Bagi Ayara, hidup hanya tentang bekerja tanpa pernah mengenal cinta. Namun, saat ia mendaki gunung bersama teman-temannya semuanya berubah. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang pria di jalur pendakian menjadi awal baru baginya untuk mengenal rasa jatuh cinta.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Ayara? Siapa pria yang ditemui Ayara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Mau Ngomong Sesuatu
Pagi hari menyambut dengan udara dingin yang menusuk tulang. Ayara sudah rapi dengan seragam pabriknya, siap melangkahkan kaki menuju sepeda motor tuanya di halaman. Namun, langkahnya terhenti seketika saat melihat sosok wanita paruh baya berpenampilan nyentrik dengan daster bermotif bunga warna mencolok berjalan tergesa-gesa memotong jalan menuju rumahnya.
Wanita itu adalah Bu Marni, tetangga Ayara. Wajah Bu Marni tampak cemas dan agak ragu, sangat berbeda dari biasanya yang selalu ceria dan suka bersenda gurau.
"Ayara! Mau berangkat kerja ya?" tanya Bu Marni basa basi, seraya menghentikan langkah tepat di depan pintu pagar seng Ayara.
Ayara tersenyum ramah dan segera menghampiri, "Iya. Ada apa ya, Bu? Kok kayak buru-buru gitu?"
Ibu Yati yang mendengar suara dari luar menyingkap gorden pintu dan ikut keluar menyapa, "Eh, Mbak Marni. Ayo masuk dulu, Mbak."
Bu Marni menggeleng pelan, wajahnya makin serba salah. Ia memegang jemari Ibu Yati dan menatap Ayara bergantian.
"Duh, Yati... Ayara... Maaf banget saya datang pagi-pagi begini dan langsung ngomongin hal sensitif," ujar Bu Marni ragu.
"Ada apa, Bu?" tanya Ayara.
"Sebenarnya saya terdesak banget, anak saya yang ada di kota mau masuk kuliah dan biaya masuknya lumayan besar. Saya mau minta tolong... untuk sisa pinjaman yang dulu, apa bisa dilunasi dalam bulan ini?" ucap Bu Marni.
Seketika atmosfer di teras rumah sederhana itu menjadi hening. Ibu Yati terpaku, sementara Ayara merasakan jantungnya berdegup lebih kencang.
Hutang tersebut bermula tiga tahun lalu. Demi menutup sisa tunggakan hutang mendiang Ayahnya yang terus dikejar bunga oleh pihak ketiga, Bu Marni dengan kebaikan hatinya yang luar biasa rela meminjamkan uang tabungannya sebesar 23 juta tanpa bunga sedikit pun.
Selama tiga tahun ini, Ayara dan ibunya berjuang menyisihkannya hingga sisa utang tersebut kini tinggal 15 juta, Bu Marni adalah penolong terbesar keluarga mereka di masa-masa tergelap.
"Lima belas juta... dalam satu bulan ini ya, Bu?" tanya Ayara pelan, berusaha menjaga nada suaranya agar tetap tenang meski dadanya bergemuruh.
"Iya, Ra... Kalau nggak terdesak kayak gini, saya nggak akan tagih mendadak begini. Kalian kan tahu sendiri saya sudah menganggap kalian keluarga," ucap Bu Marni memohon dengan wajah tak kalah sedih.
Ibu Yati memegang dada, napasnya agak terengah. Ayara dengan sigap merangkul pundak sang ibu untuk memberikannya kekuatan. Ayara tahu betul betapa baiknya Bu Marni, wanita itu tidak pernah menagih dengan kasar atau merendahkan mereka, bahkan tidak pernah membahas soal hutang.
"Bu Marni jangan khawatir, saya akan secepatnya untuk melunasi sisa lima belas juta itu dalam bulan ini," ucap Ayara tegas namun tetap santun dan penuh rasa hormat.
Bu Marni menghela napas lega dan menggenggam erat tangan Ayara, "Terima kasih banyak ya, Ra. Maafkan Bu Marni yang merepotkan kalian...,"
"Tidak, Bu. Justru kami sekeluarga yang harusnya minta maaf dan berterima kasih atas bantuan Bu Marni sekeluarga," balas Ayara.
Setelah Bu Marni pamit pulang, Ibu Yati terduduk lemah di kursi kayu teras. "Uang dari mana lima belas juta dalam sebulan, Nduk? Tabungan kita bahkan nggak sampai dua juta..."
Ayara berlutut di depan ibunya, mengusap kedua tangan keriput yang bergetar itu dengan lembut. "Ibu jangan mikirin soal itu ya, biar Ayara yang mengurus semuanya. Ayara berangkat kerja dulu ya, nanti Ayara akan cari cara."
Sepanjang perjalanan menuju pabrik, pikiran Ayara tak henti berputar. Angka lima belas juta terasa seperti gunung tinggi yang melingkupi dadanya. Namun, begitu melangkahkan kaki ke dalam area produksi, Ayara menepis jauh-jauh raut sedihnya, ia tidak boleh sedih di depan orang lain.
Bau karet dan berdengungnya mesin pabrik sepatu menyapa Ayara seperti biasanya. Namun hari ini, setiap kali ia mengoperasikan mesin jahit bahan kulit, pikiran Ayara dipenuhi bayangan wajah Bu Marni dan ibunya, angka lima belas juta terus menari-nari di ruang matanya. Bagi seorang buruh pabrik dengan gaji pas-pasan, jumlah tersebut sangat besar untuk dikumpulkan dalam kurun waktu satu bulan.
Saat bel istirahat tengah hari berbunyi, deru mesin perlahan mereda. Para pekerja mulai berhamburan menuju kantin atau sekadar duduk-duduk di koridor pabrik sembari membuka bekal masing-masing. Ayara menarik napas panjang dan merapikan gulungan benang di mejanya, lalu memberanikan diri mendekati beberapa rekan kerjanya.
Langkah pertamanya tertuju pada Mbak Ningsih, pekerja senior yang sudah bekerja lebih dari delapan tahun di pabrik.
"Mbak Ningsih," sapa Ayara ragu saat Mbak Ningsih baru saja membuka wadah bekal di bangku taman belakang pabrik.
"Eh, Ayara. Kenapa, Ra? Kok mukanya lesu gitu, nggak makan?" tanya Mbak Ningsih ramah.
Ayara duduk di sampingnya, remasan jemarinya pada celana kainnya memperlihatkan kepanikan yang tersembunyi. "Iya, Mbak. Tapi, sebelumnya, maaf Mbak. Aku mau ngomong sesuatu."
"Apa?" tanya Mbak Ningsih.
"Apa Mbak Ningsih ada uang, aku mau pinjam, Mbak?" tanya Ayara.
Mbak Ningsih menghentikan suapannya, "Nggak ada."
"Berapapun, Mbak...,"
"Kamu tahu sendiri gaji disini aja nggak sampai 3 juta, kalau sata pinjemin ke kamu... keluarga saya gimana?" balas Mbak Ningsih ketus.
"Maaf, Mbak....," ucap Ayara, merasa bersalah.
Tidak berhenti di situ, Ayara mencoba menanyakan hal serupa pada beberapa kawan seperjuangannya yang lain. Namun, jawabannya seragam. Rata-rata buruh pabrik di sana memiliki beban finansial yang sama beratnya. Ada yang cicilan motornya menunggak, ada yang harus membiayai orang tua sakit, hingga yang sekadar cukup untuk bertahan hidup sampai tanggal muda berikutnya. Bahkan ada satu-dua orang yang langsung memandang curiga dan menjaga jarak begitu mendengar Ayara ingin meminjam uang.
Ayara akhirnya terduduk sendirian di sudut lorong pabrik yang sepi. Ia membuka tempat bekalnya sendiri, nasi putih dengan potongan tempe goreng dan tumis kangkung dingin. Ditatapnya makanan itu tanpa selera, penolakan dari rekan kerjanya bukanlah hal yang mengejutkan, tetapi kenyataan bahwa ia belum menemukan jalan keluar membuat dadanya makin sesak.
Namun, Ayara segera menggelengkan kepala, menyapu rasa putus asa yang sempat menguasai hatinya. "Nggak apa-apa, Ayara. Pasti ada jalan lain. Jangan menyerah," bisiknya pada diri sendiri, menguatkan hati sebelum kembali melangkahkan kaki masuk ke dalam riuhnya ruang produksi untuk menyelesaikan sisa jam kerja hari ini.
Malam harinya, Ayara bersiap-siap untuk pergi menemui enam teman-teman SMA-nya. Walau pikirannya kalut oleh masalah keuangan, Ayara tidak ingin melewatkan momen kumpul ini, terlebih lagi ia sudah janji.
Ayara mengenakan kaus berwarna biru dipadu rok. Sebelum berangkat, ia pamit pada Ibu Yati dan Arlan yang sedang sibuk membersihkan peralatan bengkelnya.
"Hati-hati di jalan ya, Mbak," ujar Arlan tersenyum, menyapu minyak hitam di dahinya.
"Salam buat Mbak-Mbak yang cantik-cantik itu!" lanjut Arlan.
"Kamu ini, jangan tidur kemalaman ya. Ibu, Ayara jalan dulu," pamit Ayara sembari mencium tangan ibunya.
.
.
.
Bersambung.....
gimana menghadapi calon mertua yang ngeremehin kita