Hanya karena perbedaan gaya hidup yang kini tak lagi sejalan, Tiffany menceraikan suaminya demi menjaga citra sebagai seorang konglomerat.
Ia bahkan melupakan siapa yang telah berjuang bersamanya dari nol hingga mencapai posisi tersebut.
Hans Rinaldi tidak menyimpan dendam. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.
Namun, setelah perpisahan mereka, Tiffany tetap menyeretnya ke dalam berbagai masalah. Hingga akhirnya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok pria sabar yang selama ini telah ia buang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Craft Brew
Botol botol anggur itu segera dikeluarkan dari kotaknya agar semua orang bisa melihatnya.
“Heh, tadi aku kira kualitasnya lumayan. Ternyata cuma craft brew. Paling juga harganya gak sampai 30 juta,” kata Rorry dengan wajah penuh penghinaan. “Mana mungkin bisa dibandingin sama Grand Cru?”
“Craft brew sudah lama gak ada nilainya di pasar. Bahkan pelayan di rumah kami saja gak kami kasih minum ini!” seru seseorang.
Sebenarnya craft brew tidak buruk dari segi kualitas, tetapi jelas tidak bisa dibandingkan dengan Grand Cru.
“Dasar pelit!” cemooh Sarrah.
“Kenapa craft brew dibilang murahan? Di negara kita justru lagi naik daun. Atau selera kamu soal anggur cuma sebatas yang dibuat di luar negeri?” jawab Hans santai.
“Gimana gak murah kalau harganya cuma beberapa juta? Anggur Othan saja lebih dari 1 miliar” kata Rorry sambil memutar mata.
“Anggur gak harus mahal buat jadi bagus. Lagi pula, kamu juga gak tahu pasti berapa harga anggur aku.”
“Masih saja mau nyari pembenaran?” ejek Rorry.
Sarrah mengerutkan kening. “Hmph! Keras kepala sekali dia.”
“aku gak mau buang waktu lagi buat jelasin ke orang yang gak mau pakai logika,” kata Hans. Dia benar benar sudah malas berdebat.
“Sudah cukup. Yang penting rasanya, bukan harganya. Lagipula aku lebih suka anggur putih daripada merah,” sela Qorrim akhirnya. Dia membuka salah satu botol craft brew itu dan menuangkannya ke dalam gelas.
“Tunggu, kenapa warnanya kuning? Bukannya craft brew biasanya putih pucat?”
“Iya, kok keruh juga? Jangan jangan palsu?”
“Ya ampun, bawa anggur palsu ke makan malam? Orang macam apa yang melakukan itu?”
Orang orang mulai berbisik begitu melihat cairan kuning di gelas lelaki tua itu.
“Sekarang kamu keterlaluan! Berani beraninya kamu ngehina kami semua dengan hadiah palsu seperti ini!” teriak Sarrah sambil menghantam meja.
“Bagaimana kalau setelah minum ini kita kenapa kenapa?!”
“aku gak nyangka dia sejahat ini! Apa dia mau meracuni kita semua?”
Dalam sekejap, suasana meja makan langsung ricuh.
Anggur murah saja sudah cukup memalukan. Tapi anggur palsu?
Itu sudah seperti sengaja cari masalah.
Bahkan lelaki tua itu pun tidak tahu bagaimana harus menenangkan situasi sekarang. Dia memang jarang minum craft brew, tapi dia tahu anggur jenis itu seharusnya berwarna putih pucat, hampir transparan. Sementara anggur yang dibawa Hans bukan hanya kuning, tetapi juga terlihat keruh.
Sekilas memang tidak tampak seperti sesuatu yang bagus.
“Craft brew yang sudah lama disimpan memang biasanya jadi seperti ini,” jelas Hans.
“Omong kosong!” bentak Rorry. “kamu kira kami semua idiot? gak ada anggur yang kelihatan seperti ini! Ini cuma air kencing!”
“Iya! Kenapa kamu masih terus bohong?” dengus Sarrah.
Othan menggeleng pelan dengan ekspresi pura pura simpati. “Ah, Hans. Kalau kamu gak punya apa apa buat dibawa, bilang saja sama aku. aku bisa kasih kamu satu dua botol buat sekadar pajangan. Kenapa harus bikin kita semua malu seperti ini?”
Kata katanya terdengar baik, tetapi dalam hati dia sangat senang. Bagi Othan, Hans sama sekali bukan tandingannya. Mengalahkan Hans di depan keluarga ini terasa terlalu mudah.
“kamu percaya atau gak itu terserah. Yang jelas, anggur ini asli dan kualitasnya sangat bagus,” kata Hans tegas.
“Wah, rame sekali di sini.”
Tiba tiba seorang pria muncul di pintu, masih mengenakan setelan kerja dan membawa beberapa hadiah.
“Papa? Papa sudah pulang dari perjalanan?” seru Rorry kaget.
Pria itu adalah Jeddah Rasheed, Papa Tiffany.
“Ya, urusannya berhasil jadi aku pulang lebih cepat.” Jeddah tersenyum. Pandangannya lalu tertuju pada anggur di meja. “Oh, itu La Romanee? Sepertinya keluaran terbaru. Harganya pasti setidaknya 1 miliar lebih per botol, benar kan?”
“Hebat, Papa! Tebakan Papa benar!” kata Rorry dengan bangga.
“Sayang, Othan yang bawa anggur itu buat makan malam. Manis sekali, kan?” kata Sarrah. Lalu dia menoleh tajam ke arah Hans. “gak seperti seseorang yang malah hampir meracuni kita semua dengan anggur palsu!”
“Anggur palsu?” Jeddah terkejut.
“Iya, lihat ini!” Rorry menunjukkan gelas berisi cairan kuning itu. “Hans yang bawa buat makan malam. Kalau tadi kita gak sadar, entah apa yang terjadi kalau kita sampai minum itu.”
Jeddah mendekat dan menghirup aromanya sebentar. Lalu dia langsung meneguk habis isi gelas itu dalam sekali minum.
“Papa, ngapain Papa?! Jangan diminum! Nanti Papa kenapa kenapa!” teriak Rorry panik.
Namun Jeddah justru tampak menikmati rasanya. “Teksturnya halus, lembut, lalu ada rasa yang kuat di akhir. Ini bukan palsu. Ini craft brew tua yang sangat berharga!”
“Apa?!” Semua orang langsung terkejut.
“Papa bercanda, kan? Ini gak mungkin anggur tua!” Mata Rorry membelalak lebar.
“Tapi lihat warnanya yang kekuningan begitu. Pasti palsu!” tuduh Sarrah.
“Kalian sepertinya belum pernah lihat yang seperti ini. Craft brew yang sudah lama disimpan memang berubah warna seperti ini, dan warnanya akan makin gelap semakin lama disimpan. Semua penikmat anggur pasti tahu itu.”
Ekspresi semua orang langsung berubah.
Tuduhan mereka barusan runtuh seketika, dan yang membantahnya bukan orang sembarangan, melainkan Jeddah Rasheed sendiri, seorang penggemar anggur yang terkenal. Penilaiannya jelas tidak mungkin salah.
“Dulu aku pernah cukup beruntung bisa mencicipi anggur seperti ini bersama seorang pejabat pemerintah,” kata Jeddah. Dia mengecap bibirnya, masih menikmati sisa rasa anggur itu. “Tapi yang ini bahkan lebih bagus. Dari tekstur dan rasa akhirnya saja sudah kelihatan, anggur ini pasti sudah disimpan setidaknya lima puluh tahun.”
“Harganya di pasaran berapa?” tanya Rorry penasaran.
“Tak ternilai. Bahkan kalau kamu nawarin harga setara satu kota pun belum tentu ada yang mau jual. Tapi kalau melihat nilai lelang anggur belakangan ini, harganya pasti 33 Miliar.”
"33 Miliar?!” Semua orang langsung terkejut. Mereka bahkan belum pernah mendengar ada anggur semahal itu. Dibandingkan itu, Grand Cru milik Othan sama sekali tidak ada apa apanya.
“Ti-tidak mungkin!” Sarrah masih tidak percaya. “Kamu yakin soal ini, Jeddah? Bagaimana mungkin Hans mampu beli yang seperti itu?”
“Iya! Dia saja bahkan gak mampu beli celana bagus, apalagi anggur semahal ini!” teriak Rorry. Ucapannya langsung mendapat anggukan setuju dari orang orang di meja.
“Benar juga. Mana mungkin gelandangan seperti dia punya uang sebanyak itu?”
“Hmm … Hans, kamu dapat anggur ini dari mana?” tanya Jeddah dengan tenang.
“Dikasih teman,” jawab Hans jujur.
“Dikasih teman?” Sarrah mencibir. “Mana mungkin orang seperti kamu punya teman yang cukup kaya buat beli minuman seperti itu? Kalaupun ada, kenapa mereka harus memberikannya ke kamu? aku yakin kamu mencurinya!”
“Iya, pasti dia nyuri!” Rorry langsung mengangguk keras, menemukan tuduhan baru untuk menyerang Hans. Dia sama sekali tidak percaya Hans bisa mendapatkan anggur berkualitas seperti itu, bahkan jika itu benar benar hadiah dari temannya.
“Kenapa kamu harus mencuri barang seperti ini, Hans? Kamu tahu berapa tahun kamu bisa dipenjara karena mencuri?” kata Othan, berpura pura tampak prihatin.
Dalam hati dia benar benar heran. Bagaimana mungkin orang miskin seperti Hans bisa mendapatkan sesuatu yang bahkan dia sendiri belum tentu bisa beli?
“Mau kalian percaya atau gak itu bukan urusan aku. aku gak mencurinya. Itu saja yang penting buat aku,” jawab Hans datar.
Awalnya mereka menuduh anggurnya murahan. Setelah terbukti tidak, mereka langsung menuduhnya mencuri. Berikutnya mungkin mereka akan menuduhnya memeras Maureen agar memberikan anggur itu.
Itulah sebabnya tidak ada gunanya menjelaskan apa pun kepada mereka.
“Hah, lihat? Dia gak punya alasan lagi sekarang! aku sudah tahu dia pasti mencurinya!” teriak Sarrah.
“Dasar pencuri! Berani beraninya kamu mencuri cuma buat pamer di depan kami!” kata Rorry sambil berpura pura kaget.
“Terserah kalian saja. Anggur ini aku bawa khusus buat Kakek. Kalau kalian gak mau minum, ya sudah,” kata Hans sambil memutar mata. Dia sudah muak dengan semua ini.
“Cukup! aku percaya penuh sama Hans. aku tahu dia tidak mencuri anggur ini, jadi hentikan!” kata Qorrim akhirnya dengan nada tegas.
“Tapi Kakek .…”
“Diam! Makan saja!” bentak lelaki tua itu lagi.
Baru setelah itu semua orang akhirnya diam. Bahkan Sarrah dan Rorry, yang masih tidak percaya Hans bisa mendapatkan craft brew itu secara sah.
Makan malam akhirnya dimulai. Meski tadi mereka semua sempat menghina Hans, mereka tetap tidak ragu mengambil bagian dari craft brew tersebut. Bahkan mereka yang biasanya tidak minum alkohol pun ikut mencicipinya sedikit.
Bagaimanapun, anggur itu bernilai lebih dari 33 Miliar di pasaran. Sebuah kemewahan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Siapa yang mau melewatkan kesempatan itu?
Melihat keras kepalanya keluarga ini, Hans hanya bisa mendengus.
Tak lama kemudian, makan malam pun selesai.