NovelToon NovelToon
Satu Notifikasi Seribu Luka

Satu Notifikasi Seribu Luka

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.

Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.

Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Malam itu, setelah keriuhan di GOR mereda dan Arkan mengantarku pulang dengan sisa-sisa aroma kemenangan yang masih menempel di jaketnya, aku menemukan Kak Pandu sedang duduk di teras. Ia tidak sedang memegang stik game atau ponsel, melainkan hanya menatap langit malam sambil menyesap kopi hitamnya.

"Sini duduk, Ra," panggilnya tenang, menepuk kursi kosong di sebelahnya.

Aku duduk, masih dengan ban kapten Arkan yang melingkar di pergelangan tanganku. "Belum tidur, Kak?"

Kak Pandu terkekeh kecil, matanya melirik ke arah pergelangan tanganku. "Gimana mau tidur kalau adek gue baru aja diproklamirkan jadi 'asuransi tetap' kapten basket paling populer se-provinsi?"

"Kak, jangan mulai deh," gumamku, berusaha menyembunyikan senyum.

Raut wajah Kak Pandu tiba-tiba berubah menjadi lebih serius. Ia meletakkan cangkir kopinya dan menatapku lurus. "Ra, gue temenan sama Arkan sudah lama. Gue tahu dia luar dalam. Gue tahu kapan dia akting sok keren di depan cewek-cewek, dan gue tahu kapan dia beneran tulus."

Ia menghela napas panjang. "Lo tahu nggak? Waktu lo pertama kali narik diri setelah insiden martabak itu, Arkan hampir setiap malem nanya ke gue lewat telepon. Dia nggak nanya gimana cara deketin lo, tapi dia nanya: 'Ndu, Nara sukanya apa? Dia trauma sama apa? Gue takut salah langkah dan bikin dia makin takut sama orang.'"

Aku tertegun. Jadi, perhatian Arkan yang sedetail itu bukan sekadar kebetulan.

"Dia yang minta gue buat sering-sering ajak lo keluar kamar, meskipun cuma buat dengerin dia berisik," lanjut Kak Pandu. "Dia tahu lo benci kopi, dia tahu lo butuh asupan gula pas pusing Kimia, bahkan dia tahu kapan lo lagi ngerasa 'dingin' tanpa lo harus ngomong. Dan yang paling penting, Arkan itu satu-satunya cowok yang berani bilang ke gue kalau dia bakal berhenti main basket kalau itu emang perlu buat nemenin lo pas lo lagi hancur."

Aku menunduk, meraba rajutan Daisy di tas yang kuletakkan di pangkuan. Ternyata, selama aku sibuk membangun benteng, Arkan sibuk mempelajari fondasinya agar dia tahu di mana harus meletakkan pintu.

"Gue dukung lo sama dia, Ra," ucap Kak Pandu sambil mengacak rambutku—kali ini dengan sangat lembut, tanpa candaan kasar seperti biasanya. "Bukan karena dia temen gue, tapi karena gue liat lo mulai berani ketawa lagi. Gue kangen liat Nara yang nggak punya beban kayak sekarang. Arkan itu obat yang pas buat luka yang ditinggalin bokap."

"Makasih, Kak," bisikku parau.

"Sama-sama. Tapi inget," Kak Pandu berdiri dan kembali ke mode usilnya, "kalau dia bikin lo nangis, gue nggak peduli dia jago three-point atau bukan, bakal gue smackdown di depan ring!"

Aku tertawa lepas. Dukungan Kak Pandu malam itu seperti validasi terakhir yang kubutuhkan. Ternyata, mencairnya es di hatiku bukan sebuah kesalahan. Itu adalah proses penyembuhan yang selama ini sengaja kuhindari.

Malam itu, setelah Kak Pandu masuk ke dalam rumah, aku masih termenung di teras. Dinginnya angin malam tak lagi terasa menusuk; mungkin karena hangatnya pengakuan Kak Pandu tentang Arkan masih membekas di dada.

Aku menatap ban kapten di pergelangan tanganku. Benda sederhana ini terasa begitu berat sekarang, membawa beban ketulusan yang selama ini gagal kubaca. Jemariku bergerak membuka ponsel, jarinya ragu sejenak di atas nama Arkan sebelum akhirnya mengetik sebuah pesan singkat.

"Makasih ya, Kan. Buat semuanya. Ternyata kamu lebih tahu aku daripada aku tahu diriku sendiri."

Hanya butuh sepuluh detik sampai ponselku bergetar.

Arkan: "Tumben puitis? Pandu habis ngebocorin rahasia negara ya? 😂 Tapi serius, Ra... makasihnya simpan dulu. Kita baru mulai, kan?"

Aku tersenyum tipis. Arkan memang selalu punya cara untuk meruntuhkan suasana melankolis dengan kepercayaan dirinya yang menyebalkan, tapi menenangkan.

1
Sutrisno Sutrisno
puitis banget, jadi makin penasaran
Sutrisno Sutrisno
semangat
Sutrisno Sutrisno
semangat Arkhan, semoga berhasil
falea sezi
lanjut donk g sabar liat arkan nikah ma nara
falea sezi
arkan aja goblok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!