Dua puluh lima tahun Ryu Jin mengurung jiwanya di dasar jurang terlarang demi menahan kebangkitan Pedang Tulang Hitam. Namun, Aliansi Tiga Sekte membantai seluruh warga desanya demi menguras darah jiwa murni. Tetesan darah warga merobek segelnya. Sang Iblis Purba terbangun dengan mata membara. Mereka tidak tahu bahwa desa itu bukanlah pemukiman biasa, melainkan penjara tempat dikurungnya bencana abadi. Kini, pintunya telah terbuka, dan Ryu Jin siap menagih jiwa para penguasa benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA DIBALIK PESTA
Cahaya ribuan lentera spiritual berwarna merah keemasan menerangi setiap sudut Kota Pelabuhan Lembah Berdarah. Musik seruling dan gendering kayu bergema meriah, membaur dengan gelak tawa warga yang tumpah ruah di alun-alun kota. Malam ini adalah puncak Pesta Panen Esensi Tahunan—sebuah perayaan megah yang saban tahun digelar untuk menunjukkan kemakmuran kota di bawah naungan Sekte Iblis Langit Merah.
Di tengah alun-alun yang penuh sesak, berdiri sebuah panggung batu raksasa berkibar bendera merah.
Di atas panggung itu, Gubernur Kota Yuan—seorang praktisi ranah Core Formation menengah yang ditunjuk oleh sekte—menggelar turnamen pertarungan untuk para muda-mudi. Hadiahnya tak main-main: selain kepingan batu spiritual berkualitas tinggi, pemenangnya akan ditunangkan dengan putri tunggal Gubernur yang jelita, Putri Yuan Xuefei, sekaligus diangkat menjadi pengawal resmi pos pemeriksaan internal kota.
Di barisan penonton paling belakang, Ryu Jin berdiri bersandar pada pilar kayu kedai.
Jubah cokelat pudar yang dikenakannya membuat Ryu Jin tampak amat kontras dengan kerumunan pemuda kota yang berdandan mewah. Tangan kanannya menggenggam mangkuk tanah liat berisi arak murah, sementara matanya yang menunduk memperhatikan sorak-sorai penonton dengan tatapan datar. Dari balik dada kirinya, detak Pedang Tulang Hitam terlelap sangat tenang, menyatu dengan irama napasnya.
Namun, di balik kemeriahan pesta dan suara tawa gembira yang membahana di alun-alun, Ryu Jin menangkap getaran emosi yang sangat aneh.
Di sudut-sudut remang alun-alun, beberapa wanita paruh baya dari kalangan warga biasa tampak menangis dalam diam. Mereka memeluk pakaian anak-anak mereka sambil menahan tangis agar tidak terdengar oleh prajurit berzirah yang lalu lalang.
Ryu Jin menggeser posisinya perlahan, mendekati dua ibu rumah tangga yang sedang berbisik histeris di balik bayangan pilar.
"Ssssh... jangan menangis terlalu keras, Lin!" bisik seorang ibu berwajah pucat, menggenggam erat tangan tetangganya. "Jika pengawal kota mendengar kita meratapi anak-anak kita, suami kita akan diseret ke penjara!"
"Tapi Xiao Ming baru berusia delapan tahun..." rintih ibu bernama Lin itu dengan mata sembab dan suara pecah dipenuhi duka mendalam. "Dia hanya bermain di belakang rumah kemarin sore! Bagaimana bisa dia hilang begitu saja?! Bukan cuma Xiao Ming... anak Kepala Desa dan tiga anak lainnya di gang timur juga lenyap dalam tiga hari ini!"
"Mereka semua... anak-anak yang lahir dengan saluran energi murni paling stabil di kota ini," bisik tetangganya dengan bibir gemetar. "Ini bukan penculikan biasa... ini ulah orang-orang dari balai kota..."
Ryu Jin meneguk arak murah dari mangkuknya secara perlahan.
Kecurigaannya di kedai tadi siang kini terbukti secara nyata. Susunan mantra raksasa di bawah tanah yang menyedot esensi jiwa warga membutuhkan "inti pemicu" agar proses penyerapannya dapat berjalan konstan. Anak-anak kecil yang lahir dengan saluran energi murni yang sangat stabil adalah bahan paling sempurna untuk dijadikan pemicu formasi tersebut.
Ryu Jin membuang mangkuk tanah liat yang kosong ke tumpukan sampah.
Memotong jaringan musuh secara membabi buta hanya akan memicu reaksi formasi bawah tanah untuk meledak dan menelan seluruh jiwa warga di kota ini. Untuk menyelamatkan anak-anak itu sekaligus membongkar saluran formasi bawah tanah tanpa memicu pemicu ledakan, ia membutuhkan status resmi yang memberinya wewenang berkeliaran di dalam area terlarang balai kota.
Ryu Jin menatap ke arah panggung turnamen. Senyuman tipis yang dingin terukir di bibirnya.
"Selanjutnya! Siapa lagi praktisi muda yang berani menantang Zheng Bao di atas panggung?!" teriak pembawa acara turnamen dengan suara bergema.
Di atas panggung batu, seorang pemuda bertubuh kekar berzirah besi ringan berdiri dengan dada terbusung bangga. Zheng Bao—seorang murid luar pilihan di ranah Foundation Establishment awal—baru saja menumbangkan tiga penantang berturut-turut dengan pukulan tinjunya yang keras.
Di panggung utama, Tuan Putri Yuan Xuefei yang duduk di samping ayahnya menatap Zheng Bao dengan pandangan bosan. Paras gadis itu memang sangat cantik bagaikan mawar giok dengan gaun sutra merah melati, namun wajahnya memancarkan keangkuhan khas bangsawan kota.
"Apakah tidak ada lagi pemuda bertalenta di kota ini?" gumam Gubernur Yuan sambil menggelengkan kepala. "Masa hanya Zheng Bao yang tersisa?"
Para penonton di alun-alun hening sejenak. Tidak ada yang berani naik karena takut dihajar hingga cacat oleh Zheng Bao.
"Aku ikut."
Sebuah suara pelan dan datar memecah keheningan dari arah belakang penonton.
Kerumunan warga terbelah saat Ryu Jin melangkah maju. Dengan jubah cokelat pudar, rambut hitam terikat asal-asalan, dan sebuah pedang besi berkarat di pinggangnya, penampilan Ryu Jin terlihat teramat mengenaskan dibanding para peserta lain.
Suara gelak tawa seketika pecah di antara para penonton!
"Lihat pemuda gembel itu! Dialah yang ingin menantang Zheng Bao?!"
"Kultivasinya bahkan cuma di tingkat Qi Condensation! Dia pasti sedang mabuk arak murah!"
Zheng Bao di atas panggung tertawa mengejek, mengacungkan tinjunya ke arah Ryu Jin. "Bocah gembel! Kau mau menyetorkan nyawamu di malam pesta ini?!"
Ryu Jin tidak membalas ejekan itu. Ia melompat naik ke atas panggung batu dengan gerakan yang terkesan canggung dan berat. Ia berdiri sejauh lima meter dari Zheng Bao, menangkupkan kedua tangannya secara formal sebagai norma bertanding.
"Mulai!" teriak juri turnamen.
"Mati kau!" Zheng Bao melesat cepat, mengalirkan energi murni ke tinju kanannya yang membara, menghantamkan pukulan keras itu tepat ke arah wajah Ryu Jin!
Pukulan itu membawa angin kencang yang sanggup memecahkan batu karang. Namun, tepat pada saat tinju Zheng Bao berjarak satu sentimeter dari hidungnya...
Ryu Jin tidak mengayunkan pedangnya. Ia hanya memiringkan kepala dan menggeser kaki kirinya ke belakang secara sepele.
WUUUSH!
Tinju keras Zheng Bao menghantam angin hampa! Zheng Bao yang terlalu bernafsu mengerahkan kekuatan penuh mendadak kehilangan keseimbangan tubuhnya akibat hukum gravitasi.
Sebelum Zheng Bao sempat memulihkan posisinya, Ryu Jin secara acuh tak acuh memajukan lutut kanannya sedikit ke depan.
BRUGH!
Kaki Zheng Bao tersandung lutut Ryu Jin secara telak! Pemuda kekar itu meluncur terbang tak terkendali melintasi udara, menghantam pilar kayu di tepi panggung dengan sangat keras sebelum akhirnya tergeletak pingsan di luar arena!
Suara riuh tawa penonton seketika terhenti. Seluruh alun-alun kota mendadak hening membisu.
Para juri dan Gubernur Yuan melotot lebar dengan mata hampir melompat keluar. Di mata mereka dan puluhan ribu penonton, kemenangan Ryu Jin sama sekali tidak tampak seperti pertunjukan kekuatan dahsyat, melainkan murni sebuah "kebetulan yang luar biasa beruntung" karena Zheng Bao tersandung kakinya sendiri!
"I-Itu... Pemenangnya... Pendekar Jin!" teriak juri dengan suara terpatah-patah.
Tuan Putri Yuan Xuefei di panggung kehormatan mendadak meluruskan duduknya. Matanya yang tajam menatap pemuda berkain cokelat pudar di atas panggung dengan pendar ketertarikan yang tak biasa. Refleks tubuh Ryu Jin yang terkesan malas namun teramat presisi itu menarik perhatian sang putri secara mendalam.
Ryu Jin mengabaikan tatapan heran dari ribuan penonton maupun pandangan terpesona dari Tuan Putri Yuan Xuefei. Ia melangkah mendekati meja juri, mengambil lencana emas dan kunci pos pemeriksaan internal balai kota yang menjadi hak sang pemenang.
Bagi Ryu Jin, putri pejabat atau hadiah batu spiritual tak lebih dari sekadar sampah tak berguna. Satu-satunya hal yang ia butuhkan hanyalah lencana emas ini.
Malam makin larut, pesta di alun-alun kota perlahan-lahan meredup.
Dengan gelar barunya sebagai Pengawal Resmi Pos Pemeriksaan Internal, Ryu Jin kini mengenakan jubah zirah hitam kekaisaran. Ia berjalan menyusuri lorong-lorong batu di kedalaman Balai Kota Lembah Berdarah tanpa ada satu pun prajurit yang berani menghalanginya.
Suasana di dalam balai kota sangat sepi dan dingin. Obor-obor di dinding memancarkan cahaya keemasan yang remang.
Ryu Jin menghentikan langkah kakinya di depan sebuah pintu besi raksasa yang tertanam di ujung lorong bawah tanah paling gelap—pintu menuju Sektor Ruang Rahasia.
Ia memejamkan matanya, mengaktifkan pendengaran batinnya yang tajam.
Dari balik pintu besi tebal yang dilapisi puluhan susunan jimat pengedap suara itu, Ryu Jin menangkap detak jantung yang lemah dan tangisan pelan anak-anak kecil yang ketakutan. Di antara suara tangisan duka itu, denyut gelombang energi yang sangat murni dan stabil merayap keluar melalui celah dinding batu, menyatu dengan saluran formasi raksasa di bawah tanah.
Ibu-ibu yang menangis di alun-alun tadi tidak salah. Anak-anak mereka memang disembunyikan di bawah tempat ini, dijadikan bahan tumbal hidup untuk memberi makan jaringan musuh.
Ryu Jin membuka matanya perlahan. Cahaya merah darah yang teramat dingin dan pekat berkilat di balik kelopak matanya dalam kegelapan lorong.
Ia mengusap dada kirinya sendiri—tempat Pedang Tulang Hitam terlelap. Detak pedang terlarang di dalam dadanya berdenyut halus, memancarkan kehausan darah yang seakan terbangun dari tidurnya.
Ryu Jin merogoh kunci emas dari saku zirahnya, memasukkannya ke dalam lubang pintu besi raksasa di hadapannya.
KLIK.
Suara engsel pintu besi tua yang berat bergema pelan di dalam lorong yang sepi. Penyamaran dingin sang pendekar dari Desa Sunyi kini telah tiba di ambang pembongkaran rahasia kelam musuh!