🔥CRAZY UP🔥
Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.
Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Data room terasa lebih sempit setelah rapat, barangkali karena map yang tadi dibawa keluar kini kembali ke meja tanpa ada yang menjelaskan isinya. Adrian meletakkan map abu-abu di tempat semula. Ia tidak membukanya. Sari berdiri di pintu yang sudah ditutup lagi, menunggu, bukan menguping dengan gaya orang yang ingin cerita.
“QR tamunya?” tanya Adrian.
“Sudah saya matikan,” jawab Sari. “Buku lobi tidak saya apa-apakan. Kalau dimatikan juga, resepsionis akan bertanya.”
“Biarkan bukunya. Jangan ada catatan tambahan.”
“Baik, Pak.” Sari menoleh ke Alina, sopan dan selesai. “Lift tamu hanya sampai lobi. Dari lobi, keluar. Kalau Anda mencoba naik lagi, kode lantai ini tidak akan hidup.”
Alina tidak berterima kasih. “Ponsel saya.”
“Tetap di sini,” kata Adrian. Ia membuka laci kecil di kredensa dekat pintu, memasukkan ponsel itu, dan memutar kunci laci. Kuncinya tidak ia simpan di meja. “Layarnya sudah gelap sejak tadi. Saya tidak membuka isinya. Jangan paksa saya merasa perlu belajar caranya.”
“Isinya tidak lebih berbahaya daripada kertas yang tadi ingin dibersihkan di rapat.”
“Itu kesimpulan Anda. Saya belum melihat galeri, dan saya tidak sedang meminta kuliah.” Adrian mengecek jam. Tali kulit di pergelangan tangannya bergeser sedikit saat ia menurunkan tangan. “Anda keluar dari gedung. Kalau ada foto berkas ini muncul di mana pun, saya mulai dari nama di buku tamu. Satu jam yang saya berikan tidak berlaku lagi begitu Anda melewati pintu putar.”
“Jadi saya boleh pergi, asal tidak boleh kembali, dan barang saya tinggal sebagai jaminan atas sesuatu yang tidak saya lakukan.”
“Anda boleh pergi karena menahan Anda tanpa berita acara akan menjadi berita acara yang lain. Jangan salah baca sebagai izin.”
Alina mengaitkan tali tas di bahu. “Angka di halaman empat dan di lampiran tidak akan menjadi sama hanya karena saya sudah di trotoar.”
“Orang yang berhak membaca akan membaca.”
“Dan kemudian seseorang akan membuat ringkasannya menurut.”
Adrian tidak menjanjikan sebaliknya. Ia membuka pintu. “Sari, antar sampai lobi. Jangan bicara di lift.”
Lift turun tanpa musik yang cukup untuk mengisi apa pun. Sari menatap angka lantai. Alina menatap pantulan mereka di pintu logam: dua orang yang tidak saling membutuhkan basa-basi. Di lobi, tali pengunjung diminta kembali. Resepsionis tersenyum karena itu pekerjaannya. Di luar, panas Sudirman menempel di lengan Alina seperti kain yang salah musim. Ia membayar mobil dengan uang tunai. Ponsel yang biasa membuka aplikasi itu sedang terkunci di laci orang lain.
Tebet pada sore yang mulai berat tidak punya kerai dan tidak punya pendingin yang mendesis sopan. Studio sewa Alina di lantai tiga. Lampu tangga mati di tanjakan kedua, seperti biasa, dan Alina menaiki sisa anak tangga dengan satu tangan di dinding. Di dalam, meja lipat masih penuh coretan lama yang tidak ada hubungannya dengan Pesisir Garuda. Lemari yang bagian dalamnya ia pakai sebagai papan catatan tidak ia buka. Ia menanggalkan sepatu, lalu memakai sepatu lain. Sepatu lain itu untuk jalan yang lebih panjang.
Ia tidak berniat kembali lewat lobi. Kode sudah mati. Yang ia pikirkan, sambil mengisi botol minum, adalah pintu lain: kurir pagi, pintu servis, jam saat resepsionis berganti. Bukan trik yang sama. Malam ini pun tidak. Malam ini bodoh. Ia tetap meraih gagang pintu, karena menunggu sampai pagi terasa seperti memberi Adrian waktu untuk membuat dua angka berdamai tanpa saksi.
Ketukan datang lebih dulu.
Mei Lestari berdiri di luar dengan kantong plastik yang mulai berminyak di salah satu sudutnya. Rambutnya diikat seadanya. Di belakangnya, tanjakan kedua tetap gelap. Mei menyipit, melihat sepatu yang baru, lalu melihat tidak ada ponsel di tangan Alina.
“Delapan jam,” katanya. “Kau tidak mengangkat. Bagi orang yang hidupnya setengahnya ada di dalam layar, itu bukan gaya.”
“Ponselnya tidak ada di saya.”
“Di mana?”
“Di laci orang yang tidak akan mengangkat kalau kau menelepon.”
Mei tidak bertanya nama orang itu dulu. Ia melihat tangan Alina masih di gagang, melihat kunci yang belum kembali ke mangkuk, dan menggeser tubuhnya ke tengah pintu. Tidak dramatis. Pintu itu memang sempit. “Lepas sepatu yang baru. Kalau kau turun sekarang dan naik taksi ke Sudirman, kau pulang dengan berita, bukan dengan dokumen.”
“Aku tidak akan lewat depan.”
“Lebih bagus. Pintu belakang biasanya punya kamera yang lebih jujur.” Mei mengangkat kantong. “Nasi dan telur. Masih bisa dimakan. Bukan makanan penutup untuk rencana bodoh.”
Alina tidak minggir. “Kalau aku menunggu, mereka merapikan halamannya.”
“Kalau kau pergi lapar, tanpa ponsel, tanpa orang yang tahu kau sampai, mereka tidak perlu merapikan apa pun. Mereka cukup menemukanmu di tempat yang bukan hakmu untuk kedua kali.” Mei masuk selangkah, memaksa Alina mundur karena tidak ada ruang untuk bertengkar di ambang. “Makan dulu. Dendam bisa ditunda dua puluh menit.”
Alina melepas sepatu kedua. Ia benci bahwa kalimat itu mengenai, bukan karena indah, tetapi karena Mei mengatakannya sambil sudah membuka kotak nasi di meja lipat, seperti orang yang tidak sedang mengadakan intervensi. Studio bau kopi yang terbawa dari kantong. Di luar, motor lewat. Tidak ada yang terdengar seperti lift Menara Mahendra.
“Aku ketahuan,” kata Alina.
“Oleh siapa?”
“Adrian Mahendra.”
Mei berhenti meletakkan sendok, lalu meneruskan. “Yang di berita.”
“Yang masuk lebih dulu ke ruangan yang tidak seharusnya saya masuki. Ia mengambil ponsel. Ia tidak memanggil polisi. Itu bukan kebaikan. Angkanya tidak cocok, dan polisi akan membuat angkanya jadi pertanyaan orang lain.”
“Kau terluka?”
“Tidak.”
“Kau takut?”
Alina membuka resleting tas. Kamera saku ia letakkan di meja, di samping kotak nasi, layar menghadap bawah. “Aku marah. Takutnya menyusul kalau aku duduk terlalu lama.”
Mei melihat kamera itu dan tidak mengambilnya. “Itu pengganti ponsel?”
“Cadangan. Dia tidak tahu bendanya ada. Jangan dipegang. Kalau hilang dari meja ini, aku tidak punya salinan.”
“Saya punya kafe, bukan brankas.” Mei mendorong garpu ke arah Alina. “Makan. Saya boleh tahu bendanya ada. Saya tidak perlu jadi orang kedua yang menyimpannya.”
Alina makan tiga suap sebelum membuka layar kamera. Foto yang tersimpan miring, sudutnya kepotong, tetapi baris keempat masih terbaca. PT Lazuardi Mitra Logistik. Masih muncul pada rekonsiliasi. Di rapat, direktur keuangan mengucapkan nama yang sama dan berjanji menandainya ulang sebelum kertas pergi ke investor. Vanya Kusuma mendengar nama itu seperti orang yang tidak mengenalinya, lalu tetap memperingatkan agar nama itu jangan sampai menempel pada Mahendra. Alina belum bisa menyusun tiga fakta itu menjadi satu cerita. Ia hanya bisa menyusunnya menjadi alasan untuk tidak tidur.
“Itu orang?” tanya Mei, melirik layar sekali, lalu kembali ke nasinya supaya tidak terlihat seperti ikut menginterogasi.
“Perusahaan. Saya tidak tahu apa yang ia angkut. Saya tahu ada yang ingin ringkasan berkata bahwa urusannya sudah selesai.”
“Dan kau ingin berkata belum.”
“Saya ingin halamannya tidak diganti saat saya sedang diusir.”
Mei mengunyah, menelan, baru menjawab. “Besok kau bisa jadi bodoh lagi. Malam ini tidak. Kalau kau keluar dari pintu itu sebelum kotak ini kosong, saya telepon ibumu.”
Alina menatapnya. “Itu tidak adil.”
“Adil itu untuk orang yang masih pegang ponsel sendiri.” Mei tidak tersenyum lebar. “Ibu Diah akan naik kereta pertama. Kau tahu itu. Saya juga tidak ingin ibu Diah di tangga yang lampunya mati. Jadi jangan paksa saya.”
Ancaman itu murah dan berhasil. Alina tidak ingin suara ibunya di telepon, tidak ingin menjelaskan Mahendra, tidak ingin rumah di Dago ikut masuk ke dalam laci Adrian. Ia mematikan layar kamera, membalikkannya, dan menyelesaikan nasi yang sudah mulai dingin. Dua puluh menit berlalu seperti Mei menagih: tidak ada pidato, hanya sendok yang beradu dengan karton.
Ketika kotak itu kosong, Alina berkata, “Malam ini tidak. Bukan lewat pintu yang sama, kalau saya kembali.”
“Kalau,” ulang Mei.
“Jangan minta lebih dari itu.”
Mei mengangguk, mengumpulkan karton, dan tidak memeluk Alina seperti di film. Ia hanya mengetuk meja sekali di dekat kamera, mengingatkan tanpa menyentuh. “Taruh di tempat yang bukan saku luar. Dan besok, kalau kau tidak kirim kabar lewat ponsel orang lain sebelum siang, saya datang lagi. Dengan telur lagi. Ancamannya sama.”
Mei pergi sebelum lampu tangga sempat diperbaiki siapa pun. Alina mengunci pintu. Kamera ia masukkan ke dalam lemari, di belakang map kosong, bukan ke dalam tas. Di Menara Mahendra, ponselnya tetap berada di laci yang tidak bisa ia buka. Ia tidak tahu Adrian sudah pindah ke lantai tiga puluh dua atau masih di lantai dua puluh delapan. Yang ia tahu, layar ponsel itu gelap, kuncinya tidak Adrian yang pegang, dan nama di dalam kamera masih utuh.
Di meja lipat, sisa garam menempel di kayu. Alina menuliskan empat angka yang tidak boleh ia lupa: dua belas koma empat, delapan belas koma sembilan, dan jarak di antaranya. Di bawahnya ia menulis satu nama perusahaan yang belum ia mengerti. Penanya berhenti di situ. Di luar, Tebet tidak peduli. Di dalam, untuk pertama kali sejak pagi, ia tidak sedang berjalan menuju pintu.