NovelToon NovelToon
Malam Yang Tak Terlupakan Dengan Pak Presiden

Malam Yang Tak Terlupakan Dengan Pak Presiden

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Violetta Gloretha

"Jawab jujur pertanyaan saya, apa kamu orang yang tidur dikamar hotel saya?" tanya Kaivandra Sanzio Artamevia.

Seana Xaviera Levannia menatap mata pria berbahaya itu, sebelum akhirnya perlahan&amp melangkah mundur. "B-bukan saya kok Pak--"

..

Kaivandra Sanzio Artamevia, seorang pria yang paling dikenal di kota ini. Di pria kejam dan haus darah dengan kecenderungan menggunakan metode brutal, dan tidak menusiawi. Tidak ada wanita yang berani mendambakannya, meskipun Zio diberkahi dengan penampilan yang tampan.

Tanpa diduga, seorang wanita berhasil tidur dengannya ketika dia sedang dalam keadaan mabuk! Ketika Zio mengacak-acak seluruh dunia hanya untuk mencari wanita misterius itu, dia baru menyadari bahwa tubuh sekretarisnya semakin berisi.

Apakah kebenaran yang selama ini ditutup rapat-rapat, akan terbongkar lewat kecurigaan Zio?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Gloretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Seana melihat jam di komputernya. Lalu kembali menatap Melani. "Kayaknya kamu harus nganter dokumen-dokumen itu ke sana sendirian."

Semua karyawan di sini memiliki tanggung jawab masing-masing, jadi setiap karyawan harus menangani apa pun yang perlu mereka lakukan sendiri. Selain itu, lingkup pekerjaan Seana dan Melani itu sangat berbeda.

"Ck, gue bentar lagi ada rapat penting sama Pak Zio. Kita ngga bisa terlambat nganterin dokumen-dokumen penting ini ke Enfield Corporation!." Protes Melani tidak senang.

Yunita yang tidak senang melihat sikap Melani, tiba-tiba berdiri. "Sini biar gue aja yang nganter."

Seana-lah yang selalu menemani Sanzio ke setiap rapat penting. Sementara Melani tidak pernah terlibat. Seana melihat kearah kantor Sanzio. Tirai jendela kaca itu tertutup, jadi dia tidak bisa melihat apa pun.

Melani mengangkat sebelah alisnya, saat memperhatikan Seana. "Lo kenapa? Ngga percaya sama gue? Dan mau nanya langsung ke Pak Zio, gitu?." Tanyanya dengan nada sinis.

Seana memalingkan pandangannya dan berdiri dengan membawa dokumen-dokumen itu. "Oke, kalau gitu ini biar aku anter."

Biasanya tidak banyak masalah diperusahaan, tetapi hari ini sepertinya ada perubahan halus dalam suasana karena perebutan posisi asisten eksekutif. Melani bahkan tidak menunjukan rasa terima kasihnya pada Seana.

"Gitu dong dari tadi." Cibir Melani sebelum berjalan pergi.

Yunita berjalan mendekati Seana. "Lo kan asisten pribadinya Pak Zio. Kak Melani ngga berhak nyuruh lo kayak gini. Mendingan gue aja yang nganter dokumen itu."

"Ngga apa-apa. Cuma nganter, aku masih bisa kok." Jawab Seana sembari tersenyum.

Karena Melani mengatakan bahwa dia akan pergi rapat bersama Sanzio, tampaknya mungkin Sanzio mulai mempertimbangkan Melani untuk peran menjadi asisten eksekutif. Mengingat apa yang Sanzio pernah katakan padanya untuk meningkatkan kualitas diri dalam bekerja, Seana merasa dirinya tidak memenuhi syarat untuk posisi itu. Jadi, orang yang kemungkinan besar akan menggantikan posisi Mike adalah Melani.

Yunita mengangguk mengerti. "Kalau gitu, lo harus cepet."

Lagi pula, Seana adalah asisten Sanzio. Jika Seana tidak berangkat bekerja, mungkin tidak ada yang bisa menangani banyak hal yang di minta Sanzio. Seana pergi meninggalkan gedung perusahaan dengan membawa dokumen-dokumen tersebut. Setelah mengantarkan dokumen-dokumen itu Enfield Corporation, Seana mungkin masih punya waktu untuk membeli makanan dari supermarket di seberang gedung kantor.

Namun, begitu Seana baru saja pergi, Sanzio menghubungi telepon kantor Seana dari kantornya, dan karena kebetulan Yunita belum kembali ke meja kerjanya, dia akhirnya yang mengangkat telepon tersebut.

"Selamat siang, Pak Zio?."

"Di mana Seana?." Karena tidak mendengar suara Seana, Sanzio langsung bertanya.

"Maaf, Pak. Tapi barusan Kak Melani meminta Seana untuk mengantarkan beberapa dokumen ke Enfield Corporation." Jawab Yunita jujur. Begitu Yunita mengatakan hal itu, terdengar decakan kesal dari seberang sana.

"Sejak kapan dia pergi?!." terdengar nada dingin dari suara Sanzio dan hal itu membuat Yunita agak kaget.

Jantung Yunita berdebar. Dia tahu bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menghadapi Sanzio, tanpa Seana disisinya. Karena itu, Yunita segera menjawab. "B-barusan, Pak."

"Panggil Mike ke ruangan saya." Perintah Sanzio.

"Baik, Pak." Setelah menutup telepon, debaran jantung Yunita masih terasa. Dia tidak tahu bagaimana Seana bisa menghadapi kehadiran Sanzio yang begitu kuat.

Melani saat ini berasa di kantor Mike. Wanita itu selalu cakap dalam pekerjaannya, jadi Mike akan menyerahkan urusan penting apa pun kepada Melani. Saat ini Mike sedang menjelaskan beberapa hal kepada Melani.

Melani telah bekerja keras selama lima tahun. Saat mendengarkan peraturan kerja, dia tahu bahwa ini adalah ujian yang diberikan perusahaan padanya. Dan dia merasa bahwa posisi ini akan menjadi miliknya, setelah Mike pensiun nanti.

Yunita dengan ragu mengetuk pintu ruang kantor Mike, setelah mendengar bahwa Mike mengizinkannya masuk, Yunita pun bergegas masuk. "Permisi, Pak. Pak Zio ingin bertemu dengan bapak di ruangannya."

Mike mengangguk, lalu menoleh ke arah Melani. "Kamu boleh kembali ke meja kerja kamu."

"Baik, Pak." Kata Melani dengan nada santai.

Mike berjalan keluar, menuju kantor Sanzio. Dan berjalan dibelakang Mike, Melani menatap Yunita dengan tatapan jijik.

Yunita hanya bisa diam-diam menahan kekesalannya.

Ketika Mike masuk ke kantor Sanzio, dia melihat Sanzio duduk dengan raut wajah dinginnya. Meskipun mereka adalah atasan dan bawahan, tetapi dalam suasana santai dan di luar jam kerja, mereka adalah teman. Dan mereka bahkan pernah belajar bersama di luar negeri.

Setelah menutup pintu, Mike berbalik menghadap Sanzio. "Jadi, siapa orang yang udah bikin lo marah, bro?."

"Gua kira, dibawah pengawasan lo, pembagian kerja di departemen lo akan jelas dan semestinya."

"Memangnya ada yang salah? Gua selalu pantau para karyawan." Mike terlihat bingung.

Tatapan mata Sanzio semakin gelap. "Dimana Seana?."

Saat mendengar nama Seana di sebutkan, Mike menoleh ke dinding kaca, memperhatikan tempat kerja Seana dan menyadari kursi wanita itu kosong, tanpa penghuninya.

Wajah Mike merah karena marah. 'Kemana lagi dia?.' Batin Mike. 'Dijam kerja malah kluyuran!.'

Bagi Mike, Seana adalah bawahannya yang  paling sulit untuk di tangani. Wanita itu tidak cakap dalam pekerjaannya, dan juga tidak mampu bereaksi terhadap situasi. Seana sama sekali tidak bisa melakukan apa pun!

Jangan lupa komentar sebanyak-banyaknya ya teman-teman!!!

1
Yessi Kalila
Melani dalam bahaya.... ngga tau siapa Seana sekarang .... seenaknya nyuruh2
Yessi Kalila
wkwk.... lugu banget sih Seana... 🤣🤣🤣
Lisna
lanjutt thorr...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!