan Herman, ada suara. Suara pincang. Suara linggis di seret di lantai kayu.
" Herman... Kau lupa satu hal." Ucap nya.
Tuan Herman membalikkan badan. Mata nya membelalak. King berdiri di pintu belakang rumah Paman Cito, basah kuyup, bahu berdarah tertembak, pelipis berdarah, tapi berdiri tegak, memegang linggis. Di belakang King, ada Marco yang di papah oleh dua Carabinieri, dan ada 3 wartawan dengan kamera menyala LIVE.
"Anak... Anak itu... masih hidup..." bisik tuan Herman, untuk pertama kali nya, suara nya gemetar. Bukan akting. Takut beneran.
King berjalan mendekati tuan Herman, linggis nya di seret.
" 15 tahun lalu kau bilang aku seharusnya mati, Paman. Hari ini... Giliran mu yang seharus nya mati. Tapi kita tidak akan bunuh kau. Kita akan buat kau hidup lebih menderita dari mati." Ucap King.
Paman Cito yang melihat King, langsung menangis keras. "KING! CUCU KU! KAU HIDUP!"
Tuan Herman mencoba mundur, tapi 4 anak buah nya sudah di tahan Carabinieri di luar.
Queen, yang melihat kakak nya datang, lari memeluk King.
"Kak!"
Tuan Herman terjepit. Di depan nya ada King yang ingin balas dendam, di samping nya ada Queen dengan USB emas, di belakang nya ada Paman Cito dengan shotgun, dan di luar ada polisi dan wartawan live.
Untuk pertama kali nya dalam hidup nya, tuan Herman Adijaya, paman yang selalu memegang semua kartu, kehabisan kartu.
Dia berlutut. Bukan karena menyerah. Tapi karena kaki nya lemas.
" Amanda... Kalau kau lihat ini... Aku lakukan semua ini karena aku cinta kau..." bisik tuan Herman, menatap foto Nyonya Amanda Dewi yang ada di perapian rumah Paman Cito.
Queen menatap tuan Herman yang berlutut. Dia punya pistol di saku nya. Pistol asli. Dia bisa tembak tuan Herman sekarang. Satu peluru. Selesai. Dendam 15 tahun selesai.
Rumah batu Paman Cito di bukit Genoa itu sekarang bukan rumah. Itu adalah pengadilan. Pengadilan yang tidak ada hakim nya, tidak ada juri. Hanya ada api di perapian, hujan yang masih menghantam atap genteng, bau darah King yang menetes di lantai kayu, dan tiga kamera wartawan yang lampu merahnya masih menyala LIVE di Insta**gram, Tik*Tok, dan You**Tube lokal Genoa.
Judul live nya sudah trending nomor 1 di kota malam itu: *"PEWARIS ALESSANDRO KEMBALI DARI KEMATIAN - PAMAN DITUDUH BUNUH WARTAWAN"*
20 ribu penonton. 50 ribu. 100 ribu. Naik terus.
Tuan Herman masih berlutut di depan perapian. Foto Nyonya Amanda Dewi di atas perapian itu menatap nya. Foto Nyonya Amanda umur 30 tahun, tersenyum, memegang King umur 5 tahun dan Queen yang masih bayi. Foto yang di ambil sebelum tuan Herman jatuh cinta secara obsesif pada kakak ipar nya sendiri.
Queen berdiri 2 meter di depan tuan Herman. Tangan nya di dalam saku mantel hitam Lucas yang kebesaran. Di dalam saku itu, ada pistol. Pistol Glock 19 yang peluru nya tajam, bukan pistol mainan yang peluru nya karet yang Tuan Herman berikan pada nya di Bab 8. Pistol ini adalah pistol milik Marco, yang Marco selipkan ke saku Queen saat King menyelamatkan nya di gudang tadi.
"Queen, tembak dia," bisik King pelan di belakang Queen, suara nya masih serak karena di pukul. "Dia bunuh daddy sama Mommy. Dia coba bunuh aku. Dia coba bakar kau. Dia pantas mati. Kau Nona Muda sekarang. Nona Muda berhak menuntut darah dengan darah. Itu aturan keluarga." Lanjut King.
Paman Cito mengangguk, shotgun di tangan nya masih mengarah ke Tuan Herman. "King benar, Queen. Di keluarga kita, darah di bayar darah. Kalau kau tidak tembak dia malam ini, Dewan tidak akan pernah anggap kau sebagai Nona Muda Allesandro. Mereka akan anggap kau gadis kecil yang lemah." Ucap Paman Cito.
Lucas, satu-satu nya orang yang bukan darah mafia di ruangan itu, malah menarik tangan Queen. "Queen, jangan! Kalau kau tembak dia di depan kamera live, kau akan masuk penjara! Kau akan sama seperti dia! Kita sudah punya video USB emas! Biar polisi yang hukum dia! Biar dia busuk di penjara seumur hidup! Itu lebih menyakitkan daripada mati!" Ucap Lucas.
Carla memeluk Queen dari samping, menangis. "Nona Queen, Nyonya Amanda tidak pernah mau anak nya jadi pembunuh. Nyonya Amanda simpan bukti itu bukan untuk balas dendam. Tapi untuk keadilan!" Ucap Carla.
Queen menatap Tuan Herman yang berlutut, tidak lagi tersenyum manis. Wajah nya hancur. Rambut nya berantakan. Jas mahal nya basah dan kotor lumpur
"Queen..." Tuan Herman berbisik, suara nya pecah. Bukan akting. Untuk pertama kali nya, tuan Herman tidak akting. "Aku... aku memang cinta Mommy mu. Aku cinta Amanda sejak pertama kali aku lihat dia di pernikahan kakak ku. Tapi dia memilih kakak ku, Alessandro. Aku terima. Aku jadi adik ipar yang baik. Aku jaga yayasan. Aku jaga kalian. Tapi malam itu... Malam sebelum kebakaran... Amanda bilang dia akan laporkan aku ke polisi soal senjata. Dia bilang dia benci aku. Dia bilang aku sampah yang pakai nama anak yatim untuk bunuh orang. Aku... Aku tidak bisa terima di benci oleh orang yang paling aku cintai. Jadi aku..." Ucap Tuan Herman.
Tuan Herman menangis. Air mata asli. "Aku bakar vila itu. Aku pikir kalau Alessandro dan Amanda mati, aku bisa jaga kau dan King. Aku bisa jadi ayah baru kalian. Aku bisa dapatkan semua warisan dan dapatkan cinta kalian sebagai pengganti cinta Amanda. Aku salah... Aku salah, Queen..."
Pengakuan. Di depan 150 ribu penonton live. Di depan Carabinieri. Pengakuan pembunuhan. Semua terdiam.
**********
Happy Reading Guys. 🥰🤗