NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Kontras Takdir
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.



Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.



Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.



Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.



Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.






Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.




Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Dari Mana Kamu Datang.

Malam sudah hampir ke tengah.

Shafiya melewatinya dengan gelisah. Sedikitpun tak mampu pejamkan mata. Pembicaraan dengan abinya sudah selesai. Tapi tak pernah benar-benar selesai dalam dirinya.

Tiba-tiba terdengar ketukan pelan.

Shafiya yang sejak tadi duduk di tepi ranjang langsung menoleh.

Tidak ada yang benar-benar ia tunggu malam ini. Jadi satu ketukan itu cukup membuat dadanya menegang.

Ia bangkit, berjalan pelan ke pintu. Membukanya.

Sagara berdiri di depannya, dengan jarak yang terjaga. Menatap Shafiya sekilas, lalu kalimatnya meluncur dengan nada seperti biasa, datar. Lurus.

"Besok, saya ada rapat pagi di Adinata Holding." Hanya menyampaikan jadwal, bukan tentang denyut kehidupan.

"Setelah shubuh kita berangkat," lanjutnya.

Tidak ada kalimat "kamu siap?"

Atau kalimat, "kalau kamu mau."

Keputusan hanya disampaikan. Bukan untuk minta persetujuan.

Shafiya diam sekian detik.

"Baik," jawabnya. Ia tidak menolak, juga tidak sepenuhnya setuju. Hanya mengikuti.

Sagara mengangguk sekali. Cukup. Langkahnya berbalik. Menjauh.

..

...

Shubuh belum lama selesai, saat dua mobil bergerak meninggalkan gerbang Darun najah. Udara masih basah. Jalanan belum ramai. Lampu-lampu jalan belum sepenuhnya padam.

Shafiya duduk di kursi belakang. Winda di sampingnya. Sepintas ia menoleh, pintu pesantren yang selama ini menjadi batas dunianya, perlahan tertutup di belakang.

Tidak ada yang Shafiya ucapkan saat itu. Ia juga tidak menoleh terlalu lama. Hanya satu tarikan napas. Dalam. Lalu, selesai.

Sagara duduk di kursi penumpang depan. Bukan duduk bersama Shafiya sebagaimana pasangan.

Tablet pintar di pangkuannya sudah ia tekuni dari awal perjalanan. Tak ada pembicaraan apapun. Agam yang bertindak sebagai supir, juga hanya diam.

Mobil melaju stabil.

Pemandangan berubah perlahan.

Dari tembok pesantren.

Ke jalanan kota yang mulai hidup.

Ke deretan bangunan tinggi yang berdiri rapi, dingin, dan teratur.

Shafiya memperhatikan.

Diam-diam.

Ini bukan dunia yang asing …

tapi juga bukan dunia yang pernah ia miliki.

Hampir satu jam kemudian, mobil mulai memasuki area khusus Adinata residence tiga. Udara pagi menyambut mereka yang satu demi satu keluar dari mobil, menapaki lantai marmer dingin yang memanjang sekian meter hingga ke pintu depan.

Pintu terbuka tanpa suara. Bukan dibuka tangan, tapi sensor. Sagara masuk lebih dulu.

"Selamat pagi, Tuan."

Suara itu muncul. Bukan dari seseorang yang mendekat, tapi dari sisi ruangan.

Ratri.

Perempuan 30 tahun itu berdiri di sana. Seragamnya rapi, tapi sederhana. Sikapnya tegak. Tidak menunduk berlebihan, juga tidak terlalu santai. Gerak yang terlatih.

Ia adalah otoritas sistem di rumah itu.

Sagara mengangguk singkat.

"Agenda pagi." Ratri melaporkan tanpa perlu diminta. "Sarapan jam 7, bersama pak Agam dan dokter Raka. Jam 7:30 jadwal, Tuan berangkat ke Adinata Holding."

Sagara mengangguk sekali. Cukup.

Kemudian berlalu tanpa perlu percakapan tambahan.

Baru saat itulah tatapan Ratri beralih ke Shafiya. Satu detik. Menilai. Memahami posisi. Lalu menunduk singkat.

"Selamat datang."

Tidak ada senyum ramah. Tapi juga tidak dingin. Profesional saja.

Shafiya mengangguk pelan.

Ia tidak tahu harus menjawab apa. Karena ini bukan "rumah" yang biasa ia kenal--tapi rumah yang punya aturan sistem, dan itu terasa asing.

"Itu Ratri." Agam menjelaskan.

"Dia yang dipercaya mengatur semuanya di rumah ini."

Semuanya.

Satu kata yang terlalu luas, dan terasa mengikat.

Shafiya hanya kembali mengangguk.

"Kamar Anda sudah disiapkan." Ratri berkata ke Shafiya.

"Kamar saya?" Shafiya sedikit bingung. Karena sudah dua hari ini ia di Adinata residence 3 itu. Sudah ada kamar yang ia tempati. Dan Winda yang bertugas membantu semua keperluannya.

"Kali ini beda." Lagi-lagi Agam yang menjelaskan.

Pasti karena posisi. Bukan status. Hanya posisi.

Shafiya sudah dianggap penghuni resmi Adinata Residence 3. Bukan lagi tamu seperti dua hari sebelumnya. Karena itu, ia diberitahukan pada Ratri--yang hanya bicara mengikuti jadwal.

"Silakan ikuti saya."

Ratri memberi isyarat halus.

Shafiya masih menatap Winda yang setia berdiri di belakangnya, sebelum mengikuti.

Ratri di depan. Shafiya di tengah. Dan Winda di belakang. Menjaga ritme. Seperti yang sudah di atur. Tidak ada siapa yang boleh melangkahi siapa.

Mereka melewati lorong panjang. Bersih.

Setiap pintu tertutup rapat. Tanpa suara.

Tidak ada jejak kehidupan yang acak.

Semuanya .. terkendali.

Langkah berhenti di satu pintu. Ratri membukanya. "Kamar, Anda."

Winda yang maju lebih dulu melihat kamar itu, sekilas. Lalu mengangguk.

Shafiya tidak langsung masuk. Matanya menyapu ruangan.

Ini bukan kamar yang disiapkan dengan perasaan. Ini disipkan dengan data. Pikirnya.

"Winda bertugas membantu semua keperluan, Anda." Suara Ratri terdengar di belakang. Ia bahkan tidak menjejak ambang pintu--seperti terlarang.

"Jika ada hal di luar itu, sampaikan melalui saya." Lanjut wanita itu, dengan nada bicara yang sama. Seperti sudah diprogram.

"Akan disediakan semuanya." Ia menutup bahasa dengan sedikit menunduk. Lalu langkahnya menjauh.

Baru saat itu Shafiya benar-benar masuk.

Kamar yang dua kali lebih luas dari yang ditempati sebelumnya. Di dalam semua sudah tersedia. Rapi, lengkap. Sesuai cara Shafiya. Bahkan ukuran sandal yang ditata, juga sama.

Ia menghela napas sesaat.

Menyadari info tentang dirinya didapat, tanpa ia beritahu, jantungnya berdetak. Samar, dan tidak menenangkan.

"Ning Shafiya, saya siapkan air hangat untuk mandi." Suara Winda memecah hening dalam ruang itu.

Shafiya menggeleng. "Tidak. Saya bisa sendiri."

"Ada yang lain, mungkin?"

"Tidak ada."

Shafiya tidak biasa dilayani. Ia melakukan semua keperluannya sendiri. Meski di rumahnya ada santri dalam yang siap kapan saja membantu, tapi dengan tatanan nilai. Kekeluargaan, hangat, dan akrab.

Tidak kaku dan sesuai data seperti di rumah ini.

"Baik. Kalau begitu saya permisi."

Winda mundur satu langkah sebelum berbalik. Langkahnya teratur menuju pintu. Sebelum sampai ia berhenti.

"Jika butuh apa-apa, Ning Shafiya panggil saya melalui intercom ini."

Ia menunjuk alat komunikasi kecil yang menempel di dinding.

Shafiya mengangguk.

"Kamu boleh bersikap sebagaimana manusia."

"Apa?" Winda kaget.

Shafiya tersenyum ringan.

"Setidaknya, biar saya tau, bukan hanya saya yang manusia di rumah ini."

Winda perlahan tersenyum. Mengangguk.

"Saya coba."

Pintu kemudian menutup.

Kini Shafiya benar-benar sendiri. Ia berdiri di tengah ruangan. Menyapu pandang ke sekitar. Napasnya tertahan sesaat, sebelum jatuh pelan. Tanpa sadar tangannya terangkat, meraba perutnya yang masih rata, yang masih belum ada apa-apa. Tapi ia merasa ada kehidupan di sana.

"Kita tidak saling kenal. Tapi saya pastikan kamu aman." Jeda sejenak. Ia kembali menarik napas. Dalam.

"Sekarang bantu saya, untuk cari tahu, dari mana kamu datang."

1
Ayuwidia
Sagara meski terlihat datar dan dingin, tapi dia berpikiran bijak. Tidak menuntut Shafiya bercerita, karena tak ingin wanita bergelar istri itu terluka.
Ayuwidia
Jangan2, anak itu memang milik Sagara
Ayuwidia
Beruntung Sagara punya istri cerdas. Dan semoga keberuntungan itu nggak bersifat sebentar
Ayuwidia
Agam selalu punya cara untuk mengikis jarak antara Sagara & Shafiya
Ayuwidia
Nah, betul itu. Kedatangan Shafiya jg bisa jadi obat bagi Sagara. 🤭
Ayuwidia
Bagus, Sagara. Satu keputusan yang tepat untuk melindungi Shafiya
Deuis Lina
kaya nya malu untuk mengakui bahwa ada d dekat safiya rasa tak nyaman itu hilang,,,
Ayuwidia
Jangan2, Ravendra tau siapa ayah biologis janin yang dikandung Shafiya. 🤔 Menarik!!!
Ayuwidia
Bagus, Shafiya. Bikin dia bungkam, nggak bisa ngomong
Ayuwidia
Itu karena ulahmu sendiri, Ravendra
Ayuwidia
Kalau Sagara nggak di rumah, harusnya dia putar balek, bukan malah duduk manis. Pasti ada rencana jahat lagi yg terselubung
Deuis Lina
makanya jangan mengusik macan yg lagi tidur,,,
Nofi Kahza
sekegelap itu loh dunia para elit. melenyapkan nyawa itu segampang nyentil upil di jari. Bisa2 nyawa Shafiya pu. terancam.
Nofi Kahza
Proses inseminasinya pasti salah alamat..
Deuis Lina
Sagara d kelilingi sama keluarga yg haus akan kekuasaan tapi tak punya kemampuan dan safiya jadi korbannya tapi sangat d butuhkannya
Nofi Kahza
Sagara belum pernah jatuh cinta ya, kok senggak mau itu untuk menikah?
Nofi Kahza
aku masih curiga dg dokter zulaika🤧
Nofi Kahza
soalnya penyakitmu itu juga abu2 loh😆
Nofi Kahza
betullll
Nofi Kahza
gpp, sesekali Sagara itu harus ditegesin kalau jd pasien nggak nurutan😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!