NovelToon NovelToon
Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.

Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.

Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.

Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.

Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Sesuai Rencana

Pagi di Qingxue Pavilion terasa lebih berat dari biasanya.

Mu Qingxue menyeka permukaan etalase untuk ketiga kalinya, padahal sudah bersih sejak tadi. Tangannya bergerak sendiri sementara pikirannya melayang ke tempat lain. Ke gang belakang kemarin malam. Ke kertas kontrak yang sudah dirobek empat bagian. Ke pemuda dengan mata merah yang pergi tanpa satu kata pun.

Dia tidak tahu harus merasa bagaimana.

Yang jelas tiga orang telah mati dalam satu malam atau bahkan lebih? Dia tidak tahu. Kontrak hutangnya musnah. Dan sumber dari semua itu adalah seorang pemuda yang bahkan namanya tidak dia ketahui.

“Bodohnya,” gerutunya pada diri sendiri. “Harusnya aku tidak perlu peduli sampai sejauh ini.”

Tapi kenyataannya dia peduli, dan itu yang membuatnya gelisah.

Di hutan kecil di pinggir barat kota, di antara pohon-pohon pinus yang tumbuh jarang dengan akar menjalar ke atas tanah, Huang Shen duduk bersila di atas batu datar.

Matanya tertutup. Punggungnya lurus.

Gerbang di dadanya mulai bersinar, tipis dan tenang, merah dengan tepi emas yang baru muncul sejak kemarin malam.

“Fokus,” kata suara dari dalam. “Bukan pada darah. Bukan pada kematian. Tapi pada yang ada di sekelilingmu.”

Huang Shen menarik napas panjang, lalu melepasnya perlahan. Tatkala perhatiannya benar-benar mengendur dari pikiran tentang target dan dendam, dia mulai merasakannya. Qi di udara pagi yang bergerak pelan seperti asap tipis yang tidak terlihat mata biasa.

Gerbang pun mulai menarik.

Berbeda dari serap darah yang seperti sungai membanjiri tubuhnya sekaligus, Resonansi Gerbang lebih seperti embun yang mengumpul satu per satu. Dari udara, dari tanah lembab di bawah batu tempatnya duduk, dari akar pohon pinus yang memancarkan Qi hijau tua yang sangat samar. Semua masuk ke Gerbang, disaring, lalu didistribusikan ke seluruh tubuhnya.

Bersih. Tidak ada rasa pusing maupun mual. Hanya kepuasan yang perlahan mengisi setiap rongga yang selama ini kosong.

“Ini cara yang benar,” dengus suara itu. “Serap darah untuk pertarungan mendesak. Resonansi untuk fondasi. Kau jelas-jelas butuh keduanya.”

Setelah dua jam penuh, Huang Shen akhirnya membuka matanya.

Qi di dalam tubuhnya terasa lebih padat dari semalam, lebih stabil, seperti air yang sudah mengendap dan tidak lagi keruh. Level tidak naik drastis, tapi yang ada menjadi lebih berkualitas. Dan itu cukup untuk persiapan.

Beruntung Wang Teng tidak sulit ditemukan. Di kota ini, nama itu disebut dengan cara berbeda-beda. Pedagang kecil menyebutnya dengan suara pelan sambil melirik ke kanan dan kiri. Kultivator sekte menyebutnya dengan hormat berlebihan yang pahit. Anak buahnya menyebutnya dengan bangga yang dipaksakan.

Maka Huang Shen hanya perlu berdiri di persimpangan Distrik Utara dan mendengarkan.

Wang Teng sedang dalam perjalanan kembali dari pertemuan sekte, kata seorang pedagang yang berbisik pada temannya. Lewat Jalan Kemenangan, jalan utama yang membentang lurus dari gerbang utara sampai ke kompleks kediamannya.

Huang Shen menunggunya di bawah deretan lentera jalan.

Iring-iringan itu tidak besar. Totalnya empat pengawal, dua di depan dan dua di belakang, mengiringi seorang pria berusia sekitar empat puluhan dengan jubah biru gelap berhiaskan bordir naga. Wang Teng berjalan dengan cara orang yang tidak pernah perlu terburu-buru karena semua orang yang lebih lemah akan menyingkir lebih dulu.

Sedangkan Huang Shen tidak menyingkir.

Dan itu memaksa Wang Teng berhenti. Matanya menyipit, lalu membuka sedikit saat mengenali sesuatu. “Ah. Jadi kau yang membunuh anak buahku.”

Bukan pertanyaan. Informasi sudah sampai padanya rupanya.

“Goro, Li dan Hei,” tutur Huang Shen datar seperti biasa. “Dan Bao Cheng sebelumnya.”

“Pemurnian Qi.” Wang Teng mendecak, nadanya seperti orang memeriksa dagangan yang tidak layak beli. “Tingkat berapa kau? Tujuh? Delapan?” Senyumnya melebar. “Anak kecil membunuhi preman pasar dan merasa sudah jadi orang hebat. Lucu sekali.”

“Turun dari iring-iringanmu,” perintah Huang Shen. “Atau aku yang akan datang ke sana.”

Wang Teng tentu saja langsung tertawa. Sungguh-sungguh, dari perut, sampai salah satu pengawalnya ikut tersenyum dengan ekspresi bingung. “Kau mau berduel? Dengan Jiwa Baru tingkat akhir? Dengan Pemurnian Qi-mu?” Dia melangkah maju, mengisyaratkan pengawalnya untuk mundur. “Baiklah. Biar aku tunjukkan betapa jauhnya jarak di antara kekuatan kita.”

Tinju Darah Penghancur Batu meluncur duluan tanpa basa-basi di hadapan banyak orang.

Sementara Wang Teng menangkapnya dengan telapak tangan terbuka. Tidak bergeser satu langkah pun. Qi merah dari Gerbang Huang Shen membentur lapisan Jiwa Baru dan hancur seperti gelombang menghantam karang.

Rasa sakitnya menjalar sampai ke bahu.

Cakar Iblis meluncur dari sisi kiri. Wang Teng memiringkan kepalanya sedikit, membiarkan serangan itu lewat di samping telinganya, lalu membalas dengan satu pukulan ke dada Huang Shen.

Satu pukulan.

Huang Shen terpental tiga langkah ke belakang, membentur dinding batu rendah di pinggir jalan, lalu jatuh ke lutut. Tulang rusuknya berderak, paru-parunya mengemis udara.

Sementara Wang Teng berjalan mendekatinya dengan santai. “Sudah selesai?”

Huang Shen mendongak. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Di balik rasa sakit yang memenuhi dadanya, ada sesuatu yang dia sembunyikan dari matanya.

Wang Teng tidak perlu tahu bahwa dia masih menyimpan dua pertiga kekuatannya.

Tendangan Wang Teng menghantam sisi kepalanya dan membantingnya ke tanah. Satu lagi ke punggung. Huang Shen mengerang, tidak melawan, membiarkan tubuhnya menerima.

“Anak bodoh.” Wang Teng berjongkok, memegang rahang Huang Shen dan mendongakkan kepalanya. “Aku akan membunuhmu setelah aku bosan melihat wajahmu.”

“Lepaskan dia!”

Langkah kaki cepat dari arah selatan.

Wang Teng mendongak. Pengawalnya juga.

Mu Qingxue berdiri di tepi jalan, napasnya tidak teratur, jelas baru berlari. Matanya memindai situasi dalam satu detik lalu langsung mengarah ke Wang Teng dengan tatapan yang lebih berani dari yang bisa dia rasakan di dalam dadanya.

“Lepaskan dia,” ulangnya, lebih pelan, tapi tidak mundur.

Wang Teng pun melepaskan Huang Shen, lalu berdiri. Senyumannya berubah menjadi sesuatu yang lebih menarik minat. “Nyonya Mu.” Matanya menyapu dari atas ke bawah dengan cara yang membuat Mu Qingxue ingin mundur. “Kau ada hubungan dengan anak bodoh ini?”

“Dia… dia bekerja di tokoku.”

“Hmm.” Wang Teng mempertimbangkan ini selama beberapa detik. “Aku tidak enak membunuh pegawai wanita cantik. Lagipula, aku sudah lama ingin berbicara denganmu, Nyonya Mu.” Dia melangkah mendekat, Mu Qingxue tidak mundur meski setiap instingnya memintanya melakukan itu. “Besok malam, aku mengadakan pesta di kediamanku. Datanglah. Hutang almarhum suamimu… akan kita bicarakan dengan cara yang lebih menyenangkan. Pokoknya hibur aku.”

Mu Qingxue membuka mulutnya, akan tetapi di pelukannya, Huang Shen yang sudah berhasil merangkak ke sisinya memegang lengannya pelan.

“Terima saja,” bisiknya dengan darah yang masih mengalir dari bibirnya. “Jangan ditolak.”

Mu Qingxue menatapnya. “Kau... .”

“Besok malam,” bisik Huang Shen lagi, lebih lemah, “semuanya akan selesai.”

Mu Qingxue menelan kata-katanya. Lalu mendongak ke Wang Teng dengan senyum yang dipaksakan sekuat tenaga. “Baiklah. Aku akan datang.”

Wang Teng ketara sekali tersenyum puas. Lalu pergi bersama iring-iringannya, tawanya masih terdengar sampai di ujung jalan.

Manakala suara itu hilang, Mu Qingxue berbalik ke Huang Shen dengan ekspresi yang sudah tidak dipaksakan tenang lagi.

“Kau benar-benar… .” desisnya. “Dia hampir membunuhmu. Dan besok kau mau aku datang sendiri ke sarang orang itu?”

Huang Shen tersenyum tipis. Wajahnya pucat, satu matanya mulai membengkak, tapi di sudut bibirnya ada sesuatu yang terlihat seperti kepuasan.

“Dia harus menang hari ini,” tuturnya lirih, “agar besok… dia tidak akan bangun lagi.”

Mu Qingxue pun menatapnya lama. Di dalam dadanya ada rasa takut, marah, dan sesuatu lain yang belum berani dia beri nama.

“Aku harap kau benar-benar menyadari apa yang sedang kau lakukan,” pungkasnya.

Huang Shen tidak menjawab. Matanya menatap langit yang mulai kemerahan di barat.

Satu hari lagi.

1
black_rose
Thor mau nanya levelnya kok gk ditampil?
black_rose: makasih Thor
total 2 replies
Tonton Sitohang
lanjutkan updet terus mase. mantap jiwa
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Kecoa Laut
apakah ini tipe cerita yang mc-nya langsung op?
DanaBrekker: tipe Xianxia gelap dan tokoh utamanya memang op sejak awal, kelanjutannya belum tentu 😄
total 1 replies
Bg Gofar
manteb gan
DanaBrekker: Terima kasih 👍
total 1 replies
MuhFaza
menariknya novel ini sejauh yang aku baca ada sisi gelap dari fantasi timur, malah lebih mirip genre horor menurutku
Kecoa Laut: horor dengan bumbu ehem2 lebih tepatnya 🤭
total 2 replies
YunArdiYasha
coba baca karya bru. semangat
DanaBrekker: Terima kasih semoga menghibur 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!