Annisa Marwa harus pergi dari kehidupan keluarganya setelah dia tahu bahwa dua orang yang dia sayangi dan dia percaya menjalin hubungan dibelakangnya.
Disakiti oleh kedua orangtuanya, Dikecewakan oleh Kakak dan Tunangannya tak membuat Marwa mundur atas kepergian itu. Tak ada air mata tangisan yang mengiringi langkahnya dalam meninggalkan kota itu.
Hingga pertemuannya dengan Rayyan Al Ghafa Pangestu merubah hidupnya. Marwa menjadi wanita yang lebih tangguh dan kuat dalam menghadapi apapun.
••••••••
"Aku Marwa, Sesuai dengan namaku.. Aku akan jadi wanita tangguh dan kuat tanpa takut pada siapapun.. " Annisa Marwa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buket Dari Sang Pengagum
"Syarita Ilmiah...
Kembali dipanggil nama salah satu mahasiswi yang kuliah disana. Gadis itu bangkit dari duduknya, Melangkah maju kedepan. Dibelakang sana, Orangtuanya ikut berdiri dengan bangga.
Melihat teman-temannya yang dipanggil satu persatu Marwa ikut bahagia. Meski sebenarnya dalam hati kecil gadis itu ada rasa sedih yang luar biasa.
Dihari ini, Hari yang telah ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa/Siswi telah tiba. Dimana hari ini adalah hari pelepasan mereka dalam belajar dan berusaha selama ini.
Mencari nilai yang terbaik dalam segala hal pelajaran yang mereka pelajari. Dan pada hari ini, Banyak mahasiswa/siswi yang tengah berkumpul didalam aula atas pelepasan mereka dihari ini.
Ia bahagia karena telah lulus diperguruan tinggi. Namun dia juga sedih karena dihati ini seharusnya ia datang bersama kedua orangtuanya. Andai orangtuanya masih hidup, Mungkin mereka lah orang yang paling bahagia saat melihat putrinya lulus dengan nilai terbaik.
Bahkan sejak dini hari tadi Marwa sudah pergi berkumpul dirumah salah satu temannya yang katanya tantenya seorang MUA yang profesional.
Kemarin Marwa didatangi oleh teman kelasnya itu. Gadis tersebut menawarkan agar marwa ber make up pada tantenya saja. Gadis itu juga mengatakan kalau Marwa tidak perlu membayarnya.
Dan memang benar saja, Marwa tidak boleh membayar. Sungguh Marwa peluk temannya itu, Dan ternyata meski keluarganya tidak sayang padanya setidaknya masih banyak teman yang peduli padanya.
Dan pada saat ini, Marwa hanya duduk diam ditempatnya. Dari banyaknya teman yang sarjana hari ini, Banyak dari mereka yang datang bersama keluarganya.
Memang yang yatim piatu bukan hanya dia saja, Tapi diantara mereka masih ada keluarga yang peduli. Baik itu hanya ibunya saja, Ayahnya saja, Paman, Bibi adapula yang kakek dan Neneknya yang masih terlihat sehat.
Sama seperti Nina, Gadis itu tidak punya ayah karena ayahnya telah tiada. Tapi masih ada kakaknya yang datang menggantikan peran seorang ayah.
Sementara dirinya? Tidak ada yang datang ke acara pentingnya ini. Baik Pamannya, Bibinya, Tania apalagi.
Sejak masalah yang terjadi malam itu mana mungkin Tania mau datang ke acaranya. Marwa menghela nafas panjang, Namanya sudah dipanggil awal tadi tapi dia hanya bisa duduk dengan tenang.
Air matanya merembes membasahi pipinya. Disaat anak yang lain turun usai namanya dipanggil, Mereka disambut oleh keluarganya. Diberi hadiah buket yang indah serta hadiah yang lainnya, Tapi dia?
Marwa hanya datang seorang diri. Membawa raganya yang tak satu pun keluarganya datang menyaksikan hari yang penting ini.
"Wawaaa..." Marwa mengelap air matanya dengan tisu. Dia menoleh pada Nina yang memanggilnya.
"Sini..." Marwa bangkit. Nina yang melihat sahabatnya itu kesulitan segera berlari mendekat lalu membantunya.
"Ayo, Kita kesana.. Kita foto bareng.." Nina mengajak Marwa untuk foto bersama Mama dan Kakaknya yang pulang dari ibukota demi bisa hadir diacara wisudanya.
"Wawa.. Sini nak, Kita foto bareng.." Ajak Mama Nina dengan tutur katanya yang lembut sekali. Marwa mengangguk, Haidar memanggil seseorang untuk mengambilkan kursi.
"Kamu duduk sini, Biar gak capek.. " Kata Haidar, Marwa tersenyum senang. Nyatanya masih ada orang yang peduli padanya.
"Ohya.. Ini buket dari Tante.. Diterima ya.." Marwa terdiam, Dia menatap Mama dari sahabatnya itu dengan mata yang berkaca-kaca. Dia mendapatkan buket dari wanita yang baik hati itu.
"Terima kasih Tante.." Marwa menerima buket bunga itu dengan senang hati. Ia kira tidak akan ada orang yang memberinya buket seperti teman yang lainnya yang semuanya rata-rata memegang buket.
Tapi siapa yang menyangka kalau Ibu dari sahabatnya ini memberikannya sebuah buket yang sama dengan milik Nina. Hanya warnanya saja yang berbeda..
"Okey, Sudah siap?" Tanya sang fotografer.
"Udah siap Mas.." Jawab Nina, Ia mulai bersiap. Saat hendak memotret, Tiba-tiba seseorang datang..
"Permisi Mas.. " Sang fotografer yang hendak memotret itu menghentikan pergerakannya. Pria tersebut menoleh pada seorang pria yang mendekat dengan membawa buket mewah.
Pria itu melihat Marwa..
"Maaf, Nona Marwa ya?" Tanya pria itu pada Marwa yang langsung mengangguk.
"Iya..
"Ini, Ada buket dari seseorang Nona.." Ucap pria itu seraya menyerahkan buket mewah tersebut pada Marwa.
"Buket? Dari siapa Mas?" Tanya Marwa balik. Ya, Heran saja Lagipula siapa yang memberikan buket bunga mawar merah itu. Dilihat dari penampilannya, Buket bunga mawar tersebut berbeda dengan buket yang lainnya. Buket yang ini terlihat lebih mewah dan mungkin lebih mahal.
"Dari pengagum rahasia anda.. Tolong diterima ya,.." Pria itu langsung meletakkan buket mewah itu diatas pangkuan Marwa. Kemudian pria itu pergi begitu saja tanpa berkata apapun lagi. Padahal Marwa masih ingin bertanya, Siapa pengagum yang dimaksud pria tadi.
Tanpa gadis itu sadari bahwa Haidar memberi kode pada pria tadi agar segera pergi menjauh.
"Ya ampun.. Buket nya bagus banget.. Ih, Jadi pengen.." Kata Nina yang iri dengan Marwa karena mendapatkan sebuah buket mewah.
"Pengen apa.. Itu udah kakak kasih masih kurang aja kamu..
"Ya kan buket dari kakak gak semewah punya Wawa..
"Ya kan punya Wawa itu emang dipesan khusus." Nina langsung menatap sang kakak..
"Kok kakak tahu kalau buket itu dipesan khusus?" Haidar terdiam dan memalingkan wajahnya.
"Ya kan emang bagus gitu buketnya, Kalau gak dipesan khusus masa iya bisa sebagus itu.. " Jawaban itu tak membuat Nina puas.
"Udah-udah.. Jangan berdebat lagi. Mending sekarang kita foto.. Kasihan itu tukang foto nya, Masih banyak yang antri.." Mama Nina memecahkan perdebatan dua anaknya yang selalu saja ribut kalau ketemu.
Mereka mulai berfoto bersama-sama. Marwa tersenyum manis dengan kedua tangan memegang buket dari Mama Nina dan dari orang yang katanya adalah pengagum rahasianya..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tidak hanya diajak foto bersama, Marwa juga diajak makan siang direstoran mewah oleh Haidar. Semua menu yang dipesan ditanggung oleh pria itu.
"Makan yang banyak, Biar cepat gede.." Kata Pria itu. Nina hanya cemberut sementara Marwa tersenyum tipis.
Disaat yang lain dirayakan bersama keluarganya, Tapi tidak dengan Marwa. Gadis itu merayakan kelulusannya bersama orang yang bukan keluarganya namun menganggapnya keluarga.
"Tante, Nina, Kak Haidar.. Makasih ya, Kalian ajak aku buat ngerayain kelulusan ini bareng-bareng.. Aku seneng banget.." Ucap Marwa, Sungguh ia sangat bahagia dan terharu sekali. Meski mereka bukan keluarganya namun kebaikan mereka melebihi dari sebuah keluarga.
"Ya ampun Wawa.. Kita ini kan emang keluarga.." Nina genggam tangan sahabatnya itu. Nyatanya tak hanya Marwa saja, Masih banyak diluaran sana yang dimana keluarga seperti orang asing sementara orang asing melebihi keluarga sendiri.
Setelah bersenang-senang merayakan hari lulusannya, Haidar mengantar Marwa pulang kerumahnya.
Marwa pulang bukan untuk pulang melainkan menyusun rencana. Keputusannya untuk pergi sudah bulat, Marwa akan mencari kerja. Dia harus memulihkan kakinya lebih dulu sebelum merebut semuanya.
"Makasih ya, Atas hari ini.." Ucap Marwa begitu gadis itu turun dari kendaraan roda empat milik Haidar.
"Sama-sama bestie.. Daaa...
"Daaaaa...
Setelah mobil Haidar kembali melaju, Marwa mulai melangkah masuk. Gadis itu masuk dengan membawa dua buket miliknya.
Dengan perlahan Marwa naik ke atas tangga, Begitu sampai diatas ia berpapasan dengan Tania.
"Wah, Buket dari siapa nih? Bagus banget.. Btw.. Happy Graduation ya.. Maaf gak bisa kasih apa-apa.. Kan aku udah kasih Raski ke kamu, Masa masih mau hadiah.." Marwa menatap Tania tak percaya. Padahal dulu wanita ini baik padanya, Tapi sekarang kenapa justru..
"Aku juga gak berharap apapun kok.. Ucapan selamat Kakak. aku terima dengan baik.." Kata Marwa. Tania sedikit kesal, Kenapa Marwa tidak marah..
Suara deru mobil terdengar, Dua wanita itu melihat kebawah dimana Raski keluar dari kendaraan roda empatnya sambil memegang sebuah buket.
Pintu yang sedikit terbuka membuat Raski langsung masuk begitu saja. Tania melirik Marwa yang terdiam. Wanita itu menurunkan satu kakinya ditangga lalu...
"Aaaaaaa...
"Kak Tania!!
Marwa berteriak memanggil nama kakak sepupunya itu. Tania terjatuh dari tangga, Tubuhnya terguling kebawah.
"Tania!!!
•
•
•
TBC
.... Untuk besok Othor libur dulu up nya.. Besok Othor punya kesibukan..❤️
di putar deeh rekaman suara km ,,
mau ngelak gmna lgii ,, 😂😂😂😂😂
Dina mana.. dina manaaa..
biar makin seru nechdrama ny 😃😃😃
gmn tuuh ,, gmn tuuuh ,,
pgen jungkir balik rasa ny aq ,, 🤸🤸🤸🤸🤸🤸🤸
aq rasa udh ijooo mukany si tania ,,
udh pulang aj ke Susan ,, dy juga istri km koq raskii ,,