NovelToon NovelToon
Hening Yang Membeku

Hening Yang Membeku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Duniahiburan / Cintapertama
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: BAYANG-BAYANG DI ATAS KANVAS

Minggu pagi di Oakhaven biasanya adalah waktu yang paling sunyi. Kota ini seolah-olah menahan napas, membiarkan lonceng gereja tua di ujung jalan berdentang sendirian, menyebarkan suara logam yang berat ke seluruh penjuru labirin beton. Kai duduk di kursi kayunya, menatap dinding apartemennya yang mengelupas. Di tangannya, sebatang arang yang baru saja diruncingkan terasa berat.

Biasanya, pada jam-jam seperti ini, Kai akan tenggelam dalam apati yang nyaman. Ia akan duduk berjam-jam tanpa melakukan apa pun, membiarkan pikirannya hanyut dalam kekosongan abu-abu. Namun, pagi ini berbeda. Ada melodi yang tertinggal di telinganya—nada-nada rendah dari piano Elara yang seolah-olah telah menyusup ke dalam retakan dinding kamarnya.

Ia mencoba menggambar lagi. Kali ini bukan tentang Elara, tapi tentang jalanan kota. Ia ingin menangkap esensi dari kesunyian Oakhaven. Namun, setiap kali ia menggoreskan garis vertikal untuk bangunan, tangannya bergetar. Garis itu menjadi miring, tidak stabil, seolah-olah bangunan di dalam gambarnya sedang berusaha runtuh.

"Sial," umpatnya pelan.

Ia melempar arangnya ke meja. Debu hitam berterbangan, mengotori jemarinya yang sudah kusam. Kai berdiri dan berjalan menuju cermin kecil yang retak di kamar mandi. Ia menatap pantulan dirinya. Lingkaran hitam di bawah matanya tampak lebih tegas. Rambutnya yang berantakan membuatnya terlihat seperti seseorang yang baru saja kembali dari medan perang yang tidak terlihat oleh orang lain.

Pikiran Kai kembali ke malam itu. Kejadian tiga tahun lalu. Warna merah. Itu adalah satu-satunya warna yang masih ia ingat dengan sangat jelas, namun ia membencinya. Merah adalah warna lampu belakang mobil yang berhenti mendadak. Merah adalah warna cairan yang mengalir di atas aspal yang dingin. Merah adalah warna terakhir yang ia lihat sebelum dunianya berubah menjadi monokrom.

Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir bayangan itu. Ia harus keluar. Ruangan ini mulai terasa seperti sel penjara yang perlahan-lahan menyempit.

Kai memutuskan untuk berjalan-jalan tanpa tujuan, sebuah aktivitas yang biasanya ia hindari karena ia benci kerumunan. Namun, Oakhaven di pagi hari cukup sepi untuk memberinya ruang bernapas. Ia melewati toko-toko yang masih tutup, melewati gang-gang sempit yang berbau lembap, hingga tanpa sadar ia sampai di depan sebuah toko alat tulis dan seni yang tampak hampir bangkrut.

Namanya 'The Artist's Last Stand'. Nama yang sangat pas, pikir Kai.

Ia masuk ke dalam. Lonceng kecil di atas pintu berbunyi parau. Aroma kertas tua dan terpentin menyambutnya. Di balik meja kasir, seorang pria yang sangat tua dengan kacamata tebal sedang membaca koran dengan bantuan kaca pembesar.

"Kami tidak punya warna-warna cerah hari ini, Nak," ucap pria tua itu tanpa menoleh. "Hanya sisa-sisa stok lama."

"Aku hanya butuh kertas," jawab Kai pendek.

Ia menyusuri lorong toko yang sempit. Di sudut paling belakang, ia menemukan sesuatu yang membuatnya berhenti. Sebuah set cat minyak kecil yang terbungkus plastik kusam. Di labelnya tertulis: *Prussian Blue*.

Kai menatap kotak kecil itu. Biru. Ia tahu itu biru karena labelnya mengatakannya, tapi di matanya, cat itu hanya terlihat seperti abu-abu gelap yang sangat dalam. Ia menyentuh kotaknya. Ada kerinduan yang tiba-tiba menusuk hatinya—keinginan untuk melihat warna itu lagi, untuk merasakan ketenangan yang seharusnya dibawa oleh warna biru.

"Kau suka yang itu?" pria tua tadi sudah berdiri di belakangnya tanpa suara.

Kai menarik tangannya kembali seolah-olah baru saja menyentuh bara api. "Tidak. Aku hanya melihat-lihat."

"Biru itu warna yang sulit," gumam pria itu, matanya yang rabun menatap Kai dengan tatapan yang seolah bisa menembus kulitnya. "Ia bisa menjadi langit yang damai, atau ia bisa menjadi samudra yang menenggelamkanmu. Banyak orang di kota ini yang mencari biru, tapi mereka selalu berakhir dengan abu-abu."

Kai tidak menjawab. Ia mengambil beberapa lembar kertas sketsa kasar dan membayarnya dengan uang receh yang ia punya. Ia ingin segera pergi. Tatapan pria tua itu membuatnya merasa telanjang, seolah-olah traumanya tertulis jelas di dahinya.

Saat ia keluar dari toko, ia melihat sosok yang sangat ia kenali di seberang jalan. Elara.

Wanita itu mengenakan syal merah—tunggu, Kai tidak tahu itu merah. Baginya, syal itu tampak seperti abu-abu yang sangat pekat, hampir hitam, kontras dengan mantel kremnya. Elara sedang berdiri di depan sebuah toko bunga yang menjual bunga-bunga kering. Ia tampak sangat tenang, seolah-olah ia adalah satu-satunya bagian dari kota ini yang memiliki harmoni.

Kai ragu untuk menyapa. Namun, sebelum ia bisa memutuskan, Elara menoleh. Ia tersenyum, dan entah kenapa, senyum itu membuat udara dingin di sekitar Kai terasa sedikit lebih hangat.

"Kai!" panggilnya, melambaikan tangan.

Kai menyeberang jalan dengan langkah kaku. "Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau biasanya di perpustakaan?"

"Perpustakaan tutup pada hari Minggu pagi untuk pembersihan," jawab Elara. Ia memegang sebuah buket kecil bunga lavender kering. "Aku suka bau ini. Ia mengingatkanku pada sesuatu yang belum hancur."

Ia menyodorkan bunga itu ke arah Kai. Kai menghirup aromanya. Wangi bunga itu tajam dan bersih, sedikit berdebu namun menenangkan.

"Apa kau sedang menggambar?" tanya Elara, melirik kantong belanjaan Kai.

"Hanya kertas. Arangku habis."

"Ikutlah denganku," ajak Elara tiba-tiba. "Ada tempat yang ingin kutunjukkan padamu. Bukan kafe, bukan perpustakaan. Tempat yang... lebih jujur."

Kai ingin menolak. Ia ingin kembali ke kamarnya dan bersembunyi. Namun, mata Elara memiliki kekuatan persuasif yang aneh. Ia mengikutinya.

Mereka berjalan menuju pinggiran kota, di mana bangunan-bangunan beton mulai digantikan oleh gudang-gudang tua yang terbengkalai di tepi sungai yang membeku. Udara di sini lebih tajam, membawa aroma air asin dan besi berkarat.

Elara berhenti di depan sebuah dermaga kayu yang sudah rapuh. Di bawah mereka, air sungai tidak sepenuhnya membeku; bongkahan es besar mengapung perlahan, saling berbenturan dengan suara "crack" yang memekakkan telinga secara berkala.

"Di sini," ucap Elara, merentangkan tangannya ke arah sungai. "Lihatlah es itu. Mereka tidak pernah melawan arus. Mereka hanya membiarkan diri mereka terbawa, hancur, dan membeku kembali. Kadang aku berharap hatiku bisa seperti itu."

Kai berdiri di sampingnya, menatap aliran air yang gelap. "Hatimu tidak bisa membeku sepenuhnya, Elara. Jika iya, kau tidak akan bermain piano seperti semalam."

Elara tertawa kecil, suara tawanya terdengar sedih di tengah angin yang menderu. "Mungkin. Tapi kadang-kadang, membeku adalah satu-satunya cara untuk tidak pecah berkeping-keping."

Ia berbalik menatap Kai. "Kau tahu, Kai? Aku melihat sketsamu semalam berkali-kali sebelum tidur. Kau punya bakat untuk menangkap rasa sakit tanpa perlu mengeksploitasinya. Itu langka."

"Itu bukan bakat," potong Kai pahit. "Itu kutukan. Aku menggambar apa yang kulihat. Dan yang kulihat hanyalah retakan."

"Lalu buatlah retakan itu menjadi indah," balas Elara cepat. Ia mengambil selembar kertas dari kantong Kai dan sebatang arang. "Gambarlah sungai ini. Sekarang. Jangan pikirkan tentang bentuknya. Gambarlah suaranya."

"Suaranya?"

"Ya. Suara es yang pecah. Suara angin yang memukul dermaga ini. Jangan gunakan matamu, gunakan telingamu."

Kai ragu, namun ia mengambil kertas dan arang itu. Ia duduk di atas peti kayu tua yang berdebu. Ia memejamkan matanya sejenak. Ia mendengar suara "crack" dari es. Ia mendengar siulan angin di antara tiang-tiang dermaga. Ia mendengar napas Elara yang teratur di sampingnya.

Tangannya mulai bergerak. Gerakannya tidak lagi kaku. Ia membiarkan arangnya menari dengan liar di atas kertas. Ia tidak mencoba membuat gambar sungai. Ia membuat serangkaian garis tajam, lengkungan yang saling bertabrakan, dan gradasi hitam yang dalam.

Saat ia membuka mata, kertas itu penuh dengan kekacauan yang terorganisir. Itu tidak mirip sungai, tapi entah kenapa, itu *terasa* seperti sungai yang sedang berjuang melawan musim dingin.

Elara mengintip ke arah gambar itu dan matanya membelalak. "Luar biasa. Itu... itu terdengar seperti musik yang belum sempat kutulis."

Tiba-tiba, Elara merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil. Sebuah harmonika tua yang tampak sedikit berkarat. Ia menempelkannya ke bibirnya dan meniup sebuah nada panjang yang pilu.

Nada itu melayang di atas sungai, bersatu dengan suara alam. Kai terpaku. Ia melihat Elara meniup instrumen itu dengan mata terpejam, air mata perlahan mengalir di pipinya.

Pada saat itulah, sesuatu yang aneh terjadi pada penglihatan Kai.

Untuk sepersekian detik, ia melihat warna. Bukan merah yang menakutkan, tapi warna lain di langit—warna ungu pucat yang muncul di balik awan abu-abu. Itu hanya sekejap, seperti kilatan lampu yang mati, tapi itu cukup untuk membuat jantung Kai berhenti berdetak sejenak.

"Elara..." bisiknya.

Elara berhenti meniup harmonikanya dan menghapus air matanya dengan cepat. "Maaf. Aku terbawa suasana."

"Aku melihatnya," kata Kai, suaranya gemetar. "Aku melihat warna di langit tadi. Saat kau bermain."

Elara terdiam, menatap Kai dengan tatapan tidak percaya. "Benarkah?"

Kai mengangguk perlahan. "Hanya sebentar. Tapi itu ada di sana."

Harapan adalah hal yang berbahaya, terutama di tempat sesunyi Oakhaven. Namun sore itu, di dermaga tua yang berbau besi karat, Kai dan Elara menyadari bahwa mereka bukan sekadar dua orang yang saling membantu. Mereka adalah dua instrumen yang berbeda, yang jika dimainkan bersama, mungkin bisa menciptakan harmoni yang mampu memecahkan kebekuan yang paling keras sekalipun.

Namun, di kejauhan, di balik bayang-bayang gudang tua, seorang pria dengan mantel hitam berdiri mengamati mereka. Ia tidak bergerak, matanya terpaku pada Kai dengan intensitas yang mengerikan. Pria itu memegang sebuah amplop tua berwarna cokelat, dan di wajahnya terdapat senyum yang tidak menyiratkan kebaikan sedikit pun.

Masa lalu Kai bukan hanya sekadar bayangan di kepalanya. Masa lalu itu memiliki nama, memiliki wajah, dan ia baru saja menemukan jalan ke Oakhaven.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!