Hwang zin bukanlah orang dari era ini,dia lahir di tahun 2028 dan berusia 30 tahun,dia yatim piatu,Dia bekerja keras selama hidupnya.
Dia menjadi koki , petugas pengangkutan barang, bartender,pelayan restoran dan lainnya,dia hidup dengan menghemat banyak uang saat tabungannya mencapai 100 juta dalam 15 tahun hidupnya.
Hwang zin membeli bangunan toko kecil yang lengkap penuh dengan barang-barang grosir dari barang orang tua hingga anak-anak dan makan pokok dan sejenisnya.
dia akan mulai berbisnis tapi siapa kira saat dia dalam perjalan pulang justru mobilnya tertabrak truk dan bangun disini .....bukannya mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi ke Perbatasan
"Kapten?" panggilnya ragu.Kapten Song tersenyum konyol. "...Boss kecil, lama tak bertemu..."
Dia mempersilahkan pria itu masuk kedalam,Song Wen melihat ruang tamu yang rapi dan bersih, merasa lega karena anak ini hidup dengan baik di mana pun berada.
"Jadi Saudara Zhang yang memberitahu Anda..." Hwang Zin baru ingat bahwa pria itu adalah penyewa rumahnya.
Song Wen mengangguk. Dia awalnya mencari Hwang Zin di rumah desa gerbang karena ada urusan, tapi tak menyangka anak ini tinggal di kota yang sangat dekat dengan komplek rumahnya sendiri.
"Benar... Jenderal meminta saya bertanya apakah Anda berminat pergi ke barak? Kondisi sekarang sangat aman dan kami kekurangan koki...."
Awalnya Song Wen tak setuju untuk menghubungi Hwang Zin lagi, namun Jenderal berkata mereka benar-benar membutuhkan tambahan koki handal.
Hwang Zin terdiam. Lingkungan saat ini memang nyaman, tapi kadang dia merasa kesepian karena rutinitas yang berulang. Pergi ke barak sepertinya cukup menarik.
Keesokan harinya, Hwang Zin duduk di gerobak barang menuju barak perbatasan – karena tak bisa menunggang kuda, dia terpaksa naik kereta.
Dari jendela, dia melihat mereka melewati hutan yang masih gelap, udaranya dingin. Untungnya dia membawa mantel hangat.
Hang Si, yang menunggang kuda di samping gerobak, mengobrol dengan antusias."Perjalanan memakan waktu tiga hari – kami akan melindungi Anda...!"
Hwang Zin tertawa melihat semangatnya."Saya mengandalkan Anda, Saudara Hang..."
"Hei..." Pria itu menyentuh hidungnya dengan malu.Song Wen memutar mata lalu menggerakkan kudanya ke samping kanan gerobak, bertanya dengan perhatian. "...Zin-an, apa kamu lapar?"
"Tidak, apa Anda lapar?" Hwang Zin membuka tasnya dan mengeluarkan kue kering buatan sendiri. "Saya membuatnya, cobalah..."
"Hei, terima kasih... simpanlah sisanya untuk dirimu sendiri..." Pria itu mengambil satu saja lalu memintanya menyimpan sisanya.
"........"Hang Si mendengus melihat kelakuan kaptennya, tapi Song Wen tak perduli dan melaju ke depan barisan di mana Jenderal memimpin.
Jenderal melihat pipi melotot Song Wen, dengan alis terangkat. "...Apa yang kamu makan?"
"......"Song Wen takut kudapannya akan dirampok, segera memasukkan semua kue ke dalam mulut sekaligus. Kue dibuat kering agar tahan lama, membuatnya tersedak. "Batuk... batuk..."
"Idiot..." Jenderal Jiang meliriknya dengan pandangan menyalahkan.
"........"Song Wen ingin menangis.
Hwang Zin tak tahu berapa lama mereka berjalan hingga gerobak berhenti dan dia terbangun. Suara Jenderal terdengar memerintahkan istirahat.
Dia membuka jendela dan melihat mereka berhenti di dekat sungai – prajurit berlarian mengisi air, sebagian lagi melepas baju dan masuk ke sungai untuk mencari ikan.
Matahari bersinar terang di langit biru tanpa awan; kira-kira pukul sepuluh pagi.Hang Si menghampirinya saat dia turun dari gerobak.
"Zin-an, apa kamu lelah?"
"Tidak apa-apa..." Hwang Zin menggeleng dan mengikuti Hang Si ke tempat rekan-rekan duduk di bawah pohon.
Dia melihat Jenderal juga sedang beristirahat bersama Song Wen dan beberapa orang lainnya tidak jauh dari sana.
"Zin-an, duduklah..." Pria berjanggut yang pernah makan di tokonya memberikan tempat duduk. Hwang Zin duduk bersama kelompok delapan orang rekan Hang Si, yang segera mengobrol dan bercanda riang.
"Apa mereka menangkap ikan?" Hang Si melihat ke arah sungai. Salah satu pria mengangkat ikan sungai setebal lengannya dan berteriak akan makan dengan puas.
"Sial, aku juga ingin makan ikan!" Prajurit tertinggi di kelompok mendesah iri.Yang lain menggeleng. "...Aku tidak suka ikan, banyak durinya yang menyusahkan..."
"Kalian jarang menangkap ikan?" tanya Hwang Zin penasaran.padahal cukup enak.
Hang Si menjawab dengan nada bosan."...Sebagian dari kami memakannya, tapi jika bisa memilih lebih suka ayam liar atau kelinci...."
Mereka istirahat cukup lama sebelum melanjutkan perjalanan. Hwang Zin kembali ke gerobak, kadang bersandar pada gentong gandum dan beras di belakangnya.
Meskipun diletakkan di gerobak barang, Song Wen memberikan cukup ruang agar dia bisa berbaring – tapi Hwang Zin takut gentong akan menimpanya jika gerobak menabrak sesuatu, jadi dia hanya bisa tidur dalam posisi duduk.
Dia tertidur cukup lama hingga tidak sadar rombongan telah berhenti. Hari sudah malam, dan prajurit tengah membuat api unggun serta memasang tenda.
Rombongan sebanyak 30 orang membagi diri menjadi empat kelompok di sekitar api unggun; Jenderal tampaknya sedang membahas hal penting bersama bawahannya.
Hwang Zin turun dari gerobak dan kelompok di sekitar api unggun segera menoleh padanya.
"..... Maaf, saya bangun terlambat," ucapnya.Hang Si melambaikan tangan."...Zin-an, kemari lah...!"
Dia pergi dan duduk di sebelah Song Wen, yang segera bertanya padanya. "...Apa kamu lelah?"
"Aku baik-baik saja, saya tidak serapuh itu..."Hwang Zin merasa sedikit tidak nyaman karena Song Wen selalu memperlakukannya seperti orang lemah.
"Bagaimanapun kamu baru pertama bepergian sejauh ini – kamu terbiasa hidup di kota, tiba-tiba harus melalui semua ini....." jelas Song Wen, menyalahkan wajah kaku Jenderal yang membuatnya harus pergi.
Rekan-rekan Hang Si tahu bahwa Jenderal "menculik" Hwang Zin untuk menjadi koki tambahan di barak.
Awalnya mereka bersorak gembira, tapi kemudian merasa prihatin karena anak yang tumbuh dalam kasih sayang dan kehidupan damai harus tinggal bersama segerombolan pria kasar.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" Sudut mulut Hwang Zin berkedut melihat tatapan mereka yang menyakitinya.
"Bos kecil, kamu bisa memanggilku Saudara Peng – saya yang tertua di kelompok, bisa kamu andalkan jika perlu sesuatu!" Pria tinggi hampir dua meter menepuk dadanya dengan bangga.
"Hei..." Mereka menyoraki, tapi Saudara Peng hanya bilang mereka cuma iri.
"Bos kecil, kamu bisa memanggilku Saudara Lang – yang paling muda di sini, dua tahun lebih tua darimu... kamu juga bisa mengandalkan aku..." ucap pria berjanggut di seberangnya.
"Kamu baru 20 tahun?!" Hwang Zin terkejut. Pria ini terlihat jauh lebih tua karena jangutnya yang tebal.
Qin Lang merasa malu. "Yah, aku terlalu malas mencukurnya..."
"Dia terlihat seperti orang tua...." Tawa Hang Si bersama yang lain membuat telinga Qin Lang memerah.
"Aku akan mencukurnya nanti!" protesnya dengan malu, dan mereka mulai mengolok-oloknya hingga suasana menjadi lebih riang.
"Zin-an, cobalah..." Song Wen memberikannya potongan kelinci panggang hasil buruannya sendiri. Mereka berhasil menangkap 10 ekor hewan liar – empat kelinci dan enam burung pengar.
"Terima kasih..." Hwang Zin menerimanya dengan senang karena memang lapar, tapi wajahnya berubah saat menggigitnya.
Dagingnya hambar dan amis. Dia dengan paksa menelannya tanpa mengunyah lagi.
"Bagaimana...?" tanya Song Wen dengan semangat – ini pertama kalinya dia memanggang sendiri dan bahkan membersihkan kelinci tersebut dengan teliti.
Sudut mulut Hwang Zin berkedut. "Bersih..."
"Apa?" Song Wen dan yang lain saling memandang bingung – apa artinya rasa "bersih"?
Hwang Zin melihat kelinci besar di tangannya dan merasa sayang jika dibuang. Matanya berbinar melihat kelinci di tangan orang lain – jika dibuat pedas, pasti akan sangat lezat.
Dia menyerahkan kelincinya pada orang di sebelahnya. "Kapten Song, pegang dulu untukku..."
Song Wen menerimanya dengan patuh. Hwang Zin segera berdiri dan berlari ke arah gerobak untuk mengambil tas besarnya, kemudian kembali ke kelompok.
"Kalian punya beras kan?" tanyanya.Saudara Peng menjawab cepat. "Yah, ada!"
"Siapa yang bisa memasak nasi?" Saudara Lang segera mengangkat tangan. "...Aku bisa!"
Wajah orang lain berubah – mereka tahu Qin Lang tak pernah bisa memasak dengan benar."Kau yakin? Jangan main-main....!"
"Aku bisa! Sudah pernah berhasil dibuat!"jelasnya dengan keras kepala.
"Kalau begitu, Saudara Lang, nasi serahkan padamu – cukup untuk kita makan saja..."Hwang Zin percaya padanya.
"Baiklah!" Qin Lang pergi dengan semangat untuk mengambil beras dari kereta kelompoknya.
Melihat dia pergi, yang lain menoleh pada Hwang Zin dengan antusias dan menawarkan bantuan.
"........"Hwang Zin tertahan ingin tertawa lalu menyuruh Hang Si membuat api unggun lagi untuk memasak nasi.
Semua orang segera bergerak membantu – sepertinya mereka akan makan dengan kenikmatan!
Mereka memiliki bahan makanan tersendiri untuk setiap kelompok; kelompok Hwang Zin berisi enam orang ditambah dirinya.
Dia membawa penggorengan dan sendok kayu sendiri, lalu meminta Saudara Peng untuk mencucinya di sungai yang masih berdekatan dengan yang mereka lewati pagi tadi.
Hwang Zin membuat kompor sederhana dari tumpukan batu besar di sekitar api unggun.
"Siapa yang pandai memotong?" Empat orang mengangkat tangan, dan dia membagi tugas – dua orang memotong empat ekor kelinci menjadi beberapa bagian, sementara dua orang lainnya mencari daun lebar untuk alas.
Kesibukan kelompok Hang Si menarik perhatian banyak prajurit lain, tapi tak seorang pun datang menghampiri mereka dan hanya melihat dari kejauhan – termasuk Jenderal.
Song Wen memegang pisau kecil untuk memotong paprika dan bawang yang sudah dicuci, sementara Hang Si dan yang lain menjaga api serta mengawasi nasi yang sedang dimasak.
Hwang Zin menaruh wajan di atas kompor, mengambil lemak kelinci untuk digoreng hingga menjadi minyak.
Dia memasukkan paprika dan bawang yang sudah dipotong, menggoreng hingga layu sebelum menambahkan sedikit air, garam, gula, bubuk cabai, dan bumbu lainnya.
Bau harum menyebar ke seluruh area peristirahatan.
Prajurit lain tanpa sadar menelan ludah, makanan di tangan mereka kini terasa sangat hambar.
Song Wen dan kelompok Hang Si merasa sangat bersyukur membawa "boss kecil" bersama mereka!