Ashela Safira, seorang gadis yang membanting tulang demi melunasi utang ayahnya, terpaksa merelakan kesucian yang ia jaga selama ini direnggut oleh pria asing.
Merasa harga dirinya telah hancur, ia memilih melarikan diri dan menghilang setelah malam panjang itu. Namun, di tengah pelariannya, Ashela justru mendapati dirinya hamil.
Sementara itu, Elvano Gavian Narendra, seorang dokter berhati dingin, terbangun dan mendapati gadis yang bersamanya telah pergi.
Rasa sesal seketika menghantamnya saat melihat bercak merah di atas ranjang, yaitu sebuah tanda bahwa ia telah menodai seorang gadis asing yang bahkan tidak ia ketahui identitasnya.
Bagaimana kelanjutannya???
YUKKKK GAS BACAAAA!!!
IG @LALA_SYALALA13
YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salinan Sempurna
Oeeeekk... Oeeeekk...
Suara tangisan melengking itu seketika memecah kegelapan. Tangisan yang begitu kuat, begitu jernih, mengalahkan suara hujan yang mulai mereda di luar sana.
Ashela seketika terkulai lemas. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Namun, air mata yang keluar dari sudut matanya kali ini bukan karena rasa sakit, melainkan rasa syukur yang tak terlukiskan.
Segala penderitaan, pelarian, dan kerja kerasnya selama sembilan bulan ini seolah terbayar lunas hanya dengan satu suara itu.
Bi Ijah dengan cekatan membersihkan sang bayi dan membungkusnya dengan kain bedong berwarna biru yang sudah disiapkan Ashela. Tak lama kemudian, sosok mungil itu diletakkan di atas dada Ashela untuk inisiasi menyusu dini.
Ashela menatap bayi di pelukannya dengan pandangan kabur karena air mata.
Bayi laki-laki itu memiliki rambut hitam yang tebal, hidung yang mancung, dan garis rahang yang... Ashela terkesiap kecil. Bahkan dalam versi bayi yang begitu mungil, ia bisa melihat kemiripan yang sangat kuat dengan pria di kamar 1802 itu. Mata bayi itu terpejam, namun auranya sangat kuat.
"Selamat, Neng. Bayinya laki-laki, tampan sekali. Beratnya tiga kilogram lebih, sehat," ucap Bi Ijah sambil tersenyum bangga.
Mak Esih mendekat, ikut terharu melihat pemandangan itu. "Siapa namanya, Neng?"
Ashela mencium kening bayinya yang masih kemerahan. Bau khas bayi yang suci meresap ke dalam sanubarinya, memberinya kekuatan baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa takut yang menghantuinya selama ini seolah menguap, digantikan oleh naluri pelindung yang membaja.
"Leo," bisik Ashela dengan suara bergetar.
"Namanya Leo. Lengkapnya... Leonardo Narendra." lirih Ashela.
Ia menyebutkan nama belakang itu dengan ragu, namun ia ingin anaknya tetap memiliki identitas dari ayahnya, meski sang ayah tidak pernah tahu dan mungkin tidak akan pernah mau tahu tentang keberadaan mereka.
"Leonardo... nama yang gagah," puji Mak Esih.
"Sekarang istirahat ya, Neng. Kamu sudah berjuang luar biasa. Kamu adalah ibu yang hebat."
Malam itu, di bawah langit Sukabumi yang perlahan mulai menampakkan bintang-bintang setelah badai reda, Ashela Safira tertidur dengan mendekap dunianya yang baru.
Tubuhnya memang hancur dan remuk, jiwanya mungkin masih penuh luka, namun kini ia tidak lagi berjalan sendirian.
Perjuangan hidup dan mati itu telah ia menangkan. Mulai besok, ia bukan lagi sekadar gadis pelarian atau buruh kebun teh yang malang. Ia adalah seorang ibu. Dan bagi seorang ibu, tidak ada jalan yang terlalu terjal atau beban yang terlalu berat jika itu menyangkut keselamatan buah hatinya.
Di tengah kesunyian desa, rahasia tentang siapa Leonardo Narendra terkunci rapat bersama detak jantung Ashela yang kini lebih tenang.
Pelarian itu mungkin belum berakhir, namun untuk malam ini, ia telah menemukan rumah yang sesungguhnya di dalam dekapan hangat putranya sendiri.
...****************...
Tiga tahun telah berlalu sejak malam badai yang membawa Leonardo ke pelukan Ashela. Waktu seolah berjalan lebih cepat di lereng perbukitan Sukabumi.
Kini, kehidupan Ashela tak lagi sepi. Jika dulu ia hanya ditemani oleh suara angin yang menggesek daun teh, kini rumah kecilnya selalu dipenuhi oleh tawa renyah dan ocehan cerdas dari seorang bocah lelaki berkulit bersih dengan mata setajam elang.
Leo. Bocah itu tumbuh menjadi sosok yang memikat siapa pun yang melihatnya. Ia memiliki rambut hitam pekat yang selalu tampak sedikit berantakan namun tetap rapi, persis seperti bayangan Elvano dalam ingatan Ashela.
Di usianya yang baru menginjak tiga tahun, Leo bukan hanya tampan, tapi juga menunjukkan kecerdasan yang melampaui anak-anak seusianya di desa itu.
"Mama, lihat! Bunganya ada lima. Satu, dua, tiga... empat, lima!" seru Leo sambil menunjuk kuncup bunga liar di depan teras rumah mereka.
Ashela, yang sedang melipat kain jemuran, menoleh dan tersenyum tulus.
"Pintar sekali anak Mama. Leo sudah bisa berhitung sampai berapa sekarang?" tanya Ashela menimpali.
"Sampai sepuluh, Ma! Tapi kalau habis sepuluh, Leo lupa," jawabnya polos sambil memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi.
Ashela mendekat, lalu mengacak rambut putranya gemas. Setiap kali ia menatap wajah Leo, ada rasa bangga sekaligus getir yang menghantam dadanya.
Leo adalah salinan sempurna dari pria yang telah mengubah takdirnya. Dari caranya mengerutkan dahi saat berpikir, hingga ketenangan yang tidak biasa bagi anak balita, semuanya mengingatkan Ashela pada Dokter Elvano Gavian Narendra.
Namun, di balik warna-warni kebahagiaan itu, ada sebuah awan mendung yang terus menghantui pikiran Ashela. Ketegaran yang ia bangun selama tiga tahun ini perlahan mulai goyah oleh kenyataan medis yang menyakitkan.
Semuanya bermula beberapa bulan lalu, ketika Leo seringkali jatuh pingsan setelah bermain terlalu aktif.
Awalnya Ashela mengira anaknya hanya kelelahan atau kurang asupan nutrisi karena mereka hidup sangat sederhana. Namun, saat bibir Leo mulai membiru dan napasnya terdengar berat meski ia sedang beristirahat, Ashela tahu ada yang tidak beres.
Ia membawa Leo ke puskesmas kota, dan dari sana mereka dirujuk ke rumah sakit daerah yang lebih besar. Vonis dokter seperti guntur di siang bolong bagi Ashela.
"Leo memiliki kelainan jantung bawaan, Bu Ashela." ucap dokter spesialis anak di rumah sakit daerah tersebut.
"Ada lubang kecil di sekat jantungnya yang seharusnya menutup saat ia lahir. Ini bersifat genetik atau bawaan. Saat ini kondisinya masih bisa dikontrol dengan obat, tapi seiring pertumbuhannya, ia akan membutuhkan tindakan medis yang lebih serius." ucap sang dokter.
Sejak hari itu, kehidupan Ashela berubah menjadi rangkaian kecemasan yang tak berujung. Ia menjadi sangat protektif. Setiap kali Leo ingin berlari mengejar capung di kebun teh, Ashela akan segera memanggilnya dengan nada was-was.
"Leo, sayang... mainnya di teras saja ya sama Mama. Jangan lari-lari, nanti capek." ucap Ashela lembut, meski hatinya terasa diremas melihat binar kecewa di mata putranya.
"Tapi Leo mau tangkap capung, Ma. Leo kuat, kok!" jawab bocah itu sambil menepuk dada kecilnya.
"Iya, Leo kuat. Tapi Mama mau Leo temani Mama di sini. Kita menyusun balok saja, mau?" ajak Ashela.
Leo, yang sangat menyayangi ibunya, akhirnya menurut. Ia duduk di pangkuan Ashela, menyandarkan kepalanya yang mungil di dada sang ibu.
Di saat-saat seperti itulah, Ashela seringkali menahan napas, mencoba mendengarkan detak jantung anaknya. Ia takut jika suatu saat detak itu berhenti. Ia takut jika ia gagal menjaga satu-satunya harta yang ia miliki di dunia ini.
Kemandirian Ashela kini diuji lebih keras. Biaya pengobatan Leo tidak murah. Meskipun ia sudah melunasi sebagian besar hutang ayahnya di Jakarta, kini ia harus mengumpulkan uang lebih banyak lagi untuk tabungan operasi Leo di masa depan.
Ia tetap bekerja di kebun teh, namun kini ia mengambil pekerjaan tambahan di malam hari.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
karna biasanya perempuan menggunakan logika dari pada perasaan...
asyilla cobalah menggunakan hati mu untuk leo
semoga mereka bisa berkumpul bersama...
next...