NovelToon NovelToon
Enam Serangkai

Enam Serangkai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Action
Popularitas:837
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemenangan yang "beracun" dan suara dari masa lalu

Suasana di belakang panggung Jakarta Convention Center terasa seperti di dalam oven. Eno Surya masih meringis sambil mengipasi tangannya yang merah, sementara Rhea Amara sibuk mengoleskan salep yang ia beli dari apotek hotel.

"Sakit sih, tapi lihat deh wajah orang-orang Global Eco-Tech tadi. Kayak habis nelan baut berkarat!" celetuk Eno, masih sempat-sempatnya pamer gigi di tengah rasa perih.

"Diem dulu, No! Jangan banyak gerak, ntar salepnya belepotan ke mana-mana," omel Rhea, meski nadanya jauh lebih lembut dari biasanya.

Bagas Putra dan Dewi Laras berdiri di dekat tirai, mengintip ke arah auditorium di mana dewan juri sedang berdiskusi sengit. Di sana, Profesor Wijaya tampak berdebat dengan dua juri lain yang tampaknya lebih pro-korporasi.

"Gue rasa kita dapet juara, Gas," bisik Laras. "Tapi gue takut sama harganya."

"Maksud lo?"

"Global Eco-Tech itu cuma satu tangan. Bapak gue punya banyak tangan lain. Kemenangan ini bakal bikin kita jadi sorotan, dan sorotan itu bisa jadi perlindungan, atau malah jadi target baru," jawab Laras cemas.

Beberapa saat kemudian, MC naik ke panggung dengan amplop emas di tangannya. Jantung mereka berenam seolah berhenti berdetak serentak.

"Dan juara pertama National Youth Innovation Challenge 2026, dengan inovasi paling aplikatif untuk masyarakat... jatuh kepada... TIM RESIMEN HIJAU!"

Gedung itu pecah oleh sorak-sorai. Juna Pratama hampir menjatuhkan laptopnya, sementara Gia Kirana yang biasanya kaku langsung memeluk Rhea. Mereka naik ke panggung, menerima trofi dan cek simbolis senilai seratus juta rupiah.

Tujuh puluh dua juta untuk UKT sudah di tangan. Sisanya? Cukup untuk makan enak dan memperbaiki garasi Juna.

Namun, euforia itu hanya bertahan tiga puluh menit. Saat mereka sedang merapikan mesin di area loading dock, seorang pria paruh baya dengan setelan safari rapi menghampiri mereka. Dia bukan dari Global Eco-Tech. Dia memperkenalkan diri sebagai Pak Haris, konsultan senior dari sebuah yayasan milik pemerintah.

"Selamat atas kemenangannya," kata Pak Haris dengan senyum yang terasa terlalu sempurna. "Kami sangat tertarik untuk memproduksi massal mesin kalian. Kami tawarkan kontrak senilai satu miliar rupiah untuk hak paten eksklusif 'Resimen Hijau'."

Satu miliar. Angka itu membuat Eno hampir tersedak air mineralnya.

"Satu miliar?" Juna mengulangi, matanya berbinar. "Itu bisa buat kita buka bengkel beneran!"

"Tapi ada syaratnya," lanjut Pak Haris. "Seluruh pengembangan harus dilakukan di bawah pengawasan kami, dan tim kalian harus setuju untuk tidak mempublikasikan detail algoritma sensor pH yang kalian temukan ke pihak mana pun, termasuk universitas kalian."

Gia langsung melangkah maju, insting hukumnya berteriak waspada. "Eksklusif artinya kami kehilangan hak atas ciptaan kami sendiri? Dan kenapa detail algoritma itu harus dirahasiakan?"

Pak Haris terkekeh pelan. "Ini demi keamanan nasional dan daya saing industri, Mbak Gia. Kami hanya ingin melindungi aset berharga ini."

Laras menatap Bagas. Ada yang tidak beres. Dia melihat ke arah kantong kemeja Pak Haris. Di sana terselip sebuah pena dengan logo kecil: sebuah simbol kepala rajawali yang sangat ia kenali. Itu adalah logo perusahaan firma hukum yang dulu sering menangani kasus-kasus 'pembersihan' jejak ayahnya.

"Bapak dikirim oleh Gunawan, kan?" suara Laras mendadak dingin.

Suasana langsung senyap. Pak Haris berhenti tersenyum.

"Laras, Ayahmu hanya ingin memastikan putrinya sukses. Uang satu miliar ini jauh lebih baik daripada hidup susah jadi mahasiswa serabutan, bukan?" Pak Haris mendekat, suaranya merendah. "Ambil uangnya, serahkan mesinnya, dan masalah kalian selesai. Ayahmu bahkan berjanji akan memulihkan beasiswa kalian secara pribadi."

Bagas maju selangkah, menghalangi Pak Haris agar tidak terlalu dekat dengan Laras. "Bilang sama bos Anda. Kami memang butuh uang, tapi kami nggak butuh uang haram hasil cuci gudang masa lalu dia. Bawa balik kontrak Anda."

"Jangan emosional, anak muda," sahut Pak Haris tenang. "Tanpa kami, mesin ini hanya akan jadi tumpukan besi tua. Kami bisa memastikan tidak ada investor lain yang mau menyentuh kalian."

"Oh ya?" Gia mengangkat ponselnya. "Tadi pas Bapak ngomong soal 'Ayah Laras berjanji', saya sudah rekam semuanya. Dan Profesor Wijaya ada di belakang Bapak sejak dua menit lalu."

Pak Haris menoleh dengan kaget. Di sana berdiri Profesor Wijaya dengan wajah merah padam karena marah.

"Jadi ini cara Anda bernegosiasi, Pak Haris?" tanya Profesor Wijaya sinis. "Menekan mahasiswa saya dengan nama narapidana?"

Tanpa menunggu jawaban, Pak Haris langsung berbalik dan pergi dengan langkah seribu.

Malam itu, mereka duduk di pinggir trotoar depan JCC, memandangi trofi mereka di bawah lampu jalan Jakarta yang bising.

"Kita baru saja nolak satu miliar," gumam Eno, kepalanya disandarkan ke bahu Rhea. "Gue ngerasa kayak orang paling bego sekaligus paling keren sedunia."

"Kita emang bego kalau terima uang itu, No," sahut Juna. "Uang itu cuma umpan supaya kita berhenti bergerak. Pak Gunawan takut kita jadi terlalu besar dan nggak bisa dikontrol lagi."

Laras menatap teman-temannya. "Maafin gue ya... masalah gue nggak habis-habis nyeret kalian."

Bagas merangkul Laras erat. "Jangan ngomong gitu lagi. Kita ini Resimen Hijau. Kita nggak cuma ngolah sampah, kita juga lagi ngolah masa depan kita sendiri. Dan langkah selanjutnya... kita bawa mesin ini pulang ke kampus. Kita tunjukin kalau mahasiswa nggak bisa dibeli."

Namun, di kegelapan parkiran, sebuah kilatan cahaya kamera kembali muncul. Foto mereka yang sedang kelelahan di pinggir jalan diambil. Esok harinya, sebuah berita hoaks mulai menyebar di media sosial: "Juara NYIC 2026 Diduga Curangi Paten, Tim Resimen Hijau Terlibat Skandal Keluarga Koruptor."

Perang di Jakarta baru saja dimulai. Mereka belum bisa pulang dengan tenang.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!