NovelToon NovelToon
Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Ibu Tiri / Fantasi Isekai
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.

Besoknya, kontrak miliaran gol.

Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.

Rahimnya diangkat.

Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.

Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.

Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.

Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.

Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.

Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.

Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Insting Keibuan

"Bukan, Bu!" Syaiful menarik ujung daster Sukma kuat-kuat. Suara balita itu bergetar nyaring membelah sepi.

"Itu bukan Mas Gito! Itu Mas Arman!"

Sukma mengerjap. Jantungnya yang tadi nyaris melompat keluar kini kembali membentur rusuk dengan keras.

Matanya menyipit, menembus temaramnya cahaya bulan purnama yang terhalang lebatnya dahan bambu.

Bocah yang tersungkur di tanah berdebu itu memang bukan anak keduanya. Posturnya lebih panjang, meski sama-sama kurus.

Arman, anak yang sebenarnya sudah masuk usia remaja. Tapi karena kekurangan gizi sejak lama, tubuhnya jadi kecil, lebih mirip anak umur 9 tahun, padahal aslinya sudah 15 tahun. Ia tinggal di gubuk reot di ujung desa, cuma berdua dengan kakeknya.

Mereka keluarga buangan, sasaran cemoohan warga karena aib masa lalu, tipe orang-orang yang tak pernah Sukma Ayu pedulikan sedikit pun.

"Mas Arman..." Syaiful berjinjit, mengintip dari balik kaki ibunya.

Sukma tak berpikir dua kali. Tubuhnya berjongkok cepat, membalikkan bahu pemuda itu.

Kulit Arman pucat pasi, kotor oleh debu dan tanah.

Namun, saat punggung tangan Sukma menyentuh pelipisnya...

Panas membara. Rasanya seperti menyentuh wajan yang baru diangkat dari tungku.

Anak itu menggigil hebat. Giginya bergemeretak tak terkendali.

Tangan Sukma dengan cekatan merogoh saku dalam dasternya, dimensi ajaib yang terhubung langsung ke gudang spasialnya. Sebutir parasetamol dan pil antibiotik ditarik keluar tanpa suara.

"Buka mulutmu." Sukma menjepit rahang Arman dengan satu tangan, memaksa mulut anak yang sudah mulai beranjak jadi pemuda itu terbuka lebar.

Obat itu dijejalkan masuk ke kerongkongan. "Telan!"

Arman tersedak pelan. Rasa pahit obat kimia langsung menyengat pangkal lidahnya.

Ia terbatuk keras, membelalak kaget melihat wajah siapa yang membayang di atasnya.

Istri Sutrisno yang galak. Istri prajurit yang biasanya menatap orang miskin dengan ludahan di tanah.

"I... Ibu Sukma..." napas Arman tersengal.

"Jangan banyak omong." Sukma menyambar sebuah roti isi daging tebal yang sengaja ia simpan di dasar tas selempangnya. Roti hangat itu dijejalkan ke dada Arman.

"Makan. Kakekmu butuh kamu sehat. Kalau kamu mati di sini, siapa yang ngurus kakekmu?!"

Tanpa menunggu ucapan terima kasih dari pemuda yang masih kebingungan itu, Sukma menggendong Syaiful dan berlari kencang menyusuri jalan setapak.

Instingnya mendadak liar. Firasatnya memburuk seiring langkahnya mendekati pekarangan rumah bata.

Benar saja. Baru saja kakinya melompati parit depan pekarangan, pekikan tajam menyambut telinganya.

"Kamu itu cuma numpang makan di rumah ini! Jangan belagu!"

Itu suara Ningsih.

Sukma menurunkan Syaiful dengan kasar. Langkahnya mengendap cepat mendekati jendela nako yang terbuka separuh.

Di ruang tengah, Wati berdiri menutupi meja makan bambu, wajahnya pias memegangi perut buncitnya.

Di depannya, Ningsih bertolak pinggang. Dua anaknya yang rakus, Yanto dan Yanti, asyik menggasak sisa panci berisi kaldu dan pentol daging jatah Sinta.

"Mbak Ningsih, kamu ngawur! Ini jatah anak-anaknya Mbakyu Sukma!" Suara Wati bergetar parau, tangan kasarnya berusaha mendorong tubuh gempal Ningsih menjauh dari meja.

"Halah! Kamu sendiri kan juga numpang makan di sini, Wati?! Jangan sok suci!" Ningsih menepis tangan Wati keras-keras.

Ibu hamil itu terhuyung mundur, pinggangnya menghantam tepi kursi kayu. Wati merintih tertahan.

Kesabaran Sigit putus. Bocah sembilan tahun itu melompat dari balik tirai kamar, matanya menyalang buas bak serigala terluka.

"Pergi kamu dari rumah ibuku!" Sigit menuding pintu depan dengan jari gemetar.

"Aku anak paling tua di sini! Bapakku lagi tugas negara! Kamu ndak punya hak ngambil makanan keluargaku!"

Ningsih tertawa sinis. Tawa yang sangat melengking, merobek kewarasan siapa pun yang mendengarnya malam itu.

"Anak paling tua? Cuh!" Ningsih meludah sembarangan ke lantai plesteran semen. Urat lehernya menonjol penuh kebencian.

"Kamu itu bukan anaknya Mas Trisno! Kalian semua ini bocah pungut! Anak pungut yang diambil bapakmu dari entah dari mana! Jangan sok berkuasa di rumah keluarga Priyanto, dasar anak haram!"

Brak!

Daun pintu depan ditendang hancur hingga engselnya lepas sebelah.

Debu mengepul tebal. Sukma berdiri di ambang pintu, auranya segelap malam.

Napasnya memburu menahan amarah yang menggelegak membakar ubun-ubun.

Tapi sebelum Sukma sempat melangkah masuk, bayangan kecil melesat melewatinya.

Sigit menerjang Ningsih.

Bocah kurus itu tak memukul. Ia tak menendang. Ia membuka rahangnya lebar-lebar dan menancapkan giginya dalam-dalam ke lengan gempal Ningsih.

"Aaaaarghhh!!!" Ningsih menjerit kesetanan. Darah segar langsung merembes menembus kain kebaya murahnya. Bau anyir besi menguar ke udara.

Yanto dan Yanti menjerit ketakutan, berlari menjauh dari meja.

Wati mematung kaget di pojokan, perut buncitnya mendadak kram hebat hingga lututnya lemas.

"Lepas! Lepas, anjing gila!" Ningsih meronta beringas. Tangan kirinya memukuli punggung dan kepala Sigit membabi buta.

Tapi rahang Sigit terkunci mati. Rasa sakit di kepalanya tak sebanding dengan hancurnya harga dirinya malam ini.

Fakta paling menyakitkan tentang statusnya baru saja diteriakkan secara brutal di depan adik-adiknya.

Sukma menerjang maju. Ditariknya kerah baju Ningsih sekuat tenaga hingga wanita itu terpelanting ke lantai.

Kedua tangan Sukma langsung memegang bahu bergetar Sigit.

"Sigit! Lepas, Le! Lepas!"

Bocah itu melepaskan gigitannya perlahan. Darah segar menetes dari dagunya yang kotor.

Ia mendongak, menatap Sukma dengan sepasang mata kosong. Hancur lebur berkeping-keping.

"Ibu... aku bukan anaknya pak'e sama ibu ta?"

Pertanyaan lirih itu merobek ulu hati Sukma. Insting keibuannya meledak tak terkendali.

Ia menarik tubuh kaku Sigit ke dalam pelukannya. Sangat erat. Memeluk tulang-tulang rusuk bocah itu hingga nyaris berderak, tak peduli noda darah mengotori dasternya.

"Kamu anakku." Sukma berbisik di telinga bocah itu.

"Kamu anak sulungnya Sutrisno dan Sukma Ayu. Siapa yang berani bilang bukan, kupotong mulutnya!"

Pertahanan Sigit runtuh total. Tangan kecilnya mencengkeram kain daster Sukma kuat-kuat.

Tangisnya pecah menggelegar. Tangis seorang anak yang selama ini menanggung beban rahasia mengerikan sendirian dalam diam.

"Kurang ajar!" Ningsih bergulingan di lantai, memegangi lengannya yang robek.

"Lihat kelakuan anak pungutmu ini, Sukma! Bakal kulaporkan ke Ibu biar kalian semua diusir dari desa ini!"

Tangan Sukma meraba kasar permukaan meja makan di belakangnya. Jari-jarinya menemukan gagang kayu yang dingin. Sebilah golok pemotong daging.

Sring!

Ujung golok itu ditancapkan Sukma ke papan meja kayu. Tepat dua sentimeter dari ujung hidung Ningsih yang sedang merangkak bangun.

"Pergi sekarang," desis Sukma mematikan. Matanya menatap datar tanpa emosi.

"Atau kuiris lidahmu."

Ningsih pucat pasi. Tubuhnya bergetar ngeri. Ia menyambar pergelangan tangan dua anaknya dan berlari terbirit-birit keluar rumah sambil melolong histeris minta tolong.

Sukma baru saja mencabut goloknya saat rintihan menyakitkan terdengar dari sudut ruangan.

"Mbakyu... aduh... perutku kencang..."

Wati merosot ke lantai plester. Wajahnya mandi keringat dingin. Kedua lengannya memegangi perutnya yang mengeras bagai batu.

"Wati!" Sukma melempar goloknya sembarangan. Ia memapah wanita hamil itu sekuat tenaga menuju dipan bambu di ruang tengah.

"Gito, ambil air hangat di dapur! Sinta, tutup pintu depan rapat-rapat!"

Sukma merebahkan Wati. Tangannya dengan kilat mengambil pil nyeri berdosis aman dari ruang spasial, menyelipkannya ke mulut Wati, lalu memaksa wanita itu meminum air kendi.

"Tarik napas, Wat. Jangan panik. Bayimu ndak apa-apa. Jangan mikirin omongannya Ningsih," bisik Sukma menenangkan.

Tangannya memijat pelan punggung dan pinggang Wati yang tegang.

Keributan riuh di halaman pekarangan memecah fokusnya. Bala bantuan Ningsih rupanya datang lebih cepat dari dugaan.

"Pak Kades! Lihat ini tanganku! Anak pungut itu benar-benar kayak anjing gila!"

Suara Ningsih sengaja dikeraskan. Tak lama, lengkingan suara Lasmi ikut menyusul, membelah malam.

"Gusti Pangeran! Sukma! Keluar kamu sekarang! Berani-beraninya anakmu gigit mantuku sampai robek begini!"

Sukma menyelimuti Wati, memastikan napas adik iparnya itu mulai teratur, lalu melangkah ke depan.

Di teras rumahnya, Kades Darman berdiri memegang senter menyala terang.

Lasmi bertolak pinggang dengan wajah merah padam, didampingi Jamilah yang tersenyum puas melihat kekacauan ini.

Warga mulai berkerumun di balik pagar bambu, mencari tontonan gratis.

"Sukma," Kades Darman berdeham berat, mencoba berwibawa.

"Ini urusannya sudah main fisik. Luka Ningsih dalam. Kamu harus tanggung jawab..."

"Ningsih ganggu orang hamil sampai pendarahan!" Sukma memotong keras. Suaranya menggelegar memantul di dinding pekarangan, membungkam mulut Kades Darman seketika.

1
Dewiendahsetiowati
mantab hajar aja keluarga benalu
Musdalifa Ifa
mau nanya Thor jangan tersinggung yah karna ini cerita sudah pernah saya baca tapi bukan bahasa begini, apakah ini karya asli author ?
SENJA
kok jadi mak karman? ibue sukma kan namanya marni lho thor🤭
SENJA
cuok drama cuok 😤
SENJA
kenapa ga berani?!? 😄🤣
SENJA
laki laki apa ini 😤
SENJA
ini lagi hadeeeh benalu 😤
SENJA
jamilah mulutnya comberen banget😤
gina altira
jgn kasih ampun Ningsih
Enah Siti
🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍😍👍👍👍smngat thor maksih
Dewiendahsetiowati
bisa gak si Jamilah dibikin stroke gitu heran bikin emosi terus
SENJA
bener kata sukma do
SENJA
cangkem mu lho 😤
SENJA
hajar terus hajar 😤😤😤 asssuuu emang dia
SENJA
lu ga tau malu banget jadi perempuan 😤
Enah Siti
🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍👍👍👍 ljut thor mksih byak byak
Enah Siti
💪💪💪💪💪😍😍😍😍 nuhun thor
Enah Siti
💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏😍😍😍😍👍👍👍👍👍ljut thor
SENJA
hadeeeeh 😤
SENJA
yaaah kebetulan banget ini weeeh 🤭🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!