Kirana Aruni menjadi korban atas rencana busuk ibu tirinya setelah terjebak dalam
sebuah malam kelam bersama Edgar Ganendra, pewaris tunggal Ganendra Group,
yang kehilangan kendali akibat dibius musuhnya.
Dianggap membawa aib, Aruni diusir oleh ayahnya atas hasutan ibu tirinya.
Tujuh tahun kemudian, Aruni membesarkan
putra kembarnya seorang diri. Mengetahui perjuangan sang ibu, kedua bocah jenius
itu diam-diam meretas data untuk mencari ayah kandung mereka. Hasilnya mengarah pada satu nama besar, yakni Edgar Ganendra, Presiden Direktur Ganendra Group.
Di sisi lain, Edgar tak pernah berhenti mencari wanita dari malam itu. Ia ingin menebus kesalahannya sekaligus mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi, bahwa ia bukanlah pria impoten.
Saat si kembar mulai menyusun rencana untuk mempertemukan kedua orang tua mereka, masa lalu yang penuh fitnah dan luka
kembali terbuka.
Mampukah mereka menyatukan kembali keluarga yang telah lama terpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Keesokan harinya, matahari menyinari Desa Sukomakmur dengan cerah. Si kembar, Rayyan dan Zayyan, sudah mengatur siasat matang bersama Fikri dan teman-teman tim sepak bolanya. Sebelum menyusup ke vila, mereka mendatangi ruko laundry milik Aruni setelah pulang sekolah yang pada saat itu Laundry mulai ramai dikunjungi warga setempat.
"Bunda, siang ini kami ada pertandingan sepak bola antar kampung lagi!" ujar Fikri berpura-pura meyakinkan dengan wajah polosnya.
Rayyan menyambung dengan raut memohon, "Iya Bunda, sepertinya pertandingannya agak lama dan kemungkinan baru selesai menjelang sore."
Aruni, yang sedang sibuk memilah tumpukan pakaian bersama Larasati, sama sekali tidak menaruh curiga. Melihat antusiasme buah hatinya yang masih berbalut seragam sekolah lengkap, ia pun tersenyum dan memberikan izin.
"Ya sudah, boleh. Tapi Rayyan, Zayyan... pulangnya jangan terlalu sore, ya!" pesan Aruni mengingatkan.
"Siap, Bunda!" jawab si kembar serempak sambil mengepalkan tangan gembira.
Begitu keluar dari ruko dan melangkah menuju jalan utama, Rayyan langsung menepuk bahunya Fikri penuh rasa terima kasih.
"Terima kasih Fikri dan teman-teman! Nanti setelah misiku selesai, aku traktir kalian makan bakso Mang Udin!" janji Rayyan penuh semangat.
Fikri menyeringai lebar. "Woles saja, Rayyan! Yang penting rencanamu berhasil. Ya sudah, kami pergi dulu, ya!" ucap Fikri dan teman-temannya seraya melambaikan tangan sebelum berbalik arah.
Setelah berpisah dari teman-temannya, Rayyan dan Zayyan melangkah mantap menuju vila mewah tempat peresmian proyek resort Ganendra Group. Suasana di sekitar vila sudah sangat riuh dan padat. Berderet mobil mewah milik para pejabat dan investor terparkir rapi dari dalam halaman hingga meluber ke pinggir jalan. Tak ketinggalan, puluhan mobil siaran dari berbagai media massa dan wartawan tampak bersiap meliput.
Melihat pintu gerbang besi yang terbuka sedikit, si kembar memanfaatkan celah tersebut untuk menyusup masuk secara diam-diam di antara kerumunan tamu undangan yang sibuk bertegur sapa.
Zayyan mendongak, matanya berbinar-binar memandangi lalu lalang orang-orang berjas rapi dan kilatan lampu kamera wartawan di mana-mana.
"Wuih... Ramai sekali ya! Memang hebat kalau acara orang kaya, sampai ada wartawan segala!" ujar Zayyan terperangah takjub.
Rayyan menarik pelan lengan seragam adiknya, matanya tajam menyapu ke sekeliling panggung peresmian. "Sstt, Zayyan, jangan lengah! Fokus cari pria yang ada di foto kemarin. Hari ini kita harus bertemu langsung dengan Edgar Ganendra!"
Rayyan dan Zayyan terus menyelinap di antara kerumunan tamu berjas dan para wartawan yang sibuk mengarahkan kamera. Postur tubuh si kembar yang kecil membuat keberadaan mereka nyaris tak disadari oleh para pengawal keamanan yang berjaga di sekitar panggung peresmian.
Tak lama kemudian, pembawa acara menggelegarkan suaranya melalui mikrofon, menyambut kedatangan sang tokoh utama acara.
"Hadirin sekalian, mari kita sambut Presiden Direktur Ganendra Group, Tuan Edgar Ganendra!"
Tepuk tangan riuh seketika pecah. Edgar melangkah mantap menuju area podium dengan stelan jas hitam yang tampak gagah dan berwibawa. Di samping panggung, Tuan Fernando duduk di kursi rodanya dengan wajah berbinar penuh rasa bangga, didampingi oleh Pak Dani dan Hary.
Mata Rayyan dan Zayyan seketika terkunci pada sosok pria di atas panggung.
"Kak... lihat!" bisik Zayyan seraya menyenggol lengannya Rayyan. "Pria itu... wajahnya benar-benar mirip seperti foto yang kita lihat di komputer Paman Rama!"
Rayyan menelan ludahnya, dadanya berdegup kencang. "Iya, Zay. Itu dia... Edgar Ganendra."
Usai menyampaikan pidato singkat dan melakukan pemotongan pita secara simbolis, Edgar dikerumuni oleh belasan wartawan yang melontarkan berbagai pertanyaan bisnis. Setelah prosesi wawancara mereda, Edgar melangkah mendekati Tuan Fernando untuk mendampingi sang ayah menuju area taman vila yang lebih tenang.
Melihat celah tersebut, Rayyan membulatkan tekad. "Zay, sekarang saatnya. Ikuti aku!"
Si kembar menerobos barisan tamu dan berjalan cepat menyeberangi jalan rumput taman.
"Tuan Edgar Ganendra!" teriak Rayyan penuh keberanian.
Langkah Edgar mendadak terhenti. Suara cempreng anak kecil itu membuatnya membalikkan badan. Begitu pula dengan Tuan Fernando, Hary, dan Pak Dani yang langsung menoleh.
Edgar memicingkan matanya, memandangi dua anak laki-laki berbalut seragam sekolah dasar yang berdiri tegap di hadapannya. Begitu jarak mereka kian dekat, Edgar membeku seketika. Sorot mata, bentuk alis, hingga struktur rahang kedua bocah itu bagaikan cermin dari dirinya sewaktu kecil.
"Edgar... ini dua bocah kembar yang kemarin Papah ceritakan!" bisik Tuan Fernando antusias dengan suara gemetar.
Hary yang berdiri di belakang Edgar mendadak tersentak. Ia mengamati wajah si kembar, lalu membelalakkan mata.
"Tuan Edgar... wajah mereka... dan tunggu dulu, kenapa rasanya saya tidak asing dengan aura mereka?"
Edgar berlutut disamakan tingginya dengan si kembar. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, jantung sang pengusaha dingin itu berdetak tak karuan.
"Siapa nama kalian, Nak?" tanya Edgar dengan suara pelan dan parau, menatap dalam-dalam ke arah dua pasang mata bulat milik Rayyan dan Zayyan.
Rayyan mengangkat kepalanya, menatap pria yang selama ini hanya ada dalam bayangan dan layar komputer. "Nama saya Rayyan, dan ini adik saya Zayyan."
"Rayyan... Zayyan..." gumam Edgar mengeja nama itu. Tangannya yang gemetar terulur perlahan, hendak menyentuh bahunya Rayyan. "Siapa nama ibu kalian?"
Zayyan yang tak bisa lagi menahan rasa penasarannya melangkah maju satu tapak. "Ibu kami bernama Seruni... tapi Paman Rama selalu memanggil Bunda dengan nama Aruni!"
Deg!
Kata 'Aruni' yang meluncur dari bibir polos Zayyan menghantam kesadaran Edgar bagaikan petir di siang bolong. Mata Edgar membelalak lebar, napasnya tertahan seketika. Hary yang mendengar nama itu langsung menutup mulutnya tak percaya.
"A... Aruni?!" bisik Edgar, air mata tiba-tiba menggenang di sudut matanya. Pria tegap itu tak lagi bisa menahan gejolak emosi yang membuncah di dadanya. "Kirana Aruni... kalian... kalian anak Aruni?"
"Apakah Anda pria yang pernah menulis di media sosial dan mencari Bunda lima tahun yang lalu?" tanya Rayyan tegas, menatap Edgar tanpa rasa takut. "Apakah Anda... Ayah kami?"
Edgar tak sanggup lagi berkata-kata. Ia langsung merengkuh Rayyan dan Zayyan ke dalam pelukannya, meremas lembut tubuh kecil kedua putranya dengan tangisan yang akhirnya pecah. Tujuh tahun pencarian penuh keputusasaan, rasa bersalah, dan kerinduan terbayar tuntas di tempat ini.
"Iya, Nak... Aku ayah kalian! Maafkan Ayah... Maafkan Ayah baru menemukan kalian sekarang..." tangis Edgar terisak di bahu kecil si kembar.
Tuan Fernando yang menyaksikan pemandangan itu menutupi wajahnya yang basah oleh air mata haru. "Cucuku... mereka benar-benar cucuku!" tangis sang kakek penuh syukur.
Di dalam dekapan hangat yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya, Rayyan dan Zayyan akhirnya saling pandang. Jawaban atas teka-teki besar dalam hidup mereka telah terkuak sepenuhnya di bawah langit Desa Sukomakmur.
Bersambung...
sebenarnya aruni jugaa udah tumbuh cinta tp dia masih takut n trauma..
semangat Edgar kamu harus extra meluluhkan hatinya n jangan lupa waspada n hati-hati sm paman mu..
jangan sampai seperti 7tahun yg lalu..
kamu baru memulai nya jangan di buat kacau hanya karena ular pyton mu tegak..🤭🤭
genjar terus Edgar s aruni nya soalnya s Rama juga suka n kamu ada saingan nya🤣🤣🤣
s kembar emang is the best deh
kamu aja kalah sama anak mu Edgar 🤣