NovelToon NovelToon
MALAIKAT KECIL PAPA DAN MAMA

MALAIKAT KECIL PAPA DAN MAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: odee_eeeee15

Sepuluh tahun pernikahan, tujuh tahun penantian panjang yang diwarnai doa dan air mata, hingga akhirnya Aira lahir sebagai keajaiban pertama bagi pasangan Nala (30 tahun) dan Arka (33 tahun).

​Arka, seorang Lead Structural Engineer yang tegas, kaku, dan biasa menaklukkan proyek-proyek raksasa di lautan lepas, harus merelakan seluruh gengsinya runtuh tanpa sisa saat melangkah pulang. Kepulangannya ke rumah justru disambut kepolosan Aira (3 tahun) yang cadel dan dengan polosnya memanggil sang ayah "Om asing yang keluar dari HP".

​Di saat Arka sibuk meluluhkan hati putri kecilnya dan memanjakan Nala setelah bertahun-tahun terpisah jarak, kebahagiaan mereka kembali diuji dengan kejutan indah: kehadiran calon bayi kedua mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon odee_eeeee15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Nasihat Tanpa Henti dan Hukuman Manis

Sejak langkah kaki mereka keluar dari toko bakery milik Nala yang terletak tepat di sebelah rumah mereka tadi sore, Arka sudah mulai mengoceh tanpa henti.

Maksud hati hanya ingin membantu di karenakan ada pegawai toko yang izin malah mendengar kata yang menusuk hati.

menyeberangi halaman samping untuk pulang ke rumah utama, tetapi rasa cemburu Arka karena Aira memanggil pelanggan pria di toko dengan sebutan "Bapak Ganteng" benar-benar membuat kepala pria tegap itu mendidih.

Bahkan sepanjang perjalanan singkat dari pintu toko ke teras rumah, saat menyiapkan makan malam, hingga selesai makan malam, Arka terus mengoceh tanpa jeda.

"Papa itu heran lho, Aira..." oceh Arka sambil menyuapkan sendok terakhir bubur makan malam ke mulut Aira di meja makan. "Jarak toko Mama sama rumah kita ini cuma sejengkal, tinggal nempel di sebelah! Tapi bisa-bisanya di toko sebelah rumah sendiri, Papa yang berjuang kerja dari pagi ketemu malam disingkirkan begitu saja? Terus Papa dipanggil apa? Bapak Biasa Saja?"

Nala yang duduk di seberang meja hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. "Mas Arka, udah dong... Dari toko di sebelah tadi pas jalan pulang sampai selesai makan malam kamu ngoceh terus. Makanan kamu aja sampai dingin tuh!"

"Enggak bisa, Nala. Ini masalah prinsip kekuasaan seorang Papa!" sahut Arka bersungut-sungut, muka garangnya berubah jadi cemberut lucu.

Setelah selesai makan malam dan membersihkan meja, Arka langsung memboyong Aira ke ruang keluarga. Pria tegap itu duduk bersila di atas karpet bulu tebal, mendudukkan Aira tepat di pangkuannya untuk melanjutkan babak kedua nasihat marathonnya.

"Ingat ya, Aira... Papa tegaskan sekali lagi," ujar Arka dengan nada serius namun dibuat selembut mungkin, matanya menatap lekat pada sang putri. "Di dunia ini, laki-laki yang paling ganteng, yang paling sayang sama Aira, dan yang boleh dipanggil 'Bapak' atau 'Papa' itu cuma satu. Siapa?"

"Papa Alka (Arka)..." cicit Aira pelan.

Mata bulat balita tiga tahun itu blink-blink lucu, menatap papanya dengan pandangan yang mulai redup dan berat. Kepala mungilnya terangguk-angguk pasrah setiap kali Arka menekankan kata-katanya. Aira sebenarnya sudah sangat bosan dan mengantuk mendengarkan ocehan papanya yang tidak berhenti sejak di toko sebelah rumah tadi sore.

Saat Arka baru saja menghirup napas dalam-dalam dan bersiap membuka mulutnya lagi untuk melanjutkan ocehan panjang babak berikutnya, tangan mungil Aira yang gempal mendadak terangkat.

Plak!

Dengan santainya, telapak tangan kecil Aira langsung menempel tepat di bibir Arka, menahan dan membungkam mulut papanya rapat-rapat.

"Udah, Papa ngoceh teluuuss capek ini anak papa mau tidur ..." celoteh Aira dengan suara serak khas bocah mengantuk, bibir mungilnya miring mengomel gemas sembari menatap papanya pasrah.

Arka seketika terdiam kaku dengan mata membelalak lucu di balik bekapan tangan mungil putrinya. Nala yang menyaksikan momen itu dari balik meja makan langsung menyemburkan tawa nyaring sampai memegangi perutnya.

"Hahaha! Mas Arka, didengar tuh sama anak kamu! Aira aja udah muak dengar kamu ngoceh!" tawa Nala pecah tak tertahankan.

Aira tidak menunggu papanya merespons. Setelah sukses membungkam mulut Arka, balita itu menguap sangat lebar

hoaaammm

Lalu melipat kedua tangan kecilnya dan menyandarkan kepalanya yang berat tepat di dada bidang Arka. Hanya dalam hitungan detik, hembusan napas Aira berubah menjadi halus dan teratur. Balita itu tertidur lelap, benar-benar pulas usai membungkam aksi penceramahan papanya.

Arka yang masih syok pelan-pelan menurunkan tangan mungil Aira dari bibirnya, lalu menghela napas pasrah sembari menatap wajah polos putrinya yang tertidur nyenyak. Dengan sangat perlahan dan hati-hati agar tidak terbangun, Arka memindahkan tubuh gempal Aira ke dalam boks bayinya di kamar sebelah.

Setelah memastikan Aira tertutup selimut merah mudanya dan menyalakan lampu tidur temaram, Arka kembali ke kamar utama. Pria tegap itu menutup pintu rapat-rapat lalu menguncinya dari dalam dengan bunyi klik yang kentara.

Nala yang sedang bersandar santai di kepala ranjang sambil melipat tangan menahan tawa, menyambut suaminya dengan pandangan menggoda.

"Gimana, Pak Ustadz Arka? Capek kan dibungkam sama anak sendiri?" goda Nala terkekeh pelan.

Bukannya tertawa, Arka malah berjalan perlahan mendekati ranjang dengan tatapan mata yang tajam dan terkunci lurus pada Nala. Pria tegap itu berdiri di tepi kasur, berkacak pinggang sembari menatap istrinya dari atas ke bawah.

"Kamu ketawa, Nala? Kamu pikir Mas lagi bercanda?" ujar Arka dengan nada dibuat-buat galak. "Sini kamu. Karena Aira udah tidur, sekarang giliran Mamanya yang Mas ceramahi!"

Nala membelalak lucu, refleks menggeser duduknya ke tengah kasur. "Loh, kok aku sih, Mas? Kan yang dibungkam tadi kamu sama Aira!"

Arka langsung naik ke atas kasur, merangkak mendekat hingga mengurung Nala di antara kedua lengan kokohnya.

"Sama aja! Kamu juga salah!" celoteh Arka dengan raut muka posesifnya. "Kenapa kamu obral senyum manis kamu itu ke pelanggan cowok? Toko kamu itu cuma di sebelah rumah, Nala! Kenapa kamu enggak pasang foto ukuran jumbo muka Mas yang paling galak di depan pintu toko? Biar pelanggan yang masuk tahu toko itu milik istrinya Arka! Mas ini ada, Nala! Mas bukan hantu atau jasad tak terlihat!"

Nala menutup mulutnya dengan kedua tangan, tawa nyaringnya pecah tak tertahankan. "Mas Arka! Ya kali aku pasang foto kamu jumbo di depan toko sebelah, nanti pelanggan pada takut masuk!"

"Biarin! Biar yang masuk cuma ibu-ibu sama anak kecil aja!" balas Arka tak mau kalah. "Pokoknya Mas enggak terima. Bertahun-tahun Mas ditinggal di laut lepas tahan rindu setengah mati, pas pulang malah dibilang istrinya janda. Kamu tahu betapa runtuhnya harga diri Mas sebagai pria tegap bertato ini, Nala?"

"Mas Arka enggak punya tato ya, jangan ngarang!" semprot Nala sambil tertawa sampai matanya berair, menepuk dada bidang suaminya gemas.

"Tato gaib ada di hati Mas!" tangkas Arka cepat. Pria itu lalu menunduk rapat, mengikis habis jarak di antara wajah mereka hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan. Suara ocehannya yang tadi heboh mendadak berubah menjadi serak, dalam, dan dipenuhi getaran gairah yang membakar.

"Karena ceramah verbal enggak mempan buat bikin kamu paham... Mas pakai cara ceramah fisik aja malam ini."

"M-mas Arka..." bisik Nala, tawanya seketika terhenti digantikan degupan jantung yang berpacu liar saat melihat perubahan pendar di mata gelap suaminya.

Arka tidak memberi jeda lagi. Ia langsung mencengkeram lembut kedua pinggang Nala, merebahkannya ke kasur dan menguncinya rapat di bawah tubuh tegapnya.

Pria 33 tahun itu menyambar bibir lembut Nala dalam satu pagutan penuh dominasi, melampiaskan seluruh sisa kejengkolan dan rasa kepemilikan yang tertahan seharian.

Desahan halus Nala lolos di sela-sela ciuman mereka yang kian pekat dan intens. Tangan Arka bekerja cepat dan berpengalaman, menyingkap gaun tidur tipis milik Nala tanpa menyisakan sehelai benang pun yang menghalangi penyatuan mereka.

"Mas... pelan-pelan..." bisik Nala terengah-engah saat bibir Arka menjelajahi garis lehernya, memberikan kecupan-kecupan basah nan dalam yang meninggalkan jejak kemerahan.

"Enggak ada kata pelan untuk hukuman malam ini, Sayang," bisik Arka berat di depan telinga Nala.

Penyatuan mereka malam itu berlangsung begitu panjang, pekat, dan sarat akan bumbu kehangatan rumah tangga yang membara.

Di bawah temaram lampu kamar, Arka bergerak dengan ritme yang dalam dan konsisten, memanjakan sekaligus memberi "hukuman" manis yang membuat Nala melayang dan hanya bisa mencengkeram erat punggung berotot suaminya.

"Mas... ahhh... Mas Arka..." desah Nala berulang kali, napasnya berpacu seiring dengan gerakan Arka yang makin intens dan menuntut.

"Dengar Mas, Nala..." bisik Arka serak di ceruk leher Nala. Selagi tubuh mereka terus menyatu rapat, jemari Arka menyusup ke jemari Nala, menguncinya erat di atas bantal. "Kamu cuma punya Mas. Tubuh ini, senyum ini, cuma Mas yang berhak menikmati."

"Iya, Mas... hah... cuma punya Mas Arka..." sahut Nala pasrah, kepalanya mendongak dengan mata berembun menikmati pergumulan mereka.

"Coba ulangi lagi yang jelas," racik Arka makin jahil, menambah kedalaman dorongannya di sela penyatuan mereka hingga membuat Nala terlonjak pelan. "Siapa nama suami kamu?"

"Mas... Mas Arka! Hah... sayang !" jerit Nala pelan, desahannya tertahan di dada bidang Arka yang hangat dan berkeringat.

"Siapa pria paling ganteng di dunia ini?" cerca Arka lagi, berbisik tepat di bibir Nala sebelum kembali meraupnya dalam pagutan panas yang menguras sisa kesadaran istrinya.

"Kamu... ah... Cuma Mas Arka pria paling...ahh.... Pelan mas " aku Nala terengah-engah, tak sanggup lagi menahan gelombang kenikmatan luar biasa yang menghantam jiwanya.

"Pria mana yang boleh peluk kamu kayak gini?" bisik Arka tak berhenti mengobrol di sela gerakan tubuhnya yang kian bergelora.

"Cuma kamu, Mas... cuma suamiku..." desah Nala tak berdaya, seluruh pertahanannya luluh total di bawah kuasa suaminya.

Jawaban-jawaban pasrah dan manis itu memicu luapan gairah Arka hingga ke puncaknya. Pria tegap itu membawa Nala mencapai kenikmatan tertinggi bersama-sama dalam pelukan yang begitu erat dan mengunci.

Napas mereka memburu saling berpacu di udara malam, menyisakan kehangatan dan rasa lelah yang begitu nikmat.

Arka tidak langsung menyudahi. Ia membiarkan tubuh mereka tetap menyatu dalam keheningan subuh yang mulai menjelang, mengecupi dahi, pipi, dan bibir Nala bertubi-tubi dengan penuh rasa syukur.

"Hukuman selesai untuk ronde pertama," gumam Arka terkekeh rendah di ceruk leher Nala yang basah oleh keringat, memeluk erat wanita yang kini sudah terkulai lemas tak berdaya dalam dekapannya.

Nala hanya mampu mencubit pelan pinggang Arka dengan sisa tenaganya, menyandarkan kepala di dada bidang sang suami dengan senyuman bahagia di bibirnya.

1
lokiii
suka ceritanya lucu,plus ringan ,papa arka itu tipe bapak bucin plus suka alay
Irmaputri
aku kira nggak bakalan up kak ,hari ini 😭😭😭
Irmaputri
lanjut kak😭
sekarang mama Nala ,juga ikut dramatis
Afifah
hahaha lucu kak, aku suka 😭❤️❤️
Irmaputri
😭😭😭lucu banget🤭
Irmaputri
😭😭😭ngaka
Irmaputri
pusing tiap hari ortunya Aira ,hadapin tingkahnya 😭😭
Irmaputri
Aira ceplas ceplos mulutnya 😭😭
Irmaputri
🤣🤣Aira gen alpha ya 😭😭
syora
kuarga yang wow ambyarrrr 🤣
𝐈𝐬𝐭𝐲
ceritanya bagus, lucu dan bikin gemes...😍
Luffytaro
ceritanya lucu 😍😍
Laila Jalil
ceritanya lucu😍😍
Laila Jalil
Aira lucu banget 😭🤣
Laila Jalil
hahahh🤣🤣😭
mau di bilang benar tapi nggak benar juga
Laila Jalil
hahaha lucu🤣
Nur Atika Hendarto
suka sangat ceritanya 😍😍tidak berat jalan alurnya
Nur Atika Hendarto
suka banget cerita nya tak terlalu berat tapi lucu😍😍😍
Brooklyn: terimakasih atas ulasannya 🫶😊
total 1 replies
Irmaputri
ceritanya lucu
Brooklyn: terimakasih atas ulasannya 🫶😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!