NovelToon NovelToon
Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Pagi itu, suasana di rumah keluarga Baskoro terasa sangat sunyi.

Tidak ada lagi suara langkah kaki Intan yang biasanya mondar-mandir atau bunyi ponselnya yang berdering.

Aisyah duduk di meja makan, menatap kosong ke arah kursi yang biasanya ditempati putrinya.

Matanya masih tampak sedikit sembab, meskipun ia sudah berusaha tegar.

Bi Inah, yang sudah mengabdi selama belasan tahun dan mengetahui seluruh badai yang menimpa keluarga ini, datang mendekat sambil membawa secangkir teh jahe hangat.

Ia meletakkannya perlahan di depan Aisyah.

"Nyonya, diminum dulu tehnya supaya badannya lebih enak," ujar Bi Inah lembut.

Aisyah mendongak, mencoba memaksakan sebuah senyuman.

"Terima kasih, Bi. Rumah ini rasanya jadi aneh ya, sangat sepi."

"Nyonya tenang saja. Masih ada saya, Mbak Yani, Mas Iman, dan Mas Rudi yang akan selalu berdiri di belakang Nyonya," ucap Bi Inah dengan nada yang sangat yakin.

Bi Inah melanjutkan, "Kami semua sudah seperti keluarga di sini. Kami tidak akan membiarkan Nyonya dan Tuan Rizal berjuang sendirian. Usaha Aisyah Cookies ini adalah berkah untuk kami semua, dan kami akan menjaganya sekuat tenaga agar Nyonya tidak perlu merasa kehilangan lagi."

Aisyah menghela napas panjang, kali ini bebannya terasa sedikit lebih ringan.

Ia menyadari bahwa meskipun ia kehilangan kepercayaan pada putrinya untuk sementara waktu, Tuhan mengirimkan orang-orang setia yang tulus membantunya.

"Terima kasih, Bi. Kalian benar-benar penyemangat buat saya," balas Aisyah.

Tepat saat itu, Rizal turun dari tangga dengan kemeja rapi, siap untuk kembali memimpin kantornya yang kini sudah bersih dari para koruptor. Ia melihat istrinya mulai tersenyum kembali.

"Sudah siap untuk memulai hari baru, Sayang?" tanya Rizal sambil mengelus pundak Aisyah.

Pagi itu, sinar matahari menembus jendela ruang makan dengan lembut, membawa harapan baru setelah badai pengkhianatan yang baru saja berlalu.

Rizal, yang kini sudah tampak jauh lebih segar dengan kemeja batik biru tua, menghampiri Aisyah yang sedang termenung.

"Sayang, jangan melamun terus. Hidup harus tetap berjalan," ucap Rizal lembut sambil menggenggam tangan istrinya.

"Rizal mengajak istrinya untuk mencari sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke perusahaan. Aku tahu kamu belum makan apa pun sejak semalam."

Aisyah mengangguk pelan. Mereka pun berkendara menuju sebuah kedai soto langganan di sudut kota.

Di tengah kepulan uap soto yang harum, suasana hati Aisyah mulai mencair. Rizal memanfaatkan momen tenang itu untuk membicarakan masa depan perusahaan yang sempat goyang akibat ulah Bram.

"Aku punya rencana besar untuk memulihkan keadaan di kantor," ujar Rizal sambil menatap istrinya dalam-dalam.

"Rizal meminta pendapat kepada Aisyah. Menurutmu, apakah ini saat yang tepat untuk melakukan pembersihan total?"

Aisyah meletakkan sendoknya. "Jika itu untuk kebaikan orang banyak dan amanah Mas Taufik, lakukanlah, Mas. Aku mendukungmu."

Mendapat restu dari istrinya, semangat Rizal semakin berkobar.

Setibanya di kantor, ia tidak membuang waktu. Langkah kakinya terdengar mantap di koridor, tanpa bantuan tongkat sedikit pun.

Seluruh karyawan berkumpul di aula utama atas instruksinya.

Di depan semua orang, Rizal yang merombak struktur organisasi kantor secara besar-besaran.

Ia menghapus jabatan-jabatan yang selama ini menjadi sarang korupsi bagi pengikut Bram. Namun, kejutan terbesar muncul di akhir pengumumannya.

"Dan untuk posisi asisten manajer operasional yang baru, saya menunjuk seseorang yang telah membuktikan kejujuran dan keberaniannya di bawah tekanan," suara Rizal menggema.

Rizal mempromosikan Siska untuk menduduki posisi tersebut.

Siska yang berdiri di barisan belakang tampak tersentak.

Matanya berkaca-kaca karena tidak menyangka pengorbanannya membongkar kejahatan Bram akan dihargai setinggi ini.

"Siska, saya butuh orang jujur seperti kamu untuk menjaga perusahaan ini. Apakah kamu siap?" tanya Rizal tegas.

Siska mengangguk mantap di hadapan seluruh rekan kerjanya.

"Siap, Pak! Saya tidak akan mengecewakan kepercayaan Bapak."

Di sudut lain, jauh dari hiruk-pikuk perusahaan yang mulai membaik, suasana di Pondok Pesantren di Kediri terasa sangat kontras.

Di dalam asrama putri, sebuah drama kecil tengah terjadi di depan kamar mandi umum.

Intan yang tidak mau mandi sejak kedatangannya semalam, masih duduk meringkuk di sudut ruangan.

Wajahnya yang biasa dipoles riasan mahal kini tampak kusam, matanya bengkak karena terus menangis, dan ia menolak menyentuh air sedikit pun sebagai bentuk protes.

"Aku tidak mau! Airnya dingin! Aku mau pulang!" teriak Intan saat dua orang santriwati senior mendekatinya dengan sabar.

Namun, kedisiplinan pondok tidak mengenal kata manja.

Setelah hampir satu jam membujuk tanpa hasil, seorang pengurus asrama yang dikenal tegas akhirnya turun tangan.

Dengan dibantu beberapa santriwati lainnya, Intan akhirnya dipaksa untuk membersihkan diri.

Meski sempat meronta, dinginnya air wudu dan sabun mulai melunturkan keras kepalanya.

Setelah selesai, Intan berdiri di depan cermin dengan tatapan kosong.

Ia terpaksa menanggalkan pakaian bermereknya dan memakai pakaian pondok—sebuah gamis sederhana berwarna gelap lengkap dengan kerudung panjang yang menutupi rambutnya.

Ia tampak sangat berbeda, seperti orang asing bagi dirinya sendiri.

Seorang ustadzah berdiri di ambang pintu kamar, menatap Intan dengan pandangan yang tidak menghakimi namun sangat tegas.

"Hapus air matamu, Intan. Di sini, semua orang sama. Tidak ada anak direktur atau pemilik toko. Yang ada hanyalah hamba Allah yang sedang belajar," ujar Ustadzah tersebut.

Ustadzah itu kemudian menyerahkan sebuah kitab kecil dan menunjuk ke arah lorong asrama.

"Sekarang masuk ke kelas dan jangan manja. Teman-temanmu sudah menunggu untuk setoran hafalan pagi. Jika kamu tidak bergerak sekarang, kamu tidak akan mendapatkan jatah sarapan."

Intan menghentakkan kakinya kesal, namun ia tidak punya pilihan lain.

Dengan langkah gontai dan perasaan yang masih mendongkol, ia berjalan menuju kelas, memulai babak baru hidupnya yang jauh dari kemewahan dan kelicikan Hadi.

Duduk di antara barisan santriwati yang tampak fasih melafalkan huruf-huruf hijaiyah, Intan merasa seperti berada di planet lain.

Di depannya, sebuah kitab kuning terbuka, namun baginya deretan tulisan itu hanyalah garis-garis rumit yang tidak masuk akal.

Intan yang kesulitan mengikuti pelajaran bahasa Arab di kelas hanya bisa menunduk, menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah karena malu dan frustrasi.

Setiap kali ustadzah meminta para santri menirukan pelafalan makharijul huruf, Intan hanya terdiam.

Lidahnya terasa kelu. Ia yang biasanya lancar berdebat dengan Aisyah atau merayu Hadi, kini benar-benar kehilangan kata-kata.

Melihat kegelisahan itu, seorang pengajar muda dengan wajah yang sangat teduh mendekati meja Intan.

Beliau adalah Ustadzah Mina yang membantu Intan dengan penuh sabar.

Beliau tidak memarahi Intan karena ketertinggalannya, melainkan duduk di sampingnya.

"Pelan-pelan saja, Intan. Tidak ada yang langsung bisa dalam semalam," ucap Ustadzah Mina lembut sambil menunjukkan cara mengeja satu per satu kata di kitab tersebut.

Intan sempat ingin membantah, namun sorot mata Ustadzah Mina yang begitu tulus membuat kata-kata kasarnya tertahan di tenggorokan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Intan merasakan ada orang yang membimbingnya tanpa ada pamrih atau niat tersembunyi.

"Coba ikuti saya... Al-ilm-u nurun," tuntun Ustadzah Mina.

"Al-ilm-u... nu-run," ucap Intan terbata-bata.

"Bagus. Artinya, ilmu itu adalah cahaya. Cahaya yang akan menuntunmu keluar dari kegelapan masa lalumu," bisik Ustadzah Mina sambil tersenyum tipis.

Meskipun tangannya masih gemetar memegang pena, ada sedikit rasa hangat yang mulai menyelinap di hati Intan.

Untuk sejenak, ia lupa pada dendamnya, lupa pada Hadi, dan fokus pada satu kata yang baru saja ia pelajari.

Setetes air mata akhirnya jatuh membasahi halaman kitab yang sedang dipelajari Intan.

Rasa lelah, rindu rumah, dan penyesalan yang bercampur aduk membuatnya tak lagi bisa menahan sesak di dada.

Di tengah keheningan kelas yang masih sibuk dengan dengungan hafalan, seseorang menyentuh bahunya dengan lembut.

"Jangan menangis," ucap Yuana, teman santri Intan, memberikan tisu dengan senyum yang sangat tulus.

Intan mendongak, menatap gadis di sampingnya yang tampak sangat sederhana namun memiliki binar mata yang damai.

Yuana adalah santriwati asal desa yang sudah dua tahun berada di sana.

Ia tidak tahu siapa Intan sebenarnya, ia tidak tahu bahwa Intan adalah anak orang kaya yang hampir menghancurkan keluarganya sendiri.

Bagi Yuana, Intan hanyalah teman baru yang sedang berjuang melawan rindu.

"Dulu aku juga begitu, Intan. Seminggu pertama aku menangis setiap malam sampai bantal asramaku basah semua," bisik Yuana sambil terkekeh pelan, mencoba menghibur.

Intan menerima tisu itu dan menyeka air matanya.

"Kenapa kamu baik padaku? Aku orang jahat, Yuana."

Yuana menggelengkan kepalanya. "Di sini tidak ada orang jahat, yang ada hanya orang yang sedang belajar menjadi lebih baik. Makan siang nanti, ikut aku ke kantin ya? Ada sambal teri kesukaanmu, eh... maksudku, sambal teri yang sangat enak. Itu pasti bisa membuat perasaanmu lebih baik."

Untuk pertama kalinya sejak tiba di Kediri, Intan tidak membalas dengan ketus.

Ia hanya mengangguk pelan. Kebaikan Yuana dan kesabaran Ustadzah Mina perlahan-lahan mulai mengikis tembok tinggi yang selama ini dibangun Intan untuk menutupi kelicikannya.

Di kejauhan, dari balik jendela kantor pesantren, Ustadzah Mina memperhatikan interaksi kedua santriwati itu dengan perasaan lega.

Ia tahu, persahabatan adalah langkah awal dari sebuah pertobatan yang tulus.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
aisyah umur brp
my name is pho: 25 tahun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!