✨ Sinopsis
Aluna adalah gadis cantik dan agak nakal yang tumbuh dalam kemewahan, namun yang paling berharga baginya bukan harta, melainkan dua sahabat yang selalu ada di sisinya sejak kecil: Orion — tampan, tenang, bijaksana, & pintar; serta Rexy — ganteng, tegas, sedikit tengil, namun berhati emas & menjadi pelindung setia keduanya. Ketiganya anak dari keluarga terpandang, tumbuh bersama, berjanji tak akan pernah terpisahkan.
Namun seiring berjalannya waktu, rasa persahabatan itu perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam. Baik Orion maupun Rexy sama-sama menyayangi Aluna lebih dari sekadar sahabat. Ketika hati Aluna akhirnya harus membuat pilihan sulit, ia menyadari bahwa memilih satu berarti menyakiti yang lain.
Di antara cinta & persahabatan, di antara kebersamaan & pengorbanan, ketiganya belajar: cinta sejati tidak harus memiliki, & persahabatan tulus adalah harta yang abadi selamanya. Sebuah kisah hangat tentang perjalanan hati, keikhlasan, & kebersamaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Orang Lain Cemburu Pada Persahabatan Kita
Pagi itu udara segar banget. Aku jalan santai sambil nyenandung lagu pelan, kotak kue buatan tanganku erat di pelukan. Dari jauh udah kelihatan dua sosok yang selalu jadi rumah buat hatiku — Orion dan Rexy. Tapi langkahku tiba-tiba terhenti. Mereka berdiri agak menjauh dari kerumunan, bahu Rexy kelihatan tegang, Orion menatapnya serius. Seperti ada yang berat banget yang lagi mereka bahas.
Aku mengintip sebentar, nggak bermaksud nguping sih, tapi suaranya cukup terdengar.
"Kamu yakin mau diam aja? Semua orang di kelas udah mulai ngomongin, lho," suara Rexy terdengar sedikit meninggi, nada cemasnya jelas banget. "Aku nggak suka tatapan-tatapan aneh itu ke Aluna. Dia nggak pantas digunjingkan kayak gitu."
Orion menghela napas pelan. "Aku juga nggak suka, Rexy. Tapi kalau kita bereaksi berlebihan, malah makin kelihatan kayak ada yang salah. Biarin aja, waktu yang akan menjelaskan semuanya. Yang penting kita jaga jarak yang sopan, tanpa menjauh."
"Gampang banget kamu bilang gitu," dengus Rexy, tangannya mengepal pelan di sisi tubuhnya. "Kalau ada yang berani sakiti Aluna, aku nggak peduli sopan santun lagi. Aku akan lindunginya, apa pun yang terjadi."
Jantungku berdebar kencang. Mereka… mereka khawatir soal aku? Siapa yang ngomongin aku? Apa yang sebenarnya terjadi?
Langkahku terhenti terlalu lama, akhirnya Rexy menoleh dan matanya langsung bertemu mataku. Wajahnya berubah seketika — dari tegang jadi kaget, lalu lembut seketika.
"Aluna? Kamu udah di sana dari tadi?" tanyanya cepat, melangkah mendekat seketika. "Berapa banyak yang kamu dengar?"
Aku tersenyum sedikit canggung, menyodorkan kotak kue. "Cukup untuk tahu kalau kalian lagi membicarakanku. Ada apa sih? Kenapa pada rahasia-rahasia gini? Kita kan nggak pernah punya rahasia satu sama lain."
Orion menyambutku dengan senyum menenangkan, mengambil kotak dari tanganku pelan seolah takut tanganku lelah. "Bukan rahasia, Aluna. Cuma… ada beberapa hal yang lebih baik kamu nggak perlu pikirkan. Kamu cukup belajar, tertawa, dan jadi dirimu. Biar kami yang urus sisanya."
"Tapi aku mau tahu," desakku, menatap mereka bergantian. "Aku bukan anak kecil lagi yang harus dilindungi dari segala sesuatu."
Rexy menggaruk belakang lehernya yang sebenarnya nggak gatal — tanda khas dia kalau lagi bingung mau ngomong apa. "Yaudah, aku ceritain. Tapi janji jangan langsung emosi ya? Jadi… ada beberapa anak perempuan di angkatan kita yang nggak terlalu suka lihat kita selalu bertiga ke mana-mana. Mereka bilang kamu egois, nggak mau berbagi waktu sama kami berdua, dan bilang kalau persahabatan kita itu nggak wajar."
Aku ternganga. "Hah? Egois? Mereka nggak kenal aku kok!"
"Iya, itu yang aku maksud tadi," Orion meletakkan tangannya di bahuku pelan, suaranya tenang banget. "Kita tahu itu nggak benar. Tapi mulut orang lain nggak bisa kita kunci. Mereka cuma… merasa cemburu. Mungkin mereka belum pernah punya sahabat sedekat kita, jadi mereka nggak paham."
"Cemburu?" Aku tertawa sinis sedikit. "Terus kenapa harus jahat gitu? Aku nggak ambil kalian dari siapa pun lho. Kalian ini sahabatku, bukan barang yang bisa dimiliki atau diperebutkan."
"Kita tahu itu, Aluna," kata Rexy lembut, menatapku dalam. "Tapi sayangnya nggak semua orang berpikir kayak kita. Ada yang melihat kedekatan kita sebagai sesuatu yang aneh, ada yang… diam-diam menyimpan harapan ke salah satu dari kita dan merasa terhalang oleh keberadaanmu."
Aku terdiam seketika. Kata-katanya terasa seperti ada makna lebih dalam dari sekadar gosip biasa. Mataku tak sengaja bertemu tatapan Orion — dan di sana ada sesuatu yang hangat, lembut, dan entah kenapa membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Masuk ke kelas pun rasanya suasana hari itu terasa beda. Beberapa pasang mata menatap ke arahku saat aku melangkah masuk, lalu berbisik-bisik saat aku lewat. Rasanya nggak nyaman banget, seperti ada yang menaruh jarum tajam di bawah kursiku.
Saat jam istirahat tiba, kami berencana ke kantin seperti biasa. Tapi baru saja keluar pintu kelas, sekelompok anak perempuan berdiri menghalangi jalan kami. Yang di depannya itu Siska, ketua klub menari yang terkenal populer dan… sepertinya dia salah satu yang punya perasaan ke Orion.
"Eh, ini dia si pusat perhatian," katanya dengan senyum yang nggak sampai ke matanya. "Heboh banget sih kamu, Lun. Ke mana-mana harus ada dua pengawal pribadi. Nggak capek jadi pusat dunia?"
Sebelum aku bisa jawab, Rexy sudah melangkah ke depan, berdiri di antara aku dan mereka. Wajahnya dingin, tatapannya tajam. "Cukup ya, Siska. Aluna nggak pernah minta apa-apa. Kita yang memilih ada di sisinya. Kalau kamu nggak paham arti persahabatan, tolong jangan merusak kedamaian orang lain."
"Wah, galak banget sih Rexy," sindir Siska, matanya beralih ke Orion yang berdiri tenang di sampingku. "Orion, kamu nggak capek selalu jadi nomor dua setelah dia? Kamu itu pintar, baik, kenapa harus selalu ikut-ikutan saja? Atau jangan-jangan kamu takut kalau nggak ikut, kamu bakal ditinggal sendirian?"
Orion tersenyum tipis, bukan senyum mengejek, tapi senyum yang menunjukkan dia kasihan pada mereka. "Siska, kedekatan kami bukan tentang siapa nomor satu atau dua. Aluna itu penting buat kami, bukan karena dia memerintah, tapi karena dia tulus pada kami. Dan ketahuilah — rasa hormat dan kehadiran kami itu sesuatu yang Aluna perjuangkan dengan kebaikan hatinya, bukan dengan paksaan. Kalau kamu nggak melihat itu, sayang sekali, karena kamu sedang menilai orang dari pandangan yang salah."
Jantungku berdebar kencang mendengar Orion membela aku begitu tenang namun tegas. Kata-katanya begitu indah, membuatku merasa dilihat, dipahami, dan dihargai sepenuhnya.
Siska terdiam, mukanya memerah karena malu dan kesal. Dia melirikku dengan tatapan yang sulit kuartikan — campuran cemburu dan iri — lalu berbalik pergi diiringi teman-temannya.
Suasana jadi hening sejenak. Aku menghela napas panjang, menyadari tanganku sedikit gemetar. Tiba-tiba sebuah tangan hangat menyentuh punggung tanganku — Orion. Dia nggak menggenggamnya erat, hanya menyentuh punggung tanganku dengan lembut, seolah memberi kekuatan tanpa perlu kata-kata.
"Nggak perlu dengar kata-kata yang nggak penting, ya," bisiknya pelan, hanya terdengar olehku. "Bagi kami, kamu bukan beban. Kamu adalah rumah tempat kami pulang. Selalu ingat itu."
Hatiku terasa hangat banget. "Makasih, Orion. Kalimatamu… selalu pas banget di hati."
Di sisi lain, Rexy berdiri membelakangi kami, menatap jalanan koridor sepi, bahunya naik turun tanda dia masih emosi. Aku melangkah mendekat, menyentuh lengannya pelan.
"Rexy… aku tahu kamu marah. Tapi aku nggak mau karena aku kalian bermusuhan sama yang lain, oke?"
Rexy berbalik, matanya masih terlihat kesal tapi melembut saat menatapku. Dia menghela napas kasar, lalu tersenyum tipis — senyum yang hanya dia punya, sedikit nakal tapi penuh ketulusan. "Aku nggak peduli dunia bilang apa soal kita, Aluna. Kalau harus aku jadi orang yang paling dibenci asal kamu aman dan senyum, aku rela. Tapi jujur… melihat orang lain menyakitimu dengan kata-kata, rasanya lebih sakit daripada kalau aku yang dipukul langsung."
Dia menatapku dalam, ada sesuatu di matanya yang membuatku menelan ludah — sesuatu yang lebih dari sekadar sahabat, tapi dia menahannya seolah takut aku akan lari kalau dia mengucapkannya.
"Jangan pernah merasa sendirian, oke? Selalu ada aku. Di depanmu, di sampingmu, di mana pun kamu butuh aku berada."
Sore itu kami duduk di bangku taman sekolah yang sepi, membiarkan angin sore membawa pergi semua rasa tidak enak tadi. Aku di tengah, Orion di kanan, Rexy di kiri. Tangan Orion sesekali menyentuh punggung tanganku dengan lembut, sementara Rexy menaruh lengannya di belakang punggung bangku, seolah menciptakan pelukan pelindung tanpa benar-benar menyentuhku — dua cara berbeda untuk bilang: kami di sini untukmu.
"Mereka cemburu karena mereka nggak punya apa yang kita punya," ujarku pelan, menatap langit yang mulai berwarna jingga. "Persahabatan itu bukan kompetisi siapa yang paling penting. Ini tentang kebersamaan yang membuat kita lebih kuat, bukan lebih terpisah."
Orion tersenyum lembut ke arahku, senyum yang seolah memancarkan cahaya lembut. "Kamu tahu, Aluna? Justru karena ada orang yang cemburu, kita jadi semakin paham betapa berharganya apa yang kita miliki. Semakin banyak yang mencoba memisahkan, semakin kuat kita saling berpegangan, kan?"
Rexy menyodorkan sepotong kue dari kotak yang kubawa tadi, mencoba mencairkan suasana. "Nah, lupakan mereka. Yang penting kue buatan Aluna ini harus dimakan selagi enak. Eh… kenapa bentuknya miring gini sih? Hahaha!"
Aku tertawa sambil memukul pelan lengannya. "Hei! Itu buatan tanganku sendiri lho! Hargai hasil keringatku!"
"Eh jangan marah dong, justru karena miring jadi unik. Makanya aku makin suka," katanya cepat, lalu memakannya dengan lahap seolah itu makanan paling enak sedunia.
Orion juga mengambil satu potong, memakannya perlahan, lalu menatapku dengan mata yang berbinar hangat. "Enak banget, Aluna. Rasanya hangat, persis seperti hatimu. Terima kasih sudah membuat hari kami lebih indah dengan kehadiranmu."
Mata kami bertemu sedikit terlalu lama, dan jantungku kembali berdetak aneh. Di sampingku, Rexy diam saja memandang ke depan, tapi tangannya yang berdebu tepung kue perlahan menyentuh ujung jariku, menyentuh sekilas lalu menariknya kembali seolah takut aku menolaknya.
Malam itu aku pulang dengan perasaan campur aduk. Ada yang sedih karena digunjingkan, tapi jauh lebih banyak rasa bahagia karena tahu betapa berharganya aku di mata mereka berdua. Dan di dalam hatiku, ada satu hal yang mulai kusesali — aku mulai menyadari bahwa perasaan mereka padaku mungkin lebih dari sekadar persahabatan. Dan aku belum siap untuk memilih, karena aku takut… memilih satu berarti kehilangan separuh jiwaku sendiri.
Pertanyaan buat kamu:
Beberapa hari berlalu, dan ternyata gosip itu nggak hilang begitu saja. Malah, Siska mulai menyebarkan cerita yang lebih parah — dia bilang aku memanfaatkan mereka berdua untuk tugas sekolah dan urusan keluarga. Kabar itu sampai ke telinga guru wali kelas. Besok pagi, kita bertiga dipanggil ke ruang guru untuk didengar keterangannya. Aku merasa bersalah banget, seolah aku yang membawa masalah ke hidup mereka. Malam ini, aku mau mengirim pesan ke mereka berdua.
Apa yang akan kutulis? Dan bagaimana reaksi mereka saat membaca pesanku — apakah Orion akan menenangkan dengan kata-kata bijaknya, atau Rexy yang langsung datang ke rumahku malam ini juga karena takut aku menyalahkan diri sendiri? Ceritakan ya! 😊