INVESTASI CINTA YANG SALAH
Oleh: AwandaMw
"Dia mengira aku cuma pelengkap, sampai dia sadar seluruh kerajaannya berdiri atas namaku."
Sinopsis:
Demi mendukung impian Reno, Nadia rela menyembunyikan kejeniusannya dan menyerahkan seluruh asetnya untuk membangun Apex Media dari nol. Namun, begitu bisnis bernilai puluhan miliar itu berada di puncak kejayaan, Reno justru berpaling pada Sella—seorang wanita glamor yang menghasutnya bahwa Nadia hanyalah beban.
Dicampakkan dan dihina tanpa harta gono-gini, Nadia memilih pergi tanpa sepatah kata dendam. Reno merasa menang, tanpa tahu satu rahasia besar: Nadia adalah pemilik tunggal PT Cakrawala Capital, pemegang saham mayoritas 60% yang memegang leher bisnisnya.
Saat Reno dan Sella sibuk merayakan kesuksesan semu, Nadia siap melancarkan takeover dingin dan menagih kembali setiap sen yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
***Bab 12 Panji kehancuran
🌸🌸🌸
Pagi hari di kawasan segitiga emas Jakarta terasa begitu dingin bagi Reno. Gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di area Sudirman Central Business District (SCBD) kini tak lagi tampak seperti simbol kejayaan, melainkan monster raksasa yang siap menelan habis masa depannya.
Lobi gedung kantor pusat PT Cakrawala Capital memancarkan aura kemewahan yang sangat intimidatif. Lantai marmer impor berwarna putih keperakan memantulkan bayangan orang-orang berstelan jas mahal yang lalu lalang dengan langkah cepat. Di tengah ruangan yang megah itu, Reno berdiri bersama Ibu Risma dan Maya.
Penampilan mereka jauh dari kata teratur. Reno mengenakan kemeja yang kusut dengan lingkaran hitam tebal di bawah matanya karena tidak bisa tidur seharian. Ibu Risma, yang biasanya gemerlap dengan perhiasan emas dan tas bermerek, kini tampil sangat sederhana dengan wajah pucat kebingungan. Maya berdiri di belakang ibunya seraya terus menunduk rapat, menyembunyikan wajahnya yang sembap akibat menangis semalaman.
"Mohon maaf, Pak Reno," ujar seorang staf resepsionis wanita berseragam rapi dengan nada dingin. "Bu Nadia Kirana sedang memimpin rapat direksi holding. Beliau tidak menerima kunjungan tanpa janji yang terdaftar di sistem."
"Tolonglah, Mbak!" sela Ibu Risma dengan suara gemetar, hampir seperti meratap. "Kami ini keluarganya... maksud saya, kami ini keluarga Pak Reno. Tolong sampaikan ke Nadia, ibunya mau bicara sebentar saja."
Sang resepsionis menatap Ibu Risma dengan pandangan datar tanpa simpati. "Ibu Nadia sudah memberikan instruksi khusus. Seluruh hal yang berkaitan dengan Pak Reno Pratama atau Apex Media hanya dapat diselesaikan melalui Tim Hukum Finansial di lantai empat belas."
Reno mengepalkan tangannya rapat-rapat. Rasa malu menghantam dadanya dengan sangat keras saat beberapa karyawan holding yang melintas menatap mereka dengan pandangan heran. Pria yang kemarin menyombongkan diri sebagai CEO sukses di depan media, kini berdiri memohon di lobi perusahaan milik istrinya sendiri.
"Saya akan tunggu di sini sampai Nadia turun," tegas Reno dengan suara parau, berusaha mempertahankan sisa-sisa harga dirinya.
Mereka bertiga akhirnya duduk di sofa lobi selama lebih dari tiga jam. Setiap kali pintu lift VVIP terbuka, dada Reno berdegup kencang berharap melihat sosok Nadia. Namun, wanita yang dicarinya tak kunjung muncul.
Tiba-tiba, ponsel Reno berdering nyaring. Nama Sella tertera di layar.
Reno menggeser tombol hijau dengan enggan, menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo, Sella?"
"Reno! Kamu ada di mana sih?!" jerit Sella dari ujung telepon dengan nada histeris. "Ini orang-orang dari tim audit independen dan polisi pamong bisnis datang ke kantor Apex Media! Mereka menyegel ruang kerja aku! Semua dokumen pemasaran dan berkas anggaran ditahan!"
"Apa?!" seru Reno seraya berdiri seketika dari sofa lobi.
"Mereka bilang aku terlibat dalam penampungan dana penggelapan kas korporasi!" lanjut Sella dengan suara melengking panik. "Reno, kamu harus selesaikan ini sekarang! Aku nggak mau diseret-seret ke kantor polisi ya! Kalau kamu nggak bisa membereskan masalah ini, aku bakal lempar semua tanggung jawab ke kamu!"
TUT... TUT... TUT...
Sambungan telepon diputus sepihak oleh Sella.
Reno membeku di tempatnya. Matanya membelalak menatap layar ponsel yang telah gelap. Wanita yang kemarin memujanya, membelai egonya, dan memanggilnya pria paling sempurna di dunia... kini langsung membuangnya begitu roda nasib berputar berlawanan.
"Reno... ada apa, Nak?" tanya Ibu Risma panik melihat reaksi putranya. "Sella bilang apa?"
"Sella cuma memanfaatkan aku, Bu..." bisik Reno parau, menyadari betapa bodohnya ia telah mengorbankan wanita setia seperti Nadia demi bisikan racun seorang Sella Anindya.
Sebelum Reno sempat menenangkan pikirannya, suara langkah kaki yang teratur dan bergema anggun menarik perhatian seluruh orang di lobi.
Pintu lift khusus VVIP terbuka.
Nadia melangkah keluar. Ia tampil begitu memukau dan berwibawa dalam balutan blazer berwarna biru gelap yang dipadu dengan celana kain berpotongan tajam. Di belakangnya, Pak Hendra dan empat orang pengacara senior mengiringi langkahnya dengan gestur sangat hormat.
"Nadia!" panggil Reno setengah berteriak.
Reno, Ibu Risma, dan Maya langsung berlari menghampiri Nadia. Namun, dua orang pengawal berbadan tegap berseragam hitam segera memasang barikade, menahan langkah Reno dan keluarganya beberapa meter sebelum bisa mendekati Nadia.
Nadia menghentikan langkahnya. Ia menatap tiga orang di depannya dengan pandangan yang sangat tenang, jernih, dan dingin—seolah sedang menatap orang asing yang tidak dikenal.
"Nadia... tolong, beri aku waktu lima menit untuk bicara," panggil Reno dengan suara memohon. Tidak ada lagi sisa kepongahan atau nada tinggi yang biasanya ia lontarkan di rumah.
Ibu Risma bahkan langsung maju melintasi batas pengawal, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Nadia... Mantu Ibu yang baik..." tangis Ibu Risma pecah di tengah lobi. "Ibu mohon maafkan Ibu, Nak... Ibu mengaku salah. Ibu yang picik, Ibu yang silau sama harta. Tolong maafkan Reno, Nak... Tolong batalkan RUPSLB itu. Kasihan Reno, dia bisa hancur..."
Maya ikut menunduk seraya meneteskan air mata ketakutan. "Iya, Mbak Nadia... Maya minta maaf sudah bicara kasar sama Mbak kemarin. Maya janji nggak akan minta mobil baru atau uang lagi. Tolong cabut laporan auditornya, Mbak..."
Melihat ibu dan adiknya merendahkan diri di depan banyak orang, dada Reno terasa seperti dihantam godam berat. Namun rasa takut akan jeruji besi membuat ego pria itu ikut runtuh seutuhnya.
"Nadia..." kata Reno seraya menatap lurus ke dalam manik mata istrinya. "Aku tahu aku salah. Aku khilaf, Nadia. Aku terbuai sama sanjungan Sella dan kebanggaan semu. Tolong beri aku kesempatan kedua... Kita bisa perbaiki hubungan kita. Kita bisa kembali seperti dulu."
Nadia berdiri tegak, mendengarkan setiap patah kata pemohonan ampun tersebut tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun. Tidak ada kemarahan, tidak ada dendam yang meluap, hanya ada kerapian emosi yang membeku sempurna.
Nadia melangkah satu tapak maju, menatap Reno dari balik matanya yang tajam.
"Kembali seperti dulu, Reno?" ujar Nadia pelan, suaranya mengalun bening di seluruh sudut lobi yang mendadak hening.
"Kembali ke masa di mana saya bekerja belasan jam sehari untuk membiayai utang keluargamu, sementara kamu sibuk mencari pengakuan?" tanya Nadia tenang. "Atau kembali ke masa di mana saya dihina sebagai wanita kaku dan beban citra di depan selingkuhanmu di restoran mewah?"
Wajah Reno makin pucat pasi, lidahnya mendadak kelu tak sanggup membalas.
"Kesempatan itu sudah habis, Reno," lanjut Nadia, suaranya tidak menaik satu oktaf pun namun sanggup meremukkan sisa harapan Reno. "Kamu sendiri yang menandatangani surat perceraian itu kemarin pagi. Kamu sendiri yang melempar uang ke meja saya dan menyuruh saya pergi."
Nadia merapikan posisi peniti di kerah blazer-nya, lalu menoleh pada Pak Hendra yang berdiri di sampingnya.
"Pak Hendra," panggil Nadia datar.
"Iya, Bu Nadia?" sahut pengacara senior itu cepat.
"Pastikan seluruh berkas bukti penggelapan kas operasional sebesar satu miliar rupiah atas nama Reno Pratama dan Sella Anindya diserahkan ke meja kepolisian tepat pukul empat sore ini," perintah Nadia tanpa ragu sedikit pun.
"Baik, Bu Nadia. Seluruh berkas audit independen sudah rampung dan siap dilimpahkan," jawab Pak Hendra tegas.
"GAK! NADIA, JANGAN!" teriak Reno histeris seraya mencoba menerobos barikade pengawal, namun tubuhnya ditahan dengan kokoh. "Nadia! Aku mohon! Kita pernah saling mencintai!"
Nadia menatap Reno untuk terakhir kalinya—sebuah tatapan pemungkas yang menutup seluruh lembaran sejarah di antara mereka.
"Cinta yang kamu maksud sudah mati malam itu, Reno... tepat saat kamu menggunakan uang kas perusahaanku untuk membelikan berlian bagi wanita lain."
Nadia memutar badannya dengan anggun, melangkah meninggalkan lobi menuju mobil sedan mewahnya yang telah bersiap di depan pintu masuk.
Di belakangnya, suara ratapan Ibu Risma yang histeris dan teriakan pemohonan ampun dari Reno terus bergema memecah keheningan lobi. Namun, Nadia tidak sekali pun menoleh ke belakang.
Panji kehancuran telah dikibarkan, dan masa depan Reno Pratama kini resmi bergerak menuju kegelapan yang tak terelakkan.
🌸🌸🌸