"Kamu sudah menganggap anak kita adalah sebuah kutukan, maka suatu hari nanti dia akan benar benar menjadi sebuah kutukan untuk keluarga kamu mas!"
Itu adalah kata kata terkahir Riyanti yang bisa di dengar oleh suaminya Raditya ketika di tepi jurang.
Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa bisa seseorang bisa menjadi terkutuk?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarman muncul
"Ya, Om memang sangat tampan, sekarang pun masih banyak para gadis yang mengincar Om" jawab Raditya sedikit lega tanpa dia tahu kalau Raditya asli sudah menyelamatkan Kanaya dari musibah besar jika memakan makanan yang di buat Eva.
"Kenapa kamu bawa singkong? apa kamu tidak pernah makan singkong?" tanya Raditya melihat Shaquilla sedang menyuapi Sultan.
"Ini dari...."
"Dari kak Gerhana, tadi pagi dia ke rumah mengantarkan ini Om" jawab Kanaya karena Shaquilla terlihat gugup.
"Kenapa kalian terima, harusnya kalian tolak, makanan yang di buat Eva lebih enak" kesal Raditya
"Kan tadi Om yang terima, katanya harus kirim makanan setiap hari untuk kami, sarapan, makan siang dan makan malam, tidak boleh makan makanan di rumah Om" jawab Kanaya membuat Raditya mengepalkan tangannya.
"Sial! si Raditya sepertinya sudah mulai tahu kalau aku ingin menandai Kanaya, tapi aku tidak akan membiarkan rencananya berhasil" batin Raditya
Kanaya begitu ingin menyentuh Raditya supaya dia kembali lemah dan ayahnya bisa kembali menguasai tubuhnya lagi, Kanaya yang tadinya di penuhi kebencian tiba tiba saja merasa kasihan ketika Raditya memanggil dirinya dengan panggilan ayah, dan bagaimana Raditya bisa tahu kalau Kanaya adalah anaknya padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya.
"Jangan lakukan nak, ayahmu sudah terhubung dengan jin itu, cara melepaskan jiwanya dengan jin itu sedang di cari tahu oleh Kiai Adrian, ayahmu sudah hampir mati karena lemah menurut Kiai Adrian, tapi tubuhnya masih di kuasai jin itu karena dia sudah terlalu lama memakan makanan haram dan juga di berikan jampi jampi oleh Eva juga dukunnya" ucap Sanca ketika tangan Kanaya sudah terulur untuk memegang pundak Raditya.
"Dia lemah?" tanya Kanaya khawatir
"Ya, ayah kamu sudah lemah dan Kiai Adrian sedang mencari cara supaya ayah kamu tidak semakin lemah dan bisa punya semangat untuk mengambil tubuhnya kembali" jawab Sanca
Sampai di pabrik, Raditya meminta Komar salah satu karyawan kepercayaannya untuk membeli satu mobil menggantikan mobil Raditya yang rusak, bahkan Raditya meminta mobil terbaru yang lebih besar supaya Kanaya bisa nyaman jika menaiki mobilnya itu.
"Pak, kemarin ada sedikit masalah, bahan baku yang sudah kita pesan dari tempat pak Junaidi tidak datang, sudah saya hubungi tapi tidak ada jawaban" ucap Komar
"Tapi masih ada stok di gudang kan?" tanya Raditya
"Untuk satu minggu ke depan aman pak" jawab Komar
"Kalau begitu saya akan hubungi toko lain, kalian urus saja bagian kalian dan sisanya saya yang urus, dia mungkin sudah tidak mau berjualan lagi" jawab Raditya meniup sesuatu ke arah atas dan Kanaya bisa melihat ada beberapa makhluk berbentuk seukuran kepalan tangan yang terbang ke arah luar gerbang pabrik.
"Koreak... Koreak.."
"Ayah, makhluk apa itu?" tanya Kanaya
"Itu jin Koreak... berasal dari janin yang mati atau di tumbalkan" jawab Sanca
"Kanaya" panggil Raditya
"I.. iya Om"
"Ayo kita masuk, jangan di sini karena di sini berbahaya, banyak jin berkeliaran" ajak Raditya merangkul Kanaya dan tiba tiba saja Sanca terpental.
Bruk.
"Aakhh! kenapa, kenapa aku tiba tiba terpental" gumam Sanca karena dia merasa ada yang mendorongnya dari dalam tubuh Kanaya.
"Tidak, aku tidak bisa membiarkan Kanaya sendirian di dalam sana, bisa bahaya" gumam Sanca kembali masuk tapi tubuhnya tiba-tiba saja di tarik sesuatu yang mengikat di area kakinya.
"Aaakhhh! apa ini!" kesal Sanca mencoba melepaskan tali itu tapi dia gagal, tali itu terus menyeretnya hingga ke arah dalam hutan dan berhenti di gubuk tempat seseorang yang dia kenal tinggal.
"Tarman" kesal Sanca berdiri lalu mencekik dukun yang sudah menarik dirinya.
"Apa yang kamu lakukan di sini genderuwo lemah? Dulu kamu jatuh cinta pada manusia dan sekarang kamu mengejar menusia lain?" sinis Tarman sama sekali tidak merasa takut.
"Kamu masih jin taklukan ku Sanca dan kamu tidak akan bisa lepas dariku" ucap Tarman
"Benarkah? kamu tidak bisa menemukan aku selama dua puluh tahun ini, Bahkan kamu juga tidak tahu apa yang sudah aku lakukan pada tanda kepemilikan darimu" sinis Sanca memperlihatkan jari tengahnya yang hilang.
Sanca memang jin taklukan Tarman dulu, dia melakukan semua yang di perintahkan Tarman termasuk menyesatkan Riyanti supaya Eva bisa mendekati Raditya, tapi di tengah tugasnya Sanca jatuh cinta pada kecantikan dan ketulusan Riyanti hingga dia memilih untuk memberontak dan memotong jari tengah tangannya yang terdapat tali hitam tanda kalau dia adalah jin taklukan Tarman.
"Tapi sekarang kamu aku temukan Sanca, dan kali ini aku akan mengikat tubuhmu bukan tanganmu lagi" sinis Tarman mengeluarkan benang hitam yaitu teraliri energi merah di dalamnya.
"Sial, jangan sampai tali itu mengenai aku" gumam Sanca
"Kemarilah Sanca, aku tidak akan bisa kamu remehkan sekarang, sama seperti kamu aku juga sudah banyak berkembang dan Ilmuku sudah semakin sakti" ucap Tarman
"Aku tidak akan sudi jadi jin taklukan manusia hina seperti kamu" sinis Sanca
Tarman melemparkan tali yang dia pegang di atas tanah, tali itu tiba-tiba saja mengejar Sanca yang terus bergerak menghindari tali itu dengan susah payah karena kemanapun Sanca pergi, tali itu terus mengejarnya.
"Apa yang harus aku lakukan" gumam Sanca juga mencoba membakar tali itu menggunakan energinya tapi gagal karena ilmu Sanca sudah di ketahui oleh Tarman yang mengaliri tali itu dengan darahnya juga supaya Sanca semakin terikat.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan, tolong aku, katanya dengan memanggil namaMU bantuan akan datang" gumam Sanca
"Hahaha... Menyerah lah Sanca, kamu akan jadi jin milikku lagi seperti dulu, dan sekarang akan aku buat kamu tunduk setunduk tunduknya!" teriak Tarman
"Aku tidak sudi! Allahu Akbar!" teriak Sanca melemparkan taringnya dan tali itu berhenti.
Tarman terkejut begitupun Sanca, dia tidak percaya kalau ternyata asma Allah benar-benar ampuh untuk menolongnya saat itu, dia memang sudah mulai percaya pada Islam tapi dia belum ingin memeluk agama apapun karena dia masih sakit hati melihat Riyanti yang begitu taat agama harus meninggal tanpa di tolong oleh Tuhan yang selama ini selalu di sebut Riyanti setiap saat.
"Tangkap dia!" teriak Tarman kembali mengalirkan energinya dan tali itu kembali bergerak.
"Tidak!" teriak Sanca kembali terbang ke setiap arah untuk menghindari tali itu.
Sanca memang cepat tapi tali itu juga sama cepatnya dengannya dan itu membuat pergerakan Sanca jadi terbatas dan dia mulai kesal, hingga karena Sanca salah perhitungan, tali itu berhasil mengikat tubuhnya dan mulai melilit sempurna setelah Sanca terjatuh.
"Hahahaha... terima nasib burukmu Sanca!" ejek Tarman.