🔥CRAZY UP🔥
Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.
Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Senin, 27 Oktober, ruang rapat Nusantara di lantai dua puluh delapan sudah dingin sebelum orang-orangnya selesai duduk. Kerai jendela ditutup. Meja panjang mengkilap. Di ujung yang biasa dipakai direktur, papan nama Adrian sudah tertata. Di sisi seberang, deretan kursi tim pendukung tidak punya papan nama, hanya stopkontak dan botol air yang masih tersegel.
Alina masuk dengan badge konsultan di dada kiri. Tali badge masih baru, namanya tercetak utuh: Alina Prameswari, konsultan eksternal. Ia tidak berjalan ke kursi kosong di samping Adrian. Kursi itu dekat, terlalu mudah dibaca, dan foto lobi kemarin sudah cukup memberi orang bahan tanpa ia menambahkannya di meja rapat. Ia menarik kursi di sisi pendukung, dua tempat dari ujung, laptop kecil di sebelah kiri, pena di kanan. Dari situ ia bisa melihat Adrian, tetapi harus menyeberang seluruh meja kalau ingin bicara seperti orang yang duduk sebaris.
Dimas datang berikutnya dan duduk di sisi Adrian, bukan di sisi Alina. Ia meletakkan catatan timeline di depan sendiri. Ketika manajer dari tim integrasi menoleh ke kursi kosong di samping direktur, lalu ke Alina di seberang, Dimas tidak menjelaskan. Ia hanya membuka halaman pertama.
Rapat internal akuisisi Pesisir Garuda dimulai dari jadwal, bukan dari gosip. Seseorang dari operasional membacakan jendela uji gudang Jakarta dan depo yang masih menunggu konfirmasi. Angka minggu disebut pelan. Adrian menyela hanya ketika tanggal tidak cocok dengan lampiran yang sudah ia pegang.
“Uji rute malam jangan ditulis selesai kalau depo Jakarta masih bergantung pada masa sewa,” katanya. “Pindahkan ke kolom terbuka.”
Tidak ada yang membantah. Alina mencatat, bukan karena diminta berbicara, tetapi karena tanggal yang meleset satu kolom adalah cara lama angka kelihatan bersih. Ia belum membuka mulut.
Pembahasan timeline sampai pada berkas yang akan dikirim ke Aruna. Di situlah seorang manajer senior, yang sejak tadi hanya menggarisbawahi kertasnya, meletakkan pena dan berbicara dengan nada yang hampir tidak naik.
“Saya perlu kejelasan sebelum kita mengunci minggu depan,” katanya. “Timeline ini jangan sampai tergantung pada kehadiran pihak eksternal yang terlalu dekat dengan direktur utama. Beberapa orang di lantai sudah membaca foto lobi. Kalau item vendor historis ditahan karena orang itu, Aruna akan bertanya siapa yang memegang pena, bukan hanya apa yang ditahan.”
Beberapa kepala menoleh. Tidak semua. Cukup banyak untuk membuat badge di dada Alina terasa seperti keterangan yang baru saja dibacakan orang lain. Alina tidak menunduk. Ia menatap manajer itu, lalu menatap Adrian. Ia menunggu apakah sandiwara kemarin akan dipakai di ruangan ini, atau apakah ia akan dibiarkan menjadi gangguan yang perlu dijelaskan.
Adrian mengangkat tangan. Gerakannya pendek. Tidak menenangkan, tidak memanggil Alina agar pindah tempat.
“Alina Prameswari di sini sebagai konsultan eksternal berdasarkan perjanjian kerja sama terbatas yang sudah ditandatangani dan diketahui tim hukum,” katanya. “Temuannya terkait rekonsiliasi vendor historis sudah membantu kita menahan item yang berpotensi bermasalah sebelum sampai ke Aruna. Saya membela posisinya sebagai profesional, bukan karena alasan pribadi.”
Kalimat itu jatuh datar. Tidak ada jeda yang memberi ruang tawa, dan tidak ada kata yang bisa dikutip sebagai pengakuan. Beberapa orang mengangguk karena jawaban itu terdengar seperti prosedur. Manajer senior mencatat sesuatu yang tidak ia bacakan. Dimas tidak menambahkan. Rapat kembali ke tanggal.
Alina tetap duduk di sisi pendukung. Pena di tangannya tidak bergerak selama satu menit penuh. Ia tidak tersinggung karena ada orang yang membela pekerjaan itu. Ia tersinggung karena pembelaan itu memotong habis hal lain yang sejak Sabtu sudah mereka tulis dan sejak Minggu sudah mereka potret. Di luar ruangan ini, jarak setengah langkah dipakai untuk menggeser rumor. Di dalam ruangan ini, ia dikembalikan menjadi file. Alat data di meja panjang. Alat rumor di lobi. Dua fungsi, tidak satu pun yang Adrian mau sebut dalam kalimat yang sama.
Ia tidak memotong rapat untuk mengatakan itu. Memotong sekarang akan membuat manajer senior mendapat tontonan yang ia cari. Alina membuka lampiran timeline, menandai satu tanggal yang memang meleset, dan menyerahkan catatan kecil itu kepada staf di sebelahnya tanpa komentar. Pekerjaan tetap jalan. Rasa tidak terima ia simpan sampai pintu terbuka.
Rapat selesai tanpa keputusan baru soal harga. Yang dikunci hanya urutan minggu dan daftar item yang belum boleh disebut bersih. Orang-orang keluar bergerombol. Alina menunggu di koridor, laptop masih di tangan, punggung di dinding yang tidak menghadap pintu lift. Ia ingin Adrian keluar, bukan menghilang lewat jalur lain.
Adrian keluar bersama Dimas. Langkah mereka melambat ketika melihat Alina tidak ikut arus ke lift.
“Anda membela saya sebagai profesional,” kata Alina pelan. “Bagus. Tapi Anda melakukannya seolah sandiwara kita tidak ada. Kalau rumor perlu saya, bilang saja di depan mereka. Jangan memisahkan seolah saya hanya file di folder.”
Dimas menatap ujung koridor, memberi mereka jarak satu langkah tanpa pergi. Adrian berhenti. Botol air yang tidak diminumnya masih di tangan, lalu ia letakkan di meja kecil koridor seperti benda itu mengganggu.
“Di rapat saya tidak akan memakai narasi pribadi,” katanya. “Itu akan membuat Aruna lebih curiga, bukan lebih tenang. Data yang Anda bawa sudah cukup untuk membela posisi Anda tanpa saya harus menyebut status yang belum resmi.”
“Status yang kemarin Anda izinkan difoto.”
“Foto itu untuk menggeser kata penyusup. Bukan untuk saya bacakan di ruang Nusantara.”
Alina meletakkan laptop di meja koridor dan membukanya. Layar menyala pada slide yang ia susun semalam di studio, setelah telepon Minggu ditutup. Tiga baris, bukan cerita. Sewa armada terkait, Rp9,2 miliar, dipindah dari kolom detail ke ringkasan dengan catatan diselesaikan. Jasa pendukung gudang, Rp4,1 miliar, pola yang sama. Lazuardi, Rp5,6 miliar, masih muncul pada rekonsiliasi. Total yang digeser Rp18,9 miliar. Ringkasan yang akan terlihat pertama hanya Rp12,4 miliar.
“Ini pola pemindahan tiga transaksi yang sudah kita lihat,” kata Alina. “Kalau Anda ingin membela saya dengan data, pakai ini. Bukan hanya kalimat konsultan eksternal.”
Adrian membungkuk sedikit, bukan untuk mendekati Alina, hanya untuk membaca angka. Jari telunjuknya mengikuti selisih di bagian bawah slide, lalu berhenti. Dimas ikut melihat, dan tidak menyela.
“Angka ini sudah kita pegang,” kata Adrian.
“Makanya jangan dibuang begitu rapat butuh alasan yang lebih dari jabatan saya.”
Adrian mengangguk pelan. “Kirim ke Dimas. Besok saya pakai di catatan untuk Helena.”
“Hari ini,” kata Alina. “Kalau besok Anda berubah pikiran, slide ini masih di laptop saya, bukan di kepala Anda.”
“Hari ini ke Dimas,” kata Adrian. “Besok saya yang menulis ke Helena. Jangan kirim sendiri ke Aruna.”
Alina menatapnya satu detik, lalu mengangguk. Ia memutar laptop, mengirim file ke alamat Dimas yang sudah ada di daftar terbatas, dan menunggu sampai tanda terkirim muncul. Dimas mengangkat ponselnya, memeriksa, dan mengunci layar.
“Masuk,” katanya. “Saya simpan di catatan draf, bukan di grup.”
Mereka berjalan ke lift. Tidak ada yang menambahkan soal foto. Tidak ada yang meminta maaf, dan Alina tidak meminta yang itu. Di depan pintu lift, Adrian menekan tombol lantai tiga puluh dua. Alina menekan lantai dasar. Dimas tidak ikut memilih; ia menunggu kabin yang sama karena ruangannya ada di tengah, tetapi ia masuk lebih dulu dan berdiri di sisi yang tidak mengharuskan siapa pun bergeser.
Pintu belum tertutup ketika Alina berbicara lagi, masih pelan. “Saya tidak minta disebut pacar di rapat. Saya minta jangan dipakai separuh-separuh. Kalau di lobi saya cukup untuk rumor, di meja ini saya juga cukup untuk angka. Jangan ganti fungsi saya sesuai ruangan tanpa bilang.”
Adrian menatap angka lantai yang menyala. “Catatan Helena akan memakai slide Anda. Itu jawaban saya.”
Lift berhenti di lantai Dimas lebih dulu. Dimas keluar dengan file yang baru masuk ke ponselnya dan tidak mengomentari suasana. Pintu menutup lagi.
Alina turun di lobi dengan rasa yang tidak rapi. Slide diterima. Itu memuaskan, kecil, dan nyata. Catatan untuk Helena besok akan berisi pola yang memang ia temukan, bukan hanya nama jabatannya. Pada saat yang sama ia tetap kesal. Garis antara pekerjaan dan sandiwara masih ditarik oleh Adrian sendiri, di depan orang lain, dengan kalimat yang terdengar benar dan terasa seperti pagar.
Di lantai tiga puluh dua, Adrian meletakkan botol yang entah mengapa masih ikut naik. Ia membuka catatan untuk Helena dan mengetik judul tanpa kalimat pembuka yang manis. Di rapat, pikirnya, kalimat itu sudah tepat. Aruna tidak perlu narasi pribadi. Tapi nada Alina di koridor tidak bisa ia masukkan ke kolom yang sama. Sandiwara ini, kalau dijalankan hanya dari sisi mejanya, akan patah di sisi seberang. Ia menulis di bawah judul, singkat, untuk dirinya sendiri dan belum untuk dikirim: pakai pola tiga transaksi. Jangan pakai status.