Di kehidupan sebelumnya, Arga Bimantara adalah pria malang yang terjebak dalam jerat cinta buta kepada Tiara. Namun, pengabdiannya hanya dibalas pengkhianatan. Ia harus melihat kedua orang tuanya meninggal dalam kemiskinan dan kehinaan, sementara dirinya sendiri habis dikuras sebagai "sapi perah" oleh keluarga Tiara yang parasit. Arga mati dalam penyesalan mendalam, menyia-nyiakan hidup tanpa sisa.
Tak disangka, takdir memberinya kesempatan kedua. Arga terlempar kembali ke tahun 2000—titik awal di mana segalanya masih bisa diperbaiki.
Kali ini, Arga tidak akan lagi menjadi "si penjilat" yang lemah. Dengan ingatan masa depan dan modal miliaran rupiah dari keberuntungan yang ia rebut, ia memulai langkah pertamanya dengan satu tindakan tegas: Memutuskan hubungan dengan Tiara dan menghancurkan skema licik keluarga wanita itu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Manajer restoran, Pak Hendra, jelas mengenal Yuda. Ia segera meminta maaf, "Tuan Yuda, mohon tenang."
Setelah itu, ia menoleh ke arah Arga dan Sherly dan bertanya, "Apakah kalian benar-benar memukul seseorang?"
"Apa Anda bodoh?" bentak Yuda. "Tiara melihatnya dengan mata kepala sendiri, dan Anda masih bertanya?"
Wajah manajer restoran langsung mengeras. Restoran Cakrawala adalah tempat kelas atas. Jika terjadi perkelahian, reputasi mereka akan tercoreng. Terlebih lagi, pihak yang terlibat mengaku sebagai anggota platinum.
Manajer itu segera berkata kepada Yuda, "Tuan Yuda, apa yang ingin Anda lakukan terhadap mereka?"
Dengan senyum kejam, Yuda menjawab, "Aku ingin mereka berdua berlutut dan meminta maaf kepadaku di sini juga!"
"Baik!" Hendra menoleh ke arah Arga dengan nada tegas, "Kalian berdua dengar itu? Segera berlutut dan minta maaf kepada Tuan Yuda! Jika tidak, saya akan panggil keamanan dan menyerahkan kalian ke polisi!"
"Jika sampai ke polisi, kalian akan punya catatan kriminal!" ancam Tiara puas.
"Bagaimana jika aku tidak mau?" ujar Arga dingin.
"Mau dipaksa?" Hendra melambaikan tangan, dan lebih dari sepuluh petugas keamanan segera mengepung mereka.
Sherly mulai panik. Ia menggenggam ponselnya erat-erat, siap menelepon ayahnya, Rendra Gunawan, kapan saja jika keadaan memburuk. Beberapa petugas keamanan bertampang garang semakin mendekat. Arga menarik Sherly lebih dekat ke belakangnya dan berbisik, "Tetap di belakangku. Jangan bergerak."
Dengan suara gemetar, Sherly berkata, "Tidak... apakah sebaiknya aku telepon Ayah saja?"
"Serang!" tiba-tiba manajer itu berteriak keras.
Lebih dari sepuluh petugas keamanan menerjang ke arah Arga.
"Hentikan! Aku ingin melihat siapa yang berani menyentuhnya!"
Pada saat itu, sebuah suara menggelegar penuh amarah terdengar dari arah pintu masuk. Semua orang tertegun dan menoleh ke arah suara itu. Tampak seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal, melangkah cepat dengan wajah murka—auranya sangat menekan. Pria itu tak lain adalah Hadi Setiawan, Direktur Utama Bank Semarang.
Orang yang datang tidak lain adalah Hadi Setiawan.
Begitu melangkah masuk, Hadi langsung melihat pemandangan para petugas keamanan yang tengah mengepung Arga. Pada saat itu, napasnya memburu—cukup untuk membayangkan betapa paniknya dia.
Ketika Hendra melihat Hadi datang, ia sedikit terkejut. Secara nominal, restoran ini memang dikelola oleh kerabat Hadi, namun semua orang yang bekerja di sini tahu bahwa sosok paling berpengaruh di balik jaringan bisnis ini adalah Hadi Setiawan.
Amarah di dada Hadi hampir meledak. Ia bergegas maju dan menendang petugas keamanan di samping Arga hingga terjatuh ke lantai.
“Pergi kalian!”
Melihat hal itu, keringat dingin langsung mengalir di dahi Hendra. Ia buru-buru menyapa dengan suara bergetar, “Pak Hadi, mengapa Bapak mendadak datang ke sini?”
“Mengapa aku datang?” Hadi melotot marah. “Kalau aku tidak datang sekarang, kalian sudah membuat kekacauan besar!”
Setelah memarahi Hendra, Hadi menoleh ke arah Arga dan Sherly. Wajahnya seketika berubah penuh rasa bersalah dan hormat saat ia bertanya, “Nak Arga, Non Sherly, apakah kalian baik-baik saja?”
Boom!
Begitu melihat Hadi Setiawan bersikap begitu hormat kepada Arga:
Hendra si manajer terperangah!
Para petugas keamanan terpaku!
Yuda Perdana dan Tiara membeku di tempat seperti disambar petir!
Para petugas keamanan mulai memaki dalam hati. Dari nada bicara dan sikap Direktur Utama Bank Semarang itu, jelas bahwa pemuda ini memiliki latar belakang yang luar biasa!
Arga menggeleng pelan, menandakan bahwa ia tidak apa-apa. Namun Hadi langsung berbalik dan, tanpa sepatah kata pun, menampar Hendra dengan keras.
“Matamu buta?!” bentaknya. “Nak Arga adalah tamu kehormatanku! Siapa yang memberimu keberanian untuk mengancamnya, hah?!”
Teriakan Hadi membuat Hendra hampir kehilangan akal. Ia segera menjelaskan seluruh kejadian sambil berusaha melempar kesalahan kepada Yuda Perdana.
Hadi menoleh menatap Yuda. Saat itu, Yuda merasa seperti sedang menunggu vonis mati. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Arga benar-benar mengenal petinggi bank tersebut! Tak ada pilihan lain, Yuda maju dengan senyum kaku yang gemetar.
“P-Pak Hadi… ini hanya kesalahpahaman… semuanya salah paham…”
“Kesalahpahaman?” Hadi melotot tajam. Ia langsung mengeluarkan ponselnya dan menelepon kantornya di tempat. “Batalkan semua pengajuan kredit atas nama Yuda Perdana sekarang juga! Tarik kembali semua pinjamannya!”
Wajah Yuda langsung pucat pasi. Ia memohon dengan suara bergetar, “Pak Hadi, mohon belas kasihnya! Semua ini gara-gara wanita ini!”
Tiara pun buru-buru berkata dengan histeris, “Pak Hadi, Anda pasti ditipu oleh Arga! Dia ini orang miskin! Orang tuanya cuma orang kampung, dia tidak punya apa-apa, bahkan tidak sanggup bayar mahar saya!”
“Bawa mereka keluar!” perintah Hadi dingin. “Seret dan lempar mereka dari sini!”
Lebih dari sepuluh petugas keamanan langsung bergerak. Yuda dan Tiara diseret keluar dari restoran dengan tidak hormat, menjadi tontonan memalukan bagi pengunjung lain.
Setelah itu, Hadi kembali menoleh ke Arga. “Nak Arga, bagaimana Anda ingin menangani orang-orang restoran ini?”
Hendra dan para petugas keamanan menatap Arga dengan wajah pucat, penuh ketakutan.
“Hanya kesalahpahaman,” ujar Arga tenang. “Biarkan mereka kembali bekerja.”
“Baik!” teriak Hadi. “Kalian semua, enyah dari sini!”
Hadi kemudian memberikan instruksi khusus. Tak lama kemudian, suasana restoran dibuat lebih privat. Hadi lalu mengeluarkan sebuah kartu emas dan meletakkannya di hadapan Arga sambil tersenyum.
“Nak Arga, terima kasih atas bantuan Anda yang tiada tara. Ini adalah Kartu Keanggotaan VIP Berlian Restoran Cakrawala. Di seluruh Semarang, hanya ada segelintir orang yang memilikinya. Mulai sekarang, Anda dan keluarga dapat makan di sini secara gratis selamanya.”
Arga mengangguk dan menerimanya dengan santai, lalu berkata dengan nada datar, “Baik, saya terima. Mulai sekarang, kita impas.”
Ucapan itu disengaja. Arga ingin Hadi merasa bahwa dirinya adalah seorang ahli sejati—seseorang yang tidak butuh menjilat orang berkuasa. Benar saja, Hadi justru semakin kagum. Jika orang lain pasti akan menjilatnya sebagai kepala bank, Arga justru tampak enggan memiliki keterkaitan kepentingan. Ini artinya, Arga benar-benar memiliki kemampuan nyata.
Menahan kegugupan, Hadi tersenyum rendah hati. “Nak Arga, bisakah Anda memberi petunjuk sedikit lagi tentang nasib saya ke depan?”
Arga menyesap tehnya dengan santai. “Jika Anda tidak bertemu dengan saya, dalam tiga tahun Anda akan dikhianati orang terdekat, mengalami kecelakaan maut, dan hancur selamanya. Itulah bencana besar Anda.”
Keringat dingin mengucur di dahi Hadi. “Namun,” lanjut Arga, “Anda bertemu orang mulia yang membantu Anda melewati masa kritis. Setelah ini, karier Anda akan meroket, setiap langkah Anda akan membawa keberuntungan besar.”
Tubuh Hadi bergetar karena emosi. Ia berterima kasih berkali-kali sebelum akhirnya pamit pergi.
Sherly bertanya dengan rasa ingin tahu, “Apa sebenarnya yang sudah kamu lakukan untuk Pak Hadi? Mengapa dia begitu segan padamu?”