NovelToon NovelToon
CINTA DI TEPI DOSA

CINTA DI TEPI DOSA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Balas Dendam
Popularitas:640
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

Sesampainya di mal, mereka bertiga turun dari mobil dan mulai berjalan masuk. Mata Putri langsung berbinar ketika melihat keramaian. "Wah, ramai banget di sini!" serunya dengan antusias. Zira tersenyum lalu menimpali, "Iya, Put. Mall ini memang selalu penuh. Yuk, kita cari oleh-oleh dulu." Dia menggandeng tangan Putri dengan lembut. Sementara itu, Nathan yang berjalan di sebelah mereka berkata, "Kita langsung ke lantai atas aja, di sana banyak toko oleh-oleh." Tangannya menunjuk ke arah eskalator.

"Siap, Boss," balas Putri dengan nada bercanda. Lalu dia berbisik pada Zira, "Mba, nanti mampir ke toko gamis juga ya? Mumpung jalan bareng Bang Nathan, kita manfaatin momen langka ini buat habisin uangnya." Zira tertawa kecil dan menjawab, "Siap, adikku tersayang." Melihat interaksi mereka yang penuh keusilan, Nathan hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum.

Setelah selesai membeli oleh-oleh untuk dibawa ke Jakarta, mereka bertiga melanjutkan langkah ke sebuah toko gamis terkenal. Putri tak bisa menyembunyikan kegembiraannya begitu melihat koleksi pakaian di dalam toko. "Mba, ini sih surga perempuan! Bagus-bagus banget, rasanya pengin beli semuanya," katanya sambil memandangi deretan gamis dengan antusias.

"Kamu pilih aja yang kamu suka, Put," ujar Zira sambil tersenyum lembut. Nathan ikut menimpali, "Sayang, kamu juga pilih kalau ada yang kamu mau beli." Tapi Zira menggeleng kecil. "Di rumah gamisku sudah banyak banget, mas. Tapi nggak apa-apa deh, aku beli buat nambah koleksi." Dia pun beranjak menghampiri Putri yang masih sibuk memilih.

Nathan berdiri di belakang mereka dengan sabar, menyerupai seorang bodyguard. Sambil tertawa kecil, dia bergumam pelan, "Perempuan kalau udah di tempat belanja pasti lupa waktu." Ia kemudian menyusul Zira dan Putri yang terlihat asyik mendiskusikan pilihan gamis.

"Mba, menurutmu yang ini bagus nggak? Atau yang ini?" tanya Putri dengan nada bingung sambil memegang dua gamis berbeda. Zira tersenyum dan menjawab ringan, "Kamu ambil dua-duanya aja kalau bingung. Ya kan, Mas?" Nathan menanggapi dengan nada bercanda, "Boleh ambil dua-duanya, tapi uang jajan dari Abang bakal dipotong ya, Put." Putri langsung merengek manja. "Yah Bang, jangan dong."

Zira yang sedikit kesal mendengar candaan suaminya, mencubit pinggang Nathan hingga dia meringis. "Aduh, sakit sayang! Iya deh iya. Abang cuma bercanda kok. Udah lah Put, ambil apa aja yang kamu mau," kata Nathan akhirnya menyerah. Putri berteriak girang, "Yes! Makasih banyak ya, Mba Zira!" Zira hanya tertawa sambil menimpali lembut, "Sama-sama, Dek."

Nathan langsung memasukkan komentar lagi, "Loh kok makasihnya ke Mba-mu sih? Kan Abang yang bayar!" Putri cengengesan sambil menyahut santai, "Kan sama aja Bang." Nathan menghela napas panjang sambil bergumam lelah, "Ya sudahlah..."

Sementara itu, Zira dan Putri terus berkeliling memilih gamis tanpa memedulikan keluhan kecil Nathan yang setia mengikuti mereka dari belakang seperti pengawal pribadi. Setelah beberapa waktu, Putri akhirnya menemukan gamis yang pas di hatinya. "Mba, aku pilih yang ini ya," katanya sambil menunjukkan pilihan terakhirnya.

"Iya dong, Put. Pilih aja apa yang kamu suka," jawab Zira ramah. Nathan pun mengeluarkan dompetnya dan berkata dengan nada datar namun penuh kasih sayang, "Iya deh, Put. Abang yang bayar." Mendengar itu, Putri bersorak penuh semangat, "Waaahh...makasih Bang!" Zira tertawa kecil melihat tingkah adik iparnya dan berkata sambil menggelengkan kepala ringan, "Dasar kamu ini, Put."

Mereka menyelesaikan belanja dengan tawa yang menghiasi hari itu. Nathan mungkin merasa seperti bayangan bagi istrinya dan sang adik ipar sepanjang hari belanja tersebut, tapi senyumnya yang terbit di sudut bibir menunjukkan bahwa ia bahagia.

Setelah selesai berbelanja gamis, mereka bertiga memutuskan untuk berkeliling di mal. Saat melewati sebuah toko pakaian dalam, Putri langsung berseru dengan antusias, mengajak Zira singgah ke sana. "Mba, mampir ke situ yuk, siapa tahu ada yang menarik," kata Putri dengan nada usil. Zira hanya bisa menggeleng melihat tingkah laku adik iparnya, tapi akhirnya setuju. "Kamu ini, ya... Ada-ada saja. Ya sudah, ayok," balas Zira sambil tersenyum. Sementara itu, Nathan yang sudah cukup lelah mengikuti keduanya hanya bisa pasrah dan memilih menunggu di kursi yang disediakan di dekat sana. “Sayang, aku tunggu di sini saja ya, capek banget,” ucapnya lesu. Zira mengangguk. “Oke, mas. Yuk, Putri, kita masuk,” ajaknya.

Saat keduanya hendak masuk toko pakaian dalam, ponsel Zira berdering, terlihat nama sahabatnya, Aliya, di layar. “Bentar ya, Put. Kamu duluan saja masuk, Mba angkat telepon dulu,” kata Zira. “Oke, Mba,” jawab Putri seraya melangkah masuk.

“Assalamualaikum! Ada apa nih? Tumben nelpon,” sapa Zira menjawab telepon.

“Gak ada apa-apa kok. Cuma mau tahu kabar kamu. Kayaknya udah betah banget di ‘penjara suci’ itu ya!” canda Aliya.

“Iya nih! Sejujurnya gak mau pulang sih, tapi kuliah sudah mulai, jadi dua hari lagi aku balik deh,” balas Zira.

“Wah bener ya kamu mau balik? Banyak cerita kamu yang belum sempat kita denger, apalagi aku sama Zita udah penasaran banget nih! Eh, jangan lupa oleh-oleh ya. Kalau bisa sekalian bawa oleh-oleh yang... spesial, misalnya keponakan buat aku sama Zita,” ujar Aliya sambil tertawa menggoda.

“Kamu ini asyik bercanda! Udah dulu ya, aku lanjut belanja dulu. Nanti kita ngobrol lagi. Bye... Assalamualaikum!” ucap Zira menutup panggilan.

“Waalaikumsalam,” balas Aliya.

Setelah selesai berbicara, Zira mendekati Putri yang tampak asyik melihat lingerie di dalam toko. “Mba, menurut kamu ini bagus gak?” tanya Putri sambil menunjukkan lingerie seksi di tangannya. Zira yang terkejut langsung bereaksi spontan. “Astaghfirullah! Dek, kamu ini ada-ada saja!”

“Bagus loh, Mba. Dijamin bang Nathan makin betah di rumah kalau lihat Mba pakai ini,” ujar Putri sambil terkekeh genit. Zira menggelengkan kepala sambil menahan tawa atas kelakuannya. “Hmm... ada benarnya juga sih kamu, Dek. Mba belum punya yang model begini,” ucap Zira sambil tertawa kecil pula. Melihat reaksi kakak iparnya, Putri tertawa semakin keras.

“Dek, kamu itu kebanyakan nonton drakor deh,” goda Zira sambil tersenyum.

Putri yang merasa ‘diserang’ langsung membantah dengan kesal namun lucu. “Ihh, gak ada sangkut-pautnya sama drakorku ya, Mba!” Keduanya tertawa bersama sambil melanjutkan memilih barang. Akhirnya mereka memutuskan membeli satu lingerie untuk Zira dan satu baju tidur untuk Putri.

Begitu selesai berbelanja, mereka menemui Nathan yang sedang menunggu dengan sabar di kursi depan toko. Melihat kedua perempuan itu keluar dari toko, Nathan langsung bertanya dengan nada lelah tapi penuh perhatian, “Sudah selesai belanjanya?”

“Sudah, Bang. Yuk kita makan! Putri laper nih,” jawab Putri seraya menarik tangan kakaknya untuk bergegas.

Nathan menanggapi dengan gurauan. “Aduh Dek Putri ini, bener-bener bikin kantong Abang kering!”

Zira langsung membela adiknya sambil tersenyum tipis. “Udahlah Mas... Gak apa-apa dong? Toh buat nyenengin adiknya sendiri.”

“Iya sih, aku gak masalah asal jangan sampai terlalu boros aja ya. Itu gak baik,” balas Nathan bijak sambil menasihati.

Dengan nada penuh rasa bersalah, Putri berkata, "Iyah Bang, aku minta maaf. Aku janji nggak akan mengulangi lagi." Suaranya terdengar tulus, berusaha mencairkan suasana tegang yang mungkin tercipta. Nathan, yang tak ingin situasi ini menjadi canggung, mencoba mengalihkan perhatian dengan bertanya, "Belanja apa saja sampai lama banget?"

Putri langsung menanggapi, "Hanya beli dua baju tidur dan..." Namun sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, Zira spontan menyela dengan nada manja dan sedikit kelaparan, "Mas, ayo kita makan. Aku sudah lapar banget."

Nathan tidak banyak bicara, hanya mengangguk mengikuti keinginan istrinya. Sementara itu, Putri menyadari bahwa Zira sengaja memotong pembicaraannya. Dia paham betul bahwa mbanya itu tidak ingin percakapannya berlanjut ke topik lingerie yang baru saja ia beli. Tentu saja, Zira merasa hal itu terlalu canggung jika sampai disampaikan di depan suaminya.

Nathan, Zira, dan Putri memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka ke area food court mall untuk menikmati makan malam bersama. Sesampainya di sana, suasana langsung terasa lebih ramai dengan aroma makanan yang menggugah selera. Putri yang tidak bisa menyembunyikan semangatnya segera berseru riang, "Mba, aku mau makan pizza!" Ucapan polosnya membuat Zira tersenyum hangat sambil mengangguk setuju. "Iya, Put, kita makan pizza saja, kayaknya enak," jawab Zira dengan nada lembut yang penuh perhatian. Tidak mau ketinggalan, Nathan ikut menimpali, "Aku juga, pengin banget pizza hari ini!" serunya sambil tersenyum kecil seraya menganggukkan kepala ke arah mereka. Setelah sepakat, bertigalah mereka menuju gerai pizza terdekat untuk memesan. Kini mereka hanya tinggal menunggu makanan siap disajikan.

Tak perlu waktu lama, aroma harum dari pizza yang baru saja keluar dari oven menguar, membuat perut semakin keroncongan. Saat pesanan mereka akhirnya siap, Putri kontan berseru girang, "Wah, pizza-nya sudah datang! Aku udah laper banget!" Zira pun dengan cekatan mengambil loyang pizza dari pelayan sambil berkata ramah, "Iya nih, Put, aku ambil dulu pizzanya ya," sembari memberikan senyum tulus pada adiknya. Nathan yang tak mau ketinggalan segera bangkit dari kursinya. "Aku ambil minum dulu ya," ujarnya lalu menuju ke area minuman untuk mengambil beberapa gelas soda segar. Ketiganya lalu duduk bersama mengelilingi meja dan memulai makan siang dengan penuh antusias.

Mereka menikmati setiap gigitan pizza yang baru saja keluar dari oven, diselingi dengan obrolan santai yang dipenuhi cerita-cerita lucu dan penuh tawa riang. Putri, dengan wajah bersemangat dan suara ceria khasnya, menyatakan, "Mba, pizzanya enak banget! Aku suka banget sama topping-nya." Mendengar itu, Zira tersenyum lembut sambil menjawab, "Iya kan? Aku juga tahu kamu pasti bakal suka. Topping keju mozzarella-nya memang meleleh banget." Nathan yang fokus pada pizzanya hanya bisa menimpali dengan mulut penuh makanan, "Uhmm... iya! Ini sih enak banget!" Tawa kecil kembali mewarnai suasana makan malam mereka. Keakraban di antara mereka bertiga makin terasa hangat saat percakapan ringan terus bergulir hingga akhirnya piring di atas meja bersih tak bersisa.

Setelah perut kenyang dan rasa puas terlihat di wajah masing-masing, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar mall sebagai cara mencerna makanan yang baru saja disantap. Sambil berjalan santai melewati berbagai toko yang berjejer rapi di sepanjang lorong mall, mata Putri berbinar-binar begitu melihat toko buku di kejauhan. "Mba, aku mau ke toko buku! Siapa tahu ada novel favorit aku yang baru," ucapnya penuh semangat sambil menarik tangan Zira dengan lembut. Bukannya keberatan, Zira mengangguk setuju dengan senyum di wajahnya. "Yaudah, kita masuk ke sana aja," jawabnya sambil mengikuti arahan Putri menuju pintu masuk toko buku. Sementara itu, Nathan tampaknya punya rencana lain. Ia menggeleng halus dan berkata ringan, "Aku tunggu di luar aja ya, sekalian cek hape," sebelum melangkah santai menuju sebuah bangku kosong di dekat pintu masuk toko.

Putri yang sudah tak sabar segera menyusuri rak demi rak di dalam toko buku itu. Berbagai novel menarik berderet rapi memenuhi pandangannya seperti lautan cerita yang siap dijelajahi. Setelah beberapa waktu mencari, ia berseru bahagia kepada Zira yang tengah memperhatikan barisan buku lainnya. "Mba! Aku nemu nih novel favorit aku! Akhirnya selesai juga nyarinya," katanya dengan nada penuh kemenangan sambil memegang buku itu erat-erat seperti menemukan harta karun. Zira menghampiri Putri dan memeriksa buku tersebut. Ia pun memberi anggukan setuju sambil berkata lembut, "Bagus nih pilihannya, Put. Aku sekalian cari beberapa buku buat aku sendiri juga." Keduanya lantas melanjutkan berburu buku hingga masing-masing memutuskan membeli beberapa koleksi pilihan.

Setelah beberapa menit, Putri dan Zira melangkah keluar dari toko buku dengan beberapa buku di tangan. Putri berseru dengan penuh semangat, "Aku baru saja membeli novel kesukaanku!" Zira menjawab sambil tersenyum, "Iya, aku juga membeli beberapa buku." Nathan, yang sedang menunggu di luar, memandang mereka dan bertanya sambil menganggukkan kepala, "Sudah selesai?"

"Sudah, Mas. Yuk, kita pulang, kata Zira sambil tersenyum. Makasih banyak ya, abangku sayang, untuk hari ini. Putri benar-benar senang sekali hari ini, "ujar Putri penuh semangat." Iya, sama-sama, Dek. Tapi sayang, kamu gak beliin sesuatu buat Mas?" Nathan bertanya sambil bercanda, namun menyimpan harapan dalam suaranya.

Zira yang asyik berbelanja dengan adik iparnya sampai lupa membelikan sesuatu untuk suaminya sebagai tanda terima kasih. "Itu... Aku... "Zira menjawab dengan nada gugup sebelum Putri cepat-cepat memotong." Mba Zira gak mungkin lupa, kok. Pasti Bang Nathan bakal suka banget sama yang dibeliin Mba Zira buat Bang Nathan, "ucap Putri sambil tertawa kecil.

"Makasih ya, aku kira kamu lupa, jadi kamu beliin apa buat Mas?" tanya Nathan penasaran. "Rahasia dong, Mas. Kalau aku bilang sekarang, nanti bukan kejutan lagi. "Zira tersenyum penuh misteri.

"Yuk, pulang! Putri udah capek banget, "kata Putri sambil menghela napas lelah. Ketiganya pun pulang ke rumah Umi Aisyah dengan tangan penuh bungkusan belanjaan yang mereka beli sepanjang hari itu.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!