NovelToon NovelToon
Randy Sang Tabib Tampan

Randy Sang Tabib Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Harem / Dokter Ajaib
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: jeffc

Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.

Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.

Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawaran Lima Puluh Juta

“Baik, Pak. Saya akan bicarakan dulu dengan orang tua saya, karena kemampuan yang saya miliki ini adalah ilmu warisan dari buyut,” jawab Randy sopan. “Berarti saya tidak bisa mengambil keputusan sendiri.”

“Baik, Mas Randy, saya paham,” kata Pak Cokro. “Saya tunggu jawabannya. Secepat mungkin.”

Kemudian mereka berjabat tangan dan berpisah. Randy lalu mengendarai motornya dengan setengah melamun. “Kok Pak Cokro bisa tahu kemampuanku ini ya? Siapa yang kasih tahu?”

Saat makan malam, Randy minta pendapat pada papanya tentang penawaran bisnis dari Pak Cokro tadi.

“Bagaimana kakimu, Rand?” tanya papanya Randy sambil menyendok nasi.

“Sudah baikan, Pa,” jawab Randy. “Sudah nggak sakit lagi, tapi masih pincang.”

“Digosok pakai arak China aja,” timpal papanya Randy.

“Nggak tahan panasnya, Pa,” kata Randy.

“Bilang aja biar banyak cewek yang merhatiin kalau kamu masih pincang,” tukas mamanya sambil tersenyum. “Mirip modus papamu dulu waktu muda.”

“Jangan gitu dong, Ma,” kata papa Randy terkekeh. “Mama jadi sama papa kan berkat modus papa pura-pura pincang dulu.”

“Aduh Mama, Papa, ini Randy bener-bener pincang,” kata Randy sambil tertawa. “Nostalgia SMA jangan diungkit-ungkit di sini dong, lagian modus jadul itu.”

Mamanya Randy tertawa kecil mendengar protes Randy.

“Oh ya, Pa, tadi ada orang namanya Pak Cokro, ngakunya businessman, ngajak kenalan sama Randy,” kata Randy lalu minum seteguk air putih. “Katanya ngajak bisnis.”

“Bisnis apa itu?” tanya papa Randy antusias dan melepas kacamata yang dipakainya.

“Nggak tahu dari mana Pak Cokro bisa tahu Randy punya kemampuan bisa nyembuhin berbagai penyakit,” kata Randy. “Pak Cokro mau investasi mendirikan klinik buat Randy.”

“Terus?” kata papanya Randy. Mamanya Randy juga terlihat tertarik dengan cerita Randy dan segera berhenti makan agar fokus mendengar cerita Randy.

“Katanya dia garansi pendapatan Randy lima puluh juta di bulan-bulan pertama,” kata Randy bersemangat cerita. “Bulan-bulan berikutnya bisa lebih dari itu kalau kliniknya semakin maju.”

Papanya Randy tampak terdiam memikirkan sesuatu.

“Pa, menurut papa bagaimana enaknya?” tanya Randy.

“Pertama, papa khawatir kemampuanmu akan musnah kalau kamu mengomersialkan kemampuanmu,” jawab papanya Randy. Mamanya Randy tampak manggut-manggut.

“Kedua, papa kok curiga sama Pak Cokro itu,” kata papa Randy dengan lebih serius. “Lima puluh juta, empuk sekali tawarannya.”

“Iya, Rand,” mama Randy menambahi. “Too good to be true kayaknya.”

“Berarti tolak aja, Pa?” tanya Randy.

“Kapan kamu janji ketemu lagi dengan Pak Cokro itu?” tanya papanya Randy. “Kamu ajak papa, biar papa yang bicara.”

“Terima kasih, Pa. Dia bilang anytime sih, Pa,” jawab Randy. “Tergantung waktu senggang kita.”

“Hari Minggu aja. Papa libur, kamu juga libur, kan?”

“Baik, Pa,” kata Randy lalu melanjutkan makan.

Randy berharap kakek buyutnya, Ki Suromenggolo, hadir menemuinya lagi dalam mimpi, untuk memberikan petunjuk tentang penawaran Pak Cokro itu. Tawaran itu sangat menggiurkan, tapi kalau kemampuan warisan itu musnah karena dikomersialisasi, ya Randy nggak mau jugalah.

Yang kedua soal ketakutan papanya bahwa Pak Cokro tidak jujur. Kok rasanya Randy nggak percaya. Dari omongan dan penampilannya kayaknya meyakinkan kok. Tapi entahlah, biarkan saja papanya yang menilai, dia lebih punya banyak asam garam tentang soal beginian.

Malam itu Randy tidur nyenyak, tapi Ki Suromenggolo yang diharapkan hadir dalam mimpinya itu tidak muncul sampai pagi, saat Randy bangun.

Dia kemudian menyalakan HP-nya. Ada beberapa pesan, kebanyakan dari cewek-cewek yang menanyakan kondisi kakinya. Salah satunya dari Rona, “Bagaimana Rand, kondisi kakinya?”

Mood Randy belum terkumpul untuk membalas pesan kepada cewek-cewek itu.

Setelah agak siangan barulah dia membalas pesan dari Rona, “Udah baikan, udah nggak sakit lagi, cuma masih agak pincang.” Lalu dia copy pesan itu buat balas pesan-pesan yang lain supaya nggak usah ngetik balasan lagi.

Dan ia melihat, rupanya ada catatan misscall dari Pak Cokro beberapa kali, sekitar jam dua pagi. Bukan waktu yang lazim untuk menelepon, tapi ya sudahlah, Randy nggak mau berprasangka buruk soal itu.

“Ih, ditanya besok ke kampus jam berapa, jawabnya ‘masih pincang’. Nglindur ya?” kata Tatia membalas jawaban pesan dari Randy yang asal copas saja itu barusan.

Balas Randy, “Oh, sorry, sorry Tat. Hari ini aku kuliah jam sepuluh, paling jam sembilan sudah sampai kampus, biasa nongkrong dulu.”

“Dasar ganteng-ganteng tukang nglindur,” jawab pesan Tatia, yang hanya dijawab Randy dengan emoticon meleletkan lidah.

Setelah itu Randy bersiap-siap berangkat ke kampus.

Di tengah perjalanan ke kampus, Pak Cokro telepon lagi, namun Randy tak mengangkatnya. Sesampainya di kantin kampus, Randy mengirim pesan ke Pak Cokro:

“Maaf Pak, saya tadi sedang dalam perjalanan ke kampus, dan sekarang sudah mau kuliah. Nanti sore sesudah kuliah saya akan telepon Bapak.”

Tiba-tiba Tatia sudah duduk di depan Randy, entah datang dari mana dia, sambil membawa balsem.

“Nih, aku beliin balsem barusan, siapa tahu bisa membantu,” kata Tatia. “Dan ini balsem hangat aja loh, bukan balsem yang panas banget kayak waktu itu kamu kasih aku.”

“Nggak usah, Tat,” tampik Randy. “Sudah ada balsem kok.”

“Ya buat cadangan aja, kalau balsem kamu habis,” desak Tatia.

“Terima kasih ya,” kata Randy. “Gantinya apa? Mau makan soto, atau es kelapa muda?”

“Nggak usah, aku barusan makan di rumah kok,” jawab Tatia. “Dan aku barusan beli air mineral.”

Lalu tiba-tiba Helen masuk kantin. Melihat Randy duduk berduaan dengan Tatia, Helen mengurungkan niatnya masuk ke kantin dan balik kembali ke kelasnya.

Randy melihat kejadian itu, dengan terpincang dia mengejar Helen.

“Len, aku nggak ada apa-apa sama Tatia kok,” kata Randy. “Kita ngobrol aja samaan.”

“Nggak apa-apa kok, tiba-tiba aku ingat ada sesuatu yang harus aku kerjain di kelas,” jawab Helen bohong.

“Ngapain sih? Merusak suasana aja lu, Len,” gumam Tatia sendiri sambil tetap duduk di kursi kantin dan minum air mineralnya.

“Udah dulu ya, Tat,” kata Randy. “Kuliah udah mau mulai nih.”

Randy lalu berjalan dengan agak terpincang menuju kelas tempat kuliahnya.

“Habis nginjek tahi ayam lu, Rand?” canda Ratno sambil ketawa.

“Maksud lu?” tanya Randy sambil bengong.

“Habis jalannya pincang gitu,” jawab Ratno sambil tertawa terbahak-bahak, dan disambut tawa teman yang lain.

“Ngehe lu, Rat. Sakit beneran malah diledekin,” kata Randy sambil tersenyum kecut.

Sepulang kuliah, Randy langsung pulang ke rumah. Sekitar setengah jam kemudian dia sampai rumah dan langsung mengeluarkan ponselnya hendak menelpon Pak Cokro.

Tapi dia ragu sejenak, karena curiga. Kok Pak Cokro getol amat nelpon dia jam dua pagi dan beberapa kali menelpon dia seharian ini?

Siapa sebenarnya Pak Cokro ini? Perlu ditelepon nggak ya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!