NovelToon NovelToon
CINTA DI TEPI DOSA

CINTA DI TEPI DOSA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Beberapa bulan berlalu sejak badai pengkhianatan Hendra mereda. Keadilan telah ditegakkan; Hendra menyusul Clara ke balik jeruji besi dengan dakwaan percobaan pembunuhan berencana dan konspirasi.

Namun, bagi Zira, kemenangan sejati bukanlah melihat musuhnya jatuh, melainkan melihat kehidupan baru yang tumbuh di dalam dirinya.

Detik-Detik yang Menegangkan

Sembilan bulan kemudian, di sebuah rumah sakit bersalin yang tenang, suasana mendadak sibuk. Nathan mondar-mandir di depan ruang persalinan dengan wajah yang lebih pucat daripada saat ia menghadapi Hendra dulu.

"Mas, duduklah. Kamu membuatku pusing," tegur Aryan yang kini sudah bisa berjalan normal tanpa tongkat, meski langkahnya masih sedikit hati-hati.

"Aku tidak bisa, Yan. Suara Zira tadi... dia kesakitan sekali," gumam Nathan, tangannya bergetar hebat.

Tiba-tiba, pintu terbuka. Seorang perawat keluar dengan senyum lebar. "Pak Nathan? Silakan masuk. Putranya sudah lahir."

Nathan hampir tersandung kakinya sendiri saat melangkah masuk. Di atas ranjang, Zira terbaring lemas namun wajahnya memancarkan cahaya yang belum pernah Nathan lihat sebelumnya. Di pelukannya, sesosok bayi mungil terbungkus selimut biru sedang menggeliat pelan.

"Dia mirip sekali denganmu, Mas," bisik Zira haru saat Nathan berlutut di samping tempat tidurnya.

Nathan mencium kening Zira, lalu beralih mencium pipi kecil putranya. "Terima kasih, Zira. Terima kasih sudah berjuang."

*Sebuah Nama, Sebuah Doa*

Mama Sarah yang memberi nama untuk anak sulung zira , Sesuai kesepakatan mereka, bayi itu diberi nama "Arshaka Zaidan Al-Fatih". Nama yang berarti "Arsy yang Mulia", "Keberuntungan", dan "Sang Penakluk".

"Aku ingin dia menaklukkan dunia bukan dengan pedang, tapi dengan ilmu dan kesabaran, seperti ibunya," ujar Nathan bangga saat menggendong Arshaka untuk pertama kalinya di depan keluarga besar.

*Kunjungan Terakhir ke Penjara*

Satu bulan setelah kelahiran Arshaka, Zira memutuskan untuk melakukan satu hal terakhir sebelum ia benar-benar menutup lembaran masa lalunya. Ia mengirimkan sebuah foto cetak melalui Maura ke lembaga pemasyarakatan.

Bukan foto kemewahan, melainkan foto telapak kaki kecil Arshaka yang mungil. Di balik foto itu, Zira menuliskan pesan singkat:

"Dunia ini terlalu sempit untuk dendam, Clara. Anak ini akan tumbuh mengetahui bahwa ibunya pernah disakiti, namun ibunya memilih untuk tetap mencintai.

Aku telah memaafkanmu sepenuhnya. Hiduplah dengan baik setelah masa hukumanmu selesai."

Maura menceritakan bahwa saat menerima foto itu, Clara menangis sesenggukan di pojok selnya. Bukan tangis amarah, melainkan tangis penyesalan yang mendalam.

Sore itu, Zira duduk di balkon rumahnya, memangku Arshaka yang tertidur pulas. Di meja sampingnya, terdapat sebuah buku baru yang baru saja terbit dengan nama pena "Nana".

Judulnya sederhana: "Rahim Kedamaian".

Buku itu meledak di pasaran, menjadi best-seller dalam waktu satu minggu. Isinya bukan lagi tentang luka, melainkan tentang bagaimana seorang wanita menemukan kekuatan dari memaafkan dan bagaimana cinta seorang ibu bisa meruntuhkan tembok kebencian yang paling tebal sekalipun.

Nathan datang dari belakang, menyampirkan syal ke bahu Zira. "Sedang memikirkan ide buku selanjutnya?"

Zira menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya, menatap matahari terbenam yang berwarna jingga keemasan.

"Tidak, Mas. Aku sedang menikmati bab terbaik dalam hidupku yang sedang kita jalani sekarang. Tanpa perlu ditulis, karena Allah sudah menuliskan skenario yang jauh lebih indah dari imajinasiku."

Aryan datang menyusul, membawa dua cangkir teh hangat. Mereka bertiga empat dengan Arshaka duduk bersama, menatap masa depan yang kini terasa begitu lapang dan terang.

"Tiga Tahun Kemudian: "Gema Sang Nana"*

Arshaka tumbuh menjadi balita yang cerdas dan penuh selidik. Matanya yang bulat mewarisi keteduhan Zira, namun ketegasannya sangat mirip dengan Nathan. Di usianya yang ketiga, ia sudah mulai hafal surah-surah pendek, seringkali mengikuti Zira yang kini lebih aktif berdakwah melalui media digital.

"Bunda, kenapa orang itu menangis?" tanya Arshaka kecil suatu sore, sambil menunjuk layar tablet Zira yang sedang menampilkan sesi tanya jawab kajian online.

Zira tersenyum, mengusap kepala putranya. "Karena hatinya sedang merindukan ketenangan, Sayang. Seperti tanaman yang butuh air."

"Kejutan di Ambang Pintu*

Sore itu, sebuah mobil berhenti di depan kediaman mereka. Maura masuk dengan wajah yang sulit diartikan. Ia membawa sebuah buket bunga mawar putih dan sebuah kotak kecil.

"Mbak Zira... ada kiriman. Tapi kali ini bukan dari pembaca," ujar Maura pelan.

Zira membuka kartu ucapannya. Matanya membelalak.

"Hari ini masa hukumanku berakhir. Aku tidak berani menemuimu, tapi aku ingin kamu tahu bahwa foto kaki kecil Arshaka tiga tahun lalu adalah satu-satunya hal yang membuatku bertahan untuk tetap waras di dalam sana. Aku akan pergi ke luar kota, memulai hidup baru sebagai orang biasa. Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk bernapas tanpa beban dendam. — C"

Zira terduduk lemas. Ada rasa lega yang luar biasa menjalar di dadanya. Perang batin yang selama ini ia kunci rapat-rapat benar-benar telah usai. Clara memilih untuk pergi dan memperbaiki diri, bukan membalas lagi.

Sebuah Ujian Keikhlasan Baru

Namun, di tengah kedamaian itu, Nathan datang dengan berita yang cukup mengejutkan dari kantor.

"Zira, Mas Hendra mengajukan permohonan pengampunan atau keringanan hukuman karena kondisi kesehatannya yang memburuk di lapas. Dia menderita gagal ginjal stadium lanjut," ujar Nathan dengan nada berat. "Keluarga besar meminta kita untuk memberikan pernyataan tertulis bahwa kita tidak keberatan jika dia mendapatkan perawatan di luar penjara."

Ruangan mendadak hening. Luka yang ditimbulkan Hendra jauh lebih dalam daripada Clara, karena ia adalah darah daging sendiri yang tega mengincar nyawa adik sepupunya.

Aryan, yang kebetulan sedang berkunjung untuk merayakan kelulusan magisternya, terdiam. Ia menatap bekas luka di kakinya yang terkadang masih linu saat cuaca dingin.

Keputusan Sang "Nana".

Malam itu, Zira dan Nathan berdiskusi panjang.

"Mas, jika kita menolak, kita benar secara hukum. Tapi jika kita memberi izin, apakah itu artinya kita membiarkan kejahatan?" tanya Zira lirih.

Nathan menggenggam tangan istrinya. "Aku menyerahkan keputusan ini padamu dan Aryan. Kalianlah korban langsungnya."

Zira kemudian menatap Aryan. Adiknya itu kini sudah dewasa, sorot matanya tajam namun tenang.

"Mbak," ujar Aryan mantap. "Aku sudah memaafkannya sejak Arshaka lahir. Jika dia sakit, biarlah dia mendapatkan hak pengobatannya. Aku tidak ingin keberkahan keluarga kita terhambat karena kita menahan rasa benci pada orang yang sudah tidak berdaya."

Zira tersenyum bangga. Ia mengambil pena, menuliskan pernyataan di atas materai. Bukan karena Hendra pantas mendapatkannya, tapi karena jiwa mereka pantas untuk bebas dari belenggu masa lalu.

Beberapa minggu kemudian, Zira mengadakan peluncuran buku terakhir dari trilogi "Nana" yang berjudul "Sujud di Atas Luka".

Di barisan paling depan, Nathan menggendong Arshaka yang bertepuk tangan riang. Di sampingnya, Aryan berdiri dengan tegak, seorang pria muda yang berhasil melampaui trauma hebatnya.

Zira berdiri di atas podium, menatap ribuan pembacanya.

"Banyak yang bertanya, bagaimana cara memaafkan yang paling tuntas?" suara Zira menggema, kini lebih berwibawa namun tetap lembut. "Jawabannya bukan dengan melupakan, tapi dengan memastikan bahwa luka itu tidak lagi memiliki kuasa untuk menghentikan langkah kita menuju surga. Kita memaafkan agar kita bisa terbang lebih tinggi."

Saat ia turun dari panggung, Arshaka berlari memeluk kakinya. Nathan mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Zira yang membuatnya tersipu.

"Zira... sepertinya Arshaka butuh adik. Aku baru saja mendapat kabar dari dokter bahwa hasil pemeriksaan rutinmu pagi tadi menunjukkan... garis dua lagi."

Zira tertegun, lalu tertawa kecil dengan air mata bahagia yang mengalir. Kebahagiaan itu terus mengalir, berlipat ganda, membuktikan bahwa setelah kesulitan yang menghimpit, memang selalu ada kemudahan yang luas.

1
Kim Taehyung
lanjut lagi thor, aku menunggu mu... gak sabar dengan kelanjutan cerita ini
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!