NovelToon NovelToon
Perang Tanpa Pahlawan

Perang Tanpa Pahlawan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:530
Nilai: 5
Nama Author: areann._

PERANG TANPA PAHLAWAN

Ardan hanyalah seorang pemuda biasa dari desa kecil yang tidak pernah membayangkan dirinya akan menginjakkan kaki di medan perang. Ia bukan bangsawan, bukan kesatria terpilih, dan tidak memiliki kekuatan istimewa. Baginya, kehidupan sederhana bersama keluarga sudah lebih dari cukup.

Namun semuanya berubah ketika perang pecah dan desanya menjadi salah satu korban pertama. Kehilangan rumah dan keluarganya membuat Ardan bergabung dengan militer, bukan demi kejayaan, melainkan hanya untuk bertahan hidup.

Di medan perang, ia menemukan kenyataan yang jauh lebih mengerikan daripada cerita tentang kepahlawanan. Ia menyaksikan sahabat-sahabatnya gugur, desa-desa terbakar, dan ribuan manusia saling membunuh tanpa benar-benar memahami alasan mereka berperang.

Seiring waktu, Ardan naik pangkat dari prajurit biasa hingga menjadi seorang komandan. Setiap kenaikan pangkat memberinya kekuasaan lebih besar, tetapi juga tanggung jawab yang semakin berat. Setiap perintah yang ia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6 — Serangan Fajar Ketiga

Serangan itu datang tanpa peringatan, tepat ketika langit baru mulai berubah dari hitam menjadi abu-abu.

Ardan sedang dalam giliran jaga terakhir sebelum pergantian pagi, matanya berat karena kurang tidur, ketika ia melihat sesuatu yang berbeda di seberang sungai.

Bukan satu atau dua perahu seperti biasa, tetapi puluhan, bergerak serentak dalam formasi rapi yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Sersan!" Ia berteriak sambil berlari ke posisi Halric. "Ini bukan seperti biasanya!"

Halric melihat ke arah sungai, dan untuk pertama kalinya Ardan melihat sesuatu yang mendekati kepanikan di wajah veteran itu.

"Bangunkan semua orang," katanya cepat. "Ini serangan penuh."

Peluit dibunyikan bukan tiga kali, tetapi berulang-ulang, sinyal darurat yang jarang digunakan.

Seluruh perkemahan meledak dalam kekacauan terkendali, prajurit-prajurit berlari ke posisi mereka sambil masih mengenakan zirah, beberapa bahkan belum sempat memakai sepatu bot.

Kael muncul di samping Ardan, wajahnya masih dibayangi kantuk tapi matanya sudah waspada, busur sudah tergenggam. "Berapa banyak?"

"Terlalu banyak untuk dihitung."

Tobin bergabung sedetik kemudian, memegang tombak dengan buku-buku jari memutih. "Ini berbeda."

"Ya," gumam Ardan, menatap formasi perahu yang semakin dekat. "Ini berbeda."

---

Kapten Orwin muncul di parit, wajahnya tegang tapi suaranya tetap tenang saat memberi perintah. "Ini serangan besar-besaran! Ravharn mencoba menembus sebelum bala bantuan kita sepenuhnya siap! Bertahan di posisi, jangan biarkan mereka mencapai tepi!"

Panah-panah Valdren mulai dilepaskan dalam jumlah besar, gelombang demi gelombang menghantam perahu-perahu yang mendekat.

Beberapa perahu terbalik, tapi jumlahnya terlalu banyak untuk dihentikan sepenuhnya oleh pemanah saja.

Lalu Ardan melihatnya—cahaya biru berkilat di salah satu perahu terbesar di tengah formasi.

"Penyihir!" teriak seseorang di sepanjang parit.

Bola energi biru melesat melintasi sungai dan menghantam bagian parit di sekitar seratus kaki dari posisi mereka.

Ledakan itu melontarkan tanah dan kayu ke udara, disusul teriakan prajurit yang terluka.

"BERTAHAN!" teriak Halric. "JANGAN PANIK!"

Tapi kepanikan sulit dihindari ketika bola energi kedua menghantam lebih dekat, kali ini merobohkan sebagian pagar kayu di sisi kiri mereka.

Ardan merasakan tanah bergetar di bawah kakinya, telinganya berdenging oleh suara ledakan.

"Ardan!" Kael menariknya, membuatnya berlindung di balik gundukan tanah yang lebih tebal. "Kita harus bergerak, posisi ini terlalu terbuka!"

Mereka bergeser ke bagian parit yang lebih dalam, bergabung dengan kelompok prajurit lain yang juga mencari perlindungan dari serangan sihir.

Di sekitar mereka, kekacauan semakin menjadi—beberapa prajurit yang panik mulai mundur tanpa perintah, sementara yang lain tetap bertahan dengan tekad yang mengagumkan sekaligus menakutkan.

---

Perahu-perahu pertama mencapai tepi sungai, dan pertempuran jarak dekat pun dimulai.

Berbeda dari serangan-serangan sebelumnya, kali ini jumlah pasukan Ravharn yang mendarat jauh lebih banyak.

Mereka menerjang parit dengan kekuatan penuh, pedang dan tombak berkilat di bawah cahaya fajar yang mulai merah oleh api dan darah.

Ardan mendapati dirinya bertarung berdampingan dengan Farin dan Tobin, tiga tombak membentuk dinding yang mencoba menahan gelombang prajurit yang terus datang.

Setiap detik terasa seperti pertaruhan hidup dan mati, setiap gerakan harus tepat atau berakibat fatal.

Seorang prajurit Ravharn menerobos pertahanan Farin, dan sebelum Ardan sempat bereaksi, pedang itu sudah mengarah ke leher sahabatnya.

"FARIN!"

Ardan bergerak tanpa berpikir, mendorong tubuhnya ke depan dan mengarahkan tombaknya dengan kekuatan penuh.

Ia berhasil mengalihkan serangan itu di detik terakhir, tapi ujung pedang masih sempat menggores lengan Farin, membuat lelaki besar itu terhuyung dengan erangan kesakitan.

"Mundur ke belakangku!" teriak Ardan, memposisikan dirinya di depan Farin yang terluka, menghadapi prajurit Ravharn yang kini mengalihkan perhatiannya.

Pertarungan itu singkat tapi brutal.

Ardan menggunakan setiap teknik yang diajarkan Brogan, dicampur dengan insting yang sudah mulai ia percayai sebagai bagian dari dirinya.

Ketika prajurit itu akhirnya roboh, Ardan tidak sempat merasakan apa pun selain kelegaan singkat sebelum lawan berikutnya sudah menyerbu.

---

Pertempuran berlangsung hampir dua jam, waktu yang terasa seperti keabadian penuh darah dan teriakan.

Ketika akhirnya trompet Valdren berbunyi—sinyal bahwa bala bantuan dari resimen cadangan telah tiba di sisi selatan untuk mengepung sisa pasukan Ravharn yang sudah mendarat—kelegaan yang datang terasa hampir tidak nyata.

Sisa-sisa pasukan Ravharn yang masih hidup mundur ke perahu mereka, meninggalkan puluhan tubuh di sepanjang tepi sungai dan parit. Valdren menang, tapi kemenangan itu datang dengan harga yang berat.

Ardan berlutut di tanah, tombak masih tergenggam, tubuhnya gemetar hebat sekarang setelah adrenalin mulai surut.

Di sekelilingnya, ia mulai menghitung—Tobin, ada.

Kael, ada, meski dengan luka gores di pipi.

Farin, terluka tapi hidup, sedang dibantu berdiri oleh seorang prajurit lain.

Tapi ketika ia mencari Halric, sersan itu tidak ada di tempat biasanya.

"Sersan?" Ardan berdiri, mencari-cari di antara kekacauan. "SERSAN HALRIC!"

Ia menemukannya beberapa saat kemudian, terbaring di dekat parit yang runtuh, darah mengalir dari luka dalam di perutnya. Beberapa prajurit lain sudah berkumpul di sekitarnya, wajah mereka pucat.

"Sersan." Ardan berlutut di sampingnya, tangannya gemetar saat mencoba menekan luka itu. "Bertahanlah, tabib akan datang—"

"Sudah cukup, Nak." Suara Halric lemah tapi masih membawa nada tegasnya yang biasa. "Aku sudah melihat cukup banyak luka untuk tahu mana yang bisa disembuhkan dan mana yang tidak."

"Jangan bicara begitu."

Halric tersenyum tipis, ekspresi langka di wajah kerasnya. "Kau akan baik-baik saja, Ardan. Kalian semua akan baik-baik saja. Kalian regu terbaik yang pernah kulatih, dan aku sudah melatih banyak regu."

"Sersan—"

"Jaga mereka." Mata Halric mulai kehilangan fokus, tapi tangannya masih sempat menggenggam pergelangan tangan Ardan dengan sisa kekuatannya. "Kalian saling menjaga. Itu yang paling penting. Bukan pangkat, bukan medali. Hanya itu."

Genggaman itu melemah. Napasnya menjadi semakin dangkal, lalu berhenti sepenuhnya.

Di sekeliling mereka, fajar akhirnya menyelesaikan perjalanannya, membanjiri tepi Sungai Aldis dengan cahaya keemasan yang terasa kejam dalam keindahannya, menerangi dengan jelas semua yang telah hilang di malam itu.

Ardan tetap berlutut di samping tubuh Halric, tidak peduli pada darah yang membasahi lututnya, tidak peduli pada dunia yang terus bergerak di sekelilingnya.

Untuk pertama kalinya sejak Elar, ia menangis di medan perang, tidak mencoba menyembunyikannya lagi.

Pemakaman Sersan Halric diadakan dengan penghormatan lebih besar dibanding para prajurit biasa.

Kapten Orwin sendiri yang memimpin upacara, dan hampir seluruh Resimen Ketiga hadir, berdiri dalam barisan rapi di bawah langit yang masih menyisakan asap dari pertempuran kemarin.

Halric telah bertugas selama delapan belas tahun, melatih ratusan rekrut, dan bertahan dari puluhan pertempuran sebelum akhirnya jatuh di tepi Sungai Aldis.

"Sersan Halric bukan orang yang mudah disukai pada awalnya," kata Orwin, suaranya membelah keheningan pagi.

"Ia keras, tidak sabaran, dan tidak pernah memberi pujian dengan mudah. Tapi setiap prajurit yang pernah dilatihnya tahu satu hal: ia peduli pada kalian lebih dari yang pernah ia tunjukkan."

Ardan berdiri di barisan depan, di samping Tobin, Kael, dan Farin yang lengannya masih dibalut perban.

Matanya masih bengkak dari tangisan semalam, tapi ia tidak lagi mencoba menyembunyikannya.

Setelah upacara selesai, seorang perwira mendekati Ardan membawa sebuah bungkusan kain.

"Ini milik Sersan Halric," katanya. "Dalam catatan wasiatnya, ia menyebutkan namamu."

Ardan menerima bungkusan itu dengan tangan gemetar.

Di dalamnya, ia menemukan sebilah pedang pendek, lebih tua dari yang biasa digunakan prajurit Valdren, gagangnya diukir dengan motif sederhana yang sudah usang oleh waktu.

Ada juga secarik kertas, tulisan tangan yang kasar dan tegas, khas Halric.

*Untuk petani dengan sabit,*

*Kalau kau membaca ini, artinya aku sudah tidak ada lagi untuk mengomelimu. Pedang ini milik guruku sendiri, diberikan padaku bertahun-tahun lalu dengan pesan yang sama yang akan kuberikan padamu sekarang: jangan gunakan ini untuk menjadi pahlawan. Gunakan untuk pulang, dan bawa pulang sebanyak mungkin orang bersamamu.*

*Kau punya sesuatu yang jarang kulihat—bukan bakat bertarung, tapi bakat peduli. Jangan biarkan perang ini merenggutnya darimu. Itu akan lebih berharga daripada seribu medali.*

*— H.*

Ardan membaca surat itu dua kali, tiga kali, sampai kata-katanya terpatri dalam ingatannya. Tobin dan Kael berdiri di sampingnya, tidak berkata apa-apa, hanya memberi ruang untuk momen itu.

---

Dengan gugurnya Halric, regu mereka untuk sementara dipimpin oleh seorang kopral bernama Yorin, prajurit yang cakap tapi belum siap memikul tanggung jawab penuh seorang sersan.

Selama beberapa hari, suasana di regu terasa berbeda, seperti kapal yang kehilangan kemudinya.

Suatu sore, Kapten Orwin memanggil Ardan ke tendanya.

"Duduk," katanya, menunjuk bangku kayu sederhana di seberang meja penuh peta dan laporan.

Ardan duduk, tidak yakin apa yang menantinya.

"Aku sudah membaca laporan pertempuran kemarin," kata Orwin, menatap Ardan dengan seksama.

"Beberapa prajurit menyebutkan bahwa kau yang mengorganisir mundur sementara ketika parit di sisi kiri runtuh. Kau yang memerintahkan beberapa orang untuk membentuk formasi baru."

"Saya hanya melakukan apa yang terasa benar, Kapten. Tidak ada yang lain yang memberi perintah saat itu."

"Itu justru maksudku." Orwin bersandar di kursinya. "Kepemimpinan bukan soal pangkat, Ardan. Ini soal siapa yang bergerak ketika orang lain membeku. Halric melihat itu dalam dirimu. Aku juga melihatnya."

Ardan diam, tidak yakin harus merespons apa.

"Aku ingin mempromosikanmu menjadi Kopral," lanjut Orwin. "Kau akan memimpin regu kecil, delapan sampai sepuluh orang. Ini bukan tanggung jawab kecil. Kau akan bertanggung jawab atas nyawa mereka, bukan hanya nyawamu sendiri."

Kata-kata itu menghantam Ardan dengan berat yang tidak terduga.

Ia teringat kata-kata Halric di parit pertama mereka: *saat masih prajurit, aku harus menyelamatkan diriku sendiri.* Sekarang, jenjang itu mulai bergeser.

"Saya... saya tidak yakin siap, Kapten."

"Tidak ada yang pernah benar-benar siap." Orwin mengulangi kata-kata yang mirip dengan yang pernah diucapkan Halric di Karhold, dan Ardan bertanya-tanya apakah ini semacam mantra yang diwariskan dari sersan ke sersan, dari kapten ke kapten.

"Tapi aku melihat sesuatu dalam dirimu yang membuatku percaya kau akan belajar cepat, dan yang lebih penting, kau akan peduli pada mereka yang kau pimpin."

Ardan menatap pedang pemberian Halric yang kini tersandang di pinggangnya, di samping sabit tua yang masih ia simpan.

Dua senjata, dua warisan, dua pengingat tentang siapa dirinya dan siapa yang ingin ia menjadi.

"Saya terima, Kapten."

Orwin mengangguk, seolah sudah menduga jawaban itu. "Regu barumu akan diumumkan besok pagi. Termasuk teman-temanmu, jika kau menginginkannya—Tobin dan Kael sudah menunjukkan kompetensi yang cukup untuk tetap di bawah komandomu."

---

Malam itu, Ardan memberi tahu Tobin dan Kael tentang promosinya, dan reaksi mereka jauh dari yang ia duga.

"KOPRAL?" Kael hampir berteriak, matanya melebar. "Ardan, itu luar biasa!"

"Aku tidak yakin luar biasa. Aku akan bertanggung jawab atas nyawa orang lain sekarang."

"Kau sudah melakukan itu sejak Karhold," kata Tobin, tersenyum tulus meski matanya masih menyimpan kesedihan atas kepergian Halric.

"Kau hanya belum diberi gelar resminya."

"Aku takut mengecewakan mereka."

Kael menepuk bahunya, ekspresinya untuk sekali ini sepenuhnya serius. "Kau tahu apa yang membedakanmu dari orang seperti Garrek? Garrek tidak pernah takut mengecewakan orang lain, karena dia tidak pernah cukup peduli untuk takut. Ketakutanmu itu, Ardan, itu buktinya kau akan menjadi pemimpin yang baik."

Ardan menatap kedua sahabatnya, dua orang yang telah menjadi lebih dari sekadar rekan seperjuangan sejak malam pertama di tenda dua puluh tiga.

Ia memikirkan Halric, Pell, dan semua nama yang telah ia hafal dan kehilangan sejak Elar terbakar.

"Aku akan berusaha," katanya akhirnya, kata-kata yang sama yang ia ucapkan pada Farin beberapa minggu lalu, "untuk tetap menjadi diriku sendiri, apa pun pangkat yang kupegang."

Di luar tenda, bintang-bintang mulai bermunculan di langit yang perlahan bersih dari asap.

Untuk pertama kalinya sejak Halric gugur, Ardan merasakan sesuatu yang mendekati harapan, rapuh tapi nyata, tumbuh di tengah reruntuhan kehilangan yang terus menumpuk.

1
Aisyah Suyuti
good
johanes ronald
dr awal negara itu cm bertahan dan bertahan tanpa ada upaya utk menyerang sm skali ya??????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!