📍Update 🚥 16 : 16 WIB
Duabelas tahun lalu, Elfiana Putri (Elle) dikhianati oleh taruhan konyol cinta pertamanya, William Adinata (Liam). Kini, takdir membawa mereka kembali dalam sebuah pernikahan pura-pura demi sang Papa.
Di antara luka masa lalu yang belum sembuh dan kebenaran yang perlahan terkuak, bisakah Elle menjaga hatinya agar tidak hancur untuk kedua kalinya?
❣️ I write what I want to write. ❣️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12 - The Feeling
Aku masih terdiam di hadapan Liam.
Meskipun Liam hanya memegang wajahku, entah kenapa ada perasaan yang berbeda.
Perasaan yang sebenarnya kukenal.
“Elle, maafin aku,” ucap Liam.
Aku langsung menepis tangannya.
“Aku nggak mau denger maaf kamu lagi. Lebih baik kamu pulang aja,” ucapku.
Aku berbalik lalu berjalan beberapa langkah, hendak meninggalkan bar.
“Elle...” panggil Liam.
“Eh, Pak!” seru Davin.
Aku langsung kembali berbalik.
Kulihat Davin sudah menopang tubuh Liam.
“Maafin aku, Elle... Maafin aku, Elle,” ucap Liam berulang kali.
Lalu kepalanya menunduk dan matanya kembali terpejam.
“Eh?” Aku terkejut. “Dia nggak mati, kan, Kak?”
“Nggak. Beliau cuma pingsan,” jawab Davin.
Aku menghela napas lega.
“Syukurlah. Kalau dia mati, bisa-bisa aku yang disalahin.”
“Elle, kenapa kamu malah ngomong kayak gitu?” tanya Davin. “Aku nggak tahu apa alasan Pak William jadiin kamu bahan taruhan dulu, tapi yang aku lihat sekarang, beliau benar-benar merasa bersalah.”
“Jangan mentang-mentang Kakak sekretarisnya Liam, terus Kakak belain Liam,” ucapku.
“Aku nggak belain Pak William. Aku cuma berpendapat berdasarkan apa yang aku lihat.”
Aku terdiam sejenak.
“Udahlah. Aku mau pulang.”
“Eh, Elle, tunggu!” panggil Davin.
“Apa?”
“Aku perlu bantuan kamu.”
“Bantuan apa?”
“Untuk malam ini, Pak William nginep di apartemen kamu, ya.”
“Apa?!” Aku langsung terkejut. “Kenapa Liam harus nginep di apartemenku? Dia kan punya rumah.”
“Aku nggak bisa bawa beliau dalam keadaan mabuk begini ke rumahnya.”
“Kenapa?”
“Papanya sakit.”
“Terus kenapa kalau papanya sakit? Apa hubungannya papanya sakit sama Liam mabuk?”
“Papanya sakit jantung, Elle.”
“Apa?!”
Aku benar-benar terkejut.
Papa Liam sakit jantung?
“Papanya Liam sakit jantung?” tanyaku memastikan.
“Iya, Elle. Udah lama beliau sakit jantung. Makanya Pak William menggantikan beliau lebih cepat dari yang direncanakan.”
Ternyata ada cerita seperti itu.
“Kalau Pak William pulang dalam keadaan mabuk begini dan Pak Wilson melihatnya, pasti beliau kepikiran. Bahkan mungkin kesehatannya bisa drop lagi.” Davin menatapku memohon. “Aku mohon, Elle. Malem ini aja.”
Aku menghela napas.
“Kenapa nggak dibawa ke rumah Kakak aja?”
“Di rumahku ada adik dan orang tuaku. Nggak enak kalau aku pulang bawa bosku yang mabuk.”
“Ya udah, bawa ke hotel aja.”
“Ya ampun, Elle. Masa orang mabuk dibawa ke hotel, sih?”
Aku terdiam.
Aku menatap Liam yang masih bersandar di tubuh Davin.
Kenapa akhirnya aku yang harus mengurus laki-laki ini?
“Aku mohon, Elle,” ucap Davin.
Aku mendecakkan lidah.
“Ya udah, iya,” jawabku terpaksa.
“Makasih, Elle.”
Aku mengangguk.
“Ya udah, ayo kita keluar. Tapi tolong topang tangan sebelahnya. Berat, nih,” ucap Davin.
Aku menghela napas.
Akhirnya aku menopang salah satu tangan Liam dan meletakkannya di bahuku.
Liam benar-benar merepotkan.
Dulu dia begitu tega menjadikanku bahan taruhan.
Sekarang, setelah kami bertemu lagi, dia malah merepotkanku.
Aku dan Davin pun membawa Liam keluar dari bar.
Begitu sampai di parkiran, kami memasukkan Liam ke bagian belakang mobil.
Setelah itu, aku dan Davin duduk di depan.
Kami pun meninggalkan bar.
Aku bersandar di jendela, sementara Davin fokus menyetir.
Di luar, lampu-lampu kota terlihat terang menyinari jalanan. Kontras dengan suasana hatiku yang terasa gelap.
Beberapa menit kemudian, kami sampai di apartemenku.
Begitu mobil terparkir rapi di basement, aku dan Davin kembali keluar sambil menopang tubuh Liam.
Kami membawanya masuk ke lift.
Rasa kesal masih menyelimutiku ketika lift bergerak naik.
Tak lama kemudian, pintu lift terbuka di lantai unitku.
Kami langsung keluar dan masuk ke dalam apartemenku.
“Elle, ayo kita bawa Pak William ke kamar kamu,” ucap Davin.
“Lho, kok ke kamarku? Kalau Liam tidur di kamarku, aku tidur di mana?” tanyaku.
“Di sofa.”
“Ih, nggak mau! Masa aku tidur di sofa di tempat tinggalku sendiri?” protesku.
“Ini Pak William habis mabuk, lho. Masa beliau yang tidur di sofa? Kali ini aja, Elle.”
Aku mendecakkan lidah.
“Ngerepotin banget, sih, orang ini,” ucapku kesal. “Ya udah, ayo.”
Aku dan Davin pun membawa Liam masuk ke kamarku lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Davin kemudian melepas sepatu dan jas Liam.
Sementara itu, aku menggantungkan tasku lalu mengambil ponsel dari dalam tas.
“Ya udah, aku pulang, ya.” Davin menyerahkan kunci mobil kepadaku. “Ini kunci mobilnya.”
Aku menerima kunci itu.
“Besok-besok kamu harus traktir aku, lho.”
“Siap,” jawab Davin. “Aku pulang, ya.”
Davin pun keluar dari kamarku.
Aku mengikutinya dan mengantarnya sampai ke pintu.
Setelah Davin pergi, aku menaruh kunci mobil Liam di meja ruang tengah lalu kembali ke kamar.
Kulihat Liam sudah terlelap di atas tempat tidur.
Aku berdiri di tepi tempat tidur sambil menatapnya.
“Kenapa kita harus ketemu lagi, sih?” gumamku. “Aku udah hampir lupain kamu, tapi kamu malah muncul lagi dan mengacaukan hidupku.”
Aku lalu mengambil selimut untuk diriku sendiri dan meninggalkan kamarku.
Aku merebahkan tubuhku di sofa, meletakkan ponsel di atas meja, lalu menarik selimut hingga menutupi tubuhku.
Aku pun menutup mata.
Suara alarm ponsel terdengar dan berhasil membangunkanku yang sedang terlelap.
Perlahan kubuka mata.
Begitu mataku terbuka, kulihat Liam sedang duduk di lantai sambil memegang ponselku.
“Liam?” panggilku sambil bangun.
“Eh, kamu udah bangun?” ucap Liam sambil membalikkan badan dan menatapku.
“Seharusnya aku yang nanya gitu ke kamu. Kapan kamu bangun?” tanyaku.
“Tadi. Belum lama,” jawab Liam. “Ngomong-ngomong, kenapa aku di sini?”
“Kamu lupa kemarin kamu mabuk di bar?”
“Aku ke bar, inget. Tapi mabuk dan sampai ke sini, aku nggak inget.”
“Semalam Kak Davin mengabari aku kalau kamu mabuk. Karena nggak mungkin kamu dibawa pulang dalam keadaan mabuk, mengingat kondisi papa kamu, akhirnya kamu dibawa ke sini,” jelasku.
“Ah, gitu...” Liam mengangguk kecil. “Tapi kenapa kamu ngizinin aku nginep di sini?”
“Terpaksa. Aku udah bilang suruh bawa kamu ke rumah Kak Davin atau hotel, tapi Kak Davin maksa-maksa. Jadi ya udah.”
“Ah... makasih, ya, udah ngizinin aku nginep di sini.”
“Liam...” panggilku.
“Hm?”
“Soal papa kamu... sejak kapan beliau sakit?”
Liam terdiam sejenak.
“Sejak tiga tahun yang lalu.”
“Pasti nggak mudah, ya, waktu denger kabar itu?”
“Iya. Bener-bener nggak mudah.” Liam menunduk sebentar. “Mama udah nggak ada. Nenek juga udah nggak ada. Aku nggak mau papa nyusul mereka.”
“Nenek kamu udah nggak ada? Sejak kapan?”
“Nggak lama setelah aku lulus kuliah.”
“Ah...”
Hening.
Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
“Ya udah, sana kamu pulang,” ucapku.
“Kamu ngusir aku?”
“Kamu bukannya harus kerja?”
“Ah, iya...”
“Ya udah, sana pulang.”
“Nanti setelah aku mandi.”
“Mandi? Mandi di mana?”
“Di sini.”
“Di sini? Nggak! Nggak! Udah, sana pergi.”
“Aku numpang mandi bentar, Elle. Aku mau langsung ke kantor.”
“Ya udah, di rumah kamu sana.”
“Nanti jadinya bolak-balik.”
Aku mendecakkan lidah.
“Ya udah, sana mandi.”
Liam tersenyum lalu berdiri.
“Handuknya mana?”
“Handuk?”
“Iya. Masa aku nggak pakai handuk, sih?”
Aku menghela napas kesal.
“Kamu bener-bener ngerepotin, ya,” ucapku seraya berdiri.
Aku lalu masuk ke kamar dan mengambil handuk.
Setelah itu, aku kembali ke ruang tengah.
“Nih,” ucapku sambil menyerahkan handuk.
Liam mengambilnya.
“Kamu bisa masak?”
“Bisa, sedikit. Kenapa?”
“Buatin aku nasi goreng buat sarapan.”
“Astaga... Kamu bener-bener, ya. Udah numpang tidur, numpang mandi, sekarang nyuruh aku buatin sarapan. Kamu pikir aku istri kamu apa?”
“Menarik juga kalau kamu jadi istriku.”
“Nggak! Aku nggak mau!” seruku. “Aku mending nggak nikah seumur hidup daripada harus nikah sama kamu.”
“Kamu gitu banget, sih, Elle, sama aku. Gini-gini aku bagian dari hidup kamu, lho.”
“Bagian hidupku yang menyebalkan.”
Aku mendorong tubuh Liam.
“Udah, sana mandi.”
“Kamu nggak mau mandi juga?”
“LIAM!”
Aku mengepalkan kedua tanganku karena kesal.
Liam tertawa.
Aku terdiam.
Waktu itu, saat kami sedang menelepon, Liam memang sempat tertawa. Tapi aku tidak bisa melihat ekspresinya.
Sekarang, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku bisa melihat Liam tertawa lagi.
Entah kenapa, ada sesuatu yang terasa aneh di dadaku.
Aku tidak tahu apa itu.
Yang jelas, aku tidak suka perasaan ini.
