NovelToon NovelToon
Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Keluarga Ningratku, Menjodohkan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

​“Antara kewajiban keluarga, perjodohan, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana…”

Maizara​ merindukan kebebasan, sementara Dimas hanya peduli pada tahta dan bisnisnya. Ketika perjodohan membawa mereka dalam satu atap, setiap tatapan menjadi perang dingin, dan setiap sentuhan menjadi ancaman bagi hati mereka.

​Saat dua dunia menuntut kepatuhan, akankah rasa di antara mereka menyerah pada gengsi, atau tunduk pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Di Antara Perhatian yang Hangat

Memilih untuk pindah ke apartemen sewa di kawasan Kuningan menjadi keputusan terbaik yang pernah kuambil. Di dalam unit yang hening ini, aku punya ruang penuh untuk bernapas, menata kembali potongan-potongan emosi yang berserakan, dan berfokus penuh pada penyelesaian proyek K-Sambal Fusion. Sisa waktu dua bulan menjelang peluncuran resmi menjadi benteng pelarian yang sempurna bagiku dari kerumitan hubungan asmaraku dengan Dimas.

Namun, bekerja dalam satu gedung kantor yang sama membuat perang dingin di antara kami tak terhindarkan. Setiap rapat pleno, kami duduk berseberangan dengan raut wajah yang sama-sama kaku. Hubungan kami benar-benar berubah menjadi murni profesional tanpa sapaan hangat, tanpa tatapan penuh makna, dan tanpa sentuhan lembut yang biasa ia berikan.

Di tengah atmosfer kantor yang membeku dan menyesakkan itu, hadir sosok Arvino.

Sebagai wakil direktur sekaligus sahabat Dimas, Vino menjadi satu-satunya orang di kantor pusat yang paling memahami situasi ganjil di antara kami. Selama masa-masa perang dingin ini, aku menjadi cukup dekat dengan Vino. Pria itu sangat perhatian, ramah, dan secara mengejutkan memiliki banyak kesamaan denganku. Selera musik akustik kami sama, pilihan kopi tanpa gula kami serupa, bahkan hal-hal kecil seperti ketertarikan pada konsep seni garis minimalis juga menjadi favoritnya.

Sore itu, usai menyelesaikan rekapitulasi data promosi media sosial di ruang kerja Tim Garuda, hujan deras mengguyur kawasan Kuningan. Suara gemuruh air yang menghantam kaca jendela menambah pekat keheningan di dalam ruangan yang mulai sepi.

"Mbak Mei, belum pulang?" suara ramah Vino memecah kesunyian dari arah pintu kaca yang terbuka.

Aku memutar kursi kerjaku, mendapati Vino berdiri di sana dengan kemeja biru muda tergulung rapi hingga siku, memegang dua cangkir kertas beraroma kopi hangat yang sangat kukenal.

"Belum, Mas Vino. Masih merapikan draf alokasi anggaran untuk influencer Seoul," jawabku sambil mengulas senyum tipis.

Vino melangkah mendekat, meletakkan salah satu cangkir kertas di atas meja kerjaku. "Kopi americano tanpa gula, panas. Aku tahu kamu butuh ini buat menembus dinginnya hujan sore ini."

Aku menatap cangkir kopi itu, lalu menatap Vino dengan binar haru yang tak bisa kusembunyikan. "Terima kasih banyak, Mas Vino. Kamu kok selalu tahu apa yang lagi aku butuh?"

Vino terkekeh renyah, menarik kursi kosong di dekat mejaku dan mendudukkan dirinya dengan santai. "Sederhana saja, Mei. Seleramu itu persis seperti seleraku. Dan jujur saja, melihatmu kerja seperti tanpa henti dari pagi sampai malam bikin aku prihatin. Kamu itu pimpinan tim kreatif, bukan robot."

Aku menyesap kopi hangat itu pelan, membiarkan kehangatannya meluluhkan rasa lelah di tenggorokanku. "Kerja itu satu-satunya cara supaya kepalaku tidak beralih memikirkan hal-hal yang tidak perlu, Mas."

Vino menatapku lurus, pendar matanya yang humoris mendadak berubah menjadi teduh dan penuh empati. Pria ini sangat pandai menghibur. Tiap kali aku merasa lelah atau tertekan, Vino selalu punya lelucon cerdas atau topik obrolan ringan yang sanggup membuatku tersenyum kembali.

"Kamu tahu, Mei..." ujar Vino pelan, menyandarkan punggungnya. "Di antara semua rekan kerja dan staf ahli yang pernah bekerja sama dengan Arjowibowo Group, kamu itu wanita yang paling berkesan. Kamu punya prinsip yang begitu kuat, tidak mudah silau oleh kekuasaan, dan cara berpikirmu sangat matang."

Aku tersenyum tulus mendengar pujian itu. "Terima kasih, Mas Vino."

Namun, di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku sangat sadar. Meski Vino begitu baik, sangat perhatian, dan memiliki selera yang begitu selaras denganku... sungguh tidak ada sedikit pun rasa di hati ini untuk berpaling padanya. Hati ini tidak bisa dipaksa. Mungkin aku memang butuh waktu untuk menyembuhkan luka dan menata ulang perasaanku.

Sikap diamku selama perang dingin ini bukanlah sebuah tindakan tanpa alasan. Aku memang selalu menggunakan silent treatment untuk apa pun hal yang menurutku sudah tidak sejalan.

Alasannya sangat simpel: aku malas berdebat. Aku tidak mau menghabiskan energiku hanya untuk adu argumen yang tidak berujung, dan aku tidak mau membuat hariku jadi buruk. Jadi kalau belakangan ini aku terlihat cuek, dingin, dan tidak peduli pada Dimas, ya itu adalah caraku untuk mengontrol diriku sendiri agar tetap stabil.

Aku tidak pernah benci pada siapa pun di dunia ini. Tapi sekali saja seseorang membuatku hilang respect, dan siapa pun yang berani melewati batas dari batasan yang ada di hidupku... aku tidak akan pernah ragu untuk cut off dan menjauh. Tidak peduli seberapa dekat hubungan kami sebelumnya, tidak peduli seberapa besar kekuasaan yang ia miliki, batasan dan prinsip hidupku tetap menjadi prioritas utama dan akan selalu ditaruh di atas kepalaku.

Dulu, saat aku masih menjadi Maizara yang polos, aku selalu mengira bahwa dengan menunjukkan betapa pedulinya aku pada seseorang, orang lain akan melakukan hal yang sama padaku. Namun, realita kehidupan dan masa lalu telah menamparku dengan sangat keras. Pengalaman mengajariku bahwa tidak semua orang memiliki kapasitas hati yang setara untuk merawat sebuah ketulusan.

"Mei?" panggil Vino lembut, memecah lamunanku.

Aku sedikit tersentak, menoleh padanya. "Ah, iya, Mas Vino?"

"Kamu melamun jauh sekali," kekeh Vino pelan, walau matanya menyiratkan rasa khawatir. "Pasti lagi memikirkan si bos batu es itu, kan?"

Aku menghela napas pendek, menundukkan pandanganku pada cangkir kopi di tangan. "Aku cuma lagi mengingat batasanku sendiri, Mas."

Vino mengangguk paham. "Aku tahu Dimas salah besar waktu di Seoul kemarin. Dia itu pria yang tumbuh dengan segala kemudahan dan kekuasaan, Mei. Ketika dia mau sesuatu, dia terbiasa mendapatkannya detik itu juga. Tapi berada di dekatmu... membuat dia sadar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa dibeli atau dikendalikan dengan kekuasaan."

"Tapi dia tidak harus merendahkan prinsipku, Mas Vino," bisikku lirih, menyuarakan rasa sakit yang masih mengendap di dada.

"Aku tahu, dan aku tidak sedang membela Dimas," potong Vino cepat dan tegas. "Aku cuma mau bilang... di balik sikap kakunya dari kemarin, Dimas itu kuisnya setengah mati, Mei. Tiap hari dia masuk ke ruanganku cuma buat menanyakan keadaanmu lewat laporan keamanan apartemen atau nanya ke aku gimana progress kerjamu. Dia frustrasi karena tidak tahu cara meruntuhkan egonya sendiri di depanmu."

Aku membisu. Kata-kata Vino bergaung pelan di dalam kepalaku.

Kehadiran Vino di sekitarku memang cukup menghibur dan memberikan rasa nyaman yang menenangkan. Tapi... sosok Dimas Arjowibowo terlalu membekas di dalam jiwaku. Bagaimanapun marahnya aku padanya, tak bisa kumungkir bahwa Dimas adalah lelaki pertama yang berani menembus benteng privasiku, lelaki pertama yang memegang tanganku dengan kehangatan yang begitu posesif, dan lelaki pertama yang berani menciumku dengan kehangatan yang sarat akan rasa cinta serta perlindungan.

Jejak yang ditinggalkan Dimas di dalam hatiku terlalu dalam untuk dihapus begitu saja oleh amarah, walau benteng prinsipku tetap berdiri kokoh menahannya di luar.

Pintu kaca ruang rapat di ujung koridor mendadak terbuka.

Dimas berdiri di sana. Pria jangkung itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap dengan kemeja hitam di dalamnya. Postur tubuhnya yang tegap dan berwibawa seketika memancarkan aura dominan yang memenuhi ruangan.

Matanya yang tajam dan pekat langsung terkunci lurus pada kebersamaan kami di dalam ruangan. Tatapannya tertuju pada Vino yang duduk sangat dekat denganku, lalu beralih menatap wajahku. Ada kilatan cemburu yang sangat pekat dan emosi yang tertahan dari balik manik mata hitamnya.

Vino meletakkan cangkir kopinya, lalu berdiri santai sambil tersenyum tipis. "Ah, Dim... baru selesai RUPS?"

Dimas melangkah masuk ke dalam ruangan dengan gerakan yang lambat namun penuh tekanan. Suara derak pantofel kulitnya di atas lantai granit terdengar begitu tegas di tengah keheningan sore.

"Rapat RUPS sudah selesai sepuluh menit yang lalu," jawab Dimas dengan suara berat, dingin, dan tanpa nada. Mata hitamnya sama sekali tidak beralih dari wajahku. "Saya ke sini untuk mengecek draf akhir materi promosi."

Aku segera menegakkan posisi dudukku, merapikan berkas-berkas di atas meja, dan memasang raut wajah profesional tanpa cela berubah menjadi Maizara yang kaku dan berjarak dalam hitungan detik.

"Draf materi promosi sudah selesai direkap, Mas Dimas," kataku dengan nada suara yang begitu teratur dan formal. "Semua berkas sudah saya kirimkan ke email Sekretaris Eksekutif untuk dimintai persetujuan."

Dimas menghentikan langkahnya tepat di depan mejaku. Pria itu menundukkan kepalanya sedikit, memandangiku dari ketinggian dengan tatapan yang begitu sarat akan kerinduan, rasa bersalah, dan kecemburuan yang membakar.

"Terima kasih, Mei," ucap Dimas parau, suaranya terdengar agak berat. "Tapi lain kali... jika ada diskusi berkas di luar jam kerja, harap lakukan di ruang rapat resmi."

Kalimat dingin yang diucapkan Dimas dengan nada mengontrol itu membuat Vino terkekeh tipis sambil menggelengkan kepalanya.

"Ayolah, Dim... aku cuma menemani Mei minum kopi sebentar sambil menunggu hujan redah," sela Vino santai, menepuk bahu Dimas pelan. "Jangan terlalu tegang. Kita semua di sini bekerja untuk tim yang sama."

Dimas menepis tangan Vino dari bahunya secara halus namun tegas. Pria itu tidak memedulikan ucapan sahabatnya, pandangannya tetap terkunci sepenuhnya padaku.

"Kamu bisa pulang sekarang, Mei," ujar Dimas dengan nada perintah yang diusahakannya berbunyi selembut mungkin. "Saya sudah minta Pak Marno menyiagakan mobil kantor di depan lobby untuk mengantarmu ke apartemen."

Aku menatap mata hitamnya yang tenang namun memendam badai emosi itu. Aku tidak membalas perintahnya dengan kepatuhan yang manja, tidak pula dengan amarah. Aku hanya membungkukkan badan sedikit secara sopan, persis seperti perlakuan seorang bawahan kepada pimpinan perusahaannya.

"Terima kasih atas fasilitasnya, Mas Dimas. Tapi saya sudah memesan taksi daring dari tadi," balasku tenang, menyampirkan tas jinjingku di bahu. "Mas Vino... terima kasih banyak untuk kopinya ya. Saya pamit duluan."

Aku melangkah melewati Dimas tanpa menatap wajahnya lagi. Aroma wangi woody-citrus dari kemeja dan jasnya sempat menyergap inderaku secara tajam saat aku berjalan melewatinya sebuah aroma yang selalu berhasil membuat jantungku berdesir liar, namun kini kuhadapi dengan ketenangan yang dingin.

Saat aku melangkah menyusuri koridor menuju lif, suara langkah kaki yang teratur dan tegas menyusulku dari belakang.

Dimas berjalan cepat mengimbangi langkahku, lalu berdiri tepat di sampingku saat kami menunggu pintu lif terbuka. Di dalam area lif yang sepi dan berdinding kaca pantul itu, atmosfer di antara kami terasa begitu rapat dan sarat akan ketegangan emosional.

Pintu lif terbuka. Aku melangkah masuk, dan Dimas menyusul masuk di sampingku. Pria itu menekan tombol lantai lobby.

Pintu lif tertutup rapat. Hanya ada kami berdua di dalam ruang tertutup yang bergerak turun melintasi puluh lantai itu.

Dimas menghembuskan napas panjang yang amat berat. Pria jangkung itu memutar tubuhnya sedikit, memangkas jarak di antara kami hingga bayangan tubuh tegapnya menutupi pendar cahaya lampu lif.

"Sampai kapan kamu mau sedekat itu dengan Vino, Mei?" tanya Dimas dengan suara rendah yang dalam, cemburu dan rasa frustrasi terpancar sangat nyata dari nada bicaranya.

Aku tetap menatap lurus ke arah pintu lif yang tertutup, menjaga ekspresi wajahku tetap datar.

"Mas Vino hanya rekan kerja yang ramah dan menghargai saya sebagai manusia, Mas Dimas," sahutku singkat dan dingin.

"Saya juga menghargaimu, Maizara!" potong Dimas dengan nada tekan yang tertahan, jemari tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Bahkan rasa menghargai saya ke kamu jauh lebih besar dari siapa pun di gedung ini!"

Aku menoleh pelan, menatap lurus ke dalam manik mata hitamnya dengan pandangan bening yang menohok.

"Menghargai seseorang itu tidak dilakukan dengan cara memaksakan kehendak dan melanggar batasannya, Mas," bisikku lirih namun sanggup membekukan udara di dalam lif. "Kalau Mas Dimas menganggap batasan dan harga diriku bisa ditawar demi menuruti ego Mas... maka Mas salah besar."

Dimas terbungkam kaku. Wajah tampannya seketika memucat, raut bersalah dan ketakutan akan kehilangan terpancar amat jelas dari matanya.

"Mei... soal kejadian di Seoul..." suara Dimas bergetar pelan, egonya yang selama ini membentenginya rapat-rapat kini runtuh sepenuhnya di hadapanku. Pria berkuasa itu melangkah satu tapak lebih dekat, jemari tangannya yang tegap terangkat di udara, hendak menyentuh lenganku namun tertahan oleh pandangan dinginku. "Saya minta maaf. Saya sangat menyesal telah membuatmu merasa tidak dihargai."

Ting!

Suara denting lif menandakan kami telah tiba di lantai lobby utama. Pintu kaca bergeser terbuka secara perlahan, memperlihatkan riuh aktivitas staf kantor yang mulai berlalu-lalang menuju pintu keluar.

Aku menatap Dimas untuk terakhir kalinya sore itu. Rasa haru dan sisa-sisa kehangatan ciuman pertamanya dulu sempat bergetar halus di dalam dadaku, namun aku dengan cepat menegakkan bahuku dan menarik kembali benteng perlindungan diriku.

"Terima kasih atas permintaan maafnya, Mas Dimas," ucapku tenang dan berjarak. "Permintaan maaf Mas saya terima. Tapi mengenai perasaan dan masa depan kita... biarkan waktu dan proyek ini yang menjawabnya."

Tanpa menunggu balasan atau reaksinya lebih lanjut, aku melangkah keluar dari lif dengan posisi kepala terangkat tinggi, melangkah tegap menembus hujan Jakarta menuju taksi yang menungguku.

Di belakangku, Dimas tetap berdiri mematung di balik pintu lif yang terbuka, menyaksikan calon istrinya melangkah pergi sebagai wanita yang tak lagi bisa ditundukkan oleh kekuasaan, melainkan hanya bisa dimenangkan kembali dengan ketulusan dan kerendahan hati yang utuh.

1
Adira🍓
Karena Hati Mei masih ragu 🤪🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Yah,,, gagal ngerasain lolipop nya Dimas lagi donk /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
Adira🍓
Kan Dimas udah pernah bilang pas pertama kalian ketemuan Mei 🤪🤪🤪
Adira🍓
gara-gara Video oh no oh yes mu sama Kartika 🤪🤪🤣🤣🤣
Adira🍓
Gak bakal.... yang ada bakal ketagihan oh yes oh no 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Habis lolipop nya Dimas enak 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Adira🍓: AQ masih setia nungguin gempurannya Dimas ini lho Thor 🤣🤣 kapan Dimas nggempur lagi ini ..... Waiting /Applaud/
total 2 replies
falea sezi
buat bapaknya dimas laki kayak dimas g cocok dpet cwek baik🤣 dia cocok sama kartika sama sama sampah😒
NinLugas: kasihan yg SDH cinta wkwk
total 1 replies
Mia Camelia
lanjut thor😁
Adira🍓
Sedang menyalakan kembang api Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Belum apa^ mo jadi benalu si Kar ini 🤮🤮🤮
Adira🍓
Kartika bukan mantannya Dimas kan 🤔
NinLugas: mantan ena2😄
total 1 replies
Adira🍓
Tapi x ini aq tak setuju dengan keputusan kau Dim 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Pelajaran apa Romo??? menggugurkan janin???🤪🤪 nambah dosa iy 🤣🤣🤣
Adira🍓
Tapi janin itu tak punya dosa apa^ 😔 apa salahnya lahirkan sja nanti biar Mei dan keluarganya yg besarkan... dan Alya bisa fokus dengan masa depannya lagi 🤪🤪🤪
NinLugas: kita lihat aja nnti kk
total 1 replies
falea sezi
🤣🤣 adam lugu dpet alya pemain🤣 s kayaknya sering gugurin bayi si alya ini😒
NinLugas: hmm by pertama kak 😄✌️
total 1 replies
Adira🍓
Bisa y Adam yg diperkosa Alya yg hamil 🤣🤣🤣🤣🤣 cek dulu Dam, x aja itu bukan anakmu,,, Alya kan dah lihai, psti dah sering celap-celup 🤪🤪
NinLugas: 🤭🤭🤭 kasihan Adam
total 1 replies
Adira🍓
Es batunya udah meleleh Mi,,, udah dikasih jatah soalnya 🤣🤣🤣🤣
NinLugas: 😄😄😄😄 hahah ssttt
total 3 replies
Adira🍓
Sekarang kapanpun dimanapun bisa cap cip cup y Dim 🤪🤪🤪
Adira🍓
Tumben bab ini agak rancu Thor tulisannya,,,, bagian atasnya banyak yg disekat^ gtu...
NinLugas: iy eh lupa KLO dari word bnyak Sekat KLO SDH d publish dsni
total 1 replies
Adira🍓
Masih formal aja si Dimas 😜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!