Kai di reinkarnasi setelah mengalami kecelakaan mobil akibat menolong anak kecil , setelah di Reinkarnasi , ia kembali menjalani kehidupan keduanya , tetapi suatu hari ini malah masuk kedunia ketiga , apakah ada sesuatu yang direncanakan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Kai berjalan menghampiri pedagang itu.
Pedagang tersebut mengangkat sebuah lentera sambil tersenyum penuh percaya diri.
"Bagaimana dengan lampu ini? Ini alat sihir yang menyala jika diisi mana api."
Wajahnya terlihat seolah tahu segalanya.
"Alat ini dibuat menggunakan Orichalcum murni."
Orichalcum adalah logam legendaris yang dalam mitologi dikenal sebagai logam berharga kedua setelah emas.
Penjual itu menambahkan dengan nada meyakinkan.
"Waktu menyalanya juga sangat lama, loh."
Kai menaruh jarinya di dagu.
"Oh… aku bisa menggunakan sihir api, jadi mungkin ini akan berguna."
Penjual itu tertawa dengan nada aneh.
"Heheheh… akan kuberikan dengan harga murah."
"Sebaiknya jangan."
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang kai.
"Orichalcum seperti itu banyak yang palsu atau berkualitas rendah." Lanjut orang itu.
Penjual itu langsung berkeringat.
"Ha-hal seperti itu… anu…"
Kai menoleh dengan wajah bingung.
"Anda siapa?"
Gadis itu menjawab singkat.
"Aku seorang penyihir."
Karena akhirnya tidak jadi membeli, Kai berjalan bersama gadis itu.
"Yah, terima kasih. Aku belum terbiasa menilai barang seperti itu soalnya."
( Sebenarnya kai bisa melihatnya dengan skill penilaian dia hanya ingin menguji penjual itu )
Gadis itu menjawab dengan nada datar.
"Tidak masalah. Aku hanya kebetulan melihatnya."
Kai menjulurkan tangannya dengan senyum ramah.
"Oh, kita belum berkenalan ya. Namaku Kai, senang bertemu denganmu."
Gadis itu tetap menjawab dengan nada datar, sesuai sifatnya.
"Marina. Senang berkenalan denganmu."
Kai merasa seperti pernah mendengar nama itu di suatu tempat, namun ia segera mengabaikan pikirannya.
Mungkin cuma perasaanku saja.
Kai berhenti berjalan.
"Marina-san, sebagai ucapan terima kasih karena sudah menolongku, bolehkah aku melakukan sesuatu untukmu?"
"Ucapan terima kasih?"
"Ya. Misalnya mentraktir mu makan atau semacamnya."
Marina memilih makan kue saja. Kai sama sekali tidak keberatan.
"Oke, kalau cuma itu gampang sekali."
Mereka mampir ke kedai yang menjual berbagai macam kue.
"Marina-san mau makan yang mana?"
Marina memperhatikan kue-kue itu satu per satu dengan serius.
"...Sudah ku pastikan."
"Aku mau semua yang ada di sini."
Wajah Kai langsung datar.
"Tunggu sebentar."
Marina menatapnya.
"Bisa tolong jangan memasang wajah seperti itu?"
Ia berpikir sejenak.
"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu aku ambil setengahnya saja."
Wajah Kai tetap datar.
"Bukan itu masalahnya…"
Kai berjalan ke barisan kue lain lalu menunjuk sebuah nampan.
"Lihat. Bagaimana dengan kue kering di nampan itu? Kelihatannya lebih enak dari yang lain, kan?"
Penjual tersenyum lebar.
Sebaliknya, Marina justru cemberut.
"Kamu tidak mengerti."
Ia mengambil dua kue dengan capit.
"Kue ini memang kecil, tapi justru karena itu kita bisa menikmati sensasi renyah yang pas di mulut."
Ia melirik kue lainnya.
"Yang ini terlihat biasa dari luar, tapi di dalamnya penuh buah kering yang mewah."
Matanya kemudian beralih ke sisi lain.
"Setiap kue punya isian buah berbeda. Walaupun jenisnya sama, rasanya tetap bervariasi dan menyenangkan."
"Terus yang ini juga—"
Sebelum penjelasan panjang tanpa akhir itu berlanjut, Kai segera memotong.
"Oke, oke! Aku paham! Aku benar-benar paham kalau kamu pecinta kue sejati."
Mereka membeli banyak kue. Marina langsung memakannya dengan pipi mengembung.
"Nyam… nyam… enak."
"Jangan makan sambil bicara."
Kai menghela napas panjang.
"Haah…"
Namun ia tersenyum tipis.
Tapi syukurlah dia terlihat senang.
Saat Kai menoleh kembali, semua kue sudah habis.
Marina mengelus perutnya puas.
"Hah… enak sekali."
Pupil mata Kai mengecil.
"Nggak mungkin kan? Sebanyak itu dalam sekejap?"
Marina menjawab santai.
"Bagiku kue hanya tinggal ditelan saja."
Ia menatap jalan di depannya, mengayunkan kakinya.
"Waktu yang ku habiskan untuk makan kue adalah kebahagiaan."
"Begitu ya… syukurlah kalau begitu," jawab Kai dengan ekspresi datar.
Marina menoleh padanya.
"Terima kasih. Kamu orang yang baik."
Kai justru merasa khawatir.
Orang seperti dia bisa saja ikut orang jahat kalau diiming-imingi kue…
Marina teringat kejadian sebelumnya.
"Ngomong-ngomong, kenapa pendekar pedang sepertimu ingin membeli alat sihir?"
"Alat sihir? Oh, maksudmu lampu tadi?"
Marina menjelaskan bahwa alat itu hanya bisa digunakan oleh penyihir.
Ia kembali bertanya.
"Dan matamu… kenapa ditutup seperti itu? Bukankah itu menyulitkan seorang pendekar pedang?"
Kai menjawab santai.
"Kan ada juga pendekar pedang yang menggunakan sihir."
Ia menyentuh penutup matanya.
"Untuk mata ini, aku terkena serangan saat menjalankan misi."
Marina menjelaskan bahwa mana dan sihir adalah dua hal berbeda.
Sihir adalah mana yang telah diubah menjadi elemen.
Kurang lebih seperti bahan makanan yang tidak akan menjadi masakan tanpa diolah terlebih dahulu.
Itulah sebabnya Marina merasa aneh saat Kai ingin membeli alat sihir.
Kai menatap telapak tangannya.
"Itu simpel kok. Soalnya aku juga bisa menggunakan sihir."
"Kalau cuma lampu seperti itu, aku pasti bisa memakainya. Walaupun levelku rendah."
Mata Marina membesar.
"...Mana ini…"
Ia berdiri di depan Kai lalu mengeluarkan kalung dengan batu hitam sebagai hiasannya.
"Hei, coba alirkan mana mu ke sini."
Kai menatap batu itu.
"Bukankah itu Orichalcum hitam? Kenapa tiba-tiba?"
Namun Marina hanya mendesaknya melakukannya.
Kai menunjuk dengan satu jari dan mengalirkan sedikit mana.
Batu itu langsung bersinar terang. Warna hitamnya hampir tertutup cahaya putih.
Mata Marina membesar.
"Kamu bisa menggunakan sihir yang hebat."
"Sihir yang hebat?" tanya Kai.
Marina melanjutkan dengan tenang.
"Misalnya… sihir yang bisa mengalahkan naga tanah."
Wajah Kai langsung pucat.
"I-itu maksudnya… yang menyelamatkan White Snow?"
Nadanya tertahan.
Dalam hatinya Kai panik.
Kenapa bisa? Dia cuma gadis biasa… apa aku membuat kesalahan?
Tidak… tenang dulu… belum tentu ketahuan.
Tapi kalau sampai ketahuan…
Apa aku akan ditangkap negara…?
Kai berusaha terlihat tenang.
"N-nggak mungkin kan. Kalau aku bisa sihir sehebat itu, pasti aku sudah memilih jalan penyihir."
Marina menatap batu kalungnya.
"Tapi batu ini bereaksi terhadap atribut sihir penggunanya."
"Ini pertama kalinya aku melihat reaksi seperti ini."
"Padahal aku yang bisa tiga atribut saja hanya membuatnya bersinar tiga warna."
Wajah Kai kembali bercucuran keringat.
"Ternyata benda itu sehebat itu… aku ceroboh," gumamnya.
Kai masih berusaha menyangkal dengan wajah sedikit panik.
"Ka-kalau begitu… mungkin saja karena aku bisa menggunakan sihir empat atribut."
Marina tampak berpikir sejenak, lalu sedikit mengangguk.
"Gitu ya… kemungkinan seperti itu memang ada."
Namun ia perlahan menundukkan wajahnya.
"Tapi… kalau memang seperti yang kuduga sebelumnya…"
Ia menatap Kai lurus-lurus.
"Kamu adalah penyihir yang hebat."
Kai langsung gugup.
"A-apa itu memang langka?"
Marina mengembungkan pipinya, tampak tidak senang.
"Dibilang hebat oleh orang yang atributnya lebih banyak dariku… aku sama sekali tidak senang."
Kai buru-buru berdiri dan memperagakan gerakan aneh dengan tangannya, berusaha menjelaskan.
"Bu-bukan begitu maksudku!"
"Biarpun empat atribut, levelnya rendah seperti yang kau lihat, tahu!"
Ia tertawa kaku, mencoba mengalihkan suasana.
semoga semua sehat selalu ya,
Aamiin