Kerajaan Risvela dipimpin oleh Raja Ryvons dengan dua pewaris: Seyron yang tampak sempurna, dan Reyd yang dulu dianggap bermasalah. Setelah kembali dari Academy Magica bersama Lein, Reyd berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan peduli.
Namun di balik citra baiknya, Seyron menyimpan sisi dingin yang berbahaya. Menyadari hal itu, Reyd bertekad merebut takhta demi melindungi kerajaan, meski peluangnya kecil.
Di tengah konflik keluarga, kekuasaan, dan kebenaran—Reyd memilih melawan takdirnya sendiri untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angin yang Ditempa Ulang
Pagi di istana terasa lebih dingin. Kabut tipis menyelimuti halaman latihan. Hanya suara angin yang berhembus pelan.
Di tengah lapangan—Reyd berdiri.
Pedang di tangannya bukan baja. Melainkan—angin. Transparan. Bergetar halus. Namun kini—lebih stabil dari sebelumnya.
“Ayo lagi.”
Suara berat terdengar dari samping.
Dia Kesduls Tirvers. Seorang bangsawan paruh baya, berdiri dengan tangan di belakang punggung. Tatapannya tajam. Mengamati tanpa melewatkan detail sekecil apa pun.
Reyd tidak menjawab. Ia melangkah maju. Angin di kakinya berputar.
SWOOSH!
Tebasan pertama. Cepat. Tepat.
Namun—
“Kurang.”
Kesduls langsung memotong.
Reyd berhenti. Menghela napas.
“Di bagian mana?”
Kesduls melangkah mendekat.
“Semua gerakan.”
Jawaban singkat.
Reyd mendecak pelan. Namun tidak membantah.
Kesduls berdiri di depannya. Menatap lurus.
“Pedangmu sudah lebih kuat. Namun pikiranmu—”
Ia mengetuk pelipisnya sendiri.
“Masih berantakan.”
Sunyi.
Reyd menatap ke depan. Tidak tersinggung. Karena ia tahu—itu benar.
“Apa yang harus aku ubah?”
Tanyanya.
Kesduls sedikit mengangguk.
“Keputusan.”
Reyd mengernyit.
“Keputusan?”
Kesduls berbalik. Berjalan beberapa langkah.
“Di arena kemarin…”
Ia berhenti.
“Kau memilih kekuatan. Bukan kendali.”
Reyd terdiam. Bayangan tornado itu terlintas di pikirannya.
“Kalau aku tidak begitu…”
Reyd mulai bicara.
“Aku akan kalah.”
Kesduls mengangguk kecil.
“Itu benar.”
Jawaban itu membuat Reyd sedikit terkejut.
Kesduls melanjutkan.
“Namun menang dengan cara itu…”
Ia menoleh sedikit.
“Bukan keputusan seorang pangeran.”
Sunyi.
Kalimat itu terasa berat. Lebih berat dari latihan fisik mana pun.
“Lalu apa yang harus aku lakukan?”
“Berpikir. Setiap tebasan—harus punya alasan. Setiap langkah—harus punya tujuan. Dan setiap keputusan—”
Ia berhenti tepat di depan Reyd.
“Harus kau tanggung akibatnya.”
Reyd mengangkat kembali tangannya. Angin mulai berkumpul. Namun kali ini—lebih pelan. Lebih terkontrol.
Pedang itu terbentuk kembali. Tidak sebesar sebelumnya. Tidak sekuat sebelumnya. Namun—lebih stabil.
Tatapannya fokus.
SWOOSH.
Matahari mulai naik. Kabut perlahan menghilang. Latihan terus berlanjut. Tebasan demi tebasan. Kesalahan demi kesalahan. Perbaikan demi perbaikan.
Dan di antara semua itu—Reyd belajar. Bukan hanya mengayunkan pedang. Namun—mengendalikan dirinya sendiri.
---
Pagi masih muda. Angin berhembus pelan di halaman latihan.
Reyd menurunkan pedangnya. Sihir angin itu perlahan menghilang, menyisakan ketenangan yang jarang ia miliki dulu.
Namun—ketenangan itu tidak bertahan lama.
Langkah ringan terdengar mendekat.
“Latihan yang bagus.”
Suara itu datang tanpa tergesa.
Reyd tidak perlu menoleh. Ia sudah tahu.
Reyd hanya melirik sekilas.
“Ada perlu apa?”
Nada suaranya datar.
Iselle tidak tersinggung. Senyumnya tetap ada.
“Aku hanya ingin berbicara.”
Ia melangkah sedikit lebih dekat.
“Tidak perlu terlalu serius begitu.”
Reyd menghela napas pelan. Tatapannya kembali ke depan.
“Aku sedang sibuk.”
Jawaban singkat.
Namun Iselle tidak mundur. Justru—ia tersenyum lebih tipis.
“Kalau begitu… bagaimana kalau kita berjalan sebentar?”
Reyd akhirnya menoleh.
“Maaf, aku tidak bisa.”
Angin berhembus pelan di antara mereka.
Namun—Iselle tetap di tempatnya.
“Aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh.”
Reyd menatapnya beberapa detik. Lalu—memalingkan wajah.
“Aku tidak tertarik.”
Jawaban itu lebih dingin dari sebelumnya.
Namun—Iselle hanya menghela napas kecil.
“Kamu sulit sekali.”
Bisiknya pelan.
Reyd tidak menjawab. Sebaliknya—ia mengangkat tangannya sedikit.
Tidak lama—suara langkah berat terdengar.
DUM… DUM… DUM…
“Oi, kau manggil?”
Reyd menunjuk ke arah Iselle.
“Temani Iselle.”
Kegiant mengangkat alis.
“Hah?”
Iselle juga sedikit terdiam. Namun belum sempat berkata apa-apa—Reyd sudah berbalik.
“Keliling istana. Atau apa pun itu.”
Ia mulai berjalan pergi.
“Aku tidak punya waktu.”
Tanpa menunggu—ia benar-benar pergi.
Sunyi.
Kegiant melirik Iselle. Lalu—menyeringai.
“Jadi… Nona cantik mau keliling istana, ya?”
Iselle tidak menjawab. Tatapannya masih ke arah Reyd yang menjauh.
Namun—ia segera mengalihkan pandangan.
“Tidak perlu.”
Jawabnya singkat.
Kegiant tertawa kecil.
“Jangan begitu. Aku bisa jadi pemandu yang bagus, loh.”
Ia menepuk dadanya.
“Tempat makan enak, tempat latihan, bahkan kamar yang indah.”
“Maaf, aku tidak tertarik.”
Iselle memotong.
Kegiant terdiam sejenak. Lalu menggaruk kepalanya.
“Dingin juga kamu.”
Namun ia tidak menyerah.
“Setidaknya kita bisa jalan sedikit—”
Iselle sudah berbalik.
“Aku ada urusan lain.”
Jawabnya singkat.
Lalu—ia pergi.
Kegiant berdiri diam. Beberapa detik. Ia menghela napas.
“Hari ini semua orang aneh.”
Gumamnya.
soalnya jauh bnget beda tulisannya sama novel² yg sebelumnya?
what happen?