Sekuel dari Novel Arjuna Bopo Istimewa.
Di sini kita akan di suguhkan dengan perjalanan cinta antara Arjuna dan Meshwa.
Perjalanan rumah tangga dan kehidupan dari Bopo Istimewa ini, ternyata banyak sekali ujiannya.
Apakah Meshwa yang berstatus sebagai istri sanggup menemani perjalanan Arjuna? ataukah dia akan menyerah?
Di Novel ini juga akan ada kelanjutan kisah cinta Nala dan Mifta. Lalu, bagaimana dengan Dipta? Apakah dia akan menemukan tambatan hati?
simak kelanjutan cerita dari Keluarga Bopo Desa Banyu Alas di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Hukuman
Berita mengenai penemuan janin di Danau Gondo Mayit, juga dugaan tersangka yang melakukan hal itu, dengan cepat menyebar ke penjuru desa bahkan hingga desa lain di sekitarnya.
Tak sedikit warga desa lain yang juga mengetahui mengenai kesakralan dan kemistisan Desa Banyu Alas yang masih kental dengan Adat Istiadat itu.
Warga pun saling membantu dan bekerja sama untuk mencari keberadaan dua tersangka yang tentu kini berada di luar Desa.
"Sudah zinah, anaknya di gugurkan, di buang begitu saja di Danau Gondo Mayit. Memang gak ada otaknya tuh si Rustam dan Wiwit."
"Yo kuwi! Mung arep penak leh kentu (Ya itu! Cuma mau enak kawinnya)."
"Kalau sudah kayak gini, yang susah juga keluarganya. Gak cuma keluarganya, sih. Akhirnya para Bopo dan Biyung juga yang repot."
"Kalau sampai ketemu! Kita harus berikan hukuman adat yang berat untuk mereka berdua. Meresahkan saja!"
Begitulah komentar warga yang sudah mendengar berita mengenai Rustam dan Wiwit. Mereka semua tentu mengutuk perbuatan dua orang itu.
Mereka bukanlah orang luar Desa. Dua orang itu adalah warga asli Desa Banyu Alas yang lahir dan besar di Desa Banyu Alas.
Usia keduanya memang masih terbilang muda. Rustam berusia sembilan belas tahun dan Wiwit berusia tujuh belas tahun.
Tak hanya mencari informasi pada keluarga, Aksa dan Arjuna pun bergerak cepat mencari keberadaan dua tersangka melalui orang - orang mereka yang berada di luar Desa.
Tak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya bisa menemukan keberadaan Rustam dan Wiwit yang saat itu dalam lokasi yang berbeda meskipun letaknya tak berjauhan.
Arjuna, Aksa dan dua orang staf Balai Desa pun segera menjemput keduanya yang sudah di amankan oleh orang - orang yang di perintah Arjuna.
Mereka kemudian memboyong Rustam dan Wiwit menuju ke Balai Pertemuan Desa Banyu Alas. Begitu sampai di sana, mereka pun langsung di sidang di hadapan semua warga Desa Banyu Alas.
"Silahkan akui perbuatan kalian. Kesalahan apa yang sudah kalian lakukan?" Kata Aksa yang berdiri tegap di depan Rustam dan Wiwit.
Wajah dua orang itu tampak sangat pucat, tubuh mereka pun bergetar karena rasa takut. Sedari tadi, warga desa terus mengumpat mereka berdua. Meneriaki keduanya dengan makian dan juga hinaan.
"K-kami berzinah dan akhirnya Wiwit hamil, Pak Kades." Lirih Rustam dengan suara bergetar.
"Saat kami tau, Wiwit sudah hamil empat bulan. Kami berusaha menggugurkan kandungan, supaya tidak menjadi aib bagi keluarga." Imbuh Rustam.
"Kenapa di Danau Gondo Mayit? Kenapa kalian lakukan di situ?" Tanya Arjuna dengan suara tegas dan mengintimidasi.
"Ampun, Pak Sekdes. Saat itu, kami merasa jika di sanalah tempat yang paling aman. Jadi, saat Wiwit terus kontraksi dan mulai perdarahan, kami berdua segera ke sana. Selain itu, kami melakukan hal itu dengan harapan arwah bayi kami tak mengganggu kami." Jawab Rustam.
Ia tentu berpikir tak ada yang akan melihat perbuatan mereka di sana.
"Astaghfirullah." Para Bopo dan Biyung dengan serentak mengucapkan istighfar.
"Kalian tau, akibat ulah kalian berdua, sembilan orang anggota keluarga kalian meninggal karena Danau Gondo Mayit mengamuk sebab kalian berdua mengotori tempat sakral itu. Dan empat dari sembilan korban itu adalah kedua orang tua kalian." Kata Aksa. Mendengar itu, isak tangis Wiwit dan Rustam pun makin menjadi.
Kini, hanya tinggal penyesalan. Mereka tentu tak dapat memutar waktu untuk memperbaiki keadaan. Nasi sudah menjadi bubur dan kini, mereka harua menanggung akibat perbuatan mereka.
"Hukum saja Pak Kades!"
"Segera hukum! Gak perlu berlama - lama lagi!"
"Gak usah pura - pura menangis! Kalian sudah membunuh orang tua dan keluarga kalian!"
"Dasar Pembunuh!"
"Pembunuh!"
"Manusia Biadab!"
Seru warga yang sudah geram dengan pasangan yang duduk bersimpuh di tengah - tengah Balai Pertemuan itu.
Andai tak di jaga dengan ketat, sudah pasti Rustam dan Wiwit sudah habis di hakimi warga yang geram. Warga bahkan sudah menunggu keduanya sejak dini hari dengan membawa balok juga batu untuk menghajar keduanya.
"Kalian berdua harus menjalani ritual duk di Danau Gondo Mayit. Setelah itu, kalian akan menjalin sanksi adat sesuai dengan ketentuan yang berlaku." Kata Aksa.
"Hukum mati saja, Pak Kades!"
"Benar! Hukum mati saja, pembunuh keluarga itu."
"Jangan beri ampun, Pak Kades!"
Seru warga desa yang mulai menuntut hukuman untuk Rustam dan Wiwit yang kini hanya bisa pasrah sambil terus menangis.
"Kasihan banget, Bu. Padahal mereka masih muda dan masa depan mereka masih panjang." Lirih Meshwa. Hatinya terasa sakit karena tak tega melihat dua anak muda yang melakukan kesalahan itu.
"Semua itu, harus ada konsekuensinya, Nduk. Selain untuk memberikan efek jera, hal ini juga untuk memberi peringatan warga lain agar tak macam - macam dengan aturan adat." Kata Raina.
"Benar kata Ibumu, Nduk. Para Bopo harus tegas menindak pelaku yang melanggar aturan adat kita. Adat yang kita jaga, bukanlah hal yang bisa di permainkan seenaknya. Ketegasan para Bopo ini lah yang menjadi kunci keamanan, ketertiban dan kerukunan di Desa." Imbuh Saira yang berdiri di sebelah Meshwa.
Meshwa hanya bisa mengangguk setelah mendengar penjelasan dari dua mertuanya. Pelan - pelan, pasti ia bisa seperti Ibu dan Bunanya yang tegas namun tetap lembut karena sisi keibuan yang tak hilang.
"Kalian berdua akan di pasung di Kurungan Nyowo selama satu bulan. Tak akan berhenti di sana, setelah hukuman adat selesai, kalian berdua akan kami serahkan ke Kantor Polisi." Kata Aksa yang langsung menjatuhkan hukuman pada Rustam dan juga Wiwit.
Mendengar kata Kurungan Nyowo, membuat semua warga langsung terdiam. Mereka pun bergidik ngeri dengan hukuman yang di berikan oleh Aksa pada pasangan muda itu.
Kurungan Nyowo adalah salah satu tempat yang juga sangat di hindari oleh warga selain Danau Gondo Mayit. Bahkan, Kurungan Nyowo jauh lebih menyeramkan lagi.
Pasalnya tempat itu berada di dekat hutan larangan dan tempat itu sangatlah angker. Warga saja tak ada yang berani melintasi daerah itu.
Banyak warga yang kerap kali di ganggu hingga di sesatkan ketika terpaksa melewati jalanan itu. Maka dari itu, hukuman di pasung di rumah - rumah kecil yang ada di wilayah Kurungan Nyawa, sama dengan membunuh pelaku secara perlahan.
Rustam dan Wiwit pun tubuhnya bergetar ketakutan setelah mendengar hukuman yang di berikan oleh Aksa. Keduanya menangis, memohon ampun, namun hukuman adat itu tetap tak bisa Aksa ubah.
Semua ini, ia lakukan untuk menertibkan semua pemuda dan pemudi di Desa Banyu Alas agar tak mengikuti jejak Rustam dan Wiwit. Ia berharap, Desa Banyu Alas akan selalu menjadi Desa yang bersih dan jauh dari perzinahan juga prilaku yang tidak bermoral.