NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mila Dunka

Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Proyek "Rumah"

​Satu tahun setelah drama hukum Ayah Arlan, A&A Pictures telah tumbuh menjadi studio independen yang disegani. Namun, kesuksesan membawa masalah baru: Arlan dan Adelia tidak lagi memiliki batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

​Pagi itu, meja makan apartemen mereka dipenuhi storyboard, kontrak, dan tablet. Arlan sedang menyesap kopi—tentu saja 80 derajat—sambil menatap layar monitor dengan dahi berkerut, mengabaikan sarapan yang disiapkan Adelia.

​"Arlan, makan dulu. Kopinya bisa dingin, tapi sarapanmu tidak," tegur Adelia, tangannya sibuk memindahkan tumpukan berkas dari meja.

​"Bentar, Adel. Color grading untuk adegan pembuka film baru kita ini kurang 'hidup'. Aku harus menemui colorist jam sembilan," jawab Arlan tanpa mengalihkan pandangan dari monitor.

​Adelia menghela napas. Ini sudah minggu ketiga Arlan terjaga hingga jam tiga pagi untuk proyek terbarunya. "Kita butuh liburan, Arlan. Atau setidaknya, kita butuh aturan: tidak ada pekerjaan di meja makan."

​Arlan akhirnya mendongak, matanya terlihat lelah namun masih memancarkan obsesi pada pekerjaannya. "Liburan? Studio kita baru saja menang tender besar, Adel. Ini waktunya tancap gas, bukan ngerem."

​"Aku tahu, tapi kita tidak bisa hidup seperti ini selamanya. Kita mitra bisnis, iya, tapi kita juga pasangan," Adelia menatap Arlan dengan serius. "Tadi malam, kamu bahkan menyebut namaku sebagai 'Asisten Produksi' saat kita sedang membahas rencana pernikahan kita di telepon dengan ibuku."

​Arlan tertegun. Ia meletakkan tabletnya. Rasa bersalah melintas di matanya. "Maaf, Adel. Aku... aku terlalu fokus."

​"Bukan cuma fokus, Arlan. Kamu kembali menjadi 'Naga' yang hanya memikirkan hasil akhir, bukan manusia di sekitarmu," Adelia berdiri, membereskan piring-piring yang belum disentuh. "Aku akan pergi ke studio duluan. Tolong pikirkan apa yang aku katakan."

​Arlan terdiam menatap punggung Adelia yang menjauh. Ia merasa egois. Di studio, ia adalah pemimpin, namun di rumah, ia adalah pasangan yang gagal.

​Siang harinya di studio, suasana tegang. Seorang klien penting mendadak meminta perubahan konsep drastis. Tim kreatif panik, dan Arlan, yang masih terbawa perasaan bersalah dari pagi, mendadak menjadi sangat diam. Ia tidak meneriaki mereka, tapi diamnya justru membuat semua orang lebih ketakutan.

​Adelia, yang mengamati dari sudut ruangan, tahu ada yang salah. Ia menghampiri Arlan di ruang editing.

​"Arlan, kamu tidak bisa terus diam seperti itu. Tim butuh arahan," bisik Adelia.

​"Aku takut kalau aku bicara, aku akan meledak seperti dulu," aku Arlan pelan.

​"Jangan meledak. Tapi komunikasikan," Adelia meletakkan tangan di bahu Arlan. "Pimpin mereka, Arlan. Tapi jangan lupa, pimpin aku juga sebagai pasanganmu."

​Arlan menatap Adelia, lalu mengangguk. Ia berjalan keluar dan menghadapi timnya. "Oke, dengar semuanya. Konsep ini berubah, tapi visi kita tidak. Kita akan lakukan revisi dalam dua jam. Aku tahu kalian bisa."

​Suara bariton itu kembali berwibawa, namun tanpa nada kemarahan. Tim kreatif bernapas lega dan mulai bekerja dengan semangat baru.

​Malamnya, Arlan pulang lebih awal. Ia membawa bunga dan—yang lebih penting—ia tidak membawa laptop. Saat membuka pintu apartemen, ia menemukan Adelia sedang duduk di sofa, tertidur di depan televisi.

​Arlan mematikan televisi, menyelimuti Adelia, dan duduk di sampingnya. Ia menyadari bahwa proyek terbesar dalam hidupnya bukanlah film layar lebar, melainkan membangun rumah tangga yang harmonis bersama Adelia.

​Konflik Ruang Editing

​Ruang editing A&A Pictures terasa dingin dan tegang. Pencahayaan hanya berasal dari layar monitor besar yang menampilkan adegan klimaks film terbaru mereka, “Detak Jakarta”. Adelia duduk di kursi editor, sementara Arlan berdiri di belakangnya, bersedekap dengan wajah kaku.

​"Hentikan," ujar Arlan tajam. "Bagian transisi dari adegan aksi ke adegan dialog itu terlalu cepat. Penonton tidak diberi ruang untuk bernapas."

​Adelia menghela napas, jemarinya berhenti di atas keyboard. "Arlan, ini film thriller. Tempo yang cepat justru membangun ketegangan. Kalau kita pelan di situ, emosinya malah hilang."

​Arlan berjalan memutari kursi Adelia, mendekat ke layar. "Itu pendapatmu sebagai asisten produksi. Tapi menurutku, sebagai sutradara, kita butuh jeda emosional agar karakter utamanya terasa manusiawi sebelum keputusan fatal diambil."

​Adelia memutar kursinya untuk menghadap Arlan. "Aku bukan cuma asisten produksimu, Arlan. Aku mitra bisnismu yang bertanggung jawab atas narasi film ini. Dan aku tetap pada pendirianku: tempo ini sudah pas."

​Ketegangan di ruangan itu mencapai puncaknya. Sang editor muda yang duduk di sudut ruangan berpura-pura sangat sibuk dengan mouse-nya, berharap tidak ikut terseret dalam perang dingin tersebut.

​"Kita sudah berdebat soal ini selama tiga jam," desis Arlan, suaranya naik satu oktav. "Kenapa kamu sulit sekali mengerti visi artistikku?"

​"Visi artistikmu? Atau ego artistikmu?" balas Adelia tak kalah tajam. "Kamu tidak bisa menerima masukan kalau itu tidak sesuai dengan apa yang ada di kepalamu!"

​Arlan terdiam. Kata-kata Adelia menohoknya. Ia menyadari ia mulai kembali ke kebiasaan lamanya: merasa paling tahu segalanya.

​"Kita istirahat," ujar Arlan akhirnya, suaranya parau. Ia berjalan keluar ruang editing, meninggalkan Adelia yang terduduk lemas di kursi.

​Di ruang istirahat, Arlan menuang kopi—yang kini terasa dingin—ke dalam cangkir. Ia menatap pantulan dirinya di jendela. Ia mencintai Adelia, tapi ia juga sangat mencintai filmnya. Menyatukan keduanya ternyata lebih sulit daripada melawan ayahnya dulu.

​Adelia menyusul ke ruang istirahat beberapa menit kemudian. Ia berdiri di pintu, menatap Arlan.

​"Kita tidak bisa begini terus, Arlan," ujar Adelia lembut. "Kalau kita bertengkar di ruang editing, tim akan terpecah."

​Arlan berbalik, menatap Adelia dengan tatapan bersalah. "Maaf, Adel. Aku... aku takut film ini gagal. Aku merasa kalau aku tidak mengontrol setiap detail, hasilnya tidak akan sempurna."

​"Film ini tidak akan sempurna karena ego satu orang, Arlan. Tapi karena kolaborasi kita," Adelia mendekati Arlan, mengambil cangkir kopi dingin itu dari tangannya. "Coba kita lihat adegan itu bersama-sama. Tanpa aku sebagai editor, dan tanpa kamu sebagai sutradara. Tapi sebagai dua orang yang mencintai cerita ini."

​Mereka kembali ke ruang editing. Kali ini, tanpa ada perdebatan yang dipaksakan. Mereka duduk berdampingan, melihat adegan itu berulang kali.

​"Mungkin..." gumam Adelia setelah lima menit. "Mungkin kita bisa memotong satu detik di transisi, tapi menambahkan efek suara detak jantung yang lebih lambat di dialog?"

​Arlan menatap Adelia, lalu ke layar. "Ide bagus. Itu memberi penekanan pada dialog tapi tetap menjaga tensi."

​Kerja sama yang harmonis akhirnya kembali. Saat adegan itu selesai diedit sesuai kesepakatan, Arlan merangkul bahu Adelia.

​"Terima kasih, Adel. Kamu benar. Ego itu musuh terbesar kita."

​"Sama-sama, Naga," jawab Adelia tersenyum. "Sekarang, ayo kita cari makan. Aku lapar sekali."

​Mereka meninggalkan studio bersama, menyadari bahwa perbedaan pendapat—asal dikomunikasikan dengan baik—justru membuat karya mereka lebih kuat.

1
MeeMeeBo
😄😄🙏
Dwi Winarni Wina
Sutradaranya galak sekali kenerja harus ssmpurna tidak ada kesalahan, ini ujian harus sabar menghadapi pak sutradara😀
MeeMeeBo
🤩
Neferti
👍👍💪
Neferti
👍👍👍
Neferti
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!