NovelToon NovelToon
Kuroda-san No Himitsu

Kuroda-san No Himitsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: virgilius theodoro

menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7

BAB 7: Kembalinya Sang Kaisar Hitam

Malam di Tokyo biasanya dipenuhi oleh cahaya neon yang hiruk-pikuk, namun di depan Hotel Grand Imperial, suasana terasa seolah-olah waktu telah dibekukan oleh es. Seluruh akses jalan menuju hotel bintang enam itu telah ditutup oleh barikade polisi dan keamanan swasta tingkat tinggi. Karpet merah yang membentang dari lobi hingga ke aspal jalanan bukan lagi sekadar penyambutan; itu adalah panggung bagi para penguasa bumi yang akan berpesta di bawah bayang-bayang pernikahan putra Moretti.

Di kejauhan, deru mesin yang sangat presisi membelah kesunyian malam. Lima mobil SUV Cadillac Escalade hitam berlapis baja meluncur dengan formasi tempur, mengapit dua kendaraan yang harganya melampaui imajinasi manusia biasa.

Di barisan depan, sebuah Rolls-Royce La Rose Noire Droptail berwarna merah gelap yang menyerupai darah kering melaju dengan keanggunan yang mistis. Di dalamnya, Maximilian von Hohenzollern duduk seperti seorang raja tua yang sedang meninjau wilayah jajahannya. Namun, perhatian massa dan lensa kamera yang bersembunyi di balik barikade justru tertuju pada kendaraan di belakangnya.

Sebuah Bugatti La Voiture Noire. Mobil paling mahal dan langka di planet ini, sebuah monster berbahan serat karbon hitam pekat yang tampak menelan cahaya di sekitarnya. Di balik kemudi, bukan seorang supir pribadi, melainkan Aurelius Renzo sendiri. Ia mencengkeram kemudi kulit itu dengan sarung tangan mengemudi hitam, matanya menatap lurus ke depan dengan fokus yang mematikan. Mesin W16-nya mengeluarkan raungan rendah yang menggetarkan kaca-kaca gedung di sekitarnya saat ia menghentikan mobil tepat di depan pintu utama.

Pintu Bugatti terbuka ke atas secara perlahan.

Aurelius melangkah keluar. Dunianya bukan lagi bengkel Ota yang berdebu. Ia mengenakan kemeja hitam berbahan sutra Italia yang kancing kerahnya tertutup rapat, dipadukan dengan setelan jas tiga potong hitam yang dipotong begitu tajam hingga tampak seperti zirah. Mantel panjang wol hitam tersampir di bahu lebarnya, memberikan siluet yang menjulang dan mengintimidasi. Rambut wolf cut-nya, yang biasanya berantakan terkena keringat mekanik, kini disisir ke belakang dengan gaya yang sangat maskulin, memperlihatkan dahi dan garis rahang yang keras.

Di saat yang sama, Maximilian keluar dari Rolls-Royce-nya. Sang Ayah mengenakan kemeja putih kaku dengan rompi jas hitam, mantel hitam tersampir di bahu, dan tangan kanannya menggenggam tongkat kayu hitam berkepala perak berbentuk elang. Ayah dan anak itu berdiri berdampingan di tangga marmer. Aura yang mereka keluarkan begitu dingin, begitu mendominasi, hingga para wartawan dan tamu undangan yang berdiri di lobi mendadak kehilangan suara.

"Itu dia..." bisikan mulai menjalar seperti api di padang rumput kering. "Aurelius Renzo. Sang Pewaris Hantu."

"Dia jauh lebih mengerikan daripada foto-foto masa kecilnya..."

Aurelius tidak menoleh. Ia tidak tersenyum. Ia tidak memberikan anggukan basa-basi. Matanya yang berwarna gelap menatap kosong ke depan, melewati kerumunan manusia yang ia anggap tak lebih dari sekadar angka-angka dalam buku besar. Setiap langkah yang ia ambil bersama ayahnya menciptakan tekanan atmosfer yang membuat orang-orang secara naluriah mundur, memberikan jalan seluas mungkin bagi dinasti Hohenzollern.

Di dalam aula Grand Ballroom yang luas, pernikahan Moretti telah dimulai, namun kehadiran keluarga Hohenzollern seketika menenggelamkan pengantin di atas pelaminan. Di pojok ruangan, di antara deretan tamu elit Jepang, Hana Asuka berdiri dengan gaun malam berwarna biru safir yang indah. Di sampingnya, Kaito Shimada berdiri dengan angkuh, memegang gelas sampanye seolah-olah dialah orang paling penting di ruangan itu.

"Hana, lihat!" Kaito menyenggol lengan Hana dengan kasar, matanya berbinar karena ambisi. "Itu Maximilian! Dan pria di sampingnya... itu pasti Aurelius Renzo! Kita harus menyapanya sekarang. Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup untuk beraliansi dengan nomor satu."

Hana mendongak. Jantungnya seolah berhenti berdetak.

Ia melihat siluet pria itu. Bahu lebar itu. Cara dia melangkah. Dan saat pria itu semakin dekat ke arah pusat aula, cahaya lampu kristal mengenai wajahnya dengan jelas. Hana merasakan lututnya melemas. Gelas di tangannya bergetar hebat hingga airnya hampir tumpah.

Ren?

Pikiran Hana kacau. Pria yang berdiri di sana—pria yang dikawal oleh pasukan keamanan, pria yang mengenakan pakaian bernilai jutaan dolar, pria yang sedang ditatap dengan penuh ketakutan oleh seluruh pengusaha dunia—adalah pria yang sama yang memberinya teh hangat di bengkel kotor Ota. Pria yang sama yang memiliki tutur kata lembut dan sopan.

Namun, pria di depannya ini tidak terlihat seperti Ren yang ia kenal.

"Tuan Maximilian! Tuan Aurelius!" Kaito melangkah maju dengan percaya diri yang dipaksakan, menarik Hana bersamanya. Kaito membungkuk dalam, sebuah gerakan yang sangat menjilat. "Saya Kaito Shimada, pewaris Shimada Global. Ini adalah tunangan saya, Hana Asuka. Suatu kehormatan yang tak terhingga bisa bertemu dengan Anda berdua di sini."

Hana berdiri mematung. Matanya menatap lurus ke arah Aurelius, mencari secercah pengakuan, secercah kelembutan yang ia temukan beberapa hari lalu. "Ren-san..." bisiknya pelan, nyaris tak terdengar di tengah kebisingan musik orkestra.

Aurelius menghentikan langkahnya tepat di depan Kaito dan Hana. Ia berdiri dengan tangan di saku celana, mantel hitamnya masih menggantung dengan sempurna di bahu. Ia menoleh perlahan ke arah Hana.

Tatapan itu... Hana merasa seperti ditikam oleh belati es.

Tidak ada kehangatan. Tidak ada sopan santun. Tidak ada tatapan teduh seorang mekanik yang khawatir melihat memar di pipinya. Yang ada hanyalah tatapan seorang predator yang sedang melihat mangsa kecil yang tidak berarti.

"Siapa kau?" Suara Aurelius keluar. Dingin. Berat. Sangat mengintimidasi.

Kaito tertawa canggung, mengira Aurelius hanya sedang bersikap sombong sebagai orang terkaya dunia. "Ah, maafkan saya, Tuan Aurelius. Ini Hana Asuka. Dia adalah putri dari Asuka Group. Kami baru saja mendengar kabar bahwa perusahaan Anda tertarik bekerja sama dengan keluarga kami—"

"Aku tidak bicara padamu, Shimada," potong Aurelius tanpa mengalihkan matanya dari Hana. Setiap kata yang keluar dari mulutnya tidak lagi menggunakan bahasa formal Keigo yang sopan. Ia menggunakan nada bicara seorang penguasa kepada bawahannya. "Aku bertanya pada wanita ini. Berhenti menatapku seolah-olah kau mengenalku, Nona Asuka. Itu sangat tidak sopan."

Hana merasa dunianya hancur berkeping-keping. "Ren-san... ini aku. Kenapa kau—"

"Namaku Aurelius Renzo von Hohenzollern," Aurelius memotong dengan suara yang lebih keras, cukup untuk membuat tamu di sekitar mereka menoleh. "Jangan pernah menyebut nama rendahan itu di depanku. Kau hanyalah putri dari sebuah perusahaan kecil yang sedang sekarat. Jangan berpikir karena kita berada di ruangan yang sama, kau memiliki hak untuk bersikap akrab denganku."

Maximilian, yang berdiri di samping putranya, tersenyum tipis. Ia tampak puas melihat kedinginan Aurelius. "Aurelius, jangan terlalu kasar pada mereka. Mereka hanya semut yang mencoba mencari perlindungan di bawah kaki kita."

Kaito tercengang. Ia menatap Hana, lalu menatap Aurelius. Ada kecurigaan yang mulai tumbuh di kepalanya, namun ketakutannya pada kekuasaan Hohenzollern jauh lebih besar. "Maafkan tunangan saya, Tuan Aurelius! Dia mungkin sedang kelelahan. Hana, minta maaf sekarang!" Kaito menekan bahu Hana dengan keras, memaksanya menunduk.

Hana merasakan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Rasa sakit di bahunya akibat tekanan tangan Kaito tidak seberapa dibandingkan dengan rasa hancur di hatinya melihat Ren—pria yang ia anggap sebagai satu-satunya pelindungnya—menatapnya dengan kebencian yang begitu murni.

Aurelius menatap tangan Kaito yang mencengkeram bahu Hana. Untuk sekejap, hanya satu detik, otot rahangnya mengencang. Namun, ia segera menekan emosi itu kembali ke dasar jiwanya. Ia harus melakukan ini. Ia harus menghancurkan Hana di depan umum agar Maximilian tidak menganggap Hana sebagai kelemahannya, dan agar Kaito tidak mencurigai hubungan mereka lebih jauh.

"Bawa dia pergi dari hadapanku, Shimada," ucap Aurelius datar. "Aroma putus asanya merusak rasa sampanyeku. Dan ingat apa yang kukatakan pada ayahmu semalam. Jaga tanganmu, atau kau akan kehilangan lebih dari sekadar kontrak bisnis."

Aurelius berbalik, berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Maximilian mengikutinya dengan tawa kecil yang menghina.

Hana berdiri terpaku di tengah aula. Ia melihat punggung lebar itu menjauh. Mantel hitam yang menggantung di bahu Aurelius tampak seperti sayap malaikat maut yang baru saja mencabut nyawanya. Pria itu bukan Ren. Pria itu adalah Aurelius. Seorang monster yang menggunakan wajah pria yang ia cintai.

"Kau memalukan sekali, Hana!" bisik Kaito dengan amarah tertahan setelah keluarga Hohenzollern menjauh. "Apa yang kau lakukan? 'Ren-san'? Siapa Ren? Kau hampir menghancurkan kesepakatan triliunan yen!"

Hana tidak menjawab. Ia hanya menatap tangannya sendiri yang gemetar. Ia menyadari satu hal: Bengkel di Ota telah mati. Pria yang memberinya teh hangat telah mati. Yang tersisa hanyalah kaisar kejam yang sedang bermain catur dengan nyawa semua orang di ruangan ini.

Sementara itu, di sisi lain aula, Aurelius berdiri di balkon yang sepi, jauh dari kerumunan. Ia menyalakan cerutu, tangannya yang memegang korek api bergetar sangat halus.

"Kau melakukannya dengan baik, Kak," suara Elara terdengar dari balik bayangan. Ia dan Julian mendekat, wajah mereka masih penuh kecemasan. "Tapi melihat mata Nona Hana tadi... itu sangat kejam. Kau benar-benar menghancurkannya."

Aurelius mengembuskan asap cerutunya ke langit malam Tokyo. Matanya menatap hotel di seberang jalan, tempat ia tahu Kaito akan membawa Hana menginap malam ini. "Aku harus menghancurkannya," suara Aurelius kembali menjadi suara Ren yang lembut, namun penuh penderitaan. "Karena jika Ayah melihat aku mencintainya, dia akan membunuh Hana sebelum matahari terbit. Aku lebih baik dibenci olehnya daripada melihatnya mati di tangan keluargaku sendiri."

"Tapi Kak, Kaito akan menyiksanya setelah ini karena kau menghinanya di depan umum," Julian mengingatkan.

Aurelius mematikan cerutunya di pagar balkon dengan tekanan yang kuat hingga cerutu itu hancur. "Biarkan Kaito mencoba. Julian, jalankan fase sabotase ekonomi Shimada sekarang juga. Malam ini, saat Kaito merasa paling berkuasa atas Hana, aku ingin dia menerima kabar bahwa seluruh saham keluarganya sedang terjun bebas menuju kehancuran. Aku akan menunjukkan padanya... apa yang terjadi ketika seekor tikus mencoba mengancam milik seorang kaisar."

Aura dingin Aurelius kembali menguat. Ia merapikan mantelnya, berbalik, dan kembali ke dalam aula dengan wajah topeng yang tak tertembus. Pesta baru saja dimulai, dan darah keluarga Shimada akan menjadi sajian utamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!