NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tiri Anak Jendral Perang

Menjadi Ibu Tiri Anak Jendral Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Ibu Tiri / Ruang Ajaib
Popularitas:28.3k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

Seorang wanita cerdas dengan sejuta keahlian, yang tidak pernah takut dengan apapun, bahkan dengan kematian sekalipun. Bagaimana jadinya saat jiwa nya tiba-tiba terbangun di tubuh Aleta Volis, seorang wanita bangsawan dengan reputasi paling busuk di seluruh kekaisaran.

Marquez Liam Volis, seorang Jendral Perang sekaligus penguasa wilayah Volis yang terkenal dingin, kejam di medan pertempuran, dan memiliki prinsip hidup yang keras. Bagi Liam, hidup hanyalah soal tugas, pedang, dan darah, dia tidak punya waktu ataupun ruang di hatinya untuk urusan cinta.

"Kau berubah, apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan?" tanya Liam, dingin.

"Oh ayolah suami ku, apa pantas pernyataan itu kamu tunjukkan pada istri mu ini," jawab Aleta, tersenyum miring, merapikan kerah pakaian Liam.

Mampukah Liam mempertahankan prinsipnya, atau justru dia bertekuk lutut dan menyerahkan seluruh hidupnya pada wanita yang tadinya paling dia benci?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENYATUAN

"Jendral! Jaga ucapanmu!" teriak Serra histeris, hampir menangis karena malu dan geram.

Tanpa membuang waktu sedetik pun atau mendengarkan ocehan mereka lagi, Liam langsung berbalik badan dengan langkah tegap meski tubuhnya mulai terasa berat, lalu menerobos keluar ruang tamu meninggalkan kediaman Duke Daniel dengan kemarahan yang membakar dada.

Seno yang sedari tadi berjaga siaga di luar langsung terkejut melihat atasannya keluar dengan napas memburu dan wajah memerah.

"Jendral! Anda kenapa?" tanya Seno panik, buru-buru berlari mendekat dan memapah lengan Liam.

"Cepat... bawa aku pulang sekarang juga!" perintah Liam dengan suara serak menahan amarah dan efek obat yang mulai menguasai tubuhnya.

Seno tidak banyak tanya lagi, langsung membantu Liam menaiki kuda hitam mereka dan memacu kencang kuda itu membelah malam menuju Kediaman Volis.

Di dalam ruangan tadi, Serra terduduk lemas di atas kursi sambil menangis histeris, melempar kipas lipatnya ke lantai dengan penuh kebencian.

"Sialan! Sialan! Kenapa dia masih bisa kabur?!" jerit Serra frustasi, sementara rencana liciknya untuk tidur dengan sang jendral kembali gagal untuk kesekian kalinya.

Serra mengepal kan tangan nya kuat, wajah nya memerah padam dan napasnya tampak memburu naik-turun karena amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.

Air mata kekesalan tumpah begitu saja di pipinya, bukan karena sedih, melainkan karena rasa malu dan harga dirinya yang diinjak-injak begitu telak oleh sang jendral.

Hari ini dia dua kali di permalukan, tadi siang dia gagal mempermalukan Aleta di depan para nyonya bangsawan dan kini rencana nya kembali gagal untuk menjebak Liam.

"Ayah! Lihat apa yang dia lakukan!" teriak Serra histeris, menepis vas bunga kecil di dekatnya hingga pecah berkeping-keping.

PYAR

"Dia benar-benar menghinaku! Dia lebih memilih wanita rendahan itu daripada aku!" teriak Serra, marah.

Duke Daniel mengusap wajahnya yang kasar dengan tangan yang gemetar, kemarahan bercampur rasa takut merayap di dadanya.

Rencana yang mereka susun dengan matang yang seharusnya menjadi alasan kuat untuk mengikat Liam Volis dalam genggaman mereka hancur berantakan hanya karena kewaspadaan pria itu yang luar biasa tinggi.

"Cukup, Serra! Jangan berteriak lagi!" bentak Duke Daniel dengan suara rendah, nya.

"Kita sudah ceroboh, kita terlalu meremehkan insting seorang Jendral," ucap Duke Daniel, menghela nafas nya kasar.

Serra mendongak, matanya yang sembab menatap sang ayah dengan kilatan kebencian yang mendalam, giginya bergemeletuk menahan geram.

"Lalu kita diam saja, Ayah? Biar Aleta jalang itu tertawa di atas penderitaanku?!" cerca Serra, suaranya melengking tinggi.

"Aku tidak peduli! Kalau kita tidak bisa mendapatkannya dengan cara halus, kita hancur saja keluarga mereka!" ucap Serra, belum menyerah.

Derap kaki kuda hitam milik Liam dan Seno menghantam jalanan malam dengan kecepatan penuh, membelah kepekatan malam menuju Kediaman Volis.

Di atas punggung kuda, Liam mencengkeram tali kekang begitu kuat, berusaha mempertahankan sisa-sisa kesadarannya yang kian terkikis oleh gelombang panas hebat di dalam tubuhnya, efek obat gairah dosis tinggi yang masuk lewat makanan ringan tadi benar-benar membakar seluruh kewarasan nya.

Setibanya di halaman kediaman, Liam langsung melompat turun dari kudanya dengan gerakan agak terhuyung.

Seno yang sigap langsung berlari mendekat untuk memapah, namun Liam segera menepis tangan pengawalnya pelan.

"Jendral, biarkan saya panggilkan tabib-" ucap Seno cemas, melihat keringat dingin bercucuran di pelipis atasannya.

"Tidak perlu! Kembali ke posmu dan jangan biarkan siapa pun mengganggu!" potong Liam dengan suara serak penuh penekanan.

Glek

Seno menelan ludahnya kasar, mengangguk patuh lalu mundur, membiarkan sang jendral melangkah masuk ke dalam kediaman dengan napas memburu.

Di dalam kamar nya, Aleta baru saja hendak merebahkan tubuhnya di atas ranjang setelah membacakan cerita pengantar tidur untuk Julian.

Baru saja dia memejamkan mata, pintu kamarnya tiba-tiba didorong terbuka dengan kasar dari luar.

Brak

Aleta terperanjat kaget, langsung bangkit duduk dan menatap ke arah pintu dengan sebelah alis terangkat tinggi.

Sosok Liam berdiri di ambang pintu dengan dada naik-turun dengan pakaian nya yang tampak berantakan, dan tatapan matanya yang biasanya dingin kini berubah tajam serta memerah penuh hasrat.

"Wah, baru juga ditinggal sebentar, Jendral sudah pulang dengan gaya berantakan begitu," sindir Aleta santai, melipat tangan di dada sambil tersenyum miring.

Liam tidak menjawab, pria itu melangkah masuk dengan langkah berat, menutup pintu kamar rapat-rapat lalu menguncinya dari dalam.

Aleta mengerjap-ngerjapkan matanya, mulai menyadari ada yang tidak beres melihat cara jalan dan hawa panas yang menguar dari tubuh suaminya.

"Hei... kamu kenapa? Jangan bilang kamu..." belum sempat Aleta menyelesaikan kalimatnya, Liam sudah menerkam ke arah ranjang dan mengurung tubuh Aleta di bawah kukungan kedua tangannya.

Bruk

Wajah Liam berada hanya beberapa senti di depan wajah Aleta, napas panas pria itu menerpa kulit pipinya secara langsung.

"Aleta..." panggil Liam dengan suara serak yang begitu berat dan dalam, mencengkeram sisi ranjang kuat-kuat untuk menahan diri.

"Rubah tua itu... mereka memberikan ku obat sialan ini lewat makanan..." desis Liam, dengan suara berat nya.

Aleta mendengus pelan, bukannya panik, Aleta itu justru terkekeh geli, menatap suaminya dengan tatapan menggoda.

"Ckckck, makanya kalau dikasih makanan sama musuh jangan asal hap, kan jadi kerepotan sendiri," ledek Aleta tenang, menyentuh rahang Liam yang mengeras.

"Terus, sekarang kamu mau minta tolong apa sama aku, Jendral?" tanya Aleta pura-pura tidak tahu.

Liam menatap tajam bibir Aleta yang tersenyum menyebalkan, kesadarannya benar-benar runtuh seketika.

"Bantu aku...ini sangat menyiksa ku, Aleta..." bisik Liam rendah, lalu tanpa aba-aba lagi, pria itu langsung membungkam bibir Aleta dalam ciuman yang menuntut dan penuh rasa lapar.

Cup

Aleta terkesiap kecil, namun jiwa modern miliknya sama sekali tidak merasa canggung, walaupun dia tidak punya pengalaman dalam hal ini, tapi dia bukan gadis bodoh yang tidak tahu apa-apa.

Sebagai wanita dari dunia modern, Aleta jauh lebih tahu bagaimana cara memegang kendali dan memuaskan seorang lelaki ketimbang para wanita bangsawan di dunia ini yang hanya tahu pasrah.

Cup

Aleta membalas ciuman itu dengan tidak kalah liar, melingkarkan kedua tangannya di leher Liam, menarik pria itu semakin mendekat hingga tidak ada jarak tersisa di antara mereka.

"Kalau soal memuaskan suami, serahkan saja pada ahlinya," batin Aleta menyeringai dalam hati.

Malam itu, di bawah temaram cahaya lampu kamar, benteng pertahanan dingin seorang Jendral perang yang terkenal kejam runtuh sepenuhnya di tangan sang istri.

Penyatuan pertama mereka berlangsung panas, penuh gairah, melakukan malam pengantin yang tertunda.

1
kaylla salsabella
siapa takut🤣🤣🤣
Maria Lina
makasih bnyk"ya thor ud up nya😍😍😍😍😍😍😍
Nawi
yes akhirnya bersatu juga
semangat terus thor💪
kaylla salsabella
semoga hari mu menyenangkan aleta😍😍
Nawi
wah wah wah bapak nya mulai bergerak,yg tadi nya ank nya gk mempan sekarang ganti pola rupanya
jgn biar kan Liam hajar terus😄
Dewi Habibah
lanjut
Mommy Ayu
good job Aleta.... memang balasan yang mantab tuh buat serra.
Tiara Bella
Aleta dilawan ya km kalah lah lady sera....
Septi Wijaya
Aleta tiada lawan donggg😍
IG : hofi03_skrniii: rawww🫦
total 1 replies
miss blue 💙💙💙
jadi makin penasaran sama liam 🤔🤔🤔😅😅😅
IG : hofi03_skrniii: ikuti terus cerita mereka biar gak ketinggalan 😚
total 1 replies
Maria Lina
makasih ya thor ud up pagi"ya thor🙏🙏🥰🥰
Septi Wijaya
ish ish jenderal liam ini... katanya kismin kok punya banyak koin emas.... bohhong yaaaa😬
IG : hofi03_skrniii: mulai-mulai😆
total 1 replies
Tiara Bella
kena menta pastinya si lady serra....
Anbu Hasna
Garel atau Geral?
Septi Wijaya
yg ada serra justru akan makin dipermalukan di acara sendiri 🤣🤣
miss blue 💙💙💙
ngomongin jiwa modern, apa gak bikin liam makin penasaran 🤣🤣🤣🤣
miss blue 💙💙💙
julian itu anak kandung liam apa bukan kak? gak pernah ada cerita sebelumnya, bahkan ibu kandung julian juga. apa aq yg gak merhatiin cerita sebelumnya ya?? 🤔🤔🤔
miss blue 💙💙💙: sipp kak 👍👍👍
total 2 replies
miss blue 💙💙💙
kok aq curiga liam itu kaisar atau putra mahkota kekaisaran, mungkin dia di angkat anak oleh marques volis sebelumnya 🤔🤔🤔🤔
kaylla salsabella
jiwa modern🤔🤔🤔🤔 pasti Liam mikir🤣🤭🤭
kaylla salsabella
sombong itu wajib🤣🤣🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!