Selama 18 tahun, Bai Chen hidup sebagai anak selir yang tidak dianggap di faksi kecil Benua Barat. Ia disiksa, dihina, dan jalur Dao-nya dihancurkan oleh klannya sendiri tanpa ampun, membuatnya dianggap sebagai sampah abadi.
Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-18, saat ia terbaring sekarat di ruang bawah tanah yang dingin, sebuah suara mekanik dingin berdering di kepalanya:
[Sistem Penguasa Dao Diaktifkan. Memperbaiki jalur Dao yang hancur. Sinkronisasi dimulai...]
Dalam sekejap, hambatan tubuhnya musnah. Dari titik terendah sebagai manusia fana, ia melompat langsung ke Ranah Void Dao!
Menggabungkan logika sains modern dan kekuatan sistem absolut, Bai Chen menembus batasan dunia kultivasi yang kolot. Ia membumihanguskan para musuh yang merendahkannya, mengguncang 5 Klan Kuno di Benua Tengah, hingga berdiri di puncak pertempuran kosmik yang membelah dunia demi menjadi Kaisar Surgawi mutlak yang tak tertandingi!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OhMyZy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpustakaan Rahasia Lantai Sembilan dan Gulungan Kuno Benua Selatan
Malam di Kota Alkemi Tianxiang, Benua Utara, menyelimuti kompleks megah Paviliun Pil Kuno dengan selimut salju putih yang berkilauan di bawah pendaran cahaya bulan sabit. Di dalam menara utama perpustakaan rahasia yang berdiri menjulang setinggi sembilan lantai, suasana begitu sunyi, khidmat, dan dipenuhi oleh aroma kertas perkamen tua yang telah berusia ribuan tahun.
Bai Chen berdiri seorang diri di hadapan pintu gerbang batu obsidian hitam yang menjadi akses masuk ke Lantai Sembilan—ruangan paling sakral dan terlarang di seluruh Benua Utara. Lantai ini tidak pernah diinjak oleh sembarang orang; bahkan para tetua agung dan dewan alkemi membutuhkan izin khusus dari leluhur untuk sekadar mendekatinya.
Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, menunjukkan Token Giok Kunci Utama bercorak naga emas murni yang diberikan langsung oleh Grand Master Yao Chen.
Bum!
Begitu token giok itu didekatkan ke permukaan pintu obsidian, ukiran simbol naga di batu tersebut memancarkan pendaran cahaya biru terang. Pintu gerbang raksasa itu bergetar halus, lalu bergeser pelan membuka jalur selebar tubuh manusia, membiarkan udara dingin bersejarah dari dalam ruangan menyambut kedatangan sang pemuda.
Bai Chen melangkah masuk dengan tenang, dan pintu batu di belakangnya langsung tertutup rapat secara otomatis.
Di dalam ruangan melingkar seluas seratus meter persegi itu, tidak ada tumpukan buku biasa. Yang ada hanyalah puluhan pilar giok transparan yang melayang di udara, masing-masing menopang gulungan perkamen emas dan artefak memori kuno yang merekam warisan pengetahuan alkemi serta sejarah kosmik dunia kultivasi sejak zaman purba. Di tengah ruangan, sebuah meja batu putih murni memancarkan pendaran cahaya lembut, di atasnya tergeletak gulungan peta lintas benua dan naskah-naskah pengobatan kuno.
Bai Chen berjalan menyusuri pilar-pilar giok tersebut. Mata tajamnya menyapu setiap teks yang terukir di udara. Sebagai seorang insinyur modern dengan kapasitas kognitif yang disempurnakan oleh sistem, ia menyerap ribuan informasi rumit itu dalam hitungan detik—memahami struktur energi, sifat-sifat material herbal langka dari berbagai benua, serta rahasia pergerakan formasi alam semesta.
[Ding! Misi Sampingan Terpenuhi: Akses ke Perpustakaan Rahasia Lantai Sembilan Berhasil Dieksploitasi!]
[Pangkalan Data Alkimia Sistem Diperbarui: Membuka Ensiklopedi Herbal Tingkat Lanjut (Level Maksimal).]
[Mendapatkan Poin Sistem Spesial: 15.000 Poin.]
Suara mekanik sistem berkelebat tipis di benak Bai Chen. Sambil menikmati proses sinkronisasi data tersebut, ia berjalan mendekati meja batu putih di bagian tengah ruangan. Di atas meja itulah terbentang sebuah gulungan peta kuno berukuran besar yang menggambarkan bentukan utuh dari lima benua, disertai catatan tangan dari para pendiri paviliun terdahulu mengenai koridor lintas benua menuju Benua Selatan.
Benua Selatan—wilayah yang dikuasai oleh Sekte Buddha dan faksi-faksi spiritual agung—merupakan destinasi berikutnya yang harus dikunjungi oleh Bai Chen untuk mengumpulkan bahan obat kedua dari misi lintas benua sistem: Giok Embun Surga.
Bai Chen membentangkan gulungan peta tersebut lebih lebar, meneliti jalur daratan suci pegunungan di selatan yang terkenal dengan tradisi meditasi dan disiplin mental yang sangat ketat. Namun, di balik catatan jalur perjalanan tersebut, matanya tiba-tiba menangkap sebuah catatan pinggir bertuliskan tinta emas tua yang memperingatkan tentang sebuah anomali misterius di wilayah kuil agung Benua Selatan.
Catatan itu berbunyi: “...Di jantung pegunungan suci Benua Selatan, patung Buddha raksasa penyeimbang energi spiritual mendadak diselimuti oleh kutukan energi hitam pekat yang tidak mampu dibersihkan oleh biksu mana pun. Energi itu memancarkan getaran asing dari dunia luar, mengancam keseimbangan jiwa seluruh makhluk di wilayah selatan...”
Bai Chen membaca kalimat itu dengan alis sedikit berkerut. Kutukan energi hitam yang memancarkan getaran asing dari dunia luar? Bagi orang awam atau para biksu lokal, fenomena semacam itu mungkin dianggap sebagai murka dewa atau gangguan roh iblis purba. Tapi bagi seorang insinyur modern yang memahami fisika gelombang, istilah "getaran asing" memiliki arti yang sangat spesifik: sebuah anomali frekuensi dari sisa meteorit purba atau benda luar angkasa yang menembus atmosfer dunia kultivasi ini ribuan tahun lalu!
"Menarik..." gumam Bai Chen pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. "Tampaknya perjalanan ke Benua Selatan tidak hanya sekadar mengambil bahan obat, tapi juga menyelesaikan masalah fisika gelombang yang menarik."
Ia menggulung kembali peta kuno tersebut dan memasukkannya ke dalam kantong spasial miliknya. Tiga hari masa akses yang diberikan oleh Grand Master Yao Chen telah dimanfaatkan secara maksimal oleh Bai Chen. Seluruh rahasia alkemi tertinggi di Benua Utara kini telah tersimpan rapi di dalam pangkalan data sistem di kepalanya.
Keesokan paginya, suasana di gerbang utama Paviliun Pil Kuno tampak dipenuhi oleh para petinggi paviliun yang berkumpul untuk mengantar kepergian Bai Chen. Grand Master Yao Chen, Tetua Agung Han, serta para tetua agung lainnya berdiri berbaris rapi, memperlihatkan penghormatan tertinggi kepada pemuda yang telah menyelamatkan masa depan faksi mereka.
"Pengembara muda..." ucap Grand Master Yao Chen dengan nada suara penuh rasa hormat saat Bai Chen tiba di gerbang. "Apakah kunjungan singkat di perpustakaan rahasia kami sudah mencukupi kebutuhan Anda?"
Bai Chen menganggukkan kepalanya tenang. "Sangat mencukupi, Grand Master. Terima kasih atas keterbukaan dan fasilitas yang diberikan oleh Paviliun Pil Kuno."
"Sebuah kehormatan bagi kami," jawab Yao Chen sambil menyerahkan sebuah kantong giok khusus berisi berbagai pil obat kualitas tertinggi dan beberapa ton bahan herbal langka sebagai bentuk tanda terima kasih. "Jika suatu saat nanti Anda membutuhkan bantuan di Benua Utara, cukup gunakan token giok di tangan Anda, dan seluruh kekuatan Paviliun Pil Kuno akan bergerak tanpa ragu."
Bai Chen menerima kantong giok tersebut, lalu menangkupkan kedua tangannya memberi salam perpisahan. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, ia membalikkan badannya dan melangkah meninggalkan kompleks es Kota Alkemi Tianxiang.
Langkahnya membawanya keluar dari perbatasan Benua Utara, menyusuri jalur pegunungan panjang yang mengarah ke selatan. Perjalanan melintasi benua menuju wilayah kekuasaan Sekte Buddha di Benua Selatan resmi dimulai!
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa hari melintasi perbukitan hijau yang sejuk dan lembah-lembah berkabut spiritual, lanskap di hadapan Bai Chen mulai memperlihatkan ciri khas dari wilayah selatan dunia kultivasi. Suhu dingin es di Benua Utara telah sepenuhnya hilang, digantikan oleh udara sejuk yang berhembus lembut membawa aroma dupa, kayu cendana, dan ketenangan batin yang luar biasa.
Di kejauhan, puncak-puncak gunung batu granit raksasa menjulang tinggi menembus awan putih. Di lereng-lereng gunung tersebut, puluhan kuil megah berarsitektur emas dan merah tampak berdiri kokoh, dihiasi oleh suara dentang lonceng perunggu kuil yang bergemerincing merdu setiap kali angin berhembus.
Itulah wilayah suci Benua Selatan, pusat peradaban spiritual dan bela diri mental yang dipimpin oleh Sekte Buddha.
Bai Chen berjalan menyusuri tangga batu panjang yang mengarah ke gerbang utama Kuil Agung Lingyin. Sepanjang perjalanan, ia melihat para biksu berjubah kuning berjalan tenang membawa tasbih, memancarkan aura kedisiplinan dan energi spiritual yang bersih. Tidak seperti faksi pedang atau klan alkemi yang penuh dengan ambisi kekuasaan dan intrik politik, suasana di Benua Selatan terasa jauh lebih damai dan sakral.
Namun, begitu Bai Chen mendekati pelataran utama kuil, ia merasakan adanya kejanggalan yang sangat kontras dengan kedamaian luar biasa di tempat itu.
Di tengah pelataran kuil yang luas, kerumunan biksu senior dan para pengurus sekte tampak berkumpul melingkar dengan wajah tegang dan cemas. Di pusat lingkaran tersebut, berdiri sebuah patung Buddha raksasa setinggi tiga puluh meter yang diukir dari batu giok putih murni.
Namun, bagian dada dari patung Buddha raksasa itu kini diselimuti oleh kepulan kabut hitam pekat yang berdenyut-denyut menyeramkan, memancarkan gelombang energi destruktif yang membuat udara di sekitarnya bergetar hebat dan mengeluarkan suara dengungan bernada tinggi yang memekakkan telinga.
Beberapa biksu tingkat tinggi—termasuk Master Kongkong, Ketua Sekte Buddha yang berada di ranah Void Dao—tengah duduk bersila di hadapan patung tersebut, mencoba menyalurkan Qi putih suci mereka untuk membersihkan kabut hitam tersebut.
Bum!
Tiba-tiba, gelombang kejut energi hitam dari patung meledak keluar, memantulkan seluruh biksu senior hingga terpental mundur ke belakang dan memuntahkan darah segar dari mulut mereka secara bersamaan! Master Kongkong mendarat dengan lutut menumpu di atas batu, wajahnya pucat pasi dan napasnya memburu kencang.
"Ketua Sekte!" seru para biksu junior panik, bergegas maju membantu pimpinan mereka.
Master Kongkong menggelengkan kepalanya lemah, menatap patung Buddha raksasa dengan sorot mata putus asa. "Kutukan energi hitam itu... semakin kuat dari hari ke hari... Teknik pemurnian sepuluh ribu Buddha milik sekte kita sama sekali tidak mampu menembus frekuensi energi tersebut... Jika ini dibiarkan, inti spiritual seluruh Benua Selatan akan runtuh!"
Di tepi kerumunan, Bai Chen berdiri melipat tangannya di dada, mengamati fenomena aneh tersebut dengan tatapan mata yang sangat tenang. Sistem di dalam benaknya langsung berdengung pelan, memberikan analisis instan terhadap struktur gelombang energi hitam di patung tersebut.
[Ding! Analisis Anomali Selesai]
[Sumber Energi: Resonansi gelombang frekuensi negatif dari sisa meteorit purba luar angkasa yang menembus segel dimensi 100.000 tahun lalu.]
[Metode Pembersihan: Membutuhkan getaran Qi yang disetel pada frekuensi netral absolut untuk menetralkan resonansi negatif tersebut.]