NovelToon NovelToon
The Dancing Soul

The Dancing Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Malam itu, aspal jalan raya menuju Yogyakarta seolah menjadi saksi bisu kegilaan Adrian.

Dengan mata yang masih memerah dan sisa aroma alkohol yang dipaksa hilang oleh basuhan air dingin, ia memacu mobilnya menembus kegelapan lintas Jawa.

Pikirannya kacau, hanya ada bayangan wajah Liana yang menangis di bawah guyuran hujan Jakarta yang terus menghantuinya.

Fajar baru saja menyingsing saat mobil SUV hitam yang kini berdebu itu memasuki jalanan desa yang tenang.

Adrian menghentikan kendaraannya tepat di depan sebuah rumah sederhana dengan halaman yang asri.

Jantungnya berdegup kencang, lebih hebat daripada saat ia menunggu pengumuman box office film-filmnya.

Di teras rumah, ia melihat pemandangan yang membuat rahangnya mengeras.

Liana sedang duduk di kursi rotan, dan di sampingnya, seorang pria bertubuh tegap—Erwin—sedang berbicara dengan nada rendah yang akrab.

Adrian membuka pintu mobil, melangkah keluar dengan kemeja yang kusut dan wajah lelah yang tak bisa disembunyikan.

"Liana..." suara Adrian parau, memecah kesunyian pagi.

Liana tersenta dan berdiri dengan tangan gemetar, matanya melebar melihat sosok pria yang baru saja menghancurkan hatinya kini berdiri di depan rumahnya.

Mendengar suara asing itu, Mama Liana keluar dari dalam rumah.

Beliau tidak tahu apa yang terjadi di Jakarta, tidak tahu tentang Arum, ataupun pengkhianatan Adrian.

Yang beliau tahu, pria ini adalah bos besar yang telah memberikan pekerjaan pada putrinya.

"Loh, Pak Adrian? Kok subuh-subuh begini sudah sampai Jogja? Mari, mari masuk, Pak," sapa Mama dengan keramahan khas desa, tersenyum lebar menyambut tamu jauhnya.

Namun, keramahan itu kontras dengan atmosfer di teras.

Erwin yang menginap disana langsung berdiri dengan perlahan.

Matanya menatap Adrian dengan kebencian yang murni.

Ia bisa merasakan penderitaan Liana hanya dengan melihat reaksi gadis itu saat ini.

Erwin melangkah maju, menghalangi jalan Adrian menuju Liana.

Ia mencengkeram erat kedua tangannya hingga buku-bukunya memutih, urat-urat di lengannya menegang.

Napasnya memburu, siap menghajar wajah pria kota yang telah berani menganggap hati Liana sebagai properti syuting.

"Mau apa kamu ke sini, hah?!" desis Erwin dengan suara rendah yang mengancam.

"Belum puas kamu merusak hidupnya di Jakarta?"

Erwin sudah menarik lengan kanannya ke belakang, bersiap melayangkan pukulan telak ke rahang Adrian.

Adrian sendiri hanya diam, memejamkan mata seolah siap menerima hantaman itu sebagai bagian dari penebusan dosanya.

"Erwin, jangan!!"

Liana menghambur maju, memegangi lengan Erwin dengan kuat.

Ia berdiri di antara kedua pria itu, napasnya tersenggal.

"Jangan, Win, kumohon jangan. Jangan kotori tanganmu untuk orang seperti dia," ucap Liana dengan suara bergetar.

Ia menatap Erwin dengan tatapan memohon, lalu beralih menatap Adrian dengan sorot mata yang dingin dan penuh luka.

"Biarkan dia bicara, setelah itu dia harus pergi dari sini selamanya."

Mama yang melihat ketegangan itu hanya bisa terpaku di ambang pintu, kebingungan melihat putri kesayangannya menangis di depan pria yang baru saja ia sambut dengan ramah.

Suasana di depan rumah yang tadinya tegang mendadak sunyi saat Liana melangkah maju.

Ia menghapus sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu menatap Adrian dengan tatapan yang kosong, seolah pria di depannya hanyalah orang asing yang tersesat.

"Ikut aku. Kita bicara di luar," ucap Liana dingin.

Mama yang berdiri di ambang pintu tampak bingung, wajah tuanya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.

"Ada apa, Ndhuk? Kok wajahnya tegang semua? Pak Adrian baru sampai, mbok ya disuguhi minum dulu."

Liana memaksakan senyum tipis, mencoba menenangkan wanita yang paling ia cintai itu.

"Enggak ada apa-apa, Ma. Cuma ada urusan kontrak film kemarin yang belum selesai pembayarannya. Liana bicara sebentar di warung mbok Darmi,"

Liana beralih menatap Erwin. Matanya seolah mengirimkan sinyal permohonan yang dalam.

"Win, tolong, jaga Mama di sini. Jangan biarkan dia kepikiran."

Erwin mendengus kasar, tangannya yang semula mengepal perlahan mengendur, namun matanya tetap menatap tajam ke arah Adrian.

"Aku di sini, Li. Kalau dalam sepuluh menit kamu tidak kabar, aku yang akan menjemputmu."

Adrian hanya diam, ia mengikuti langkah Liana menuju mobil SUV hitamnya yang berdebu.

Ia melajukan mobilnya menyusuri jalanan desa yang mulai ramai oleh penduduk yang berangkat ke sawah.

Atas arahan Liana, mereka berhenti di sebuah warung sederhana milik Mbok Darmi yang terletak di pinggir sawah, tempat yang cukup sepi untuk bicara tanpa gangguan.

Begitu mesin mobil mati, keheningan yang menyesakkan menyergap kabin.

"Ada apa lagi, Pak Adrian Pratama?" tanya Liana tanpa menoleh. Suaranya terdengar datar, namun penuh dengan luka yang belum kering.

"Mau merusak hidupku lagi? Belum cukup tontonan yang Bapak berikan di Jakarta tempo hari?"

Adrian memutar tubuhnya, mencoba meraih tangan Liana, namun gadis itu segera menariknya menjauh.

"Liana, aku ke sini untuk minta maaf. Aku sudah meninggalkan Arum, aku—"

"Minta maaf?" Liana tertawa getir.

Ia merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil yang biasa ia gunakan untuk mengupas buah saat di Puncak.

Dengan tangan gemetar, ia menyodorkan gagang pisau itu ke arah Adrian.

"Ini ada pisau. Kalau tujuan Bapak ke sini hanya untuk menyiksaku lebih dalam, silakan. Bunuh saja aku sekarang," ucap Liana dengan suara yang pecah.

"Karena dikhianati oleh orang yang aku percayai, rasanya jauh lebih sakit daripada mati, Adrian."

Adrian terpaku menatap mata Liana yang berkaca-kaca.

Ia melihat kehancuran yang ia ciptakan sendiri. Pisau itu tidak menakutinya, namun kata-kata Liana menusuk jantungnya lebih dalam daripada senjata tajam mana pun.

"Aku tidak ingin membunuhmu, Liana..." bisik Adrian parau.

"Aku ingin menghabiskan sisa hidupku untuk membayar air mata yang jatuh karena kebodohanku."

Liana melempar pisau itu ke lantai mobil. "Hargaku bukan untuk dibeli dengan penyesalanmu, Adrian. Pulanglah. Jakarta tempatmu, dan Jogja adalah tempatku untuk sembuh."

Ketegangan di dalam mobil SUV itu pecah seketika saat pintu pengemudi ditarik paksa dari luar.

Sebelum Adrian sempat bereaksi, sebuah kepalan tangan mendarat telak di rahangnya.

Bugh!

Kepala Adrian terhentak ke samping, menghantam sandaran kursi.

Darah segar mulai merembes dari sudut bibirnya yang pecah.

"Erwin, hentikan!" teriak Liana histeris, mencoba keluar dari mobil.

Namun, Erwin yang sudah dikuasai amarah yang meluap-luap tidak memberi ampun.

Ia menarik kerah kemeja Adrian, menyeret pria kota itu keluar hingga tersungkur di atas tanah merah di samping warung Mbok Darmi.

Bugh!

Satu pukulan lagi mendarat keras di pipi kiri Adrian.

Adrian terjatuh, namun ia tidak membalas. Ia hanya menatap Erwin dengan tatapan sayu, seolah pasrah menerima setiap hantaman sebagai tebusan atas luka hati Liana.

"Ini buat air mata Liana di Jakarta!" bentak Erwin dengan napas memburu.

Ia bersiap melayangkan pukulan ketiga, namun Liana segera menghambur dan memeluk lengan Erwin erat-erat.

"Cukup, Win! Cukup! Kamu bisa masuk penjara karena orang seperti dia!" tangis Liana pecah, tubuhnya berguncang hebat di antara dua pria yang memperebutkan dunianya itu.

Adrian terbatuk, mencoba duduk sambil menyeka darah di wajahnya.

Ia menatap Liana dengan tatapan yang masih penuh pemujaan, meski tubuhnya kesakitan.

"Aku tidak akan pergi, Liana," ucap Adrian pelan namun tegas, suaranya parau.

"Pukul aku sesukamu, Erwin. Tapi aku tetap akan menginap di penginapan dekat sini sampai Liana mau mendengarkanku tanpa amarah."

Erwin meludah ke samping, matanya berkilat penuh ancaman.

"Jangan harap kamu bisa tidur nyenyak di desa ini. Kalau aku melihatmu mendekati rumah Liana lagi, aku tidak akan segan-segan melakukan yang lebih dari ini."

Liana menatap Adrian dengan rasa benci yang bercampur dengan sisa-sisa perasaan yang ia sendiri tak mengerti.

"Pulanglah, Adrian. Luka ini tidak akan sembuh hanya karena kamu dipukuli."

Liana kemudian menarik tangan Erwin, mengajaknya menjauh.

"Ayo pulang, Win. Biarkan dia dengan kegilaannya sendiri."

Adrian hanya bisa terpaku menatap punggung Liana yang menjauh.

Ia berdiri dengan tertatih, masuk kembali ke mobilnya, dan bukannya memutar balik menuju Jakarta, ia justru mencari penginapan terdekat.

Baginya, menyerah bukanlah pilihan, meski ia harus babak belur di tangan sahabat masa kecil wanita yang ia cintai.

1
Laila Isabella
awal cerita yg menarij
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
merry yuliana
hmmmmmm bioin si adrian bertekuk.lutit bucin abis sama liana kak
winpar
ceritanya seru
merry yuliana
hadir kak
ditunggu crazy upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!