Blurb!
Tujuh tahun menikah, tapi belum dikaruniai anak? Siap-siap telinga panas mendengar julidan mertua!
Nisa dan Dimas harus bertahan dari teror Bu Ratna, mertua sosialita gengsian yang menghalalkan segala cara absurd, demi menimang cucu. Mulai dari minum jus delima pencahar, hingga tidur di kasur giok penyiksa raga. Sanggupkah Nisa bertahan dibawah tekanan mertuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
_____🌺
Hari berikutnya.
Bruk!
Srek!
"Ayo, Pak Jaja! Tarik lagi ranjangnya ke arah utara! Katanya kalau kepala ranjang menghadap utara, energi positif dari kutub bumi bakal langsung masuk nembus ke rahim! Jangan lelet kerjanya, nanti energi keburu menguap!"
Suara decitan kaki ranjang jati yang beradu kasar dengan lantai marmer sukses membuat Nisa melompat kaget dari tidurnya.
Jam dinding baru menunjukkan pukul enam pagi, tapi kamar tidurnya sudah berubah wujud layaknya lokasi proyek bedah rumah.
Di ujung ruangan, bu Ratna sedang berdiri sambil memegang kompas, memberi instruksi layaknya mandor bangunan kepada Pak Jaja, satpam kompleks yang entah bagaimana ceritanya bisa diculik ke dalam kamar utama pagi-pagi buta begini.
"Ma! Astaga! Ini ada apa lagi sih pagi-pagi udah main tarik-tarikan ranjang? Pak Jaja kok bisa ada di dalam kamar Nisa?" jerit Nisa sambil menarik selimutnya rapat-rapat hingga sebatas leher. Nyawanya belum terkumpul penuh, tapi matanya sudah dipaksa melihat kekacauan luar biasa.
Bu Ratna menoleh dengan wajah tanpa dosa, kompas di tangannya masih menunjuk ke arah utara.
"Loh, kamu udah bangun, Nis? Bagus deh! Cepat turun dari kasur! Ini ranjangnya mau Mama putar posisinya. Semalam Mama habis nonton YouTube pakar Feng Shui dari Taiwan. Katanya, alasan kenapa kamu udah tujuh tahun nggak hamil-hamil itu karena letak kasur kamu memotong garis aura kesuburan rumah ini!"
"Feng Shui dari Taiwan dari mana lagi sih, Ma? Kemarin jus delima Himalaya, sekarang Feng Shui Taiwan! Terus kenapa harus bawa-bawa Pak Jaja masuk kamar segala? Kasihan kan Pak Jaja belum kelar jaga shift malam udah disuruh jadi kuli dadakan," keluh Nisa.
Ia buru-buru meraih cardigan panjangnya dan turun dari kasur.
Pak Jaja yang sedang mengelap keringat di dahinya hanya bisa tersenyum meringis.
"Nggak apa-apa, Mbak Nisa. Hitung-hitung olahraga pagi sekalian. Nyonya Ratna tadi janjinya mau ngasih sarapan lontong sayur komplit pakai telur bulat kalau saya berhasil geser lemari sama ranjang ini."
"Tuh denger! Pak Jaja aja nggak keberatan sama sekali. Kamu jangan banyak protes deh, Nis. Mama ini lagi berjuang keras buat memperbaiki tata letak energi rumah kita. Pantesan aja selama ini bibitnya Dimas mental terus nggak mau nempel, lha wong kasur kalian posisinya menghadap ke tembok kamar mandi! Bau pesing tahu nggak! Auranya negatif banget!" omelnya sambil berkacak pinggang.
"Ma, kamar mandi kita itu exhaust fan-nya nyala dua puluh empat jam. Pakai pewangi ruangan mahal rasa lavender juga. Mana ada bau pesingnya sih? Lagi pula, letak kasur kan nggak ada hubungannya sama pembuahan medis!" Nisa memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri.
"Medis mulu yang kamu agung-agungkan! Kalau medis beneran jago, udah bunting kamu dari tahun kelima! Udah, kamu minggir sana. Jangan menghalangi jalan energi positif masuk. Pak Jaja, sekarang dorong lemarinya ke sudut timur! Biar rezekinya terbit seperti matahari pagi!" perintah bu Ratna dengan semangat menggebu-gebu, mengabaikan protes menantunya sama sekali.
Nisa hanya bisa menghela napas pasrah luar biasa. Menghadapi rutinitas pagi bersama mertua julidnya ini benar-benar membutuhkan kesabaran seluas samudra Hindia.
Ia melangkah keluar kamar menuju dapur, berniat menyeduh teh hangat untuk meredakan kepalanya yang mulai pening. Di meja makan, suaminya ternyata sudah duduk rapi dengan kemeja kerjanya, sedang asyik memakan roti bakar.
"Mas Dimas! Kamu kok malah enak-enakan makan roti sih di sini? Itu mamamu di atas lagi ngobrak-ngabrik kamar kita lho! Ranjang kita digeser ke utara, lemari ke timur, lama-lama meja riasku ditaruh di balkon luar!" omel Nisa setengah berbisik sambil menarik kursi di sebelah suaminya.
Dimas mengunyah rotinya dengan tenang, seolah sudah kebal dengan semua drama di rumah ini.
"Udah, biarin aja, Nis. Mas tadi udah coba larang pas Mama baru bangunin Pak Jaja, tapi ujung-ujungnya Mas malah disemprot kultum subuh soal anak durhaka yang nggak mau dengerin petuah leluhur. Mending kita ngalah aja deh daripada jatah sarapan kita disabotase lagi kayak kemarin."
"Tapi kan kamarnya jadi sempit banget kalau ranjangnya di tengah-tengah gitu, Mas. Terus nanti malam kita tidurnya gimana? Masa ngadep tembok polos doang?" protes Nisa tak terima.
"Tidur sambil merem kan nggak lihat tembok, Sayang. Udah, anggap aja kita lagi staycation di hotel dengan layout kamar baru. Mas harus berangkat kerja pagi-pagi banget hari ini, Pak Cokro minta laporan sales bulan kemarin harus udah ada di mejanya jam delapan teng," ucap Dimas sambil buru-buru menenggak susu hangatnya.
"Gitu mulu kamu mah, kabur dari kenyataan. Nanti sore kalau punggungmu sakit gara-gara salah urat pas tidur di kasur miring, jangan minta kerokin aku lagi lho ya!" ancam Nisa cemberut.
Dimas hanya tertawa pelan, mengusap puncak kepala istrinya dengan sayang. "Iya, iya, janji nggak minta kerok. Mas berangkat dulu ya. Kalau Mama mulai aneh-aneh lagi masukin batu kristal atau semacamnya ke kamar, kamu pura-pura ngetik novel aja pakai headset."
Sepeninggal Dimas, Nisa kembali ke kamarnya dan mendapati kamarnya kini benar-benar terasa absurd.
Ranjangnya berada tepat di tengah ruangan, menyisakan celah sempit di keempat sisinya. Lemari bajunya menutupi setengah jendela, membuat cahaya matahari yang masuk hanya tersisa sedikit.
Bu Ratna sedang berdiri di tengah ruangan sambil menyilangkan tangan di dada, tampak sangat puas dengan mahakarya barunya.
"Nah! Ini baru namanya tata letak kamar mengundang kesuburan! Udaranya langsung terasa beda kan, Nis? Lebih sejuk, lebih plong!" seru bu Ratna bangga.
"Lebih sempit iya, Ma. Ini Nisa kalau mau buka pintu lemari harus miringin badan dulu kayak kepiting. Terus itu kenapa harus ada pajangan patung kodok emas di atas meja rias Nisa sih, Ma? Kan serem banget Nisa kalau lagi dandan dilihatin kodok mangap begitu," keluh Nisa menunjuk patung kodok pembawa koin yang entah dari mana asalnya tiba-tiba nangkring di meja riasnya.
"Heh! Itu bukan kodok sembarangan! Itu kodok pembawa hoki dan penarik rezeki anak! Mama beli mahal itu dari online shop pengrajin kuno. Biarin aja di situ, jangan berani-berani kamu pindahin walau cuma satu senti! Pokoknya selama sebulan ini, pantang ada barang yang digeser lagi. Biar energinya stabil fokus ke rahim kamu!" tegur mertuanya tegas.
Nisa hanya bisa mengusap dadanya pelan. "Iya, Ma. Nisa nggak bakal sentuh si kodok. Nisa mau mandi dulu deh, gerah banget pagi-pagi udah diajak debat Feng Shui."
anda sebenarnya sayang ma Nisa Bu ,, cuma julid ma gengsi ny tu looo gede banget same nutupin rasa sayang yg sbenarny besar tu ,,
jgn sampai km menyesal Bu ,, ayooo baikan ,, jgn2 julid2an lgi ,, 😁😁😁😁😁🤭
semoga cepat2 dapet momongan yx Nisa ,, buat nyumpel mulut mertua mu yg gx da rem ny ,,
ad nilai plus ny nih Bu Ratna ,,
hadeh