Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
Abram mengangguk perlahan, tapi tiba-tiba tubuhnya lemas sekali, matanya juga sudah mulai terasa berat.
Ia mencoba menahan diri agar tidak terpeleset, tapi ia tak bisa menopang tubuhnya. Tak berapa lama kemudian, tubuhnya langsung jatuh ke lantai, pingsan seketika.
"Hey Nak!" teriak Dokter Rahmat dengan nada khawatir, berjongkok di samping tubuh Abram sebelum kepalanya menabrak lantai keras.
"Suster! Suster!" teriak Dokter Rahmat lagi, matanya tidak pernah lepas dari wajah Abram yang mulai pucat. Kedua suster yang tengah mengecek peralatan di meja kerja segera mengalihkan perhatian dan berlari cepat ke arah mereka.
"Sambil kita bawa ke ruang perawatan, periksa denyut nadi dan tekanan darahnya," instruksi Dokter Rahmat sambil membantu mengangkat tubuh Abram bersama kedua suster.
Mereka bergerak dengan cepat namun hati-hati. Di ruang perawatan, tim medis segera menyiapkan alat untuk memberikan perawatan intensif, memasang infus untuk menjaga cairan tubuhnya tetap stabil.
*****
Udara dingin menusuk kulit tipis Abram yang masih berkeringat dingin. Ia merasakan tubuhnya seperti direndam dalam lumpur, setiap gerakan membutuhkan tenaga yang luar biasa banyak.
Barusan, ia hanya ingat jika pandangan kabur dan gelap, ia seperti mendegar suara nyaring di telinganya. Lalu, tiba-tiba...
"Hey anak muda, kau itu baru bangkit dari ambang kematian, dan kau sudah mengobati penyakit berat padahal tubuhmu masih lemah tak berdaya."
Suara itu hangat namun tegas, seolah muncul dari dalam kepala sendiri. Abram terkejut dan melihat sekelilingnya.
Ia berada di sebuah gua kecil yang tidak dikenalnya, dengan dinding batu yang menerapkan cahaya keemasan samar.
Di depannya berdiri seorang kakek tua dengan janggut putih panjang hingga ke dada, mengenakan pakaian sutra tua berwarna tanah yang bergelombang lembut di setiap gerakan. Matanya seperti dua biji permata coklat tua yang menyimpan banyak rahasia.
"Kau... siapa kau?" tanya Abram dengan suara yang terkejut.
Ia perlahan bergerak tubuhnya ke belakang, bersiap siaga jika ada bahaya mendadak. Matanya terus mengamati setiap gerakan kakek tua itu, kalau-kalau ia di serang mendadak.
Yang terakhir ia ingat adalah membantu seorang wanita yang terkena penyakit misterius. Tanpa pikir panjang, ia telah menggunakan kekuatan yang tidak ia mengerti dari batu kuning kecil yang selalu menempel di dadanya.
Kakek tua itu sedikit tersenyum, lalu menepuk-nepuk pangkuannya. "Hey anak muda, kenapa kau tidak sopan begitu? Aku adalah penjaga batu ajaib kuning yang ada di dada mu itu, orang-orang dahulu menyebutku Guru Zeno."
Abram terkejut dan segera meraba bagian dada dirinya. Batu kecil yang biasanya hanya terasa hangat kini memancarkan cahaya keemasan yang lebih jelas, seolah ada nyawa di dalamnya.
"Jadi... kau yang memberi aku kehidupan?" tanya Abram dengan nada penuh kagum.
Ia mulai menyadari bahwa setelah mengobati wanita itu, tubuhnya tiba-tiba lemah parah dan pingsan, bahkan merasa seperti jiwanya akan terlepas dari tubuh.
Guru Zeno mengusap janggutnya dengan perlahan, wajahnya menunjukkan ekspresi yang mendalam.
"Hm... sebenarnya kau tidak mati saat itu, hanya sekarat saja karena energi mu habis total. Batu ini menyimpan kekuatan kuno yang bisa menyembuhkan, tapi jika digunakan tanpa pengendalian dan persiapan yang cukup, bisa saja membuatmu benar-benar pindah alam. Aku harus bertindak cepat untuk menarikmu kembali dari jurang kegelapan," kata Gini Zeno
di tunggu kelanjutannya