Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Proposal gila dan aroma kopi murahan
Gegap gempita kemenangan atas Pak Gunawan mulai memudar, digantikan oleh realita pahit yang muncul di layar monitor setiap kali mereka login ke portal mahasiswa. Tulisan merah mencolok bertuliskan "Tunggakan UKT" seolah mengejek perjuangan heroik mereka kemarin. Kampus memang tempat menimba ilmu, tapi ia tidak menerima pembayaran dalam bentuk "keadilan" atau "persahabatan".
"Oke, mari kita bicara angka," suara Gia Kirana terdengar dingin saat mereka berkumpul di Markas Besar kantin yang mulai sepi. "Total yang kita butuhkan untuk enam orang adalah tujuh puluh dua juta rupiah. Deadline-nya? Tiga puluh hari dari sekarang. Kalau tidak, kita semua cuti massal."
Eno Surya yang biasanya paling berisik, kali ini hanya bisa mengaduk-aduk es tehnya yang sudah tawar. "Gue udah coba jual kostum jerapah lama gue ke anak teater, tapi cuma ditawar dua ratus ribu. Katanya baunya udah kayak artefak purbakala."
"Kita butuh proyek gede. Sesuatu yang skalanya nasional," sahut Juna Pratama sambil memutar laptopnya ke arah teman-temannya. Di layar tampak sebuah poster digital: National Youth Innovation Challenge (NYIC) 2026. "Hadiah utamanya seratus juta rupiah tunai, plus pendanaan modal ventura. Temanya: Solusi Limbah Urban."
"Seratus juta?" Rhea Amara membelalak. "Tapi Jun, itu lombanya buat anak Teknik atau MIPA. Kita ini campuran Hukum, Ekonomi, sama Olahraga. Apa yang mau kita bikin? Robot yang bisa sidang?"
"Bukan robot," sela Eno tiba-tiba. Wajahnya yang biasa konyol berubah serius. "Gue punya ide. Di deket kostan gue, Pasar Inpres itu setiap hari buang berton-ton limbah sayur dan buah. Baunya ampun-ampunan. Gimana kalau kita bikin mesin pengolah limbah portabel yang bisa ngubah sampah itu jadi pupuk cair organik dalam waktu 24 jam?"
"Itu butuh riset kimia dan teknik mesin, No," sanggah Gia.
"Bagas pinter soal mekanik, kan?" Eno menunjuk Bagas Putra. "Dan Juna bisa bikin sistem otomatisnya lewat Arduino. Gue... gue punya kenalan pengepul besi tua buat nyari bahan murah. Laras sama Rhea yang bikin kemasannya supaya kelihatan kayak produk milenial, bukan cuma ember bau sampah."
Dewi Laras menatap teman-temannya. Ada percikan harapan baru. "Gue setuju. Kita sebut proyek ini... 'Resimen Hijau'."
Maka, dimulailah hari-hari penuh kegilaan. Selama dua minggu, mereka menyulap garasi rumah Juna yang sempit menjadi laboratorium dadakan. Bau oli, asap las, dan aroma kopi instan murah menjadi menu harian mereka.
Laras dan Rhea setiap pagi pergi ke pasar untuk mengambil sampel limbah, mengabaikan bau busuk yang menempel di baju mereka demi mendapatkan data komposisi sampah. Sementara itu, Bagas dan Eno berkeringat di bawah terik matahari, memotong plat besi dan merakit turbin penghancur.
"Gas, ini kabelnya kebalik nggak?" tanya Eno sambil memegang tang dengan tangan gemetar.
"Bentar, No. Lo jangan asal colok, ntar konslet se-kecamatan!" tergah Bagas sambil menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang sudah hitam kena oli. Bagas tampak sangat fokus, otot lengannya menegang setiap kali dia mengencangkan baut.
Di sudut lain, Juna hampir tidak tidur selama 48 jam, matanya merah menatap barisan kode untuk mengatur sensor suhu mesin. Gia sibuk di telepon, berdebat dengan pihak panitia lomba soal administrasi dan legalitas paten sederhana yang mereka ajukan.
Suatu malam, sekitar jam dua pagi, mesin itu akhirnya selesai dirakit. Bentuknya masih kasar, seperti tabung besar dengan banyak kabel malang melintang.
"Oke, percobaan pertama," bisik Juna. Dia memasukkan sekeranjang sawi busuk ke dalam mesin.
Bzzzzzt... krrrkkkk... Mesin itu bergetar hebat. Asap tipis keluar dari sela-selanya. Semuanya menahan napas. Tiba-tiba, cairan cokelat pekat mulai menetes keluar dari pipa pembuangan.
"Ini... ini pupuknya?" tanya Rhea ragu.
Gia mengambil sampelnya, mencium aromanya yang tidak lagi busuk, melainkan seperti bau tanah basah. "Berhasil. Ini beneran berhasil!"
Mereka bersorak pelan—takut membangunkan tetangga Juna. Di tengah kegembiraan itu, Laras melihat Bagas yang terduduk lemas di lantai garasi yang kotor. Laras mendekat, membawakan segelas air putih.
"Kita bakal menang, kan Gas?" tanya Laras pelan.
Bagas menatap Laras, lalu tersenyum tipis. "Harus. Karena kalau nggak, gue terpaksa jadi pelatih basket seumur hidup buat bayar hutang ke Juna karena udah ngerusak ubin garasinya."
Namun, kebahagiaan mereka terhenti saat keesokan harinya, sebuah surat fisik mendarat di depan pintu garasi. Surat itu dari PT. Global Eco-Tech, sebuah perusahaan raksasa. Isinya adalah peringatan keras: Gugatan Pelanggaran Hak Cipta.
"Mereka bilang desain turbin kita mirip sama punya mereka yang baru didaftarin minggu lalu," suara Gia bergetar karena marah. "Siapa yang ngebocorin desain kita?"
"Minggu lalu?" Juna mengecek log komputernya. "Gue baru masukin desain ini ke cloud dua hari yang lalu. Berarti mereka nge-hack data kita, atau..."
"Atau ada mata-mata di antara kita?" celetuk Eno yang langsung membuat suasana jadi dingin.
Laras melihat ke luar jendela garasi. Di sana, sebuah mobil mewah dengan kaca gelap terparkir diam. Dia tahu mobil itu. Itu adalah milik salah satu mantan pengacara ayahnya. Ternyata, meski sudah di penjara, Pak Gunawan masih punya cara untuk menghancurkan mimpi mereka lewat tangan-tangan korporat.
"Ini bukan soal sampah lagi," bisik Bagas sambil berdiri dan meraih kunci pasnya. "Ini soal harga diri."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...