bangkit kembali di dunia game, nama Arka adalah puncak dari segala kekuatan. Sebagai pemain peringkat satu berjuluk Void King, ia memiliki segalanya, namun terjebak dalam realitas game yang kini menjadi nyata setelah game tutup server.
Demi mewujudkan impian hidup tenang dengan menyembunyikan kekuatannya, Arka secara "tidak sengaja" memungut tiga petualang pemula. Elara, Kael, dan Jiro. Dengan niat egois agar ada orang lain yang bisa mengerjakan "tugas sulit" dan urusan merepotkan lainnya, Arka melatih mereka dengan metode neraka hingga mereka melampaui batas manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhanis rio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12.JAMUAN DI ATAS BENANG TIPIS
Gema sorakan di Arena Perak mungkin telah surut, namun gelombang yang diciptakannya baru saja mulai menghantam dinding-dinding kokoh Istana Aethelgard. Di sebuah ruang sidang tertutup yang terbuat dari kayu ek kuno dan dilapisi sihir kedap suara, tujuh ksatria instruktur senior duduk dengan wajah tegang. Di tengah mereka, sebuah laporan kristal sihir menampilkan rekaman ulang pertarungan Jiro, Kael, dan Elara.
"Peringkat F menghancurkan zirah baja biru B+ dalam satu serangan tumpul?" suara salah satu instruktur memecah keheningan. "Ini bukan sekadar bakat. Ini adalah penghinaan terhadap seluruh sistem pendidikan kita!"
"Masalah utamanya bukan murid-murid itu," potong yang lain, matanya tertuju pada sosok pria kusam yang tertidur di barisan belakang tribun dalam rekaman tersebut. "Masalahnya adalah pria itu. Arka. Siapa dia sebenarnya? Zenos melaporkannya sebagai petualang peringkat A dari pinggiran, tapi tidak ada catatan tentang pencapaiannya selama sepuluh tahun terakhir."
Di tengah perdebatan itu, pintu ruang sidang terbuka. Komandan Alaric masuk dengan langkah tenang, jubah peraknya menyapu lantai. "Cukup spekulasinya. Dewan telah memutuskan. Mengingat kekacauan yang terjadi, kita tidak bisa memberikan mereka peringkat A+ secara instan. Itu akan memicu pemberontakan dari ksatria elit lainnya. Kita akan menetapkan mereka di Peringkat B sebagai kompromi."
"Dan gurunya?" tanya seorang instruktur.
Alaric terdiam sejenak, memutar cincin di jarinya. "Aku sendiri yang akan menanganinya. Malam ini, di kediaman pribadi. Aku ingin melihat apa yang ada di balik topeng 'paman desa' itu."
...
Sore harinya, di kantor administrasi Markas Ksatria, Arka berdiri di depan loket pendaftaran dengan wajah yang tampak sangat mengantuk. Di belakangnya, Jiro, Kael, dan Elara berdiri tegak, meski tubuh mereka masih pegal-pegal dan beberapa bagian zirah mereka masih kotor.
"Selamat, Tuan Arka," ujar petugas administrasi dengan nada yang jauh lebih sopan daripada kemarin. "Berdasarkan instruksi Komandan Alaric, ketiga murid Anda resmi dipromosikan ke Peringkat B. Ini adalah kenaikan peringkat tercepat dalam sejarah Aethelgard. Berikut adalah lencana perak mereka, serta tunjangan bulanan sebesar 500 koin emas per orang."
Mata Jiro dan Kael berbinar melihat tumpukan koin emas itu. Namun, Arka justru menghela napas panjang, sebuah desahan yang terdengar sangat menderita.
"Tunggu, tunggu sebentar," Arka menyela, suaranya parau. "500 koin emas? Itu terlalu banyak. Bisakah kita kurangi saja? Berikan mereka 50 koin dan peringkat C saja. Jika mereka punya banyak uang, mereka tidak mau lagi mencuci baju dan memasak untukku. Dan peringkat B... itu terlalu mencolok. Kami hanya ingin hidup tenang di penginapan murah."
Petugas itu melongo. Murid-murid Arka hanya bisa menunduk malu, sudah terbiasa dengan kegilaan guru mereka yang sangat anti-kemegahan dan terlalu Fanatik dengan hidup Santai.
"Maaf, Tuan, ini perintah langsung dari Komandan Alaric. Anda tidak bisa menolaknya," balas petugas itu dengan tegas.
Arka menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah, merepotkan sekali. Hidup santaiku mulai terancam."
Tepat saat itu, seorang ajudan ksatria dengan seragam rapi mendekat dan membungkuk hormat. "Tuan Arka, Komandan Alaric mengundang Anda dan murid-murid Anda untuk jamuan makan malam pribadi di kediamannya malam ini. Kereta kuda sudah menunggu di luar."
Arka menatap kereta kuda mewah di luar jendela, lalu menatap sandal jepitnya yang hampir putus. "Bisakah aku bilang aku punya janji temu dengan bantal dan gulingku?"
"Komandan bersikeras, Tuan," ujar ajudan itu dengan senyum yang dipaksakan namun mengandung perintah.
...
Kediaman Alaric bukanlah istana yang megah, melainkan sebuah manor tua yang elegan dan penuh dengan aura wibawa. Di dalam ruang makan yang diterangi oleh lampu kristal mana yang redup, hidangan kelas atas tersaji. Namun, atmosfer di sana terasa lebih berat daripada ujian di arena tadi pagi.
Alaric duduk di kepala meja, tanpa zirah, hanya mengenakan jubah sutra abu-abu. Namun, meski tanpa senjata, keberadaan seorang Peringkat S+ di ruangan itu membuat udara terasa padat. Jiro, Kael, dan Elara duduk dengan kaku, bahkan tidak berani menyentuh garpu perak mereka.
Arka duduk di seberang Alaric. Ia tampak sibuk memperhatikan betapa mengkilapnya piring di depannya, sesekali menguap kecil. Cincin pengekang di jari Arka berpendar redup, memastikan auranya tetap terkunci di level Peringkat A yang biasa-biasa saja.
"Makanlah," Alaric memulai, suaranya tenang namun bergema. "Kalian telah melakukan hal yang luar biasa hari ini. Menghancurkan gada Varos bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan oleh petualang peringkat F biasa."
"Itu hanya kebetulan, Komandan," Arka menjawab sambil mulai menyuap supnya dengan cara yang sedikit berantakan. "Anak-anak ini hanya terlalu takut mati, jadi mereka memukul lebih keras dari biasanya. Dan Varos... mungkin dia kurang tidur semalam? Gada itu pasti sudah retak sejak lama, produk gagal dari pandai besi kerajaan, mungkin?"
Alaric tersenyum tipis, namun matanya tetap tajam seperti mata elang yang mengincar mangsa. "Kebetulan tidak terjadi tiga kali berturut-turut, Arka. Dan senjata mereka... aku telah memeriksanya dari kejauhan. Itu hanya besi tua. Bagaimana bisa besi tua menahan dampak serangan senjata yang levelnya lebih tinggi?"
"Ah, itu rahasia desa Ovelia," Arka berbohong tanpa berkedip. "Kami punya teknik pengasahan menggunakan minyak babi hutan purba. Baunya busuk, tapi besinya jadi sedikit lebih kuat. Jika Komandan mau, aku bisa kirimkan satu botol minyaknya ke sini."
Alaric terdiam. Ia meletakkan gelas anggurnya. Tiba-tiba, ia melepaskan sedikit auranya. Bukan serangan fisik dan niat membunuh, melainkan tekanan mental murni—Spirit Pressure. Ruangan itu seolah-olah tenggelam ke dasar lautan. Jiro dan murid lainnya mulai berkeringat dingin, tangan mereka gemetar di bawah meja.
Alaric memperhatikan Arka. Ia ingin melihat apakah pria ini akan goyah, atau apakah status peringkat A-nya akan retak di bawah tekanan S+.
Arka merasakan tekanan itu. Di dalam pikirannya, ia sedang menggerutu: 'Astaga, orang ini benar-benar serius. Jika aku melawan, identitasku terbongkar. Jika aku diam saja, sup ini akan tumpah karena tanganku berpura-pura gemetar.'
Arka memutuskan untuk melakukan "pertahanan pasif". Ia membiarkan tubuhnya sedikit condong ke depan, berpura-pura terganggu oleh tekanan tersebut, namun ia menggunakan manipulasi Void internal untuk menetralisir tekanan di sekeliling piringnya agar supnya tidak bergelombang.
"Komandan... aduh, tiba-tiba ruangan ini terasa sangat gerah ya?" Arka mengipasi wajahnya dengan tangan, wajahnya dibuat sedikit pucat secara sengaja. "Apakah ventilasi di rumah mewah ini sedang rusak? Saya merasa sedikit pusing."
Alaric menyipitkan mata. Tekanannya sudah mencapai level maksimal untuk peringkat A, namun Arka hanya mengeluh gerah. Normalnya, seorang peringkat A seharusnya sudah tersungkur di lantai.
...
Alaric menarik kembali auranya secara instan. Suasana kembali normal, menyisakan murid-murid Arka yang terengah-engah menghirup oksigen.
"Arka," Alaric berbicara dengan nada yang lebih serius sekarang. "Agen Burung Hantu Perak melaporkan sesuatu yang menarik padaku. Mereka bilang, saat Varos menyerang muridmu, mereka melihat sesuatu di tribun. Sesuatu yang membuat naluri mereka sebagai mata-mata berteriak untuk melarikan diri."
Tangan Arka yang sedang memegang roti terhenti sesaat. 'Sial, si burung hantu itu melihatnya,' batinnya.
"Aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan," lanjut Alaric, "tetapi Aethelgard adalah tempat yang penuh dengan mata-mata dan politik. Bakat muridmu telah menarik perhatian 'petinggi' yang tidak bisa kau tolak hanya dengan akting linglung ini. Mereka akan segera diberikan misi-misi berbahaya untuk membuktikan kesetiaan mereka pada mahkota."
Arka menghela napas, kali ini desahannya nyata. "Itulah yang aku takutkan. Aku hanya ingin mereka menjadi petualang desa yang bisa membelah kayu bakar dengan cepat. Kenapa semuanya jadi rumit?"
"Karena dunia sedang tidak stabil, Arka. Kekuatan seperti milik muridmu adalah aset berharga dalam perang yang akan datang," Alaric berdiri, menandakan jamuan selesai. "Berhati-hatilah. Jika kau memang hanya peringkat A seperti yang ditunjukkan lencanamu, maka lindungi muridmu dengan caramu. Tapi jika kau lebih dari itu... pastikan kau tetap berada di pihak kami saat 'hari itu' tiba."
...
Saat mereka berjalan kembali menuju penginapan di bawah sinar rembulan, Jiro akhirnya berani membuka suara.
"Guru... tadi itu... Komandan Alaric mencoba menekan kita, kan?"
Arka berjalan di depan dengan tangan di belakang kepala, kembali ke mode malasnya. "Hah? Apa? Oh, yang tadi itu? Aku cuma pikir dia ingin pamer kalau dia punya sihir pendingin ruangan yang rusak. Jangan dipikirkan."
"Tapi Guru," Elara menyela, matanya menatap Arka dengan penuh selidik. "Komandan Alaric terlihat sangat takut padamu saat agen itu membisikkan sesuatu."
Arka berhenti berjalan, ia berbalik dan menatap ketiga muridnya dengan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan. "Dengarkan baik-baik. Peringkat, emas, dan perhatian ksatria suci... itu semua adalah rantai. Semakin tinggi kalian naik, semakin berat rantainya. Nikmatilah peringkat B kalian, belilah makanan enak, tapi jangan pernah lupa cara memegang pedang saat tidak ada orang yang menonton."
Arka kemudian melanjutkan jalannya sambil bergumam pelan, "Besok kita harus mencari cara agar tidak ada lagi undangan makan malam gratis. Perutku malah sakit makan makanan mahal."
Di kegelapan gang, agen Burung Hantu Perak terus mengawasi. Ia mencatat di bukunya: Subjek Arka tetap berada di peringkat A secara administratif, namun Komandan Alaric telah memberikan pengawasan khusus. Status: Ancaman Level Jingga—Jangan didekati tanpa izin ksatria suci.
Arka tahu dia sedang diikuti, tapi malam ini dia terlalu lelah untuk peduli. Satu hal yang pasti: hidup santainya di Aethelgard baru saja menjadi jauh lebih sulit.